<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penanganan Pasca-Banjir di Bogor &amp; Lebak, Menteri LHK: Pemerintah Terapkan Pola Baru</title><description>Pola baru ini adalah menggabungkan pendekatan vegetatif atau penanaman pohon yang sesuai kondisi alam serta pemberdayaan masyarakat</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/02/04/337/2163409/penanganan-pasca-banjir-di-bogor-lebak-menteri-lhk-pemerintah-terapkan-pola-baru</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/02/04/337/2163409/penanganan-pasca-banjir-di-bogor-lebak-menteri-lhk-pemerintah-terapkan-pola-baru"/><item><title>Penanganan Pasca-Banjir di Bogor &amp; Lebak, Menteri LHK: Pemerintah Terapkan Pola Baru</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/02/04/337/2163409/penanganan-pasca-banjir-di-bogor-lebak-menteri-lhk-pemerintah-terapkan-pola-baru</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/02/04/337/2163409/penanganan-pasca-banjir-di-bogor-lebak-menteri-lhk-pemerintah-terapkan-pola-baru</guid><pubDate>Selasa 04 Februari 2020 21:48 WIB</pubDate><dc:creator>Putra Ramadhani Astyawan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/02/04/337/2163409/penanganan-pasca-banjir-di-bogor-lebak-menteri-lhk-pemerintah-terapkan-pola-baru-xQwUNRM2dH.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri LHK, Siti Nurbaya (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/02/04/337/2163409/penanganan-pasca-banjir-di-bogor-lebak-menteri-lhk-pemerintah-terapkan-pola-baru-xQwUNRM2dH.jpg</image><title>Menteri LHK, Siti Nurbaya (Foto: Okezone)</title></images><description>BOGOR - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya mengatakan telah menerapkan pola baru dalam penangan pascabencana banjir dan longsor di wilayah Bogor serta Lebak, Banten.

Pola baru ini adalah menggabungkan pendekatan vegetatif atau penanaman pohon yang sesuai kondisi alam serta pemberdayaan masyarakat untuk dilibatkan langsung sekaligus mengedukasi.

&quot;Pemerintah terapkan pola baru. Jadi ada yang baru yang diharapkan Bapak Presiden Joko Widodo yang dapat menanggulangi bencana dan pemulihan alam secara komprehensif dan terintegrasi masyarakat,&quot; kata Siti, Selasa (4/2/2020).

Baca Juga: Presiden Jokowi Sampaikan Lima Poin Solusi Penanggulangan Bencana

Siti menambahkan, pola yang dilakukan mengenai penanganan darurat bencana alam ini dilaksanakan setelah mendapat instruksi dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 6 Januari 2020 lalu.

&quot;Setelah liat di lapangan , sesuai arahan presiden, maka bisa dilihat dan Ketahuan betul di lapangan bahwa harus ditangani satu paket yakni rehabilitasi hutan dan lahan dan bangunan konservasi tanah dan air serta penanaman pohon,&quot; jelas Siti.

Presiden Jokowi, lanjut Siti, meminta bagaimana menanami bentang alamnya yang sudah rusak dan harus diperbaiki yakni dengan ditanami vetiver dalam kombinasi pepohonan dan bangunan konservasi tanah dan air atau ekohidrolika di lokasi longsor.

Siti melanjutkan, swakelola masyarakat dalam penanganan pascabencana  juga tak kalah penting untuk dilakukan salah satunya dengan pembuatan  bronjong berlapis.

Kemudian, pada saat tanggap darurat harus bersamaan dilakukan  pembuatan dam penanahan air dan sedimen, penanganan tebing serta  penanaman pohon. Di daerah yang terjal bisa ditanami veriver, sedangkan  tebing yang mudah terkelupas diperkuat dengan vertiver dibantu oleh  coccomesh.

Dalam hal tanah yang terlalu longgar bisa dipakai coccomesh itu atau  jaring-jaring dari sabut kelapa dengan ukuran lubang sekitar 2x2 cm. Ini  sesuatu yang baru sistem pengendalian konservasi tanah dan air dengan  penanaman pohon serta lainnya.

&quot;Ini swakelola masyarakat, batu kali diambil dari pinggir kali oleh  masyarakat. Ada upah angkut dan batunya kita beli. Pekerjanya juga dari  masyarakat kita bayar ongkos kerjanya. Ini kita lakukan sejak Perintah  Bapak Presiden pada saya awal Januari lalu. Ini hal yang baik,  pendekatan dan keiukutsertaan masyarakat juga lebih intensif,&quot; tutupnya.


</description><content:encoded>BOGOR - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya mengatakan telah menerapkan pola baru dalam penangan pascabencana banjir dan longsor di wilayah Bogor serta Lebak, Banten.

Pola baru ini adalah menggabungkan pendekatan vegetatif atau penanaman pohon yang sesuai kondisi alam serta pemberdayaan masyarakat untuk dilibatkan langsung sekaligus mengedukasi.

&quot;Pemerintah terapkan pola baru. Jadi ada yang baru yang diharapkan Bapak Presiden Joko Widodo yang dapat menanggulangi bencana dan pemulihan alam secara komprehensif dan terintegrasi masyarakat,&quot; kata Siti, Selasa (4/2/2020).

Baca Juga: Presiden Jokowi Sampaikan Lima Poin Solusi Penanggulangan Bencana

Siti menambahkan, pola yang dilakukan mengenai penanganan darurat bencana alam ini dilaksanakan setelah mendapat instruksi dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 6 Januari 2020 lalu.

&quot;Setelah liat di lapangan , sesuai arahan presiden, maka bisa dilihat dan Ketahuan betul di lapangan bahwa harus ditangani satu paket yakni rehabilitasi hutan dan lahan dan bangunan konservasi tanah dan air serta penanaman pohon,&quot; jelas Siti.

Presiden Jokowi, lanjut Siti, meminta bagaimana menanami bentang alamnya yang sudah rusak dan harus diperbaiki yakni dengan ditanami vetiver dalam kombinasi pepohonan dan bangunan konservasi tanah dan air atau ekohidrolika di lokasi longsor.

Siti melanjutkan, swakelola masyarakat dalam penanganan pascabencana  juga tak kalah penting untuk dilakukan salah satunya dengan pembuatan  bronjong berlapis.

Kemudian, pada saat tanggap darurat harus bersamaan dilakukan  pembuatan dam penanahan air dan sedimen, penanganan tebing serta  penanaman pohon. Di daerah yang terjal bisa ditanami veriver, sedangkan  tebing yang mudah terkelupas diperkuat dengan vertiver dibantu oleh  coccomesh.

Dalam hal tanah yang terlalu longgar bisa dipakai coccomesh itu atau  jaring-jaring dari sabut kelapa dengan ukuran lubang sekitar 2x2 cm. Ini  sesuatu yang baru sistem pengendalian konservasi tanah dan air dengan  penanaman pohon serta lainnya.

&quot;Ini swakelola masyarakat, batu kali diambil dari pinggir kali oleh  masyarakat. Ada upah angkut dan batunya kita beli. Pekerjanya juga dari  masyarakat kita bayar ongkos kerjanya. Ini kita lakukan sejak Perintah  Bapak Presiden pada saya awal Januari lalu. Ini hal yang baik,  pendekatan dan keiukutsertaan masyarakat juga lebih intensif,&quot; tutupnya.


</content:encoded></item></channel></rss>
