<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cenderung Meningkat, Dinkes Kulonprogo Waspadai Kasus DBD</title><description>Awal tahun ini sudah ada 71 kasus, ini cukup tinggi dan harus ditangani.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/03/11/510/2181646/cenderung-meningkat-dinkes-kulonprogo-waspadai-kasus-dbd</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/03/11/510/2181646/cenderung-meningkat-dinkes-kulonprogo-waspadai-kasus-dbd"/><item><title>Cenderung Meningkat, Dinkes Kulonprogo Waspadai Kasus DBD</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/03/11/510/2181646/cenderung-meningkat-dinkes-kulonprogo-waspadai-kasus-dbd</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/03/11/510/2181646/cenderung-meningkat-dinkes-kulonprogo-waspadai-kasus-dbd</guid><pubDate>Rabu 11 Maret 2020 15:16 WIB</pubDate><dc:creator>Kuntadi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/03/11/510/2181646/cenderung-meningkat-dinkes-kulonprogo-waspadai-kasus-dbd-ZZCvpHJ2G9.jpg" expression="full" type="image/jpeg">ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/03/11/510/2181646/cenderung-meningkat-dinkes-kulonprogo-waspadai-kasus-dbd-ZZCvpHJ2G9.jpg</image><title>ilustrasi</title></images><description>KULONPROGO &amp;ndash; Dinas Kesehatan Kulonprogo, mewaspadai kasus demam berdarah dengue (DBD) yang cenderung meningkat di awal tahun 2020. Tidak hanya kasusnya yang meningkat, namun sebarannya juga semakin luas. Bahkan, sejumlah wilayah di Perbukitan Menoreh, kini juga ditemukan kasus DBD yang selama ini bebas dari DBD.

&amp;ldquo;Awal tahun ini sudah ada 71 kasus, ini cukup tinggi dan harus ditangani,&amp;rdquo; jelas Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kulonprogo, Baning Rahayu Jati, Rabu (11/3/2020).

Menurutnya, periodesasi kasus DBD menggunakan pola enam tahunan. Puncak kasus DBD terjadi pada 2016 dan akan kembali terulang di 2022. Namun kenyataanya selama 2019, kasus DBD sudah diangkat 259 kasus.

&amp;ldquo;Periode enam tahunan di 2014, dalam setahun itu hanya 128 kasus, sekarang sudah 71 ini perlu penanganan sedangkan,&amp;rdquo; jelasnya.

Perhatian terhadap DBD, kata Baning, tidak lepas dari sebaran yang semakin meluas. Selama ini DBD hanya terjadi di wilayah dataran rendah saja. Namun dalam awal tahun ini sudah terjadi di perbukitan yang selama ini terbebas dari kasus DBD. &amp;ldquo;Dulu DBD tidak pernah ada di p3:02 PM 11/03/2020erbukitan, sekarang sudah ditemukan kasusnya,&amp;rdquo; tuturnya.

Higga kini dinas kesehatan telah melakukan foging di beberapa wilayah. Baik di Kapanewon, Galur, Wates, Lendah dan di Temon. Hanya saja foging bukan merupakan upaya membasmi nyamuk aides aigepty. Namun hanya memutus mata rantai penyebaran saja.

&amp;ldquo;Selama ini belum ada obat khusus DBD, obatnya ya obat demam tidak ada yang khusus,&amp;rdquo; ujarnya.

Baca Juga : Tambang Batu di Mojokerto Longsor, 1 Pekerja Tewas Tertimbun

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kulonprogo, Sri Budi Utami mengatakan upaya pencegahan paling ampuh adalah dengan melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Yakni dengan mengubur, menutup dan menguras tandon air. Ini penting, karena belum ada wilayah di Kulonprogo yang memenuhi syarat bebas jentik.

Tingginya kasus ini tidak lepas dari kondisi cuaca ekstrim. Dimana kadang ada hujan deras namun juga terjadi panas yang cukup lama. Kondisi ini kerap memunculkan genangan air hujan yang menjadi sarang nyamuk.</description><content:encoded>KULONPROGO &amp;ndash; Dinas Kesehatan Kulonprogo, mewaspadai kasus demam berdarah dengue (DBD) yang cenderung meningkat di awal tahun 2020. Tidak hanya kasusnya yang meningkat, namun sebarannya juga semakin luas. Bahkan, sejumlah wilayah di Perbukitan Menoreh, kini juga ditemukan kasus DBD yang selama ini bebas dari DBD.

&amp;ldquo;Awal tahun ini sudah ada 71 kasus, ini cukup tinggi dan harus ditangani,&amp;rdquo; jelas Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kulonprogo, Baning Rahayu Jati, Rabu (11/3/2020).

Menurutnya, periodesasi kasus DBD menggunakan pola enam tahunan. Puncak kasus DBD terjadi pada 2016 dan akan kembali terulang di 2022. Namun kenyataanya selama 2019, kasus DBD sudah diangkat 259 kasus.

&amp;ldquo;Periode enam tahunan di 2014, dalam setahun itu hanya 128 kasus, sekarang sudah 71 ini perlu penanganan sedangkan,&amp;rdquo; jelasnya.

Perhatian terhadap DBD, kata Baning, tidak lepas dari sebaran yang semakin meluas. Selama ini DBD hanya terjadi di wilayah dataran rendah saja. Namun dalam awal tahun ini sudah terjadi di perbukitan yang selama ini terbebas dari kasus DBD. &amp;ldquo;Dulu DBD tidak pernah ada di p3:02 PM 11/03/2020erbukitan, sekarang sudah ditemukan kasusnya,&amp;rdquo; tuturnya.

Higga kini dinas kesehatan telah melakukan foging di beberapa wilayah. Baik di Kapanewon, Galur, Wates, Lendah dan di Temon. Hanya saja foging bukan merupakan upaya membasmi nyamuk aides aigepty. Namun hanya memutus mata rantai penyebaran saja.

&amp;ldquo;Selama ini belum ada obat khusus DBD, obatnya ya obat demam tidak ada yang khusus,&amp;rdquo; ujarnya.

Baca Juga : Tambang Batu di Mojokerto Longsor, 1 Pekerja Tewas Tertimbun

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kulonprogo, Sri Budi Utami mengatakan upaya pencegahan paling ampuh adalah dengan melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Yakni dengan mengubur, menutup dan menguras tandon air. Ini penting, karena belum ada wilayah di Kulonprogo yang memenuhi syarat bebas jentik.

Tingginya kasus ini tidak lepas dari kondisi cuaca ekstrim. Dimana kadang ada hujan deras namun juga terjadi panas yang cukup lama. Kondisi ini kerap memunculkan genangan air hujan yang menjadi sarang nyamuk.</content:encoded></item></channel></rss>
