<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kurangnya Pengetahuan Semu Dinilai Penyebab Fenomena Keraton Agung Sejagat</title><description>Publik Indonesia dihebohkan dengan kemunculan sekelompok yang menamakan Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/19/337/2154964/kurangnya-pengetahuan-semu-dinilai-penyebab-fenomena-keraton-agung-sejagat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/01/19/337/2154964/kurangnya-pengetahuan-semu-dinilai-penyebab-fenomena-keraton-agung-sejagat"/><item><title>Kurangnya Pengetahuan Semu Dinilai Penyebab Fenomena Keraton Agung Sejagat</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/19/337/2154964/kurangnya-pengetahuan-semu-dinilai-penyebab-fenomena-keraton-agung-sejagat</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/01/19/337/2154964/kurangnya-pengetahuan-semu-dinilai-penyebab-fenomena-keraton-agung-sejagat</guid><pubDate>Minggu 19 Januari 2020 08:02 WIB</pubDate><dc:creator>Fadel Prayoga</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/19/337/2154964/pengetahuan-semu-dinilai-penyebab-fenomena-keraton-agung-sejagat-lCAO4r3Yyk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat (Foto: Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/19/337/2154964/pengetahuan-semu-dinilai-penyebab-fenomena-keraton-agung-sejagat-lCAO4r3Yyk.jpg</image><title>Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat (Foto: Istimewa)</title></images><description>JAKARTA - Awal tahun 2020, publik Indonesia dihebohkan dengan kemunculan sekelompok yang menamakan Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah. Tak hanya itu, kini muncul kelompok yang mengatasnamakan dirinya Sunda Empire-Earth Empire.
Menurut Sosiolog Universitas Indonesia, Rissalwan Habdy Lubis, alasan mereka mengikuti kelompok tersebut karena dinilai tidak memiliki kepastian ihwal kesulitan-kesulitan hidup yang dialami masyarakat Tanah Air.
&quot;Mereka sebenarnya tahu bahwa kerajaan sudah tidak ada lagi, kekuasaannya di era republik saat ini. Tapi pengetahuan semu itu mendorong mereka untuk tetap ikut. Pengetahuan semu ini adalah dorongan dari harapan terdalam untuk menjawab kesulitan-kesulitan dan kekhawatiran dalam hidup,&quot; ujar Rissalwan kepada Okezone, Minggu (19/1/2020).
Diketahui ilmu semu adalah sebuah pengetahuan, metodologi, keyakinan, atau praktik yang diklaim sebagai ilmiah, tetapi tidak mengikuti metode ilmiah.

Baca Juga: Usai Keraton Agung Sejagat, Kini Ada Kerajaan Lagi di Blora
Menurut dia, proses politik dan ekonomi mungkin berpengaruh terhadap masyarakat yang berada di akar rumput dan membuat mereka mencari harapan di tempat lain.
&quot;Di bawah ini mereka mencari alternatif-alternatif lain, dan itu suatu hal yang wajar. Jadi itu bercampur baur dengan orang yang mungkin punya keyakinan, bahwa dia punya akses supranatural tertentu,&quot; ujarnya.
Ia berharap pemerintah pusat atau daerah bisa memberikan edukasi ke warga ihwal bahwa kerajaan sudah tak ada lagi di era republik seperti sekarang. Tak hanya itu, pemerintah juga harus bisa memberi jaminan kalau mereka bisa hidup secara layak di negaranya.
&quot;Bukan hanya memberikan edukasi kepada publik, pemerintah juga harus bisa menjamin kepastian tingkat kesejahteraan serta keadilan,&quot; kata dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Awal tahun 2020, publik Indonesia dihebohkan dengan kemunculan sekelompok yang menamakan Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah. Tak hanya itu, kini muncul kelompok yang mengatasnamakan dirinya Sunda Empire-Earth Empire.
Menurut Sosiolog Universitas Indonesia, Rissalwan Habdy Lubis, alasan mereka mengikuti kelompok tersebut karena dinilai tidak memiliki kepastian ihwal kesulitan-kesulitan hidup yang dialami masyarakat Tanah Air.
&quot;Mereka sebenarnya tahu bahwa kerajaan sudah tidak ada lagi, kekuasaannya di era republik saat ini. Tapi pengetahuan semu itu mendorong mereka untuk tetap ikut. Pengetahuan semu ini adalah dorongan dari harapan terdalam untuk menjawab kesulitan-kesulitan dan kekhawatiran dalam hidup,&quot; ujar Rissalwan kepada Okezone, Minggu (19/1/2020).
Diketahui ilmu semu adalah sebuah pengetahuan, metodologi, keyakinan, atau praktik yang diklaim sebagai ilmiah, tetapi tidak mengikuti metode ilmiah.

Baca Juga: Usai Keraton Agung Sejagat, Kini Ada Kerajaan Lagi di Blora
Menurut dia, proses politik dan ekonomi mungkin berpengaruh terhadap masyarakat yang berada di akar rumput dan membuat mereka mencari harapan di tempat lain.
&quot;Di bawah ini mereka mencari alternatif-alternatif lain, dan itu suatu hal yang wajar. Jadi itu bercampur baur dengan orang yang mungkin punya keyakinan, bahwa dia punya akses supranatural tertentu,&quot; ujarnya.
Ia berharap pemerintah pusat atau daerah bisa memberikan edukasi ke warga ihwal bahwa kerajaan sudah tak ada lagi di era republik seperti sekarang. Tak hanya itu, pemerintah juga harus bisa memberi jaminan kalau mereka bisa hidup secara layak di negaranya.
&quot;Bukan hanya memberikan edukasi kepada publik, pemerintah juga harus bisa menjamin kepastian tingkat kesejahteraan serta keadilan,&quot; kata dia.</content:encoded></item></channel></rss>
