<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kekerasan Sesama Pelajar di Malang dan Dairi, Bagaimana Sekolah Harus Bereaksi?</title><description>Dalam beberapa hari terakhir publik dikejutkan kasus kekerasan dan bullying antar-pelajar di Malang dan Kabupaten Dairi</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/02/07/337/2164682/kekerasan-sesama-pelajar-di-malang-dan-dairi-bagaimana-sekolah-harus-bereaksi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/02/07/337/2164682/kekerasan-sesama-pelajar-di-malang-dan-dairi-bagaimana-sekolah-harus-bereaksi"/><item><title>Kekerasan Sesama Pelajar di Malang dan Dairi, Bagaimana Sekolah Harus Bereaksi?</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/02/07/337/2164682/kekerasan-sesama-pelajar-di-malang-dan-dairi-bagaimana-sekolah-harus-bereaksi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/02/07/337/2164682/kekerasan-sesama-pelajar-di-malang-dan-dairi-bagaimana-sekolah-harus-bereaksi</guid><pubDate>Jum'at 07 Februari 2020 08:48 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/02/07/337/2164682/kekerasan-sesama-pelajar-di-malang-dan-dairi-bagaimana-sekolah-harus-bereaksi-FfYX3Ukbih.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/02/07/337/2164682/kekerasan-sesama-pelajar-di-malang-dan-dairi-bagaimana-sekolah-harus-bereaksi-FfYX3Ukbih.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>MALANG - Lembaga pendidikan disebut psikolog anak perlu memberikan suasana yang kondusif dan nyaman supaya kasus - kasus kekerasan yang dilakukan anak.

Dalam beberapa hari terakhir publik dikejutkan kasus kekerasan dan bullying antar-pelajar di Malang, Jawa Timur dan Kabupaten Dairi, Sumatera Utara yang menyebabkan dua pelajar menjadi korban.

Di Malang, akibat digendong dan dilempar ke paving oleh rekan - rekannya sesama pelajar SMP Negeri di sekolah yang sama, membuat jari tengah tangan kanannya harus diamputasi.

Baca Juga: Jari Siswa SMP di Malang Diamputasi Setelah Di-Bully dan Dilempar Kawannya ke Tanah

Sementara di Kabupaten Dairi, akibat tendangan di bagian dada oleh SO (14), siswa SMP HKBP Sidikalang berinisial SN (14) tewas sesaat menjalani perawatan di rumah sakit setempat.

Baca Juga: Perkelahian Pelajar SMP, Satu Orang Tewas Kena Tendangan di Dada

Psikolog Anak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Salis Yuniardi, menyatakan dari sejumlah kasus kekerasan maupun bullying di sekolah yang muncul, disebabkan oleh tekanan psikis yang kerap kali muncul di sekolah. Hal itu lantaran beban psikis akibat proses belajar mengajar yang terlalu berat.

&quot;Perlu membangun atmosfer akademik yang membuat setiap anak diperhatikan bakat minatnya, sehingga fokus menikmati cita - citanya, bukan lingkungan sekolah yang menjadi stres bagi psikologis anak. Itu yang penting,&quot; ungkap Salis Yuniardi, kepada Okezone.

Maka menurut pria yang juga Dekan Fakultas Psikologi UMM, diperlukan  sekolah yang bisa mengembangkan potensi setiap anak, melalui  pengembangan kreativitas guru untuk proses pembelajaran.

&quot;Guru harus kreatif untuk menciptakan waktu pembelajaran yang  menyenangkan di sekolah. Guru juga menjadi role model untuk muridnya  terkait interaksi sosial yang saling menghargai,&quot; jelas Salis kembali.

Pihaknya juga mengungkapkan perlunya anak untuk menyalurkan bakat  minatnya, melalui ekstra kulikuler (ekskul). Supaya bakat dan minat  lebih terasah, tak hanya sekedar di akademik saja.

&quot;Terakhir peran BK, bukan hanya untuk mengatasi masalah namun juga  menemukan dan mengenali potensi siswa. Kemudian membantu siswa  merencanakan pengembangan dirinya dan secara aktif mendeteksi masalah  siswa,&quot; tuturnya.
</description><content:encoded>MALANG - Lembaga pendidikan disebut psikolog anak perlu memberikan suasana yang kondusif dan nyaman supaya kasus - kasus kekerasan yang dilakukan anak.

Dalam beberapa hari terakhir publik dikejutkan kasus kekerasan dan bullying antar-pelajar di Malang, Jawa Timur dan Kabupaten Dairi, Sumatera Utara yang menyebabkan dua pelajar menjadi korban.

Di Malang, akibat digendong dan dilempar ke paving oleh rekan - rekannya sesama pelajar SMP Negeri di sekolah yang sama, membuat jari tengah tangan kanannya harus diamputasi.

Baca Juga: Jari Siswa SMP di Malang Diamputasi Setelah Di-Bully dan Dilempar Kawannya ke Tanah

Sementara di Kabupaten Dairi, akibat tendangan di bagian dada oleh SO (14), siswa SMP HKBP Sidikalang berinisial SN (14) tewas sesaat menjalani perawatan di rumah sakit setempat.

Baca Juga: Perkelahian Pelajar SMP, Satu Orang Tewas Kena Tendangan di Dada

Psikolog Anak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Salis Yuniardi, menyatakan dari sejumlah kasus kekerasan maupun bullying di sekolah yang muncul, disebabkan oleh tekanan psikis yang kerap kali muncul di sekolah. Hal itu lantaran beban psikis akibat proses belajar mengajar yang terlalu berat.

&quot;Perlu membangun atmosfer akademik yang membuat setiap anak diperhatikan bakat minatnya, sehingga fokus menikmati cita - citanya, bukan lingkungan sekolah yang menjadi stres bagi psikologis anak. Itu yang penting,&quot; ungkap Salis Yuniardi, kepada Okezone.

Maka menurut pria yang juga Dekan Fakultas Psikologi UMM, diperlukan  sekolah yang bisa mengembangkan potensi setiap anak, melalui  pengembangan kreativitas guru untuk proses pembelajaran.

&quot;Guru harus kreatif untuk menciptakan waktu pembelajaran yang  menyenangkan di sekolah. Guru juga menjadi role model untuk muridnya  terkait interaksi sosial yang saling menghargai,&quot; jelas Salis kembali.

Pihaknya juga mengungkapkan perlunya anak untuk menyalurkan bakat  minatnya, melalui ekstra kulikuler (ekskul). Supaya bakat dan minat  lebih terasah, tak hanya sekedar di akademik saja.

&quot;Terakhir peran BK, bukan hanya untuk mengatasi masalah namun juga  menemukan dan mengenali potensi siswa. Kemudian membantu siswa  merencanakan pengembangan dirinya dan secara aktif mendeteksi masalah  siswa,&quot; tuturnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
