<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kerajaan Pajang, Peninggalan Joko Tingkir Menolak Disamakan Keraton Agung Sejagat</title><description>Okezone diajak mengunjungi lokasi di mana benda-benda peninggalan Keraton Pajang masih tersisa.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/17/512/2154492/kerajaan-pajang-peninggalan-joko-tingkir-menolak-disamakan-keraton-agung-sejagat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/01/17/512/2154492/kerajaan-pajang-peninggalan-joko-tingkir-menolak-disamakan-keraton-agung-sejagat"/><item><title>Kerajaan Pajang, Peninggalan Joko Tingkir Menolak Disamakan Keraton Agung Sejagat</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/17/512/2154492/kerajaan-pajang-peninggalan-joko-tingkir-menolak-disamakan-keraton-agung-sejagat</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/01/17/512/2154492/kerajaan-pajang-peninggalan-joko-tingkir-menolak-disamakan-keraton-agung-sejagat</guid><pubDate>Jum'at 17 Januari 2020 19:58 WIB</pubDate><dc:creator>Bramantyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/17/512/2154492/kerajaan-pajang-peninggalan-joko-tingkir-menolak-disamakan-keraton-agung-sejagat-ShsvCFKtuT.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Keraton Pajang di Solo menolak disamakan dengan Keraton Agung Sejagat (Foto: Okezone/Bram)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/17/512/2154492/kerajaan-pajang-peninggalan-joko-tingkir-menolak-disamakan-keraton-agung-sejagat-ShsvCFKtuT.jpg</image><title>Keraton Pajang di Solo menolak disamakan dengan Keraton Agung Sejagat (Foto: Okezone/Bram)</title></images><description>SUKOHARJO - Nama Kasultanan Pajang yang terletak di Dukuh Pesanggrahan, Kelurahan Makamhaji, Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo mendadak jadi sorotan.

Hal tersebut seiring hebohnya kasus Keraton Agung Sejagat, yang dipimpin Totok Santosa Hadiningrat dan teman perempuannya, Dyah Gitarja ternyata palsu.

Saat Okezone menyambangi lokasi sebuah situs yang diyakini dahulunya bagian dari Kerajaan Pajang, terlihat beberapa pekerja tengah melakukan pekerjaan memperbaiki bangunan di situs tersebut.

Kedatangan Okezone disambut langsung oleh Raden Dimas Koco, keturunan dari Pakubuwono II. Setelah mengetahui maksud kedatangan, Okezone pun diajak mengunjungi lokasi di mana benda-benda peninggalan Keraton Pajang masih tersisa.



Termasuk kayu perahu yang dahulu dipakai Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir. Setelah mengajak Okezone berkeliling, Dimas Koco pun menerangkan yang namanya Kasultanan Pajang itu tak bisa disamakan dengan Keraton Agung Sejagat yang didirikan Totok Santosa Hadiningrat.

&quot;Kasultanan Pajang itu ada historinya, tak bisa disamakan dengan Keraton 'uka-uka' milik Totok Santosa Hadiningrat. Kasultanan Pajang, sebuah Kerajaan besar, jauh sebelum Keraton Mataram lahir. Kasultanan Pajang itu memiliki panji-panji (bendera), punya wilayah dan ada rakyatnya,&quot; papar Dimas Koco mengawali ceritanya pada Okezone, Jumat (17/1/2020).

Menurut Dimas Koco, suatu Kerajaan, konsep itu harus ada. Dan Kasultanan Pajang memiliki konsep menata negara atau pemerintahannya.

Kesultanan Pajang, didirikan pada tahun 1568 - 1582 oleh Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir.

Joko Tingkir sendiri dinobatkan menjadi Raja atau Sultan di Kasultanan Bragawani, Demak Bintoro.

Setelah tiga tahun dilantik, Joko Tingkir pun memutuskan mendirikan  Kasultanan Islam di daerah Pajang. Suatu wilayah di Desa Sala yang kini  bernama Solo atau Surakarta Hadiningrat.

&quot;Kalau kita bicara Kasultanan Pajang, Pajang itu besar. Letak pusat  pemerintahan Kasultanan Pajang itu berada di daerah Gedong (sekarang  Laweyan), tempatnya (ulama Kraton Pajang) Ki Ageng Henis,&quot; papar Dimas  Koco.

Menurut Dimas Koco, di pilihnya lokasi situs Keraton Pajang bukan di  lokasi dimana pusat pemerintahan Kasultanan Pajang dahulu berdiri.  Namun, di dusun Pesanggrahan saat ini, dikarenakan tanah di mana dahulu  pusat pemerintahan Keraton Pajang berdiri, mayoritas sudah jadi hak  milik orang lain.



&quot;Jadi satu-satunya benda peninggalan Kasultanan Pajang yang masih  tersisa berada di tanah kas desa Makamhaji yang masuk wilayah Dukuh  Pesanggrahan. Karena berada di tanah kas desa, setiap tahun kami  membayar kontribusi pada desa,&quot; terangnya.

Ditambahkan Dimas Koco, banyak presepsi yang salah tentang situs  Keraton Pajang. Pasalnya, banyak yang beranggapan muncul Kerajaan baru  di wilayah Solo.

Yang ada, ungkap Dimas Koco, bukan menghidupkan kembali Kasultanan  Pajang, namun yang ada adalah upaya pelestarian situs Kasultanan Pajang.  Sebuah Kasultanan yang secara ilmiah memang ada, namun keberadaannya  saat ini hanya dianggap cerita rakyat.

&quot;Di sini bukan lahir kembali Kasultanan Pajang atau Keraton baru. Di  sini itu, lokasi situs Kasultanan Pajang. Ini upaya kami untuk  melestarikan sebuah Kasultanan Pajang. Yang secara ilmiah itu ada, namun  saat ini hanya dianggap cerita rakyat. Bukan berdiri kembali Kraton  baru,&quot; pungkasnya.
</description><content:encoded>SUKOHARJO - Nama Kasultanan Pajang yang terletak di Dukuh Pesanggrahan, Kelurahan Makamhaji, Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo mendadak jadi sorotan.

Hal tersebut seiring hebohnya kasus Keraton Agung Sejagat, yang dipimpin Totok Santosa Hadiningrat dan teman perempuannya, Dyah Gitarja ternyata palsu.

Saat Okezone menyambangi lokasi sebuah situs yang diyakini dahulunya bagian dari Kerajaan Pajang, terlihat beberapa pekerja tengah melakukan pekerjaan memperbaiki bangunan di situs tersebut.

Kedatangan Okezone disambut langsung oleh Raden Dimas Koco, keturunan dari Pakubuwono II. Setelah mengetahui maksud kedatangan, Okezone pun diajak mengunjungi lokasi di mana benda-benda peninggalan Keraton Pajang masih tersisa.



Termasuk kayu perahu yang dahulu dipakai Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir. Setelah mengajak Okezone berkeliling, Dimas Koco pun menerangkan yang namanya Kasultanan Pajang itu tak bisa disamakan dengan Keraton Agung Sejagat yang didirikan Totok Santosa Hadiningrat.

&quot;Kasultanan Pajang itu ada historinya, tak bisa disamakan dengan Keraton 'uka-uka' milik Totok Santosa Hadiningrat. Kasultanan Pajang, sebuah Kerajaan besar, jauh sebelum Keraton Mataram lahir. Kasultanan Pajang itu memiliki panji-panji (bendera), punya wilayah dan ada rakyatnya,&quot; papar Dimas Koco mengawali ceritanya pada Okezone, Jumat (17/1/2020).

Menurut Dimas Koco, suatu Kerajaan, konsep itu harus ada. Dan Kasultanan Pajang memiliki konsep menata negara atau pemerintahannya.

Kesultanan Pajang, didirikan pada tahun 1568 - 1582 oleh Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir.

Joko Tingkir sendiri dinobatkan menjadi Raja atau Sultan di Kasultanan Bragawani, Demak Bintoro.

Setelah tiga tahun dilantik, Joko Tingkir pun memutuskan mendirikan  Kasultanan Islam di daerah Pajang. Suatu wilayah di Desa Sala yang kini  bernama Solo atau Surakarta Hadiningrat.

&quot;Kalau kita bicara Kasultanan Pajang, Pajang itu besar. Letak pusat  pemerintahan Kasultanan Pajang itu berada di daerah Gedong (sekarang  Laweyan), tempatnya (ulama Kraton Pajang) Ki Ageng Henis,&quot; papar Dimas  Koco.

Menurut Dimas Koco, di pilihnya lokasi situs Keraton Pajang bukan di  lokasi dimana pusat pemerintahan Kasultanan Pajang dahulu berdiri.  Namun, di dusun Pesanggrahan saat ini, dikarenakan tanah di mana dahulu  pusat pemerintahan Keraton Pajang berdiri, mayoritas sudah jadi hak  milik orang lain.



&quot;Jadi satu-satunya benda peninggalan Kasultanan Pajang yang masih  tersisa berada di tanah kas desa Makamhaji yang masuk wilayah Dukuh  Pesanggrahan. Karena berada di tanah kas desa, setiap tahun kami  membayar kontribusi pada desa,&quot; terangnya.

Ditambahkan Dimas Koco, banyak presepsi yang salah tentang situs  Keraton Pajang. Pasalnya, banyak yang beranggapan muncul Kerajaan baru  di wilayah Solo.

Yang ada, ungkap Dimas Koco, bukan menghidupkan kembali Kasultanan  Pajang, namun yang ada adalah upaya pelestarian situs Kasultanan Pajang.  Sebuah Kasultanan yang secara ilmiah memang ada, namun keberadaannya  saat ini hanya dianggap cerita rakyat.

&quot;Di sini bukan lahir kembali Kasultanan Pajang atau Keraton baru. Di  sini itu, lokasi situs Kasultanan Pajang. Ini upaya kami untuk  melestarikan sebuah Kasultanan Pajang. Yang secara ilmiah itu ada, namun  saat ini hanya dianggap cerita rakyat. Bukan berdiri kembali Kraton  baru,&quot; pungkasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
