<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Toto Jadi Raja Agung Sejagat, Mengaku Dapat Wangsit Raja Mataram</title><description>Kemunculan Keraton Agung Sejagat di Purworejo Jawa Tengah, menjadi perbincangan publik di dunia nyata maupun jagat maya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/15/512/2153357/cerita-toto-jadi-raja-agung-sejagat-mengaku-dapat-wangsit-raja-mataram</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/01/15/512/2153357/cerita-toto-jadi-raja-agung-sejagat-mengaku-dapat-wangsit-raja-mataram"/><item><title>Cerita Toto Jadi Raja Agung Sejagat, Mengaku Dapat Wangsit Raja Mataram</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/15/512/2153357/cerita-toto-jadi-raja-agung-sejagat-mengaku-dapat-wangsit-raja-mataram</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/01/15/512/2153357/cerita-toto-jadi-raja-agung-sejagat-mengaku-dapat-wangsit-raja-mataram</guid><pubDate>Rabu 15 Januari 2020 19:33 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Budi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/15/512/2153357/cerita-toto-jadi-raja-agung-sejagat-mengaku-dapat-wangsit-raja-mataram-6SCMkFIiuj.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Toto Santoso, saat gelar perkara di Polda Jateng (Foto: Okezone/Taufik Budi)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/15/512/2153357/cerita-toto-jadi-raja-agung-sejagat-mengaku-dapat-wangsit-raja-mataram-6SCMkFIiuj.jpg</image><title>Toto Santoso, saat gelar perkara di Polda Jateng (Foto: Okezone/Taufik Budi)</title></images><description>SEMARANG - Kemunculan Keraton Agung Sejagat di Purworejo Jawa Tengah, menjadi perbincangan publik di dunia nyata maupun jagat maya. Berawal dari mengaku dapat wangsit, Toto Santoso (42), mendirikan kerajaan baru hingga membuat geger.

&quot;Kasus ini terjadi ketika Toto Santoso yang berperan sebagai Raja Keraton Agung Sejagat, (lalu) namanya menjadi Toto Santosa Hadiningrat dan Fanni Aminadia (41), yang berperan sebagai permaisuri Ratu Dyah Gitarja,&quot; ujar Kapolda Jateng Irjen Rycko Amelza Dahniel mengawali konferensi pers di Mapolda Jateng, Rabu (15/1/2020).

&quot;Toto dalam beberapa bulan terakhir menerima wangsit dari leluhur, dan keturunan Raja Mataram untuk segera mendirikan kelanjutan dari Kerajaan Mataram, dan pusatnya di Kecamatan Bayan Kabupaten Purworejo,&quot; lanjut jenderal bintang dua itu.



Setelah mengaku menerima wangsit itu, Toto mulai membangun istana baru di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan Purworejo. Pada saat yang sama, Toto juga melengkapi diri dengan berbagai dokumen untuk meyakinkan warga.

&quot;Atas dasar wangsit tersebut, kemudian yang bersangkutan melengkapi kelengkapan dirinya untuk meyakinkan orang-orang. Dengan beberapa kartu yang berasal dari PBB (United Nations), bahwa yang bersangkutan memang memiliki kredibilitas untuk menjadi seorang raja,&quot; terangnya.

&quot;Menyampaikan wangsit-wangsit itu sehingga ada beberapa warga menjadi terpengaruh, yakin bahwa yang bersangkutan memang seorang raja yang menerima wangsit dari para leluhur,&quot; tambahnya.

Baca Juga: Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat Jadi Tersangka Penipuan

Tipu daya Toto itu membuahkan hasil. Ratusan orang dari berbagai daerah mulai terbuai dengan janji-janjinya bila bergabung dengan Keraton Agung Sejagat. Padahal untuk menjadi pengikut, warga harus harus membayar mahal hingga puluhan juta rupiah.

&quot;Sudah hampir 150 orang yang menjadi pengikutnya, dan para pengikutnya Itu diwajibkan untuk iuran sampai puluhan juta rupiah,&quot; kata dia.

Selain iming-iming jabatan dan gaji besar, Toto juga menyampaikan  ancaman. Masyarakat yang menolak bergabung bakal terkena malapetaka dan  bencana. Sementara jika menjadi bagian kerajaan, akan mendapatkan  keberuntungan sekaligus perubahan nasib.

&quot;Dengan berbekal keyakinan menyebarkan sebuah paham apabila ikut  kerajaan ini akan terbebas dari malapetaka, dari berbagai bencana dan  bisa terjadi perubahan yang lebih baik,&quot; tutur dia.

&quot;Sebaliknya bila tidak mengikuti, tidak mengakui dari kerajaan atau  menjadi bagian dari kerajaan, akan mendapatkan berbagai bencana,&quot; tandas  jenderal bintang dua itu.



Keraton yang mulai didirikan sejak 2018 itu akhirnya dideklarasikan  pada 29 Desember 2019. Setelah itu, bersama sang permaisuri mulai  menggelar beragam kegiatan termasuk bertemu awak media.

&quot;Sudah tiga kali kegiatan yang dilaksanakan. Berawal dari 29 Desember  2019 itu mulai deklarasi kerajaan Keraton Agung Sejagat yang tempatnya  sesuai wangsit di Desa Pogung Jurutengah Kecamatan Bayan Purworejo,&quot;  jelas dia.

&quot;Kemudian pada 10 Januari melaksanakan kirab budaya sudah mulai ada  pengikutnya, diberikan seragam. Kemudian 12 Januari kemarin melaksanakan  Sidang Keraton dan sekaligus rilis pada media awak media,&quot; tandasnya.

</description><content:encoded>SEMARANG - Kemunculan Keraton Agung Sejagat di Purworejo Jawa Tengah, menjadi perbincangan publik di dunia nyata maupun jagat maya. Berawal dari mengaku dapat wangsit, Toto Santoso (42), mendirikan kerajaan baru hingga membuat geger.

&quot;Kasus ini terjadi ketika Toto Santoso yang berperan sebagai Raja Keraton Agung Sejagat, (lalu) namanya menjadi Toto Santosa Hadiningrat dan Fanni Aminadia (41), yang berperan sebagai permaisuri Ratu Dyah Gitarja,&quot; ujar Kapolda Jateng Irjen Rycko Amelza Dahniel mengawali konferensi pers di Mapolda Jateng, Rabu (15/1/2020).

&quot;Toto dalam beberapa bulan terakhir menerima wangsit dari leluhur, dan keturunan Raja Mataram untuk segera mendirikan kelanjutan dari Kerajaan Mataram, dan pusatnya di Kecamatan Bayan Kabupaten Purworejo,&quot; lanjut jenderal bintang dua itu.



Setelah mengaku menerima wangsit itu, Toto mulai membangun istana baru di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan Purworejo. Pada saat yang sama, Toto juga melengkapi diri dengan berbagai dokumen untuk meyakinkan warga.

&quot;Atas dasar wangsit tersebut, kemudian yang bersangkutan melengkapi kelengkapan dirinya untuk meyakinkan orang-orang. Dengan beberapa kartu yang berasal dari PBB (United Nations), bahwa yang bersangkutan memang memiliki kredibilitas untuk menjadi seorang raja,&quot; terangnya.

&quot;Menyampaikan wangsit-wangsit itu sehingga ada beberapa warga menjadi terpengaruh, yakin bahwa yang bersangkutan memang seorang raja yang menerima wangsit dari para leluhur,&quot; tambahnya.

Baca Juga: Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat Jadi Tersangka Penipuan

Tipu daya Toto itu membuahkan hasil. Ratusan orang dari berbagai daerah mulai terbuai dengan janji-janjinya bila bergabung dengan Keraton Agung Sejagat. Padahal untuk menjadi pengikut, warga harus harus membayar mahal hingga puluhan juta rupiah.

&quot;Sudah hampir 150 orang yang menjadi pengikutnya, dan para pengikutnya Itu diwajibkan untuk iuran sampai puluhan juta rupiah,&quot; kata dia.

Selain iming-iming jabatan dan gaji besar, Toto juga menyampaikan  ancaman. Masyarakat yang menolak bergabung bakal terkena malapetaka dan  bencana. Sementara jika menjadi bagian kerajaan, akan mendapatkan  keberuntungan sekaligus perubahan nasib.

&quot;Dengan berbekal keyakinan menyebarkan sebuah paham apabila ikut  kerajaan ini akan terbebas dari malapetaka, dari berbagai bencana dan  bisa terjadi perubahan yang lebih baik,&quot; tutur dia.

&quot;Sebaliknya bila tidak mengikuti, tidak mengakui dari kerajaan atau  menjadi bagian dari kerajaan, akan mendapatkan berbagai bencana,&quot; tandas  jenderal bintang dua itu.



Keraton yang mulai didirikan sejak 2018 itu akhirnya dideklarasikan  pada 29 Desember 2019. Setelah itu, bersama sang permaisuri mulai  menggelar beragam kegiatan termasuk bertemu awak media.

&quot;Sudah tiga kali kegiatan yang dilaksanakan. Berawal dari 29 Desember  2019 itu mulai deklarasi kerajaan Keraton Agung Sejagat yang tempatnya  sesuai wangsit di Desa Pogung Jurutengah Kecamatan Bayan Purworejo,&quot;  jelas dia.

&quot;Kemudian pada 10 Januari melaksanakan kirab budaya sudah mulai ada  pengikutnya, diberikan seragam. Kemudian 12 Januari kemarin melaksanakan  Sidang Keraton dan sekaligus rilis pada media awak media,&quot; tandasnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
