<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Pengemudi Ojol Antar Pesanan Dilarang Masuk hingga Tolak Uang Kembalian</title><description>Banyak pengguna aplikasi yang meminta pesanan makanan di gantung di pintu. Bahkan tidak sedikit yang menerima uang kembalian</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/04/04/512/2194050/cerita-pengemudi-ojol-antar-pesanan-dilarang-masuk-hingga-tolak-uang-kembalian</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/04/04/512/2194050/cerita-pengemudi-ojol-antar-pesanan-dilarang-masuk-hingga-tolak-uang-kembalian"/><item><title>Cerita Pengemudi Ojol Antar Pesanan Dilarang Masuk hingga Tolak Uang Kembalian</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/04/04/512/2194050/cerita-pengemudi-ojol-antar-pesanan-dilarang-masuk-hingga-tolak-uang-kembalian</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/04/04/512/2194050/cerita-pengemudi-ojol-antar-pesanan-dilarang-masuk-hingga-tolak-uang-kembalian</guid><pubDate>Sabtu 04 April 2020 11:22 WIB</pubDate><dc:creator>Amril Amarullah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/04/512/2194050/cerita-pengemudi-ojol-antar-pesanan-dilarang-masuk-hingga-tolak-uang-kembalian-qvkBs8MRQn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Aktivitas Ojek Online (foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/04/512/2194050/cerita-pengemudi-ojol-antar-pesanan-dilarang-masuk-hingga-tolak-uang-kembalian-qvkBs8MRQn.jpg</image><title>Aktivitas Ojek Online (foto: Okezone)</title></images><description>SOLO &amp;ndash; Wabah virus corona membuat banyak orang melakukan pembatasan sosial. Sebagian warga berusaha menahan diri untuk keluar rumah supaya tidak terpapar Covid-19. Bahkan, ketika harus memesan makanan atau barang melalui online, si pengantar pun tidak diizinkan mendekati rumah, segala bentuk pesanan hanya dilektakan di luar pagar dengan uang yang sudah disiapkan.
Seperti yang dialami Wiryo, 53, seorang rider atau pengendara ojek online (ojol) ketika mengantarkan sejumlah plastik berisi makanan pesanan, ia tidak diperkenankan masuk dalam rumah.
&quot;Banyak pengguna aplikasi yang meminta pesanan makanan di gantung di pintu. Bahkan tidak sedikit yang mau menerima uang kembalian,&quot; kata Wiryo saat berjumpa dengan Solopos.com di Selter Supomo, Solo.
Namun, bagi pekerja lepas seperti Wiryo harus selalau bekerja ke lapangan untuk menafkahi keluarga.
Rasa takut kerap menghampiri bapak satu anak tersebut ketika mengingat sedang melakukan pemesanan makanan dari pengguna aplikasi di salah satu warung geprek di Jl. Adi Sucipto baru-baru ini. Ia bertemu sejumlah orang yang tengah menikmati hidangan makanan.
Ia merasa syok hati ketika mendengar kabar viral seorang orang dalam pemantauan (ODP) mengunjungi tempat keramaian. Ia merasa pernah bertemu orang tersebut saat di salah satu warung geprek.
&quot;Rasa takut ketika customer order enggak terang-terangan kalau ODP, PDP [Pasien Dalam Pengawasan] atau enggak. Ternyata customer ODP kan takut. Seperti yang pernah saya jumpai di warung geprek. Saya sudah konfirmasi ke pramusaji setelah mendengar kabar viral,&quot; katanya.
Waryo melindungi diri saat pandemi virus corona dengan memastikan masker medis selalu menempel di wajahnya. Air mineral 1,5 liter, sabun cair, dan pakaian ganti di dalam tas siap digunakan.
Pengemudi ojek online lainnya, Eko Joko Tugimin, 48, menunggu pesanan selama tiga jam sebelum Solopos.com memesan tiga nasi padang. Ia mengeluhkan pendapatan yang turun sampai 50% saat wabah corona.
&amp;ldquo;Akun saya untuk Go-Food. Enggak tahu orang-orang di rumah pada makan apa. Mungkin masak sendiri makanan seadaanya,&amp;rdquo; katanya kepada Solopos.com di Balai Kota Solo.
Ia mengaku waswas dengan pandemi Covid-19. Tetapi sebagai tulang punggung keluarga, ia harus menafkahi istri dan tiga orang anaknya. Perusahaan digital sebagai mitranya memiliki protokol selama wabah virus corona.
Saat Solopos.com memesan makanan, terdapat pilihan untuk menggantungkan makanan di pagar atau pintu, dan menaruh di lobi. Fitur tersebut bermanfaat untuk mengurangi risiko penularan virus kepada pengguna aplikasi atau mitra.
&quot;Selama KLB [Kejadian Luar Biasa virus corona] baru dua kali yang meminta dicentelin ke pagar. Waktu itu pesan tuna. Orangnya ambil makanan saat saya pergi,&quot; kata Eko.</description><content:encoded>SOLO &amp;ndash; Wabah virus corona membuat banyak orang melakukan pembatasan sosial. Sebagian warga berusaha menahan diri untuk keluar rumah supaya tidak terpapar Covid-19. Bahkan, ketika harus memesan makanan atau barang melalui online, si pengantar pun tidak diizinkan mendekati rumah, segala bentuk pesanan hanya dilektakan di luar pagar dengan uang yang sudah disiapkan.
Seperti yang dialami Wiryo, 53, seorang rider atau pengendara ojek online (ojol) ketika mengantarkan sejumlah plastik berisi makanan pesanan, ia tidak diperkenankan masuk dalam rumah.
&quot;Banyak pengguna aplikasi yang meminta pesanan makanan di gantung di pintu. Bahkan tidak sedikit yang mau menerima uang kembalian,&quot; kata Wiryo saat berjumpa dengan Solopos.com di Selter Supomo, Solo.
Namun, bagi pekerja lepas seperti Wiryo harus selalau bekerja ke lapangan untuk menafkahi keluarga.
Rasa takut kerap menghampiri bapak satu anak tersebut ketika mengingat sedang melakukan pemesanan makanan dari pengguna aplikasi di salah satu warung geprek di Jl. Adi Sucipto baru-baru ini. Ia bertemu sejumlah orang yang tengah menikmati hidangan makanan.
Ia merasa syok hati ketika mendengar kabar viral seorang orang dalam pemantauan (ODP) mengunjungi tempat keramaian. Ia merasa pernah bertemu orang tersebut saat di salah satu warung geprek.
&quot;Rasa takut ketika customer order enggak terang-terangan kalau ODP, PDP [Pasien Dalam Pengawasan] atau enggak. Ternyata customer ODP kan takut. Seperti yang pernah saya jumpai di warung geprek. Saya sudah konfirmasi ke pramusaji setelah mendengar kabar viral,&quot; katanya.
Waryo melindungi diri saat pandemi virus corona dengan memastikan masker medis selalu menempel di wajahnya. Air mineral 1,5 liter, sabun cair, dan pakaian ganti di dalam tas siap digunakan.
Pengemudi ojek online lainnya, Eko Joko Tugimin, 48, menunggu pesanan selama tiga jam sebelum Solopos.com memesan tiga nasi padang. Ia mengeluhkan pendapatan yang turun sampai 50% saat wabah corona.
&amp;ldquo;Akun saya untuk Go-Food. Enggak tahu orang-orang di rumah pada makan apa. Mungkin masak sendiri makanan seadaanya,&amp;rdquo; katanya kepada Solopos.com di Balai Kota Solo.
Ia mengaku waswas dengan pandemi Covid-19. Tetapi sebagai tulang punggung keluarga, ia harus menafkahi istri dan tiga orang anaknya. Perusahaan digital sebagai mitranya memiliki protokol selama wabah virus corona.
Saat Solopos.com memesan makanan, terdapat pilihan untuk menggantungkan makanan di pagar atau pintu, dan menaruh di lobi. Fitur tersebut bermanfaat untuk mengurangi risiko penularan virus kepada pengguna aplikasi atau mitra.
&quot;Selama KLB [Kejadian Luar Biasa virus corona] baru dua kali yang meminta dicentelin ke pagar. Waktu itu pesan tuna. Orangnya ambil makanan saat saya pergi,&quot; kata Eko.</content:encoded></item></channel></rss>
