<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Potret Toleransi dalam Perayaan Imlek di Cirebon</title><description>Toleransi di Cirebon, diakui pengurus Vihara Dewi Welas Asih, sangat terjaga.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/25/525/2158085/potret-toleransi-dalam-perayaan-imlek-di-cirebon</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/01/25/525/2158085/potret-toleransi-dalam-perayaan-imlek-di-cirebon"/><item><title>Potret Toleransi dalam Perayaan Imlek di Cirebon</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/25/525/2158085/potret-toleransi-dalam-perayaan-imlek-di-cirebon</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/01/25/525/2158085/potret-toleransi-dalam-perayaan-imlek-di-cirebon</guid><pubDate>Sabtu 25 Januari 2020 06:42 WIB</pubDate><dc:creator>Fathnur Rohman</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/25/525/2158085/potret-toleransi-dalam-perayaan-imlek-di-cirebon-X9LURY8PB5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Perayaan malam Imlek di Vihara Dewi Welas Asih, Kota Cirebon. (Foto : Okezone.com/Fathnur Rohman)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/25/525/2158085/potret-toleransi-dalam-perayaan-imlek-di-cirebon-X9LURY8PB5.jpg</image><title>Perayaan malam Imlek di Vihara Dewi Welas Asih, Kota Cirebon. (Foto : Okezone.com/Fathnur Rohman)</title></images><description>CIREBON &amp;ndash; Warga Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek 2571 yang jatuh pada 25 Januari 2020. Di Kota Cirebon, Imlek tak hanya dirayakan warga keturunan Tionghoa. Umat muslim pun ada yang meramaikan perayaan malam Imlek.

Begitulah potret di Vihara Dewi Welas Asih, Kota Cirebon, Jawa Barat. Vihara tertua di Cirebon ini selalu ramai saat malam perayaan tahun baru Imlek seperti sekarang.

Saat Okezone datang berkunjung pada Jumat (24/1/2020) malam, nuansa serba merah sangat terasa ketika pertama kali menginjakan kaki di tempat ini. Lilin-lilin berukuran kecil, sedang, hingga raksasa terpampang jelas di depannya. Sementara lampion beraneka motif terpasang menghiasi dan menambah cantik langit-langit di Vihara Dewi Welas Asih.

Masyarakat selain keturunan Tionghoa pun tampak hadir dalam perayaan malam tahun baru Imlek di Vihara Dewi Welas Asih. Mereka berinteraksi serta bertegur sapa tanpa ada rasa canggung sedikitpun. Ini bukan hal aneh karena keharmonisan antarumat beragama di Kota Cirebon masih terawat dengan baik.

Gwi Khusung atau Romo Sungkono, pengurus dari Vihara Dewi Welas Asih mengakui hal tersebut. Ia menceritakan, ada faktor historis mengapa keharmonisan umat beragama di Kota Cirebon masih terjaga hingga sekarang.



Jika menilik sejarahnya, menurut Sungkono, Putri Ong Tien menjadi tokoh yang sangat berperan dalam mempererat hubungan baik antara masyarakat Cirebon dengan warga keturunan Tionghoa.

Diceritakan Sungkono, Putri Ong Tien merupakan istri dari pendiri Kesultanan Cirebon sekaligus salah satu Wali Songo, yakni Sunan Gunung Jati. Mereka berdua menikah pada 1540.

Dari peristiwa itulah, Sungkono menyebut warga keturunan Tionghoa dan masyarakat Cirebon selalu berhubungan baik dan tidak pernah terlibat konflik sama sekali.

&quot;Kalau toleransi di sini jangan ditanya lagi. Sangat terjaga. Sangat harmonis. Biar sejarah saja yang berbicara. Historisnya memang ada. Dulu Putri Ong Tien dari Tiongkok masuk Islam dan menjadi istri Sunan Gunung Jati. Dari situ sampai sekarang masih terjaga keharmonisannya, &quot; kata Sungkono saat berbincang dengan Okezone.

Sungkono mencontohkan nilai-nilai toleransi saat perayaan Imlek di  Vihara Dewi Welas Asih juga bisa dilihat pada orang-orang asal Losari,  Kabupaten Cirebon, Jawa Barat yang  memainkan musik pat im khas  Tiongkok.

Meski beragama Islam, setiap Imlek mereka akan selalu memainkan  musik-musik pat im di Vihara Dewi Welas Asih. Bahkan, diungkapkan  Sungkono, hanya merekalah yang bisa menyesuaikan keselarasan irama  ketika seorang pemuka agama dari warga Tionghoa sedang melafalkan  doa-doa.

Ia mengatakan, mereka merupakan grup pat im satu-satunya yang ada di Cirebon dan sekitarnya.

&quot;Mereka tiap Imlek main musik di sini. Mereka satu-satunya di Cirebon  dan paling tua. Cuma mereka yang iramanya bisa sama saat biksu mengucap  mantra dan sutra,&quot; ujarnya.



Sungkono bercerita, selama puluhan tahun tinggal di Cirebon  masyarakat lokal di sekitarnya selalu menerimanya dengan baik, meskipun  ia warga keturunan Tionghoa.

Sungkono menuturkan, saking terjaganya keharmonisan umat beragama di  Cirebon, saat ini ia bahkan sudah memiliki menantu yang beragama Islam.

Dalam perayaan tahun baru Imlek ini, Sungkono berharap masyarakat di  Kota Cirebon selalu mendapat nasib baik serta kerukunan umat beragama  tetap terjaga.

&quot;Saya saja sekarang punya menantu yang agamanya Islam. Ini bukti keharmonisannya. Semoga ini bisa terjaga terus, &quot; tuturnya.

</description><content:encoded>CIREBON &amp;ndash; Warga Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek 2571 yang jatuh pada 25 Januari 2020. Di Kota Cirebon, Imlek tak hanya dirayakan warga keturunan Tionghoa. Umat muslim pun ada yang meramaikan perayaan malam Imlek.

Begitulah potret di Vihara Dewi Welas Asih, Kota Cirebon, Jawa Barat. Vihara tertua di Cirebon ini selalu ramai saat malam perayaan tahun baru Imlek seperti sekarang.

Saat Okezone datang berkunjung pada Jumat (24/1/2020) malam, nuansa serba merah sangat terasa ketika pertama kali menginjakan kaki di tempat ini. Lilin-lilin berukuran kecil, sedang, hingga raksasa terpampang jelas di depannya. Sementara lampion beraneka motif terpasang menghiasi dan menambah cantik langit-langit di Vihara Dewi Welas Asih.

Masyarakat selain keturunan Tionghoa pun tampak hadir dalam perayaan malam tahun baru Imlek di Vihara Dewi Welas Asih. Mereka berinteraksi serta bertegur sapa tanpa ada rasa canggung sedikitpun. Ini bukan hal aneh karena keharmonisan antarumat beragama di Kota Cirebon masih terawat dengan baik.

Gwi Khusung atau Romo Sungkono, pengurus dari Vihara Dewi Welas Asih mengakui hal tersebut. Ia menceritakan, ada faktor historis mengapa keharmonisan umat beragama di Kota Cirebon masih terjaga hingga sekarang.



Jika menilik sejarahnya, menurut Sungkono, Putri Ong Tien menjadi tokoh yang sangat berperan dalam mempererat hubungan baik antara masyarakat Cirebon dengan warga keturunan Tionghoa.

Diceritakan Sungkono, Putri Ong Tien merupakan istri dari pendiri Kesultanan Cirebon sekaligus salah satu Wali Songo, yakni Sunan Gunung Jati. Mereka berdua menikah pada 1540.

Dari peristiwa itulah, Sungkono menyebut warga keturunan Tionghoa dan masyarakat Cirebon selalu berhubungan baik dan tidak pernah terlibat konflik sama sekali.

&quot;Kalau toleransi di sini jangan ditanya lagi. Sangat terjaga. Sangat harmonis. Biar sejarah saja yang berbicara. Historisnya memang ada. Dulu Putri Ong Tien dari Tiongkok masuk Islam dan menjadi istri Sunan Gunung Jati. Dari situ sampai sekarang masih terjaga keharmonisannya, &quot; kata Sungkono saat berbincang dengan Okezone.

Sungkono mencontohkan nilai-nilai toleransi saat perayaan Imlek di  Vihara Dewi Welas Asih juga bisa dilihat pada orang-orang asal Losari,  Kabupaten Cirebon, Jawa Barat yang  memainkan musik pat im khas  Tiongkok.

Meski beragama Islam, setiap Imlek mereka akan selalu memainkan  musik-musik pat im di Vihara Dewi Welas Asih. Bahkan, diungkapkan  Sungkono, hanya merekalah yang bisa menyesuaikan keselarasan irama  ketika seorang pemuka agama dari warga Tionghoa sedang melafalkan  doa-doa.

Ia mengatakan, mereka merupakan grup pat im satu-satunya yang ada di Cirebon dan sekitarnya.

&quot;Mereka tiap Imlek main musik di sini. Mereka satu-satunya di Cirebon  dan paling tua. Cuma mereka yang iramanya bisa sama saat biksu mengucap  mantra dan sutra,&quot; ujarnya.



Sungkono bercerita, selama puluhan tahun tinggal di Cirebon  masyarakat lokal di sekitarnya selalu menerimanya dengan baik, meskipun  ia warga keturunan Tionghoa.

Sungkono menuturkan, saking terjaganya keharmonisan umat beragama di  Cirebon, saat ini ia bahkan sudah memiliki menantu yang beragama Islam.

Dalam perayaan tahun baru Imlek ini, Sungkono berharap masyarakat di  Kota Cirebon selalu mendapat nasib baik serta kerukunan umat beragama  tetap terjaga.

&quot;Saya saja sekarang punya menantu yang agamanya Islam. Ini bukti keharmonisannya. Semoga ini bisa terjaga terus, &quot; tuturnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
