<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tanggul Raksasa dan Penataan Kota Jadi Solusi Banjir Pekalongan</title><description>Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyebut penanganan banjir di Kota Pekalongan harus dilakukan dengan cara berbeda.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/02/22/512/2172410/tanggul-raksasa-dan-penataan-kota-jadi-solusi-banjir-pekalongan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/02/22/512/2172410/tanggul-raksasa-dan-penataan-kota-jadi-solusi-banjir-pekalongan"/><item><title>Tanggul Raksasa dan Penataan Kota Jadi Solusi Banjir Pekalongan</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/02/22/512/2172410/tanggul-raksasa-dan-penataan-kota-jadi-solusi-banjir-pekalongan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/02/22/512/2172410/tanggul-raksasa-dan-penataan-kota-jadi-solusi-banjir-pekalongan</guid><pubDate>Sabtu 22 Februari 2020 04:37 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Budi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/02/22/512/2172410/tanggul-raksasa-dan-penataan-kota-jadi-solusi-banjir-pekalongan-2a4EhNu38v.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/02/22/512/2172410/tanggul-raksasa-dan-penataan-kota-jadi-solusi-banjir-pekalongan-2a4EhNu38v.jpg</image><title>Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (foto: Ist)</title></images><description>PEKALONGAN - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyebut penanganan banjir di Kota Pekalongan harus dilakukan dengan cara berbeda. Sebagai salah satu kota besar, permasalahan lingkungan menjadi penyebab utama banjir.

&quot;Maka tadi saya perintahkan Wali Kota Pekalongan untuk mengeruk saluran-saluran di tengah kota. Keluarkan semua alat berat dan optimalkan sumberdayanya untuk mengatasi ini. Karena, sampai Maret nanti, cuaca masih tidak menentu,&quot; kata Ganjar, Jumat (21/2/2020).
Baca Juga:&amp;nbsp;265 Warga Masih Mengungsi Akibat Banjir Pekalongan&amp;nbsp;
Selain tanggul raksasa yang sedang dibuat, permasalahan banjir di Pekalongan juga harus diantisipasi dengan perubahan penataan kota. Pihaknya sudah memerintahkan agar Pemkot Pekalongan melakukan penataan drainase tengah kota.

&quot;Drainase harus ditata ulang, yang kecil-kecil harus dibesarkan agar aliran air lancar. Sambil menunggu tanggul laut selesai, program itu harus ditingkatkan,&quot; ucapnya.
&amp;nbsp;
Ganjar pun mengakui penanganan banjir di Pekalongan bukanlah perkara gampang. Pemkot tidak akan mungkin bisa menyelesaikan itu apabila hanya mengandalkan kekuatannya sendiri.

&quot;Kerja sama dengan kami di Pemprov dan dengan Pemerintah Pusat harus dilakukan. Tidak akan mampu kalau kerja sendiri,&quot; imbuhnya.

Masyarakat lanjut dia juga diminta mendukung upaya pengendalian lingkungan ini. Budaya hidup bersih dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak membuang limbah batik di sungai harus digalakkan.

&quot;Sebagai kota yang terkenal dengan batiknya dan sering dikunjungi wisatawan, masyarakat Pekalongan harus hidup bersih. Bersih itu nomor satu. Kalau itu bisa dikerjakan, maka teknis pekerjaan lainnya bisa membantu,&quot; tuturnya.

Sekadar diketahui, sebanyak 265 warga Kota Pekalongan Jawa Tengah masih bertahan di pengingsian karena tempat tinggalnya terendam banjir. Mereka tersebar di bebepa titik mulai kantor camat hingga masjid.
Baca Juga:&amp;nbsp;Diguyur Hujan Seharian, Ribuan Rumah di Pekalongan Kebanjiran&amp;nbsp;
&quot;Awalnya 306 warga, sekarang sudah berangsur berkurang dan tinggal 265 warga yang mengungsi,&quot; kata Camat Pekalongan Barat, M Taufiqurrahman.

Banjir di Pekalongan melanda dua kelurahan, yakni Kelurahan Tirto dan Pasirkratonkramat. Banjir akibat limpasan dari Sungai Bermi. Ketinggian air saat awal terjadi banjir mencapai 140 sentimeter dan kini berangsur surut.</description><content:encoded>PEKALONGAN - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyebut penanganan banjir di Kota Pekalongan harus dilakukan dengan cara berbeda. Sebagai salah satu kota besar, permasalahan lingkungan menjadi penyebab utama banjir.

&quot;Maka tadi saya perintahkan Wali Kota Pekalongan untuk mengeruk saluran-saluran di tengah kota. Keluarkan semua alat berat dan optimalkan sumberdayanya untuk mengatasi ini. Karena, sampai Maret nanti, cuaca masih tidak menentu,&quot; kata Ganjar, Jumat (21/2/2020).
Baca Juga:&amp;nbsp;265 Warga Masih Mengungsi Akibat Banjir Pekalongan&amp;nbsp;
Selain tanggul raksasa yang sedang dibuat, permasalahan banjir di Pekalongan juga harus diantisipasi dengan perubahan penataan kota. Pihaknya sudah memerintahkan agar Pemkot Pekalongan melakukan penataan drainase tengah kota.

&quot;Drainase harus ditata ulang, yang kecil-kecil harus dibesarkan agar aliran air lancar. Sambil menunggu tanggul laut selesai, program itu harus ditingkatkan,&quot; ucapnya.
&amp;nbsp;
Ganjar pun mengakui penanganan banjir di Pekalongan bukanlah perkara gampang. Pemkot tidak akan mungkin bisa menyelesaikan itu apabila hanya mengandalkan kekuatannya sendiri.

&quot;Kerja sama dengan kami di Pemprov dan dengan Pemerintah Pusat harus dilakukan. Tidak akan mampu kalau kerja sendiri,&quot; imbuhnya.

Masyarakat lanjut dia juga diminta mendukung upaya pengendalian lingkungan ini. Budaya hidup bersih dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak membuang limbah batik di sungai harus digalakkan.

&quot;Sebagai kota yang terkenal dengan batiknya dan sering dikunjungi wisatawan, masyarakat Pekalongan harus hidup bersih. Bersih itu nomor satu. Kalau itu bisa dikerjakan, maka teknis pekerjaan lainnya bisa membantu,&quot; tuturnya.

Sekadar diketahui, sebanyak 265 warga Kota Pekalongan Jawa Tengah masih bertahan di pengingsian karena tempat tinggalnya terendam banjir. Mereka tersebar di bebepa titik mulai kantor camat hingga masjid.
Baca Juga:&amp;nbsp;Diguyur Hujan Seharian, Ribuan Rumah di Pekalongan Kebanjiran&amp;nbsp;
&quot;Awalnya 306 warga, sekarang sudah berangsur berkurang dan tinggal 265 warga yang mengungsi,&quot; kata Camat Pekalongan Barat, M Taufiqurrahman.

Banjir di Pekalongan melanda dua kelurahan, yakni Kelurahan Tirto dan Pasirkratonkramat. Banjir akibat limpasan dari Sungai Bermi. Ketinggian air saat awal terjadi banjir mencapai 140 sentimeter dan kini berangsur surut.</content:encoded></item></channel></rss>
