<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>11 Keraton Asli Indonesia dan Sejarah Singkatnya</title><description>Berikut beragam keraton yang telah dirangkum Okezone, sebagaimana dikutip dari berbagai sumber</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/22/337/2156432/11-keraton-asli-indonesia-dan-sejarah-singkatnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/01/22/337/2156432/11-keraton-asli-indonesia-dan-sejarah-singkatnya"/><item><title>11 Keraton Asli Indonesia dan Sejarah Singkatnya</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/22/337/2156432/11-keraton-asli-indonesia-dan-sejarah-singkatnya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/01/22/337/2156432/11-keraton-asli-indonesia-dan-sejarah-singkatnya</guid><pubDate>Rabu 22 Januari 2020 09:40 WIB</pubDate><dc:creator>Alifa Muthia Diningtyas</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/22/337/2156432/11-keraton-asli-indonesia-dan-sejarah-singkatnya-0taQ6R0nKe.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Keraton Solo (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/22/337/2156432/11-keraton-asli-indonesia-dan-sejarah-singkatnya-0taQ6R0nKe.jpg</image><title>Keraton Solo (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Sepekan ini masyarakat dihebohkan dengan munculnya sejumlah keraton baru. Ada yang menamakan Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Keraton Djipang di Blora, serta Sunda Empire di Bandung.

Tidak dimungkiri Indonesia memang memiliki banyak kesultanan dari berbagai daerah yang telah berdiri sejak masa penjajahan. Ini menjadi kekayaan tersendiri.

Lalu apa saja kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia dan bahkan beberapa masih dipertahankan sebagai nilai budaya? Berikut beragam keraton yang telah dirangkum Okezone, sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, Selasa 21 Januari 2020:

1. Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat



Kesultanan Yogyakarta merupakan bagian dari Kerajaan Mataram Islam yang terpecah menjadi dua; Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Kisah berdirinya Kerajaan Mataram Islam diawali dengan pemberian daerah kekuasaan (Alas Mentaok) dari Kesultanan Pajang (Sultan Hadiwijaya) terhadap Ki Ageng Pamanahan, setelah berhasil mengalahkan musuhnya, Aryo Penangsang.

Kemudian pada Tahun 1577, Ki Ageng Pamanahan membuat sebuah keraton di daerah Kota Gede, Yogyakarata, sebagai pusat pemerintahan, hingga beliau wafat pada Tahun 1584.

Meskipun kesultanan tersebut secara resmi sudah menjadi bagian Republik Indonesia di tahun 1950, namun kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal para sultan dan juga rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga kini.

Sebagian dari kompleks keraton merupakan bagian dari museum yang juga menyimpan beragam jenis koleksi milik kesultanan sperti replika pusaka keraton, hingga gamelan.

2. Kadipaten Paku Alaman

Keraton Paku alaman sempat menjadi tempat tinggal resmi para Pangeran  Paku Alaman sejak tahun 1813-1950. Keraton ini merupakan sebuah istana  kecil apabila dibandingkan dengan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Awal berdirinya keraton ini yaitu saat Sultan Hamengku Buwono II  bertemu dengan Letnan Gubernur Jenderal Raffles dan Crawfurd di penopo  keraton yang masih utuh pasca-serangan Inggris.

Dalam pertemuan itu, Raffles mengumumkan aneksasi Kedu dan sepertiga  bagian wilayah timur (mancanegara) Yogyakarta sebagai pembayaran ganti  rugi atas biaya operasi militer Inggris yang baru dilakukan, termasuk  kekayaan keraton yang dijarah oleh tentara.
&amp;lrm;
Di samping itu, Raffles menyampaikan pengukuhan Notokusumo sebagai  Pangeran Merdeka atau Paku Alam I. Namun, dalam hal tersebut, belum  disertai tentang tanah jabatan Paku Alam, karena kesulitan memetakan  batas tanah yang akan diberikan dengan tanah milik Sultan.

Alasan lainnya, sebagian besar tanah jabatan Paku Alam sebelumnya,  terdapat di wilayah Kedu yang diambil alih oleh Inggris. Penunjukan  Notokusumo sebagai Paku Alam merupakan balas jasa Inggris akan  ketidakberpihakan dalam peristiwa penyerbuan ke keraton dan sebagai  tanda persahabatan antara Raffles dan Notokusumo.

3. Kasultanan Surakarta Hadiningrat



Surakarta atau Solo memiliki satu keraton yang jadi tempat tinggal  atau istana resmi Kasunanan Surakarta, yang nama lengkapnya Keraton  Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Berada di Kota Surakarta, Jawa Tengah, bangunan keraton didirikan  oleh Susuhunan Pakubuwana II pada 1744 sebagai pengganti dari Keraton  Kartasura yang hancur akibat geger pecinan di tahun 1743.

Setelah diresmikan, dan istana Kerajaan Mataram pun selesai dibangun,  nama desa tersebut akhirnya diubah menjadi Surakarta Hadiningrat.  Dimana istana ini menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kerajaan  Mataram oleh Sunan PB II kepada VOC di tahun 1749.

4. Kadipaten Mangkunagaran

Kadipaten Mangkunegaran adalah sebuah kesultanan yang pernah berkuasa di wilayah Surakarta sejak 1757-1946.
Awal berdirinya keraton ini yaitu pada tanggal 17 Maret 1757. Yaitu   saat penandatanganan Perjanjian Salatiga antara Sunan Pakubuwana III   dengan Raden Mas Said (bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya   Mangkunegara I) di Salatiga disaksikan oleh perwakilan Sultan   Hamengkubuwana I dan VOC.

Perjanjian Salatiga menandai berdirinya Mangkunegaran. Berdasarkan   perjanjian tersebut, Mangkunegara I memerintah di wilayah Kedaung,   Matesih, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan   Kedu.

5. Kadipaten Sumenep

Kadipaten Sumenep dibangun pada tahun 1781 dan pernah menjadi tempat   kediaman resmi para Adipati atau Raja-Raja serta sebagai tempat dalam   menjalankan roda pemerintahan.

Adapun kerajaan Sumenep sendiri tergolong sebagai kerajaan kecil   (setingkat Kadipaten) kala itu. Hal ini karena wilayah Sumenep masih   dikuasai oleh VOC.

Dimana istilah penyebutan keraton jika dikaitkan dengan sistem   pemerintahan Jawa saat itu, merasa kurang tepat karena karaton Sumenep   mempunyai tingkatan yang lebih kecil dibandingkan dengan bangunan   keraton yang ada di Yogyakarta atau pun Surakarta.

6. Kesultanan Banten

Kesultanan Banten adalah salah satu kerajaan Islam yang terletak di   wilayah Banten, Jawa Barat. Kesultanan ini didirikan sekira tahun   1522-1526 pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin yang dikenal sebagai   pendirinya.

Sebelum akhirnya pada tahun 1525, Sultan Trenggono mengutus Nurullah   atau Syarif Hidayatullah, untuk menaklukan kawasan Banten ini. Tidak   hanya untuk memperluas wilayah Demak tetapi Syarif Hidayatullah juga   mempunyai misi untuk penyebaran agama Islam.

Setelah Islam berkembang, wilayah banten pada awalnya hanya sebuah   kadipaten bagian wilayah bagian Demak. Hingga pada akhirnya menjadi   suatu kesultanan setelah Kerajaan Demak runtuh akibat kekalahan dari   Kerajaan Pajang.

7. Kasultanan Kanoman Cirebon

Keraton Kanoman adalah salah satu bangunan dari Kesultanan Cirebon.    Keraton Kanoman didirikan oleh Pangeran Mohamad Badridin atau Pangeran    Kertawijaya, yang bergelar Sultan Anom I pada sekitar tahun 1678 M.



Keraton Kanoman masih bepegang teguh dengan adat-istiadat dan    pepakem, di antaranya melaksanakan tradisi Grebeg Syawal seminggu    setelah Idul Fitri dan berziarah ke makam leluhur, Sunan Gunung Jati di    Desa Astana, Cirebon Utara.

Peninggalan-peninggalan bersejarah di Keraton Kanoman erat kaitannya    dengan syiar agama Islam yang giat dilakukan Sunan Gunung Jati (Syarif    Hidayatullah).

8. Kadipaten Sumedang Larang

Kerajaan Sumedang Larang adalah salah satu kerajaan Islam yang berlokasi di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Kerajaan ini didirikan pada tahun 721 M oleh Prabu Tajimalela,    keturunan dari raja Wretikandayun dari Kerajaan Galuh, di wilayah bekas    Kerajaan Tembong Agung. Sebelum bernama Sumedang Larang, kerajaan ini    bernama Kerajaan Himbar Buana.

9. Kasultanan Kesepuhan Cirebon



Keraton Kasepuhan didirikan pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas    Mochammad Arifin II (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang menggantikan    tahta dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1506.

Keraton Kasepuhan dulunya bernama Keraton Pakungwati, Sebutan    Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran    Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati.

10.  Kasultanan Kacirebonan Cirebon

Keraton Kacirebonan berlokasi di wilayah kelurahan Pulasaren     Kecamatan Pekalipan, tepatnya 1 kilometer sebelah barat daya dari     Keraton Kasepuhan. Keraton ini dibangun pada tahun 1800 M.

Sama halnya dengan kerajaan yang lain, Kesultanan Kecirebonan masih     melaksanakan tradisi dan upacara adat yang salah satunya adalah  Upacara    Pajang Jimat.

11.  Keraton Surosowan

Keraton Surosowan adalah sebuah keraton di Banten, Jawa Barat.     Keraton ini dibangun sekitar tahun 1522-1526 pada masa pemerintahan     Maulana Hasanuddin, yang kemudian dikenal sebagai pendiri dari     Kesultanan Banten.

Keraton Surosowan mengalami beberpa kali penghancuran. Kehancuran     total yang pertama kali pada tahun 1680. Kehancuran ke dua kalinya dan     ini yang terparah adalah pada tahun 1813 ketika Gubernur Jendral   Belanda   yang bernama Herman Daendels memerintahkan penghancuran   keraton.   Keraton ini kemudian ditingalkan penghuninya.
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Sepekan ini masyarakat dihebohkan dengan munculnya sejumlah keraton baru. Ada yang menamakan Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Keraton Djipang di Blora, serta Sunda Empire di Bandung.

Tidak dimungkiri Indonesia memang memiliki banyak kesultanan dari berbagai daerah yang telah berdiri sejak masa penjajahan. Ini menjadi kekayaan tersendiri.

Lalu apa saja kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia dan bahkan beberapa masih dipertahankan sebagai nilai budaya? Berikut beragam keraton yang telah dirangkum Okezone, sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, Selasa 21 Januari 2020:

1. Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat



Kesultanan Yogyakarta merupakan bagian dari Kerajaan Mataram Islam yang terpecah menjadi dua; Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Kisah berdirinya Kerajaan Mataram Islam diawali dengan pemberian daerah kekuasaan (Alas Mentaok) dari Kesultanan Pajang (Sultan Hadiwijaya) terhadap Ki Ageng Pamanahan, setelah berhasil mengalahkan musuhnya, Aryo Penangsang.

Kemudian pada Tahun 1577, Ki Ageng Pamanahan membuat sebuah keraton di daerah Kota Gede, Yogyakarata, sebagai pusat pemerintahan, hingga beliau wafat pada Tahun 1584.

Meskipun kesultanan tersebut secara resmi sudah menjadi bagian Republik Indonesia di tahun 1950, namun kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal para sultan dan juga rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga kini.

Sebagian dari kompleks keraton merupakan bagian dari museum yang juga menyimpan beragam jenis koleksi milik kesultanan sperti replika pusaka keraton, hingga gamelan.

2. Kadipaten Paku Alaman

Keraton Paku alaman sempat menjadi tempat tinggal resmi para Pangeran  Paku Alaman sejak tahun 1813-1950. Keraton ini merupakan sebuah istana  kecil apabila dibandingkan dengan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Awal berdirinya keraton ini yaitu saat Sultan Hamengku Buwono II  bertemu dengan Letnan Gubernur Jenderal Raffles dan Crawfurd di penopo  keraton yang masih utuh pasca-serangan Inggris.

Dalam pertemuan itu, Raffles mengumumkan aneksasi Kedu dan sepertiga  bagian wilayah timur (mancanegara) Yogyakarta sebagai pembayaran ganti  rugi atas biaya operasi militer Inggris yang baru dilakukan, termasuk  kekayaan keraton yang dijarah oleh tentara.
&amp;lrm;
Di samping itu, Raffles menyampaikan pengukuhan Notokusumo sebagai  Pangeran Merdeka atau Paku Alam I. Namun, dalam hal tersebut, belum  disertai tentang tanah jabatan Paku Alam, karena kesulitan memetakan  batas tanah yang akan diberikan dengan tanah milik Sultan.

Alasan lainnya, sebagian besar tanah jabatan Paku Alam sebelumnya,  terdapat di wilayah Kedu yang diambil alih oleh Inggris. Penunjukan  Notokusumo sebagai Paku Alam merupakan balas jasa Inggris akan  ketidakberpihakan dalam peristiwa penyerbuan ke keraton dan sebagai  tanda persahabatan antara Raffles dan Notokusumo.

3. Kasultanan Surakarta Hadiningrat



Surakarta atau Solo memiliki satu keraton yang jadi tempat tinggal  atau istana resmi Kasunanan Surakarta, yang nama lengkapnya Keraton  Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Berada di Kota Surakarta, Jawa Tengah, bangunan keraton didirikan  oleh Susuhunan Pakubuwana II pada 1744 sebagai pengganti dari Keraton  Kartasura yang hancur akibat geger pecinan di tahun 1743.

Setelah diresmikan, dan istana Kerajaan Mataram pun selesai dibangun,  nama desa tersebut akhirnya diubah menjadi Surakarta Hadiningrat.  Dimana istana ini menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kerajaan  Mataram oleh Sunan PB II kepada VOC di tahun 1749.

4. Kadipaten Mangkunagaran

Kadipaten Mangkunegaran adalah sebuah kesultanan yang pernah berkuasa di wilayah Surakarta sejak 1757-1946.
Awal berdirinya keraton ini yaitu pada tanggal 17 Maret 1757. Yaitu   saat penandatanganan Perjanjian Salatiga antara Sunan Pakubuwana III   dengan Raden Mas Said (bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya   Mangkunegara I) di Salatiga disaksikan oleh perwakilan Sultan   Hamengkubuwana I dan VOC.

Perjanjian Salatiga menandai berdirinya Mangkunegaran. Berdasarkan   perjanjian tersebut, Mangkunegara I memerintah di wilayah Kedaung,   Matesih, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan   Kedu.

5. Kadipaten Sumenep

Kadipaten Sumenep dibangun pada tahun 1781 dan pernah menjadi tempat   kediaman resmi para Adipati atau Raja-Raja serta sebagai tempat dalam   menjalankan roda pemerintahan.

Adapun kerajaan Sumenep sendiri tergolong sebagai kerajaan kecil   (setingkat Kadipaten) kala itu. Hal ini karena wilayah Sumenep masih   dikuasai oleh VOC.

Dimana istilah penyebutan keraton jika dikaitkan dengan sistem   pemerintahan Jawa saat itu, merasa kurang tepat karena karaton Sumenep   mempunyai tingkatan yang lebih kecil dibandingkan dengan bangunan   keraton yang ada di Yogyakarta atau pun Surakarta.

6. Kesultanan Banten

Kesultanan Banten adalah salah satu kerajaan Islam yang terletak di   wilayah Banten, Jawa Barat. Kesultanan ini didirikan sekira tahun   1522-1526 pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin yang dikenal sebagai   pendirinya.

Sebelum akhirnya pada tahun 1525, Sultan Trenggono mengutus Nurullah   atau Syarif Hidayatullah, untuk menaklukan kawasan Banten ini. Tidak   hanya untuk memperluas wilayah Demak tetapi Syarif Hidayatullah juga   mempunyai misi untuk penyebaran agama Islam.

Setelah Islam berkembang, wilayah banten pada awalnya hanya sebuah   kadipaten bagian wilayah bagian Demak. Hingga pada akhirnya menjadi   suatu kesultanan setelah Kerajaan Demak runtuh akibat kekalahan dari   Kerajaan Pajang.

7. Kasultanan Kanoman Cirebon

Keraton Kanoman adalah salah satu bangunan dari Kesultanan Cirebon.    Keraton Kanoman didirikan oleh Pangeran Mohamad Badridin atau Pangeran    Kertawijaya, yang bergelar Sultan Anom I pada sekitar tahun 1678 M.



Keraton Kanoman masih bepegang teguh dengan adat-istiadat dan    pepakem, di antaranya melaksanakan tradisi Grebeg Syawal seminggu    setelah Idul Fitri dan berziarah ke makam leluhur, Sunan Gunung Jati di    Desa Astana, Cirebon Utara.

Peninggalan-peninggalan bersejarah di Keraton Kanoman erat kaitannya    dengan syiar agama Islam yang giat dilakukan Sunan Gunung Jati (Syarif    Hidayatullah).

8. Kadipaten Sumedang Larang

Kerajaan Sumedang Larang adalah salah satu kerajaan Islam yang berlokasi di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Kerajaan ini didirikan pada tahun 721 M oleh Prabu Tajimalela,    keturunan dari raja Wretikandayun dari Kerajaan Galuh, di wilayah bekas    Kerajaan Tembong Agung. Sebelum bernama Sumedang Larang, kerajaan ini    bernama Kerajaan Himbar Buana.

9. Kasultanan Kesepuhan Cirebon



Keraton Kasepuhan didirikan pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas    Mochammad Arifin II (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang menggantikan    tahta dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1506.

Keraton Kasepuhan dulunya bernama Keraton Pakungwati, Sebutan    Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran    Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati.

10.  Kasultanan Kacirebonan Cirebon

Keraton Kacirebonan berlokasi di wilayah kelurahan Pulasaren     Kecamatan Pekalipan, tepatnya 1 kilometer sebelah barat daya dari     Keraton Kasepuhan. Keraton ini dibangun pada tahun 1800 M.

Sama halnya dengan kerajaan yang lain, Kesultanan Kecirebonan masih     melaksanakan tradisi dan upacara adat yang salah satunya adalah  Upacara    Pajang Jimat.

11.  Keraton Surosowan

Keraton Surosowan adalah sebuah keraton di Banten, Jawa Barat.     Keraton ini dibangun sekitar tahun 1522-1526 pada masa pemerintahan     Maulana Hasanuddin, yang kemudian dikenal sebagai pendiri dari     Kesultanan Banten.

Keraton Surosowan mengalami beberpa kali penghancuran. Kehancuran     total yang pertama kali pada tahun 1680. Kehancuran ke dua kalinya dan     ini yang terparah adalah pada tahun 1813 ketika Gubernur Jendral   Belanda   yang bernama Herman Daendels memerintahkan penghancuran   keraton.   Keraton ini kemudian ditingalkan penghuninya.
</content:encoded></item></channel></rss>
