<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perempuan 12 Tahun asal Jatim Protes PM Australia Hentikan Pengiriman Limbah ke Indonesia</title><description>Dalam surat terbuka kepada PM Scott Morrison, Nina meminta Australia untuk berhenti mengekspor limbahnya ke Indonesia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/22/18/2156585/perempuan-12-tahun-asal-jatim-protes-pm-australia-hentikan-pengiriman-limbah-ke-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/01/22/18/2156585/perempuan-12-tahun-asal-jatim-protes-pm-australia-hentikan-pengiriman-limbah-ke-indonesia"/><item><title>Perempuan 12 Tahun asal Jatim Protes PM Australia Hentikan Pengiriman Limbah ke Indonesia</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/22/18/2156585/perempuan-12-tahun-asal-jatim-protes-pm-australia-hentikan-pengiriman-limbah-ke-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/01/22/18/2156585/perempuan-12-tahun-asal-jatim-protes-pm-australia-hentikan-pengiriman-limbah-ke-indonesia</guid><pubDate>Rabu 22 Januari 2020 13:28 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/22/18/2156585/perempuan-12-tahun-asal-jatim-protes-pm-australia-hentikan-pengiriman-limbah-ke-indonesia-ODo70PVTwC.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Reuters.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/22/18/2156585/perempuan-12-tahun-asal-jatim-protes-pm-australia-hentikan-pengiriman-limbah-ke-indonesia-ODo70PVTwC.jpg</image><title>Foto: Reuters.</title></images><description>SEORANG aktivis asal Indonesia mendesak Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison untuk menghentikan ekspor kertas limbah dan plastik ke provinsi asalnya, Jawa Timur. Aeshninna (Nina) Azzahra, perempuan kelahiran Gresik ini mengajukan permintaan melalui surat terbuka kepada PM Morrison yang dikirim secara pribadi ke kedutaan Australia di Jakarta kemarin malam, 21 Januari 2020.
Dalam suratnya, perempuan muda 12 tahun ini menyampaikan kekecewaan pada dampak ekologis dan kesehatan dari limbah asing di Indonesia. Dia juga merinci dampak langsung dari perdagangan ekspor pada desa-desa di wilayahnya.
&quot;Saya merasa sedih mengetahui bahwa kota saya menjadi tempat pembuangan sampah plastik dari negara-negara maju,&quot; tulis Azzahra dalam suratnya sebagaimana dilansir ABC, Rabu (22/1/2020).
Dia mengatakan potongan-potongan plastik yang dia temui membawa label-label yang asalnya terletak di Kanada, Australia, Amerika Serikat (AS), dan Inggris, di antara negara-negara maju lainnya.
&quot;Tolong simpan limbah Australia di Australia dan jangan mengirim sampah yang tidak dapat didaur ulang ke Indonesia, yang akan menambah lebih banyak masalah sampah plastik di negara saya,&quot; katanya kepada Morrison.

Aeshnina Azzahra. (Foto: ABC/ist.)
&quot;Berhentilah mengekspor campuran kertas bekas dengan sisa plastik ke Jawa Timur dan Indonesia. Tolong ambil kembali sampahmu dari Indonesia.&quot;
Banyak negara kaya mengekspor limbah yang dapat dan tidak dapat didaur ulang ke negara-negara miskin yang ditugaskan untuk pekerjaan daur ulang yang berbahaya atau menghancurkannya.
China sebelumnya merupakan negara terbesar dalam bisnis tersebut, tetapi sejak Beijing memberlakukan larangan impor limbah pada Juli 2017, jutaan kilogram limbah dari Australia dan negara maju lainnya berakhir di Indonesia, Vietnam, dan Malaysia.
Pada tahun 2018, Australia mengekspor 52.000 ton limbah ke Provinsi Jawa Timur saja, meningkat 250 persen dari 2014.
&amp;nbsp;
Respon Pemerintah Australia
Kepada ABC, Nina mengatakan bahwa selama perjalanannya ke ladang sampah Jawa Timur, limbah dengan label Australia adalah yang paling umum ia temukan setelah sampah yang berlabel AS.Kantor Perdana Menteri mengatakan kepada ABC dalam sebuah pernyataan  bahwa Pemerintah Australia akan memperkenalkan larangan ekspor plastik,  kaca dan kertas bekas mulai Juli.
&quot;Sama seperti Nina, Pemerintah  kami menganggap penanganan sampah adalah prioritas utama, karena ini  merupakan masalah penting bagi lingkungan kami di rumah dan di seluruh  wilayah tempat kami tinggal,&quot; kata pernyataan itu.

Surat yang dikirimkan Nina ke Kedutaan Australia. (Foto: ABC/ist.)
Juru bicara itu juga mengatakan bahwa pemerintah Australia akan  bekerja dengan industri untuk menghapuskan kemasan plastik sekali pakai  dan microbeads berbahaya.
&quot;Kami mendukung rencana Indonesia untuk mengurangi puing-puing laut  sebesar 20 persen dan limbah hingga 30 persen dan kami bermitra dengan  mereka untuk berbagi pengetahuan kami dan apa yang telah dipelajari  kedua negara kami.&quot;
Reuters memperkirakan impor limbah Indonesia secara keseluruhan naik  141 persen mencapai 283.000 ton pada 2018, atau setara dengan berat  sekira 123 badak putih berukuran rata-rata.
Tahun lalu, kelompok aktivis lingkungan Indonesia Ecoton menuduh  perusahaan-perusahaan Australia &quot;menyelundupkan&quot; sejumlah besar kertas  plastik dan limbah yang diduga dikirim untuk didaur ulang.
Penduduk miskin di provinsi-provinsi seperti Jawa Timur beralih ke  pengolahan limbah untuk mendapatkan pekerjaan yang dibayar atau  menghasilkan lapangan kerja di daerah-daerah di mana biasanya tidak  banyak pekerjaan yang dibayar dengan konsisten.
Eko Wahyudi, seorang pemilik bisnis pengolahan limbah, mengatakan  kepada Los Angeles Times bahwa ia pernah memiliki 20 orang yang  mempekerjakan pemilahan sampah, membayar mereka sekitar USD3,50 per hari  (sekira Rp47 ribu).

Di Indonesia, upah minimum ditetapkan per provinsi, dengan Jawa Timur berada di angka USD4,07 per hari pada 2020.
Limbah yang tidak dapat didaur ulang, seperti sampah plastik, dijual  sebagai sumber bahan bakar murah untuk produsen tahu di provinsi itu.  &quot;Limbah dari AS berarti pekerjaan di sini,&quot; kata Wahyudi.
&quot;Semua orang di sini bergantung pada perdagangan ini, kaya dan miskin.&quot;
Pesan Nina kepada Morrison mengikuti surat-surat serupa yang  ditujukan kepada para pemimpin dunia lain seperti Kanselir Jerman Angela  Merkel dan Presiden AS Donald Trump.
&quot;Mengapa Jerman mengirim sampahnya ke Indonesia? Saya ingin masa  depan saya menjadi lebih baik. Saya ingin Indonesia bersih,&quot; kata  Azzahra kepada pemimpin Merkel.Waspadai Dampak Ekologis
Dalam surat-suratnya yang ditujukan kepada Morrison dan Merkel,   aktivis muda itu merinci dampak ekologis yang lebih luas di wilayahnya.
Kepada PM Australia, dia mengatakan hewan laut sudah sekarat karena   menelan plastik, sementara dalam surat kepada Merkel, Nina memberitahu   bahwa dia membeli ikan yang diisi dengan plastik di perutnya.
Dia mengatakan kepada ABC bahwa sangat penting bagi Australia untuk   mengurangi dampak lingkungannya, terutama mengingat musim kebakaran yang   belum pernah terjadi sebelumnya. &quot;Australia juga perlu menemukan bahan   bakar yang lebih ramah lingkungan, bukan menggunakan batu bara,&quot; kata   Azzahra.
Kepada Trump, dia mengatakan limbah AS telah membuat sungai Indonesia   &quot;sangat kotor dan bau&quot;. &quot;Kenapa Anda selalu mengekspor limbah Anda ke   negara saya? Kenapa Anda tidak mengurus limbahnya sendiri?&quot; dia  bertanya  kepada Sang Presiden.
Hanya seorang perwakilan resmi yang bertemu dengan Azzahra untuk   menanggapi permintaannya, Duta Besar Jerman untuk Indonesia Peter   Schoof. Dia berbicara dengan aktivis itu pada awal bulan ini.

Aeshninna Azzahra. (Foto: ABC/ist.)
Kepada ABC Azzahra, dia berharap dapat bertemu dengan Duta Besar   Australia untuk Indonesia, Gary Quinlan, tetapi sejauh ini dia belum   dapat mengatur pertemuan tersebut.
Untuk saat ini, dia berharap Australia mengindahkan panggilannya.   &quot;Saya sangat berharap Australia tidak mengirim sampah plastik ke   Indonesia, katanya. &quot;Saya ingin Australia mengambil (sampah)-nya   kembali.&quot;
Sementara saat berita ini diterbitkan, Okezone masih menunggu   konfirmasi ke Kedubes Australia di Jakarta, baik melalui pesan singkat   maupun telefon langsung.</description><content:encoded>SEORANG aktivis asal Indonesia mendesak Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison untuk menghentikan ekspor kertas limbah dan plastik ke provinsi asalnya, Jawa Timur. Aeshninna (Nina) Azzahra, perempuan kelahiran Gresik ini mengajukan permintaan melalui surat terbuka kepada PM Morrison yang dikirim secara pribadi ke kedutaan Australia di Jakarta kemarin malam, 21 Januari 2020.
Dalam suratnya, perempuan muda 12 tahun ini menyampaikan kekecewaan pada dampak ekologis dan kesehatan dari limbah asing di Indonesia. Dia juga merinci dampak langsung dari perdagangan ekspor pada desa-desa di wilayahnya.
&quot;Saya merasa sedih mengetahui bahwa kota saya menjadi tempat pembuangan sampah plastik dari negara-negara maju,&quot; tulis Azzahra dalam suratnya sebagaimana dilansir ABC, Rabu (22/1/2020).
Dia mengatakan potongan-potongan plastik yang dia temui membawa label-label yang asalnya terletak di Kanada, Australia, Amerika Serikat (AS), dan Inggris, di antara negara-negara maju lainnya.
&quot;Tolong simpan limbah Australia di Australia dan jangan mengirim sampah yang tidak dapat didaur ulang ke Indonesia, yang akan menambah lebih banyak masalah sampah plastik di negara saya,&quot; katanya kepada Morrison.

Aeshnina Azzahra. (Foto: ABC/ist.)
&quot;Berhentilah mengekspor campuran kertas bekas dengan sisa plastik ke Jawa Timur dan Indonesia. Tolong ambil kembali sampahmu dari Indonesia.&quot;
Banyak negara kaya mengekspor limbah yang dapat dan tidak dapat didaur ulang ke negara-negara miskin yang ditugaskan untuk pekerjaan daur ulang yang berbahaya atau menghancurkannya.
China sebelumnya merupakan negara terbesar dalam bisnis tersebut, tetapi sejak Beijing memberlakukan larangan impor limbah pada Juli 2017, jutaan kilogram limbah dari Australia dan negara maju lainnya berakhir di Indonesia, Vietnam, dan Malaysia.
Pada tahun 2018, Australia mengekspor 52.000 ton limbah ke Provinsi Jawa Timur saja, meningkat 250 persen dari 2014.
&amp;nbsp;
Respon Pemerintah Australia
Kepada ABC, Nina mengatakan bahwa selama perjalanannya ke ladang sampah Jawa Timur, limbah dengan label Australia adalah yang paling umum ia temukan setelah sampah yang berlabel AS.Kantor Perdana Menteri mengatakan kepada ABC dalam sebuah pernyataan  bahwa Pemerintah Australia akan memperkenalkan larangan ekspor plastik,  kaca dan kertas bekas mulai Juli.
&quot;Sama seperti Nina, Pemerintah  kami menganggap penanganan sampah adalah prioritas utama, karena ini  merupakan masalah penting bagi lingkungan kami di rumah dan di seluruh  wilayah tempat kami tinggal,&quot; kata pernyataan itu.

Surat yang dikirimkan Nina ke Kedutaan Australia. (Foto: ABC/ist.)
Juru bicara itu juga mengatakan bahwa pemerintah Australia akan  bekerja dengan industri untuk menghapuskan kemasan plastik sekali pakai  dan microbeads berbahaya.
&quot;Kami mendukung rencana Indonesia untuk mengurangi puing-puing laut  sebesar 20 persen dan limbah hingga 30 persen dan kami bermitra dengan  mereka untuk berbagi pengetahuan kami dan apa yang telah dipelajari  kedua negara kami.&quot;
Reuters memperkirakan impor limbah Indonesia secara keseluruhan naik  141 persen mencapai 283.000 ton pada 2018, atau setara dengan berat  sekira 123 badak putih berukuran rata-rata.
Tahun lalu, kelompok aktivis lingkungan Indonesia Ecoton menuduh  perusahaan-perusahaan Australia &quot;menyelundupkan&quot; sejumlah besar kertas  plastik dan limbah yang diduga dikirim untuk didaur ulang.
Penduduk miskin di provinsi-provinsi seperti Jawa Timur beralih ke  pengolahan limbah untuk mendapatkan pekerjaan yang dibayar atau  menghasilkan lapangan kerja di daerah-daerah di mana biasanya tidak  banyak pekerjaan yang dibayar dengan konsisten.
Eko Wahyudi, seorang pemilik bisnis pengolahan limbah, mengatakan  kepada Los Angeles Times bahwa ia pernah memiliki 20 orang yang  mempekerjakan pemilahan sampah, membayar mereka sekitar USD3,50 per hari  (sekira Rp47 ribu).

Di Indonesia, upah minimum ditetapkan per provinsi, dengan Jawa Timur berada di angka USD4,07 per hari pada 2020.
Limbah yang tidak dapat didaur ulang, seperti sampah plastik, dijual  sebagai sumber bahan bakar murah untuk produsen tahu di provinsi itu.  &quot;Limbah dari AS berarti pekerjaan di sini,&quot; kata Wahyudi.
&quot;Semua orang di sini bergantung pada perdagangan ini, kaya dan miskin.&quot;
Pesan Nina kepada Morrison mengikuti surat-surat serupa yang  ditujukan kepada para pemimpin dunia lain seperti Kanselir Jerman Angela  Merkel dan Presiden AS Donald Trump.
&quot;Mengapa Jerman mengirim sampahnya ke Indonesia? Saya ingin masa  depan saya menjadi lebih baik. Saya ingin Indonesia bersih,&quot; kata  Azzahra kepada pemimpin Merkel.Waspadai Dampak Ekologis
Dalam surat-suratnya yang ditujukan kepada Morrison dan Merkel,   aktivis muda itu merinci dampak ekologis yang lebih luas di wilayahnya.
Kepada PM Australia, dia mengatakan hewan laut sudah sekarat karena   menelan plastik, sementara dalam surat kepada Merkel, Nina memberitahu   bahwa dia membeli ikan yang diisi dengan plastik di perutnya.
Dia mengatakan kepada ABC bahwa sangat penting bagi Australia untuk   mengurangi dampak lingkungannya, terutama mengingat musim kebakaran yang   belum pernah terjadi sebelumnya. &quot;Australia juga perlu menemukan bahan   bakar yang lebih ramah lingkungan, bukan menggunakan batu bara,&quot; kata   Azzahra.
Kepada Trump, dia mengatakan limbah AS telah membuat sungai Indonesia   &quot;sangat kotor dan bau&quot;. &quot;Kenapa Anda selalu mengekspor limbah Anda ke   negara saya? Kenapa Anda tidak mengurus limbahnya sendiri?&quot; dia  bertanya  kepada Sang Presiden.
Hanya seorang perwakilan resmi yang bertemu dengan Azzahra untuk   menanggapi permintaannya, Duta Besar Jerman untuk Indonesia Peter   Schoof. Dia berbicara dengan aktivis itu pada awal bulan ini.

Aeshninna Azzahra. (Foto: ABC/ist.)
Kepada ABC Azzahra, dia berharap dapat bertemu dengan Duta Besar   Australia untuk Indonesia, Gary Quinlan, tetapi sejauh ini dia belum   dapat mengatur pertemuan tersebut.
Untuk saat ini, dia berharap Australia mengindahkan panggilannya.   &quot;Saya sangat berharap Australia tidak mengirim sampah plastik ke   Indonesia, katanya. &quot;Saya ingin Australia mengambil (sampah)-nya   kembali.&quot;
Sementara saat berita ini diterbitkan, Okezone masih menunggu   konfirmasi ke Kedubes Australia di Jakarta, baik melalui pesan singkat   maupun telefon langsung.</content:encoded></item></channel></rss>
