<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menteri LHK Terkesan Ada Alat Ubah 30 Ton Sampah Jadi Bahan Bakar</title><description>Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) terkesan dengan alat yang dikembangkan Pemprov Nusa Tenggara Barat (NTB)</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/03/09/340/2180703/menteri-lhk-terkesan-ada-alat-ubah-30-ton-sampah-jadi-bahan-bakar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/03/09/340/2180703/menteri-lhk-terkesan-ada-alat-ubah-30-ton-sampah-jadi-bahan-bakar"/><item><title>Menteri LHK Terkesan Ada Alat Ubah 30 Ton Sampah Jadi Bahan Bakar</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/03/09/340/2180703/menteri-lhk-terkesan-ada-alat-ubah-30-ton-sampah-jadi-bahan-bakar</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/03/09/340/2180703/menteri-lhk-terkesan-ada-alat-ubah-30-ton-sampah-jadi-bahan-bakar</guid><pubDate>Senin 09 Maret 2020 20:41 WIB</pubDate><dc:creator>Adi Rianghepat</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/03/09/340/2180703/menteri-lhk-terkesan-ada-alat-ubah-30-ton-sampah-jadi-bahan-bakar-4b6IqBuePA.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/03/09/340/2180703/menteri-lhk-terkesan-ada-alat-ubah-30-ton-sampah-jadi-bahan-bakar-4b6IqBuePA.jpg</image><title></title></images><description>MATARAM - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) terkesan dengan alat yang dikembangkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB).

Menteri Siti Nurbaya sendiri mengunjungi TPA Regional  Kebon Kongok di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk melihat keberhasilan proses pengolahan sampah menjadi energi dengan teknologi Refused Derived Fuel (RDF).

Teknologi ini mampu mengubah sampah menjadi briket  yang dapat menjadi substitusi batu bara sebagai bahan bakar ramah lingkungan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap PLTU. Alat pengolah sampah ini sebagian sudah mampu dibuat mandiri oleh Indonesia.

Alat pengolahan sampah di NTB sendiri miliki kapasitas sekira 30 ton sampah. Jumlah itu mencapai 10 persen dari jumlah produksi sampah di NTB yang mencapai 300 ton setiap harinya.

Pemprov NTB sendiri memberi nama program ini, Jeranjang Olah Sampah Setempat (JOSS). Skemanya, pengolahan sampah melibatkan masyarakat, maka selain lingkungan menjadi bersih dari sampah juga memutar ekonomi melalui skema circular economy.

Baca Juga: Menteri LHK Tegaskan Permasalahan Lingkungan Tanggung Jawab Bersama

&quot;Langkah ini sangat baik, seperti tadi saya katakan, ini contoh yang konkrit di lapangan, hasilnya juga kelihatan, nanti masyarakat akan dapat manfaatnya,&quot; katanya melalui keterangan pers, Senin (9/3/2020).

Melalui teknologi RDF di TPA Kebon Kongok Menteri Siti berharap permasalahan sampah di NTB khususnya di Mataram, Lombok dapat selesai.

&quot;Yang pasti masalah sampah kita selesaikan. Jadi dari 300 ton sampah per hari tadi sudah diolah 30 ton dan akan ditingkatkan menjadi 100 ton, pak gubernur malah minta 200 ton. Teknologinya juga bagus, kita dorong&quot; ungkap Menteri Siti.

Selain itu Menteri Siti juga berpesan agar proyek ini dilakukan  pendaftaran kepada sistem registrasi nasional untuk emisi karbonnya.

&quot;Ini pedesaan tapi teknologinya canggih. Segera juga didaftarkan hak  patennya ke kantor Kementerian Hukum dan HAM, kalau emisi karbonnya  nanti daftar di KLHK. Dengan demikian apa yang menjadi hak cipta, apa  yang sesungguhnya milik mataram, milik NTB betul-betul adalah milik NTB.

Sementara itu, Gubernur NTB Zulkieflimansyah pun sangat berterima  kasih atas kunjungan Menteri LHK ini dan berharap agar pemerintah saling  bekerja menyelesaikan permasalahan sampah nasional.

&quot;Sekali lagi terima kasih, ini bentuk perhatian pemerintah pusat dan  Bu Menteri langsung datang ke sini, dan PLN juga Indonesia Power  menunjukkan keseriusannya sedemikian rupa agar masalah sampah ini  diselesaikan untuk energi,&quot; pungkas Gubernur NTB itu.

Pada kesempatan ini, Menteri LHK juga melakukan penanaman pohon Klicung (Diospyros macrophylla) tumbuhan kayu khas NTB.

Hadir dalam kunjungan ini Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran  dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLHK, Direksi PT. PLN dan PT. Indonesia  Power serta jajaran Pemerintah Daerah Provinsi NTB dan Kabupaten Lombok  Barat serta masyarakat dan para pegiat lingkungan.

</description><content:encoded>MATARAM - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) terkesan dengan alat yang dikembangkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB).

Menteri Siti Nurbaya sendiri mengunjungi TPA Regional  Kebon Kongok di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk melihat keberhasilan proses pengolahan sampah menjadi energi dengan teknologi Refused Derived Fuel (RDF).

Teknologi ini mampu mengubah sampah menjadi briket  yang dapat menjadi substitusi batu bara sebagai bahan bakar ramah lingkungan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap PLTU. Alat pengolah sampah ini sebagian sudah mampu dibuat mandiri oleh Indonesia.

Alat pengolahan sampah di NTB sendiri miliki kapasitas sekira 30 ton sampah. Jumlah itu mencapai 10 persen dari jumlah produksi sampah di NTB yang mencapai 300 ton setiap harinya.

Pemprov NTB sendiri memberi nama program ini, Jeranjang Olah Sampah Setempat (JOSS). Skemanya, pengolahan sampah melibatkan masyarakat, maka selain lingkungan menjadi bersih dari sampah juga memutar ekonomi melalui skema circular economy.

Baca Juga: Menteri LHK Tegaskan Permasalahan Lingkungan Tanggung Jawab Bersama

&quot;Langkah ini sangat baik, seperti tadi saya katakan, ini contoh yang konkrit di lapangan, hasilnya juga kelihatan, nanti masyarakat akan dapat manfaatnya,&quot; katanya melalui keterangan pers, Senin (9/3/2020).

Melalui teknologi RDF di TPA Kebon Kongok Menteri Siti berharap permasalahan sampah di NTB khususnya di Mataram, Lombok dapat selesai.

&quot;Yang pasti masalah sampah kita selesaikan. Jadi dari 300 ton sampah per hari tadi sudah diolah 30 ton dan akan ditingkatkan menjadi 100 ton, pak gubernur malah minta 200 ton. Teknologinya juga bagus, kita dorong&quot; ungkap Menteri Siti.

Selain itu Menteri Siti juga berpesan agar proyek ini dilakukan  pendaftaran kepada sistem registrasi nasional untuk emisi karbonnya.

&quot;Ini pedesaan tapi teknologinya canggih. Segera juga didaftarkan hak  patennya ke kantor Kementerian Hukum dan HAM, kalau emisi karbonnya  nanti daftar di KLHK. Dengan demikian apa yang menjadi hak cipta, apa  yang sesungguhnya milik mataram, milik NTB betul-betul adalah milik NTB.

Sementara itu, Gubernur NTB Zulkieflimansyah pun sangat berterima  kasih atas kunjungan Menteri LHK ini dan berharap agar pemerintah saling  bekerja menyelesaikan permasalahan sampah nasional.

&quot;Sekali lagi terima kasih, ini bentuk perhatian pemerintah pusat dan  Bu Menteri langsung datang ke sini, dan PLN juga Indonesia Power  menunjukkan keseriusannya sedemikian rupa agar masalah sampah ini  diselesaikan untuk energi,&quot; pungkas Gubernur NTB itu.

Pada kesempatan ini, Menteri LHK juga melakukan penanaman pohon Klicung (Diospyros macrophylla) tumbuhan kayu khas NTB.

Hadir dalam kunjungan ini Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran  dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLHK, Direksi PT. PLN dan PT. Indonesia  Power serta jajaran Pemerintah Daerah Provinsi NTB dan Kabupaten Lombok  Barat serta masyarakat dan para pegiat lingkungan.

</content:encoded></item></channel></rss>
