<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sebelum Tragedi SMPN 1 Turi, Susur Sungai Dinilai Efektif Cegah Banjir Bandang</title><description>Sebelum duka itu terjadi, pakar UGM mengatakan bencana banjir bandang sebenarnya bisa dicegah dengan cara melakukan gerakan susur sungai</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/02/22/510/2172616/sebelum-tragedi-smpn-1-turi-susur-sungai-dinilai-efektif-cegah-banjir-bandang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/02/22/510/2172616/sebelum-tragedi-smpn-1-turi-susur-sungai-dinilai-efektif-cegah-banjir-bandang"/><item><title>Sebelum Tragedi SMPN 1 Turi, Susur Sungai Dinilai Efektif Cegah Banjir Bandang</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/02/22/510/2172616/sebelum-tragedi-smpn-1-turi-susur-sungai-dinilai-efektif-cegah-banjir-bandang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/02/22/510/2172616/sebelum-tragedi-smpn-1-turi-susur-sungai-dinilai-efektif-cegah-banjir-bandang</guid><pubDate>Sabtu 22 Februari 2020 17:35 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Solopos</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/02/22/510/2172616/sebelum-tragedi-smpn-1-turi-susur-sungai-dinilai-efektif-cegah-banjir-bandang-hFPUQlDDoo.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sungai Sempor (Foto: KRjogja)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/02/22/510/2172616/sebelum-tragedi-smpn-1-turi-susur-sungai-dinilai-efektif-cegah-banjir-bandang-hFPUQlDDoo.jpg</image><title>Sungai Sempor (Foto: KRjogja)</title></images><description>YOGYAKARTA - Hingga saat ini sembilan siswa SMPN 1 Turi, Sleman dinyatakan tewas dalam kegiatan pramuka menyusuri Sungai Sempor. Peristiwa itu langsung menjadi pusat perhatian publik.
Sekitar satu pekan sebelum tragedi SMPN 1 Turi terjadi, pakar Manajemen Sungai dari UGM Yogyakarta Agus Maryono mengatakan bencana banjir bandang yang melanda beberapa wilayah di Tanah Air sebenarnya bisa dicegah dan dikurangi dengan cara melakukan gerakan susur sungai.
Gerakan ini menurutnya harus melibatkan semua pihak termasuk unsur masyarakat untuk mengetahui kondisi hulu sungai apabila terjadi sumbatan. &quot;Banjir bandang bisa dicegah dengan gerakan susur sungai serta memberdayakan masyarakat,&quot; kata Agus Maryono dalam bincang-bincang dengan wartawan, sebagaimana dikutip dari laman resmi UGM Yogyakarta, Sabtu (22/2/2020).
Gerakan susur sungai dinilai Agus bukan sekadar menengok keadaan kondisi sekitar sungai, tapi juga melakukan kegiatan bersih sungai dari timbunan kayu, sampah dan longsor di tebing sungai. Karena, sebagian besar penyebab banjir bandang disebabkan adanya sumbatan di daerah hulu sungai. &quot;Sekira 90 persen karena sumbatan,&amp;rdquo; katanya.
Gerakan susur sungai menurutnya tidak hanya mengantisipasi terjadinya bencana banjir bandang, namun bisa memberikan dampak positif lainnya bagi masyarakat dan pemerintah.

Baca Juga: Polres Sleman Dirikan 2 Posko Identifikasi Korban Tragedi Susur Sungai SMPN 1 Turi
Dia menyatakan dengan menyusuri sungai akan diketahui potensi sungai di daerah masing-masing dari temuan sumber mata air baru, sumber listrik, potensi objek wisata hingga mengetahui ada tidaknya sumber bahan baku galian tambang.
&quot;Setelah susur sungai biasanya didiskusikan dan masyarakat akan bisa paham tentang potensi sungai. Sekarang banyak daerah yang punya sungai tapi tidak paham potensinya,&quot; katanya.
Gerakan susur sungai, menurut Agus Maryono, setidaknya melibatkan pihak perangkat desa, TNI, BPBD hingga anggota pemuda setempat. Selanjutnya dalam pelaksanaannya juga dilakukan pemetaan hingga kegiatan bersih sungai dengan menggunakan alat pemotong gergaji mesin hingga alat untuk membersihkan longsoran tanah serta tali tambang untuk mengikat dan menarik tumpukan kayu ke pinggir.Dia mencontohkan beberapa daerah yang berhasil melakukan gerakan  susur sungai yang menjadikan area sepanjang sungai menjadi bersih  sekaligus menjadi lokasi objek wisata dan rekreasi yakni sungai Batu  Bulan di Ambon dan Kali Pusur di Klaten.
&amp;rdquo;Sungai di sana menjadi  bersih dan jadi lokasi objek wisata baru. Sekali lagi, gerakan susur  sungai cegah banjir bandang dan meningkat kesejahteraan ekonomi  masyarakat,&amp;rdquo; kata dia.
Setelah tragedi di Sungai Sempor yang  melibatkan siswa SMPN 1 Turi terjadi, Agus menyatakan peristiwa itu  menjadi preseden buruk bagi kegiatan susur sungai karena dilakukan  dengan tidak mempertimbangkan banyak hal.
&amp;rdquo;Aduh, ini konyol, saya  sangat sangat sedih sekali, mengapa ini bisa terjadi, susur sungai  dilakukan anak-anak, ini menjadi preseden buruk bagi susur sungai,&amp;rdquo;  ucapnya, Jumat  (21/2/2020) malam.

Dia mengatakan kegiatan susur sungai ada  standarnya, antara lain tidak boleh dilakukan anak hingga remaja dan  hanya boleh dilakukan oleh kalangan profesional seperti TNI atau anggota  mapala.
Selain itu, susur sungai tidak dilakukan di dalam area  sungai, tetapi hanya memantau di luar sungai kemudian melakukan  penanganan ketika ada sesuatu yang perlu menjadi catatan.Dia  menyatakan susur sungai tidak boleh dilakukan di saat musim  hujan  sehingga pelaksanaan harus dilakukan di musim kemarau. Jika pun  ada yang  ingin melakukan di musim hujan, harus dilakukan oleh kalangan   profesional.
Selain itu harus dilengkapi dengan berbagai peralatan  seperti helm  dan pelampung, serta berbagai alat lapangan lainnya.  &amp;ldquo;Meskipun itu di  sungai kecil, tetap harus sesuai prosedur, karena  sungai kecil itu  justru malah lebih berbahaya, aliran air bisa tiba-tiba  besar,&amp;rdquo;  katanya.
Alumnus Institute fuer Wasserwirtschaft,  Hydarulik und Rural  Engineering (Jurusan Manajemen Sumber Daya Air,  Hidraulika dan Irigasi)  University of Karlsruhe, Jerman itu meyakini  pengetahuan soal susur  sungai ini tidak diketahui oleh penyelenggara  kegiatan di SMPN 1 Turi.
Faktanya anak-anak justru diajak masuk  sungai di saat musim hujan  dan tanpa perlengkapan yang memadai. &amp;ldquo;Kalau  niatnya mau kerja bakti  harus ada orang yang di atas untuk memantau,  waduh, musim hujan ngapain  juga, musim hujan kan sampah juga sudah tidak  ada,&amp;rdquo; ujarnya.
Dia meminta kepada berbagai pihak terutama dinas  terkait agar  membuat standar operasional prosedur (SOP) kegiatan  lapangan bagi para  pelajar, bahwa susur sungai tidak boleh dilakukan  pelajar.</description><content:encoded>YOGYAKARTA - Hingga saat ini sembilan siswa SMPN 1 Turi, Sleman dinyatakan tewas dalam kegiatan pramuka menyusuri Sungai Sempor. Peristiwa itu langsung menjadi pusat perhatian publik.
Sekitar satu pekan sebelum tragedi SMPN 1 Turi terjadi, pakar Manajemen Sungai dari UGM Yogyakarta Agus Maryono mengatakan bencana banjir bandang yang melanda beberapa wilayah di Tanah Air sebenarnya bisa dicegah dan dikurangi dengan cara melakukan gerakan susur sungai.
Gerakan ini menurutnya harus melibatkan semua pihak termasuk unsur masyarakat untuk mengetahui kondisi hulu sungai apabila terjadi sumbatan. &quot;Banjir bandang bisa dicegah dengan gerakan susur sungai serta memberdayakan masyarakat,&quot; kata Agus Maryono dalam bincang-bincang dengan wartawan, sebagaimana dikutip dari laman resmi UGM Yogyakarta, Sabtu (22/2/2020).
Gerakan susur sungai dinilai Agus bukan sekadar menengok keadaan kondisi sekitar sungai, tapi juga melakukan kegiatan bersih sungai dari timbunan kayu, sampah dan longsor di tebing sungai. Karena, sebagian besar penyebab banjir bandang disebabkan adanya sumbatan di daerah hulu sungai. &quot;Sekira 90 persen karena sumbatan,&amp;rdquo; katanya.
Gerakan susur sungai menurutnya tidak hanya mengantisipasi terjadinya bencana banjir bandang, namun bisa memberikan dampak positif lainnya bagi masyarakat dan pemerintah.

Baca Juga: Polres Sleman Dirikan 2 Posko Identifikasi Korban Tragedi Susur Sungai SMPN 1 Turi
Dia menyatakan dengan menyusuri sungai akan diketahui potensi sungai di daerah masing-masing dari temuan sumber mata air baru, sumber listrik, potensi objek wisata hingga mengetahui ada tidaknya sumber bahan baku galian tambang.
&quot;Setelah susur sungai biasanya didiskusikan dan masyarakat akan bisa paham tentang potensi sungai. Sekarang banyak daerah yang punya sungai tapi tidak paham potensinya,&quot; katanya.
Gerakan susur sungai, menurut Agus Maryono, setidaknya melibatkan pihak perangkat desa, TNI, BPBD hingga anggota pemuda setempat. Selanjutnya dalam pelaksanaannya juga dilakukan pemetaan hingga kegiatan bersih sungai dengan menggunakan alat pemotong gergaji mesin hingga alat untuk membersihkan longsoran tanah serta tali tambang untuk mengikat dan menarik tumpukan kayu ke pinggir.Dia mencontohkan beberapa daerah yang berhasil melakukan gerakan  susur sungai yang menjadikan area sepanjang sungai menjadi bersih  sekaligus menjadi lokasi objek wisata dan rekreasi yakni sungai Batu  Bulan di Ambon dan Kali Pusur di Klaten.
&amp;rdquo;Sungai di sana menjadi  bersih dan jadi lokasi objek wisata baru. Sekali lagi, gerakan susur  sungai cegah banjir bandang dan meningkat kesejahteraan ekonomi  masyarakat,&amp;rdquo; kata dia.
Setelah tragedi di Sungai Sempor yang  melibatkan siswa SMPN 1 Turi terjadi, Agus menyatakan peristiwa itu  menjadi preseden buruk bagi kegiatan susur sungai karena dilakukan  dengan tidak mempertimbangkan banyak hal.
&amp;rdquo;Aduh, ini konyol, saya  sangat sangat sedih sekali, mengapa ini bisa terjadi, susur sungai  dilakukan anak-anak, ini menjadi preseden buruk bagi susur sungai,&amp;rdquo;  ucapnya, Jumat  (21/2/2020) malam.

Dia mengatakan kegiatan susur sungai ada  standarnya, antara lain tidak boleh dilakukan anak hingga remaja dan  hanya boleh dilakukan oleh kalangan profesional seperti TNI atau anggota  mapala.
Selain itu, susur sungai tidak dilakukan di dalam area  sungai, tetapi hanya memantau di luar sungai kemudian melakukan  penanganan ketika ada sesuatu yang perlu menjadi catatan.Dia  menyatakan susur sungai tidak boleh dilakukan di saat musim  hujan  sehingga pelaksanaan harus dilakukan di musim kemarau. Jika pun  ada yang  ingin melakukan di musim hujan, harus dilakukan oleh kalangan   profesional.
Selain itu harus dilengkapi dengan berbagai peralatan  seperti helm  dan pelampung, serta berbagai alat lapangan lainnya.  &amp;ldquo;Meskipun itu di  sungai kecil, tetap harus sesuai prosedur, karena  sungai kecil itu  justru malah lebih berbahaya, aliran air bisa tiba-tiba  besar,&amp;rdquo;  katanya.
Alumnus Institute fuer Wasserwirtschaft,  Hydarulik und Rural  Engineering (Jurusan Manajemen Sumber Daya Air,  Hidraulika dan Irigasi)  University of Karlsruhe, Jerman itu meyakini  pengetahuan soal susur  sungai ini tidak diketahui oleh penyelenggara  kegiatan di SMPN 1 Turi.
Faktanya anak-anak justru diajak masuk  sungai di saat musim hujan  dan tanpa perlengkapan yang memadai. &amp;ldquo;Kalau  niatnya mau kerja bakti  harus ada orang yang di atas untuk memantau,  waduh, musim hujan ngapain  juga, musim hujan kan sampah juga sudah tidak  ada,&amp;rdquo; ujarnya.
Dia meminta kepada berbagai pihak terutama dinas  terkait agar  membuat standar operasional prosedur (SOP) kegiatan  lapangan bagi para  pelajar, bahwa susur sungai tidak boleh dilakukan  pelajar.</content:encoded></item></channel></rss>
