<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mereka yang Tetap Menjunjung Tinggi Kode Etik Jurnalistik Meski Nyawa Dipertaruhkan</title><description>Arul salah seorang jurnalis berstatus kontributor sebuah media yang kantornya berada di Jakarta.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/02/08/337/2165358/mereka-yang-tetap-menjunjung-tinggi-kode-etik-jurnalistik-meski-nyawa-dipertaruhkan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/02/08/337/2165358/mereka-yang-tetap-menjunjung-tinggi-kode-etik-jurnalistik-meski-nyawa-dipertaruhkan"/><item><title>Mereka yang Tetap Menjunjung Tinggi Kode Etik Jurnalistik Meski Nyawa Dipertaruhkan</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/02/08/337/2165358/mereka-yang-tetap-menjunjung-tinggi-kode-etik-jurnalistik-meski-nyawa-dipertaruhkan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/02/08/337/2165358/mereka-yang-tetap-menjunjung-tinggi-kode-etik-jurnalistik-meski-nyawa-dipertaruhkan</guid><pubDate>Sabtu 08 Februari 2020 13:02 WIB</pubDate><dc:creator>Adi Rianghepat</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/02/08/337/2165358/mereka-yang-tetap-menjunjung-tinggi-kode-etik-jurnalistik-meski-nyawa-dipertaruhkan-6MYCJwDKy0.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/02/08/337/2165358/mereka-yang-tetap-menjunjung-tinggi-kode-etik-jurnalistik-meski-nyawa-dipertaruhkan-6MYCJwDKy0.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>KUPANG - Hari masih sangat pagi. Jam baru saja menunjuk pukul 09.00 WITA. Namun Arul (45) sudah bergegas memacu motor tuanya.

&quot;Hari ini ada liputan, perintah kantor saya harus mewancarai Gubernur terkait suatu hal,&quot; katanya sambil bergegas pergi.

Arul salah seorang jurnalis berstatus kontributor sebuah media yang kantornya berada di Jakarta. Karena berstatus kontributor, dia harus berjuang keras memenuhi perintah kantornya yang ditugaskan kepadanya.

&quot;Ya, kalau diperintah kantor kan hasil liputan sudah pasti ditayang dan tentu akan ada imbas hasil buat saya,&quot; katanya lagi saat berjumpa di tempat berkumpul sejumlah jurnalis.

Dia mengaku saban waktu harus memantau sejumlah informasi untuk menakar kelaikan agar dijadikan sebuah tulisan dan dikirim ke redaksinya.



&quot;Kalau saya nilai layak saya bikinkan berita dan kadang saya harus berkoordinasi dengan pengampu saya di redaksi untuk memastikan layak tidaknya sebuah informasi untuk dijadikan berita,&quot; katanya berkisah.

Tak mudah memang, menjadi seorang jurnalis berstatus kontributor. Terlalu banyak beban dipikul. Mulai dari beban menafkahi keluarga hingga beban malu kepada narasumber yang hasil wawancara gagal tayang.

Sebagai kontributor, kata dia, tak semua hasil liputan layak tayang. Banyak pertimbangan yang melatarinya versi redaksi. Alasan nilai sebuah berita kadang menjadi sandungan serius bagi gagal tayang sebuah hasil liputan di daerah.

&quot;Meskipun kadang ada juga kejadian sama ditayang di media nasional lain dan di media saya tak tayang. Di sinilah saya merasa sedikit aneh. Nilai berita jenis apa yang dibutuh media saya,&quot; kisahnya.

Di kondisi tak banyak hasil liputan yang ditayang itulah, kata Arul akan sangat berkonsekuensi lurus terhadap penghasilan bulanannya. Tak banyak (uang) yang akan dia peroleh, meskipun saban hari, upaya untuk mencari dan mengemas isu liputan sudah dilakukan matang.

&quot;Penghasilan tiap bulannya tak bisa menutupi biaya aktivitasnya tiap hari. Apalagi untuk membiayai kehidupan keluarga yang lebih besar. Harga yang dibayar untuk satu berita tayang pun kecil, bagaimana bisa penuhi seluruh kebutuhan saya dan keluarga,&quot; katanya agak lirih.
Tetap Junjung Tinggi Kode Etik

Di tengah kondisi yang dialami Arul itu, jurnalis matang ini mengaku  akan tetap menjaga konsistensi, profesionalitas dan ingeritas dirinya  sebagai jurnalis di setiap tugasnya.

Tata etik dan segala bentuk aturan yang telah menjadi garis pandu  bagi para jurnalis tetap dia pegang teguh. &quot;Kode etik jurnalis dan  Undang-undang 40 tahun 1999 tentang Pers menjadi pemandu saya  beraktivitas tiap hari. Apapun alasannya,&quot; katanya.

Dia mengaku tak akan tergiur dengan cara-cara dan praktik tak  beretika seperti, meneror dan memeras meskipun tak beruang. Bagi ayah  satu anak itu, harga dan martabatnya sebagai seorang manusia (jurnalis)  harus tetap harum meskipun harus menikmati pahitnya hidup dengan kondisi  ekonomi yang jauh dari layak.



Arul mengatakan, apa yang dialaminya setidaknya sedang dialami juga  oleh sejumlah jurnalis berstatus kontributor lainnya di hampir sebagian  daerah di Nusantara ini. Hal itu menurut dia, karena adanya pembiaran  jika tak mau dibilang tak mau peduli dari perusahaan pers tempat para  kontributor mengabdi.

Ketidak pedulian terhadap harkat dan martabat manusia (jurnalis)  sedang dipraktikkan oleh sejumlah pengusaha pemilik media. Namun begitu,  kata dia, apa daya yang bisa diperbuat.

&quot;Kami hanyalah kuli sebuah perusahaan media yang pemiliknya pengusaha  yang bergelimpangan harta. Tetapi kami adalah manusia yang patut juga  mendapatkan penghargaan atas nama kemanusiaan itu. Ada harkat dan  martabat kami yang diabaikan,&quot; tuturnya.

Di balik semuanya itu, Arul berharap nasib yang dialami serta  sejumlah rekan jurnalis berstatus kontributor lainnya tak lagi terus  berulang dan melebar untuk anak bangsa (jurnalis) lainya.

Setidaknya menjadi jurnalis adalah pilihan untuk menjadikan dirinya  pewarta adil bagi anak bangsa lainnya. Setidaknya ada hal baik di  profesi jurnalis yang sedang dilakoni Arul dan teman-teman jurnalis  lainnya.

Karenanya penting ada pertimbangan kemanusiaan dari pemilik  perusahaan media bagi sebuah kesejahteraan yang lebih baik untuk tetap  menjaga harkat dan martabat sebuah sosok yang disebut jurnalis itu.

</description><content:encoded>KUPANG - Hari masih sangat pagi. Jam baru saja menunjuk pukul 09.00 WITA. Namun Arul (45) sudah bergegas memacu motor tuanya.

&quot;Hari ini ada liputan, perintah kantor saya harus mewancarai Gubernur terkait suatu hal,&quot; katanya sambil bergegas pergi.

Arul salah seorang jurnalis berstatus kontributor sebuah media yang kantornya berada di Jakarta. Karena berstatus kontributor, dia harus berjuang keras memenuhi perintah kantornya yang ditugaskan kepadanya.

&quot;Ya, kalau diperintah kantor kan hasil liputan sudah pasti ditayang dan tentu akan ada imbas hasil buat saya,&quot; katanya lagi saat berjumpa di tempat berkumpul sejumlah jurnalis.

Dia mengaku saban waktu harus memantau sejumlah informasi untuk menakar kelaikan agar dijadikan sebuah tulisan dan dikirim ke redaksinya.



&quot;Kalau saya nilai layak saya bikinkan berita dan kadang saya harus berkoordinasi dengan pengampu saya di redaksi untuk memastikan layak tidaknya sebuah informasi untuk dijadikan berita,&quot; katanya berkisah.

Tak mudah memang, menjadi seorang jurnalis berstatus kontributor. Terlalu banyak beban dipikul. Mulai dari beban menafkahi keluarga hingga beban malu kepada narasumber yang hasil wawancara gagal tayang.

Sebagai kontributor, kata dia, tak semua hasil liputan layak tayang. Banyak pertimbangan yang melatarinya versi redaksi. Alasan nilai sebuah berita kadang menjadi sandungan serius bagi gagal tayang sebuah hasil liputan di daerah.

&quot;Meskipun kadang ada juga kejadian sama ditayang di media nasional lain dan di media saya tak tayang. Di sinilah saya merasa sedikit aneh. Nilai berita jenis apa yang dibutuh media saya,&quot; kisahnya.

Di kondisi tak banyak hasil liputan yang ditayang itulah, kata Arul akan sangat berkonsekuensi lurus terhadap penghasilan bulanannya. Tak banyak (uang) yang akan dia peroleh, meskipun saban hari, upaya untuk mencari dan mengemas isu liputan sudah dilakukan matang.

&quot;Penghasilan tiap bulannya tak bisa menutupi biaya aktivitasnya tiap hari. Apalagi untuk membiayai kehidupan keluarga yang lebih besar. Harga yang dibayar untuk satu berita tayang pun kecil, bagaimana bisa penuhi seluruh kebutuhan saya dan keluarga,&quot; katanya agak lirih.
Tetap Junjung Tinggi Kode Etik

Di tengah kondisi yang dialami Arul itu, jurnalis matang ini mengaku  akan tetap menjaga konsistensi, profesionalitas dan ingeritas dirinya  sebagai jurnalis di setiap tugasnya.

Tata etik dan segala bentuk aturan yang telah menjadi garis pandu  bagi para jurnalis tetap dia pegang teguh. &quot;Kode etik jurnalis dan  Undang-undang 40 tahun 1999 tentang Pers menjadi pemandu saya  beraktivitas tiap hari. Apapun alasannya,&quot; katanya.

Dia mengaku tak akan tergiur dengan cara-cara dan praktik tak  beretika seperti, meneror dan memeras meskipun tak beruang. Bagi ayah  satu anak itu, harga dan martabatnya sebagai seorang manusia (jurnalis)  harus tetap harum meskipun harus menikmati pahitnya hidup dengan kondisi  ekonomi yang jauh dari layak.



Arul mengatakan, apa yang dialaminya setidaknya sedang dialami juga  oleh sejumlah jurnalis berstatus kontributor lainnya di hampir sebagian  daerah di Nusantara ini. Hal itu menurut dia, karena adanya pembiaran  jika tak mau dibilang tak mau peduli dari perusahaan pers tempat para  kontributor mengabdi.

Ketidak pedulian terhadap harkat dan martabat manusia (jurnalis)  sedang dipraktikkan oleh sejumlah pengusaha pemilik media. Namun begitu,  kata dia, apa daya yang bisa diperbuat.

&quot;Kami hanyalah kuli sebuah perusahaan media yang pemiliknya pengusaha  yang bergelimpangan harta. Tetapi kami adalah manusia yang patut juga  mendapatkan penghargaan atas nama kemanusiaan itu. Ada harkat dan  martabat kami yang diabaikan,&quot; tuturnya.

Di balik semuanya itu, Arul berharap nasib yang dialami serta  sejumlah rekan jurnalis berstatus kontributor lainnya tak lagi terus  berulang dan melebar untuk anak bangsa (jurnalis) lainya.

Setidaknya menjadi jurnalis adalah pilihan untuk menjadikan dirinya  pewarta adil bagi anak bangsa lainnya. Setidaknya ada hal baik di  profesi jurnalis yang sedang dilakoni Arul dan teman-teman jurnalis  lainnya.

Karenanya penting ada pertimbangan kemanusiaan dari pemilik  perusahaan media bagi sebuah kesejahteraan yang lebih baik untuk tetap  menjaga harkat dan martabat sebuah sosok yang disebut jurnalis itu.

</content:encoded></item></channel></rss>
