<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pemerintah Ingin Cegah Stunting Lewat Edukasi Risiko Pernikahan Usia Dini</title><description>Salah satu penyebab tingginya risiko terjadinya stunting adalah pernikahan usia dini</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/23/337/2157237/pemerintah-ingin-cegah-stunting-lewat-edukasi-risiko-pernikahan-usia-dini</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/01/23/337/2157237/pemerintah-ingin-cegah-stunting-lewat-edukasi-risiko-pernikahan-usia-dini"/><item><title>Pemerintah Ingin Cegah Stunting Lewat Edukasi Risiko Pernikahan Usia Dini</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/23/337/2157237/pemerintah-ingin-cegah-stunting-lewat-edukasi-risiko-pernikahan-usia-dini</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/01/23/337/2157237/pemerintah-ingin-cegah-stunting-lewat-edukasi-risiko-pernikahan-usia-dini</guid><pubDate>Kamis 23 Januari 2020 15:38 WIB</pubDate><dc:creator>Fakhrizal Fakhri </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/23/337/2157237/pemerintah-ingin-cegah-stunting-lewat-edukasi-risiko-pernikahan-usia-dini-mFv7RFuq3l.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Jokowi (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/23/337/2157237/pemerintah-ingin-cegah-stunting-lewat-edukasi-risiko-pernikahan-usia-dini-mFv7RFuq3l.jpg</image><title>Presiden Jokowi (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Pemerintah ingin mencegah stunting dengan memberikan edukasi bahaya resiko pernikahan usia dini kepada masyarakat guna membentuk generasi muda dan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang unggul.
Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama.
Salah satu penyebab tingginya risiko terjadinya stunting adalah pernikahan usia dini lantaran pemahaman mengenai asupan gizi bayi yang belum luas.
&quot;Risiko dari kurangnya pengetahuan tentang pernikahan usia dini adalah kematian ibu dan bayinya, hal itu terjadi karena sang ibu belum siap mengalami proses kehamilan dan melahirkan,&quot; ujar Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika Widodo Muktiyo dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/1/2020).
&quot;Pernikahan di usia yang masih muda juga menyebabkan orang tua belum memiliki bekal yang cukup untuk pola dan pengasukan anak dan generasi selanjutnya, ini menyebabkan semakin tingginya anak mengalami stunting,&quot; sambungnya.

Baca Juga: Jokowi Minta Prabowo Susun Rencana Strategis Kesejahteraan Prajurit
Menurut dia, belum matangnya usia juga berpotensi menimbukan konflik yang berujung pada tindak kekerasan dalam keluarga yang berpotensi menciptakan perceraian dan kemiskinan.Ia mengatkan, pemerintah berkomitmen untuk bekerja keras menurunkan  prevelansi stunting di Indonesia lewat edukasi resiko pernikahan di usia  dini.
&quot;Masalah stunting, masalah depan anak bangsa. Kita, pemerintah dan  masyarakat, berjibaku terus melakukan penurunan prevalensi stunting atau  kekurangan gizi kronik ini,&quot; terang dia.
Ia berharap dengan menurunkan prevelansi stunting di Indonesia dapat  menciptakan SDM yang berkualitas di masa depan.
&quot;Kami membantu Presiden  untuk mewujudkan visi dan misi dalam menciptakan SDM yang cerdas,  berbudi pekerti luhur, sehat dan kuat. Mimpi besar untuk mencetak  generasi premium salah satunya dapat dicapai dengan apabila angka  stunting terus turun,&quot; ujar Widodo.</description><content:encoded>JAKARTA - Pemerintah ingin mencegah stunting dengan memberikan edukasi bahaya resiko pernikahan usia dini kepada masyarakat guna membentuk generasi muda dan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang unggul.
Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama.
Salah satu penyebab tingginya risiko terjadinya stunting adalah pernikahan usia dini lantaran pemahaman mengenai asupan gizi bayi yang belum luas.
&quot;Risiko dari kurangnya pengetahuan tentang pernikahan usia dini adalah kematian ibu dan bayinya, hal itu terjadi karena sang ibu belum siap mengalami proses kehamilan dan melahirkan,&quot; ujar Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika Widodo Muktiyo dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/1/2020).
&quot;Pernikahan di usia yang masih muda juga menyebabkan orang tua belum memiliki bekal yang cukup untuk pola dan pengasukan anak dan generasi selanjutnya, ini menyebabkan semakin tingginya anak mengalami stunting,&quot; sambungnya.

Baca Juga: Jokowi Minta Prabowo Susun Rencana Strategis Kesejahteraan Prajurit
Menurut dia, belum matangnya usia juga berpotensi menimbukan konflik yang berujung pada tindak kekerasan dalam keluarga yang berpotensi menciptakan perceraian dan kemiskinan.Ia mengatkan, pemerintah berkomitmen untuk bekerja keras menurunkan  prevelansi stunting di Indonesia lewat edukasi resiko pernikahan di usia  dini.
&quot;Masalah stunting, masalah depan anak bangsa. Kita, pemerintah dan  masyarakat, berjibaku terus melakukan penurunan prevalensi stunting atau  kekurangan gizi kronik ini,&quot; terang dia.
Ia berharap dengan menurunkan prevelansi stunting di Indonesia dapat  menciptakan SDM yang berkualitas di masa depan.
&quot;Kami membantu Presiden  untuk mewujudkan visi dan misi dalam menciptakan SDM yang cerdas,  berbudi pekerti luhur, sehat dan kuat. Mimpi besar untuk mencetak  generasi premium salah satunya dapat dicapai dengan apabila angka  stunting terus turun,&quot; ujar Widodo.</content:encoded></item></channel></rss>
