<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>DBD di Kota Kupang Tewaskan 1 Orang Warga</title><description>Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) telah merenggut 1 korban jiwa.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/02/03/340/2162499/dbd-di-kota-kupang-tewaskan-1-orang-warga</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/02/03/340/2162499/dbd-di-kota-kupang-tewaskan-1-orang-warga"/><item><title>DBD di Kota Kupang Tewaskan 1 Orang Warga</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/02/03/340/2162499/dbd-di-kota-kupang-tewaskan-1-orang-warga</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/02/03/340/2162499/dbd-di-kota-kupang-tewaskan-1-orang-warga</guid><pubDate>Senin 03 Februari 2020 13:59 WIB</pubDate><dc:creator>Adi Rianghepat</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/02/03/340/2162499/dbd-di-kota-kupang-tewaskan-1-orang-warga-k1xZfkF8X5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/02/03/340/2162499/dbd-di-kota-kupang-tewaskan-1-orang-warga-k1xZfkF8X5.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>KUPANG - Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) telah merenggut 1 korban jiwa.

Penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti itu sudah mulai mewabah di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur itu sejak awal musim hujan di Oktober 2019 silam.

Kepala Bidang Penanggulangan dan Pengamatan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Kupang Sri Wahyungsih kepada Okezone, mengatakan, secara grafik terjadi penurunan jumlah penderta.

Namun demikian, kewaspadaan terus dilakukan paramedis dan aparat di seluruh kelurahan yang ada di wilayah tersebut, untuk meminimalisir penambahan kasus.

Baca Juga: Waspada Siklus 5 Tahunan Demam Berdarah!

&quot;Sejak Oktober 2019 sudah terjadi kasus DBD di Kota Kupang, namun sejak Januari 2020 hingga saat ini mulai berangsur turun kasusnya,&quot; katanya.

Dia menyebut, hingga 2 Februari 2020, sudah terdapat 120 kasus dengan satu kasus meninggal. Korban meninggal kata dia, karena keterlambatan penanganan sejak awal anak tersebut mendapat serangan gigitan nyamuk aedes aegypti.

Meskipun sempat ditolong paramedis di RSU Sint Carolus Boromeus, namun pada hari kedua, nyawa anak berusia 9 tahun itu tewas. &quot;Ya terlambat dilarikan ke rumah sakit oleh keluarga,&quot; kata Sri.

Dari data yang ada di 12 Puskesmas yang menyebar di 51 kelurahan dan  enam kecamatan Kota Kupang, angka tertinggi berada di Puskesmas Sikumana  dengan jumlah penderita 34 kasus, menyusul Puskesmas Oepoi 20 kasus,  BKS 14 kasus, Puskesmas Oesapa dan Alak 12 kasus, Penfui 9 kasus, Oebobo  8 kasus, Pasir Panjang 4 kasus, Naioni 3 kasus dan sisanya Manutepan 2  kasus dan Puskesmas Kota Kupang 1 kasus.

Dari sisi jenis kelamin, kata Sri, jumlah 120 kasus tersebut,  terbanyak dialami oleh pasien laki-laki berjumlah 53 persen dan sisanya  47 persen pasien perempuan.

Sedangkan dari aspek usia, terbanyak berusia antara 5-9  tahun sebanyak 36 persen, di atas 15 tahun 29 persen, 1-4 tahun 25  persen, 10-14 tahun berjumlah 7 persen dan sisanya di bawah 1 tahun  berjumlah 3 persen.

Dari data tersebut, lanjut dia, yang paling banyak dirawat adalah  pasien dengan level atau Grad I sebanyak 71 kasus, Grad II sebanyak 28  kasus, Grad III 17 kasus dan Grad IV berjumlah 3 kasus.

&quot;Artinya para orang tua sudah mulai sadar untuk segera membawa anak  ke tempat layanan kesehatan untuk memeriksakan anak jika mendapat gejala  DBD,&quot; kata Sri.
</description><content:encoded>KUPANG - Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) telah merenggut 1 korban jiwa.

Penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti itu sudah mulai mewabah di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur itu sejak awal musim hujan di Oktober 2019 silam.

Kepala Bidang Penanggulangan dan Pengamatan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Kupang Sri Wahyungsih kepada Okezone, mengatakan, secara grafik terjadi penurunan jumlah penderta.

Namun demikian, kewaspadaan terus dilakukan paramedis dan aparat di seluruh kelurahan yang ada di wilayah tersebut, untuk meminimalisir penambahan kasus.

Baca Juga: Waspada Siklus 5 Tahunan Demam Berdarah!

&quot;Sejak Oktober 2019 sudah terjadi kasus DBD di Kota Kupang, namun sejak Januari 2020 hingga saat ini mulai berangsur turun kasusnya,&quot; katanya.

Dia menyebut, hingga 2 Februari 2020, sudah terdapat 120 kasus dengan satu kasus meninggal. Korban meninggal kata dia, karena keterlambatan penanganan sejak awal anak tersebut mendapat serangan gigitan nyamuk aedes aegypti.

Meskipun sempat ditolong paramedis di RSU Sint Carolus Boromeus, namun pada hari kedua, nyawa anak berusia 9 tahun itu tewas. &quot;Ya terlambat dilarikan ke rumah sakit oleh keluarga,&quot; kata Sri.

Dari data yang ada di 12 Puskesmas yang menyebar di 51 kelurahan dan  enam kecamatan Kota Kupang, angka tertinggi berada di Puskesmas Sikumana  dengan jumlah penderita 34 kasus, menyusul Puskesmas Oepoi 20 kasus,  BKS 14 kasus, Puskesmas Oesapa dan Alak 12 kasus, Penfui 9 kasus, Oebobo  8 kasus, Pasir Panjang 4 kasus, Naioni 3 kasus dan sisanya Manutepan 2  kasus dan Puskesmas Kota Kupang 1 kasus.

Dari sisi jenis kelamin, kata Sri, jumlah 120 kasus tersebut,  terbanyak dialami oleh pasien laki-laki berjumlah 53 persen dan sisanya  47 persen pasien perempuan.

Sedangkan dari aspek usia, terbanyak berusia antara 5-9  tahun sebanyak 36 persen, di atas 15 tahun 29 persen, 1-4 tahun 25  persen, 10-14 tahun berjumlah 7 persen dan sisanya di bawah 1 tahun  berjumlah 3 persen.

Dari data tersebut, lanjut dia, yang paling banyak dirawat adalah  pasien dengan level atau Grad I sebanyak 71 kasus, Grad II sebanyak 28  kasus, Grad III 17 kasus dan Grad IV berjumlah 3 kasus.

&quot;Artinya para orang tua sudah mulai sadar untuk segera membawa anak  ke tempat layanan kesehatan untuk memeriksakan anak jika mendapat gejala  DBD,&quot; kata Sri.
</content:encoded></item></channel></rss>
