<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>HPN 2020, Ini Deretan Tokoh Pers Nasional yang Berpengaruh di Indonesia</title><description>Sejak masa ke masa banyak tokoh pers yang berpengaruh memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa Indonesia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/02/08/337/2165284/hpn-2020-ini-deretan-tokoh-pers-nasional-yang-berpengaruh-di-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/02/08/337/2165284/hpn-2020-ini-deretan-tokoh-pers-nasional-yang-berpengaruh-di-indonesia"/><item><title>HPN 2020, Ini Deretan Tokoh Pers Nasional yang Berpengaruh di Indonesia</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/02/08/337/2165284/hpn-2020-ini-deretan-tokoh-pers-nasional-yang-berpengaruh-di-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/02/08/337/2165284/hpn-2020-ini-deretan-tokoh-pers-nasional-yang-berpengaruh-di-indonesia</guid><pubDate>Sabtu 08 Februari 2020 08:23 WIB</pubDate><dc:creator>Harits Tryan Akhmad</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/02/08/337/2165284/hpn-2020-ini-deretan-tokoh-pers-nasional-yang-berpengaruh-di-indonesia-dfLm0fuXNa.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/02/08/337/2165284/hpn-2020-ini-deretan-tokoh-pers-nasional-yang-berpengaruh-di-indonesia-dfLm0fuXNa.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>JAKARTA - Hari Pers Nasional (HPN) diperingati setiap tanggal 9 Februari. Perayaan Hari Pers Nasional itu  didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 5 tahun 1985.

Sejak masa ke masa banyak tokoh pers yang berpengaruh memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa Indonesia. Guna mengingatnya Okezone mencoba menyajikan 7 tokoh pers nasional berdasarkan rangkuman dari Wikipedia.

1. Tirto Adhi Soerjo



Tirto Adhi Soerjo alah seorang tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia, dikenal juga sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia. Namanya sering disingkat T.A.S.

Tirto menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907) dan Putri Hindia (1908). Tirto juga mendirikan Sarikat Dagang Islam.

Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli.

Tirto adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Dia juga berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu.

Akhirnya Tirto ditangkap dan disingkirkan dari Pulau Jawa dan dibuang ke Pulau Bacan, dekat Halmahera (Provinsi Maluku Utara). Setelah selesai masa pembuangannya, Tirto kembali ke Batavia, dan meninggal dunia pada 17 Agustus 1918.


2. H. Rosihan Anwar

H. Rosihan Anwar merupakan tokoh pers, sejarawan, sastrawan, dan  budayawan Indonesia. Rosihan merupakan salah seorang yang produktif  menulis.

Rosihan memulai karier jurnalistiknya sebagai reporter Asia Raya pada  masa pendudukan Jepang tahun 1943 hingga menjadi pemimpin redaksi  Siasat (1947-1957) dan Pedoman (1948-1961). Pada masa perjuangan, ia  pernah disekap oleh penjajah Belanda di Bukit Duri, Batavia (kini  Jakarta).

Kemudian pada tahun 1961, koran Pedoman miliknya dibredel penguasa.  Pada masa Orde Baru, ia menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan  Indonesia (1968-1974).

Tahun 1973, Rosihan mendapatkan anugerah Bintang Mahaputra III,  bersama tokoh pers Jakob Oetama. Namun kurang dari setahun setelah  Presiden Soeharto mengalungkan bintang itu di lehernya, koran Pedoman  miliknya ditutup.

3. Goenawan Mohammad



Goenawan Soesatyo Mohamad adalah seorang sastrawan Indonesia terkemuka. Ia juga salah seorang pendiri Majalah Tempo.

Karier Jurnalistik Goenawan dimulai dari redaktur Harian KAMI  (1969-1970), redaktur Majalah Horison (1969-1974), pemimpin redaksi  Majalah Ekspres (1970-1971), pemimpin redaksi Majalah Swasembada (1985).

Dan sejak 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan majalah  Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme  majalah Time. Di sana, ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda  politik di Indonesia.

Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada  waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap  sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah, sehingga  dihentikan penerbitannya pada 1994.

4. SK Trimurti

Surastri Karma Trimurti  dikenal sebagai  wartawan, penulis dan guru   Indonesia, yang mengambil bagian dalam gerakan kemerdekaan Indonesia   terhadap penjajahan oleh Belanda.

Dia kemudian menjabat sebagai menteri tenaga kerja pertama di   Indonesia dari tahun 1947 sampai 1948 di bawah Perdana Menteri Indonesia   Amir Sjarifuddin.

5. Jakob Oetama

Dr (H.C) Jakob Oetama adalah wartawan dan salah satu pendiri Surat   Kabar Kompas. Saat ini ia merupakan Presiden Direktur Kelompok   Kompas-Gramedia, Pembina Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia,   dan Penasihat Konfederasi Wartawan ASEAN.

6. Rohana Kudus



Rohana Kudus dikenal sebagai salah satu wartawan Indonesia. Pada   tahun 1911, Ruhana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto   Gadang. Sembari aktif di bidang pendidikan yang disenanginya, Ruhana   menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia.

Ketika dibredel pemerintah Belanda, Ruhana berinisiatif mendirikan   surat kabar, bernama Sunting Melayu, yang tercatat sebagai salah satu   surat kabar perempuan pertama di Indonesia.

7. Ani Idrus

Ani Idrus dalah seorang wartawati senior yang mendirikan Harian   Waspada bersama suaminya H. Mohamad Said pada tahun 1947. Terakhir ia   menjabat Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Waspada dan Majalah Dunia   Wanita di Medan.

Selain berkecimpung dalam dunia jurnalistik, ia juga mendirikan dan   memimpin lembaga pendidikan yang bernaung dalam Yayasan Pendidikan Ani   Idrus.

</description><content:encoded>JAKARTA - Hari Pers Nasional (HPN) diperingati setiap tanggal 9 Februari. Perayaan Hari Pers Nasional itu  didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 5 tahun 1985.

Sejak masa ke masa banyak tokoh pers yang berpengaruh memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa Indonesia. Guna mengingatnya Okezone mencoba menyajikan 7 tokoh pers nasional berdasarkan rangkuman dari Wikipedia.

1. Tirto Adhi Soerjo



Tirto Adhi Soerjo alah seorang tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia, dikenal juga sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia. Namanya sering disingkat T.A.S.

Tirto menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907) dan Putri Hindia (1908). Tirto juga mendirikan Sarikat Dagang Islam.

Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli.

Tirto adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Dia juga berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu.

Akhirnya Tirto ditangkap dan disingkirkan dari Pulau Jawa dan dibuang ke Pulau Bacan, dekat Halmahera (Provinsi Maluku Utara). Setelah selesai masa pembuangannya, Tirto kembali ke Batavia, dan meninggal dunia pada 17 Agustus 1918.


2. H. Rosihan Anwar

H. Rosihan Anwar merupakan tokoh pers, sejarawan, sastrawan, dan  budayawan Indonesia. Rosihan merupakan salah seorang yang produktif  menulis.

Rosihan memulai karier jurnalistiknya sebagai reporter Asia Raya pada  masa pendudukan Jepang tahun 1943 hingga menjadi pemimpin redaksi  Siasat (1947-1957) dan Pedoman (1948-1961). Pada masa perjuangan, ia  pernah disekap oleh penjajah Belanda di Bukit Duri, Batavia (kini  Jakarta).

Kemudian pada tahun 1961, koran Pedoman miliknya dibredel penguasa.  Pada masa Orde Baru, ia menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan  Indonesia (1968-1974).

Tahun 1973, Rosihan mendapatkan anugerah Bintang Mahaputra III,  bersama tokoh pers Jakob Oetama. Namun kurang dari setahun setelah  Presiden Soeharto mengalungkan bintang itu di lehernya, koran Pedoman  miliknya ditutup.

3. Goenawan Mohammad



Goenawan Soesatyo Mohamad adalah seorang sastrawan Indonesia terkemuka. Ia juga salah seorang pendiri Majalah Tempo.

Karier Jurnalistik Goenawan dimulai dari redaktur Harian KAMI  (1969-1970), redaktur Majalah Horison (1969-1974), pemimpin redaksi  Majalah Ekspres (1970-1971), pemimpin redaksi Majalah Swasembada (1985).

Dan sejak 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan majalah  Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme  majalah Time. Di sana, ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda  politik di Indonesia.

Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada  waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap  sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah, sehingga  dihentikan penerbitannya pada 1994.

4. SK Trimurti

Surastri Karma Trimurti  dikenal sebagai  wartawan, penulis dan guru   Indonesia, yang mengambil bagian dalam gerakan kemerdekaan Indonesia   terhadap penjajahan oleh Belanda.

Dia kemudian menjabat sebagai menteri tenaga kerja pertama di   Indonesia dari tahun 1947 sampai 1948 di bawah Perdana Menteri Indonesia   Amir Sjarifuddin.

5. Jakob Oetama

Dr (H.C) Jakob Oetama adalah wartawan dan salah satu pendiri Surat   Kabar Kompas. Saat ini ia merupakan Presiden Direktur Kelompok   Kompas-Gramedia, Pembina Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia,   dan Penasihat Konfederasi Wartawan ASEAN.

6. Rohana Kudus



Rohana Kudus dikenal sebagai salah satu wartawan Indonesia. Pada   tahun 1911, Ruhana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto   Gadang. Sembari aktif di bidang pendidikan yang disenanginya, Ruhana   menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia.

Ketika dibredel pemerintah Belanda, Ruhana berinisiatif mendirikan   surat kabar, bernama Sunting Melayu, yang tercatat sebagai salah satu   surat kabar perempuan pertama di Indonesia.

7. Ani Idrus

Ani Idrus dalah seorang wartawati senior yang mendirikan Harian   Waspada bersama suaminya H. Mohamad Said pada tahun 1947. Terakhir ia   menjabat Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Waspada dan Majalah Dunia   Wanita di Medan.

Selain berkecimpung dalam dunia jurnalistik, ia juga mendirikan dan   memimpin lembaga pendidikan yang bernaung dalam Yayasan Pendidikan Ani   Idrus.

</content:encoded></item></channel></rss>
