<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Perjuangan Nanjung, Beruang Bertangan Satu Kembali ke Alam Liar</title><description>Nanjung terpaksa kehilangan satu lengan karena tali jeratan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/20/340/2155469/kisah-perjuangan-nanjung-beruang-bertangan-satu-kembali-ke-alam-liar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/01/20/340/2155469/kisah-perjuangan-nanjung-beruang-bertangan-satu-kembali-ke-alam-liar"/><item><title>Kisah Perjuangan Nanjung, Beruang Bertangan Satu Kembali ke Alam Liar</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/20/340/2155469/kisah-perjuangan-nanjung-beruang-bertangan-satu-kembali-ke-alam-liar</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/01/20/340/2155469/kisah-perjuangan-nanjung-beruang-bertangan-satu-kembali-ke-alam-liar</guid><pubDate>Senin 20 Januari 2020 13:53 WIB</pubDate><dc:creator>Ade Putra</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/20/340/2155469/kisah-perjuangan-nanjung-beruang-bertangan-satu-kembali-ke-alam-liar-beB6pkBgbk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Nanjung dilepasliarkan (Foto: IAR Indonesia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/20/340/2155469/kisah-perjuangan-nanjung-beruang-bertangan-satu-kembali-ke-alam-liar-beB6pkBgbk.jpg</image><title>Nanjung dilepasliarkan (Foto: IAR Indonesia)</title></images><description>PONTIANAK - Nanjung, seekor beruang di Desa Sungai Nanjung, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat kehilangan habitatnya. Selain itu, Nanjung juga terpaksa kehilangan satu lengan karena tali jeratan.

Semua ini berawal ketika seorang warga Desa Sungai Nanjung dengan sengaja memasang tali jerat untuk mengangkap beruang yang memasuki kebun miliknya.

Warga tersebut mengaku, memasang jerat karena ada beberapa beruang yang sering memasuki kebunnya dan memakan madu yang ada di pondoknya.

Jerat yang dipakai adalah tali nilon sepanjang 2,5 meter. Dipasang di belakang pondok pemilik kebun. Jerat ini dipasang pada sore hari dan keesokan paginya, Rabu, 20 November 2019 seekor beruang tampak terkena jerat.



Warga yang mengetahui hal ini langsung melaporkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang.

Menindaklanjuti laporan ini, tim Wildlife Rescue Unit BKSDA Kalbar SKW I Ketapang bersama tim IAR Indonesia meluncur ke lokasi.

Direktur IAR Indonesia, Karmele L Sanchez menjelaskan, ketika tim datang, beruang jantan yang kemudian diberi nama Nanjung ini tampak stress dan agresif, dengan putus asa berusaha menarik dirinya lepas jadi jerat.

&quot;Usaha terlihat sia-sia karena makin keras beruang menarik tangannya, makin erat pula jerat itu mengikat tangannya,&quot; jelas Karmele, Senin (20/01/2020).

Tim kemudian memutuskan menggunakan sumpit untuk membius beruang  berbobot 40 kilogram ini. Setelah berhasil dibius, tim memotong jerat  yang sudah menyiksanya sehari semalaman.

&quot;Dokter hewan IAR Indonesia kemudian membersihkan luka-lukanya,&quot; jelas dia.

Ketika itu, Nanjung dibawa ke pusat rehabilitasi IAR Indonesia yang  mempunyai fasilitas perawatan satwa untuk menjalani perawatan dan  pemeriksaan lebih lanjut. Empat hari setelah berada di kandang karantina  IAR Indonesia, tim medis menemukan pembengkakan pada tangan kanan  Nanjung, yang terkena jerat.

Hari berikutnya, kondisi Nanjung memburuk. Tulang jari tangannya  mencuat karena lapisan kulit dan daging yang membungkusnya sudah rusak.  Sebagian membusuk.

Setelah melalui pemeriksaan lebih jauh dengan mengunakan sinar X dan  melakukan diskusi yang melibatkan BKSDA Kalbar, tim medis memutuskan  untuk mengamputasi tangan beruang ini pada 25 November 2019.

&quot;Amputasi dilakukan sebatas lengan untuk mencegah infeksi dan pembusukan menyebar lebih jauh,&quot; tutur Karmele.

Hasil pemeriksaan ulang pada 1 Desember 2019 menunjukkan lukanya  sudah pulih. Kemudian pada Jumat 17 Januari 2020, Nanjung sudah siap  dikembalikan ke habitatnya.

&quot;Setelah menjalani perawatan selama lebih dari sebulan, akhirnya Nanjung bisa pulang ke habitat aslinya,&quot; tutur Karmele.

BKSDA Kalimantan Barat bersama IAR Indonesia bekerjasama dengan PT  Hutan Ketapang Industri (HKI) melepaskan Nanjung ke Kawasan Hutan milik  PT HKI di Kendawangan, Ketapang, Kalimantan Barat.

Karmele mengatakan, meskipun kehilangan lengannya, beruang ini akan  mampu bertahan hidup di alam. &amp;ldquo;Kami yakin beruang ini akan mampu  bertahan hidup karena kemampuan adaptasinya yang tinggi. Selain itu  kecerdasan yang dimiliki beruang ini akan menambah kesempatannya untuk  bertahan hidup di alam,&amp;rdquo; ujarnya.



Meski demikian, sambungnya, permasalahan ini sebenarnya tidak akan  selesai dengan melepaskan Nanjung ke habitat yang lebih aman. Kasus  beruang terkena jerat di kebun warga hanyalah gejala, dan besar  kemungkinan kasus seperti ini akan terulang lagi.

&quot;Penyakit sebenarnya adalah rendahnya tingkat pengetahuan dan  kesadaran masyarakat akan satwa liar dilindungi serta konversi dan alih  fungsi hutan menjadi kebun dan pemukiman. Hutan yang kian menyempit  menjadikan ruang gerak beruang ini makin terhimpit,&quot; kata dia.

Maka, sambungnya, tak heran beruang ini mencari makan di kebun warga. Karena, tidak apa pilihan lain untuk bertahan hidup.

Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta menambahkan, sudah  saatnya manusia harus berubah. Sudah waktunya manusia mulai sadar bahwa  mereka sedang membunuh dirinya pelan-pelan.

&quot;Semua bencana alam, konflik satwa dan lain-lain hanyalah pesan.  Pesan yang disampaikan oleh alam bahwa kehidupan sedang bermasalah dan  tidak baik-baik saja. Perusakan habitat satwa, yakni hutan, pada  akhirnya akan menyengsarakan manusia juga. Ingatlah bahwa  konflik-konflik satwa dan manusia hanyalah pesan bahwa kita bersama sama  sedang menuju pada kepunahan,&quot; tutupnya.
</description><content:encoded>PONTIANAK - Nanjung, seekor beruang di Desa Sungai Nanjung, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat kehilangan habitatnya. Selain itu, Nanjung juga terpaksa kehilangan satu lengan karena tali jeratan.

Semua ini berawal ketika seorang warga Desa Sungai Nanjung dengan sengaja memasang tali jerat untuk mengangkap beruang yang memasuki kebun miliknya.

Warga tersebut mengaku, memasang jerat karena ada beberapa beruang yang sering memasuki kebunnya dan memakan madu yang ada di pondoknya.

Jerat yang dipakai adalah tali nilon sepanjang 2,5 meter. Dipasang di belakang pondok pemilik kebun. Jerat ini dipasang pada sore hari dan keesokan paginya, Rabu, 20 November 2019 seekor beruang tampak terkena jerat.



Warga yang mengetahui hal ini langsung melaporkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang.

Menindaklanjuti laporan ini, tim Wildlife Rescue Unit BKSDA Kalbar SKW I Ketapang bersama tim IAR Indonesia meluncur ke lokasi.

Direktur IAR Indonesia, Karmele L Sanchez menjelaskan, ketika tim datang, beruang jantan yang kemudian diberi nama Nanjung ini tampak stress dan agresif, dengan putus asa berusaha menarik dirinya lepas jadi jerat.

&quot;Usaha terlihat sia-sia karena makin keras beruang menarik tangannya, makin erat pula jerat itu mengikat tangannya,&quot; jelas Karmele, Senin (20/01/2020).

Tim kemudian memutuskan menggunakan sumpit untuk membius beruang  berbobot 40 kilogram ini. Setelah berhasil dibius, tim memotong jerat  yang sudah menyiksanya sehari semalaman.

&quot;Dokter hewan IAR Indonesia kemudian membersihkan luka-lukanya,&quot; jelas dia.

Ketika itu, Nanjung dibawa ke pusat rehabilitasi IAR Indonesia yang  mempunyai fasilitas perawatan satwa untuk menjalani perawatan dan  pemeriksaan lebih lanjut. Empat hari setelah berada di kandang karantina  IAR Indonesia, tim medis menemukan pembengkakan pada tangan kanan  Nanjung, yang terkena jerat.

Hari berikutnya, kondisi Nanjung memburuk. Tulang jari tangannya  mencuat karena lapisan kulit dan daging yang membungkusnya sudah rusak.  Sebagian membusuk.

Setelah melalui pemeriksaan lebih jauh dengan mengunakan sinar X dan  melakukan diskusi yang melibatkan BKSDA Kalbar, tim medis memutuskan  untuk mengamputasi tangan beruang ini pada 25 November 2019.

&quot;Amputasi dilakukan sebatas lengan untuk mencegah infeksi dan pembusukan menyebar lebih jauh,&quot; tutur Karmele.

Hasil pemeriksaan ulang pada 1 Desember 2019 menunjukkan lukanya  sudah pulih. Kemudian pada Jumat 17 Januari 2020, Nanjung sudah siap  dikembalikan ke habitatnya.

&quot;Setelah menjalani perawatan selama lebih dari sebulan, akhirnya Nanjung bisa pulang ke habitat aslinya,&quot; tutur Karmele.

BKSDA Kalimantan Barat bersama IAR Indonesia bekerjasama dengan PT  Hutan Ketapang Industri (HKI) melepaskan Nanjung ke Kawasan Hutan milik  PT HKI di Kendawangan, Ketapang, Kalimantan Barat.

Karmele mengatakan, meskipun kehilangan lengannya, beruang ini akan  mampu bertahan hidup di alam. &amp;ldquo;Kami yakin beruang ini akan mampu  bertahan hidup karena kemampuan adaptasinya yang tinggi. Selain itu  kecerdasan yang dimiliki beruang ini akan menambah kesempatannya untuk  bertahan hidup di alam,&amp;rdquo; ujarnya.



Meski demikian, sambungnya, permasalahan ini sebenarnya tidak akan  selesai dengan melepaskan Nanjung ke habitat yang lebih aman. Kasus  beruang terkena jerat di kebun warga hanyalah gejala, dan besar  kemungkinan kasus seperti ini akan terulang lagi.

&quot;Penyakit sebenarnya adalah rendahnya tingkat pengetahuan dan  kesadaran masyarakat akan satwa liar dilindungi serta konversi dan alih  fungsi hutan menjadi kebun dan pemukiman. Hutan yang kian menyempit  menjadikan ruang gerak beruang ini makin terhimpit,&quot; kata dia.

Maka, sambungnya, tak heran beruang ini mencari makan di kebun warga. Karena, tidak apa pilihan lain untuk bertahan hidup.

Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta menambahkan, sudah  saatnya manusia harus berubah. Sudah waktunya manusia mulai sadar bahwa  mereka sedang membunuh dirinya pelan-pelan.

&quot;Semua bencana alam, konflik satwa dan lain-lain hanyalah pesan.  Pesan yang disampaikan oleh alam bahwa kehidupan sedang bermasalah dan  tidak baik-baik saja. Perusakan habitat satwa, yakni hutan, pada  akhirnya akan menyengsarakan manusia juga. Ingatlah bahwa  konflik-konflik satwa dan manusia hanyalah pesan bahwa kita bersama sama  sedang menuju pada kepunahan,&quot; tutupnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
