<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pria di Filipina Ditembak Mati karena Melanggar Aturan Lockdown</title><description>Polisi menyebut pria itu dalam keadaan mabuk dan menyerang peugas dengan celurit.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/04/06/18/2194903/pria-di-filipina-ditembak-mati-karena-melanggar-aturan-lockdown</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/04/06/18/2194903/pria-di-filipina-ditembak-mati-karena-melanggar-aturan-lockdown"/><item><title>Pria di Filipina Ditembak Mati karena Melanggar Aturan Lockdown</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/04/06/18/2194903/pria-di-filipina-ditembak-mati-karena-melanggar-aturan-lockdown</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/04/06/18/2194903/pria-di-filipina-ditembak-mati-karena-melanggar-aturan-lockdown</guid><pubDate>Senin 06 April 2020 14:54 WIB</pubDate><dc:creator>Rachmat Fahzry</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/06/18/2194903/pria-di-filipina-ditembak-mati-karena-melanggar-aturan-lockdown-c6zALxctCC.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Militer Filipina dikerahkan untuk menegakkan perintah karantina wilayah. (Foto/Philippine Star)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/06/18/2194903/pria-di-filipina-ditembak-mati-karena-melanggar-aturan-lockdown-c6zALxctCC.jpg</image><title>Militer Filipina dikerahkan untuk menegakkan perintah karantina wilayah. (Foto/Philippine Star)</title></images><description>MANILA - Seorang pria berusia 63 tahun ditembak mati di Filipina, setelah mengancam para pejabat desa dan polisi dengan sabit di pos pemeriksaan yang dibangun untuk menegakkan perinak karantina wilayah atau lockdown.
Kepolisian setempat mengutip Al Jazeera, Senin (6/4/2020) dalam laporannya menyebutkan pria yang ditembak dalam kondisi mabuk. Pria itu mengancam para pejabat desa dan polisi yang menjaga pos pemeriksaan di kota Nasipit di Provinsi Agusan del Norte pada Kamis pekan lalu.
&quot;Tersangka itu diperingatkan oleh petugas kesehatan desa karena tidak mengenakan masker,&quot; kata polisi dalam laporannya. &quot;Tapi tersangka marah, mengucapkan kata-kata memprovokasi dan akhirnya menyerang personel menggunakan sabit.&quot;
Baca juga:&amp;nbsp;Soal PSBB Covid-19, Polri: Kalau Masih 'Ngeyel' Ditangkap
Baca juga:&amp;nbsp;Polri Siap Jalankan Instruksi Jokowi soal Penegakan Hukum saat PSBB
Tersangka ditembak mati oleh seorang polisi yang berusaha menenangkannya.
Insiden ini menjadi kasus pertama polisi menembak warga sipil karena menolak mengikuti aturan lockdown untuk membendung penyebaran virus corona yang menyebabkan penyakit Covid-19.
Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada Rabu, 1 Maret memperingatkan bahwa pelanggaran perintah karantina bisa berakhir dengan kematian.
Dia juga memerintahkan pasukan keamanan untuk menembaki para pengacau yang melakukan kekerasan saat negara itu memerangi wabah tersebut.
&quot;Saya tidak akan ragu. Perintah saya adalah kepada polisi dan militer, serta (distrik), bahwa jika ada masalah atau situasi muncul bahwa orang-orang melawan dan nyawa Anda dipertaruhkan, tembak mati mereka,&amp;rdquo; kata Duterte.
&amp;ldquo;Apakah kamu mengerti? Mati. Alih-alih menyebabkan masalah, saya akan mengirim kamu ke kubur,&amp;rdquo; ujarnya.
Duterte menyampaikan setelah sekitar 21 penduduk di Kota Quezon, Pulau Luzon, ditangkap karena melakukan protes tanpa izin. Mereka melakukan protes karena bekerja selama lockdown. Para pemrotes merupakan pekerja pabrik dan konstruksi berpenghasilan rendah.</description><content:encoded>MANILA - Seorang pria berusia 63 tahun ditembak mati di Filipina, setelah mengancam para pejabat desa dan polisi dengan sabit di pos pemeriksaan yang dibangun untuk menegakkan perinak karantina wilayah atau lockdown.
Kepolisian setempat mengutip Al Jazeera, Senin (6/4/2020) dalam laporannya menyebutkan pria yang ditembak dalam kondisi mabuk. Pria itu mengancam para pejabat desa dan polisi yang menjaga pos pemeriksaan di kota Nasipit di Provinsi Agusan del Norte pada Kamis pekan lalu.
&quot;Tersangka itu diperingatkan oleh petugas kesehatan desa karena tidak mengenakan masker,&quot; kata polisi dalam laporannya. &quot;Tapi tersangka marah, mengucapkan kata-kata memprovokasi dan akhirnya menyerang personel menggunakan sabit.&quot;
Baca juga:&amp;nbsp;Soal PSBB Covid-19, Polri: Kalau Masih 'Ngeyel' Ditangkap
Baca juga:&amp;nbsp;Polri Siap Jalankan Instruksi Jokowi soal Penegakan Hukum saat PSBB
Tersangka ditembak mati oleh seorang polisi yang berusaha menenangkannya.
Insiden ini menjadi kasus pertama polisi menembak warga sipil karena menolak mengikuti aturan lockdown untuk membendung penyebaran virus corona yang menyebabkan penyakit Covid-19.
Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada Rabu, 1 Maret memperingatkan bahwa pelanggaran perintah karantina bisa berakhir dengan kematian.
Dia juga memerintahkan pasukan keamanan untuk menembaki para pengacau yang melakukan kekerasan saat negara itu memerangi wabah tersebut.
&quot;Saya tidak akan ragu. Perintah saya adalah kepada polisi dan militer, serta (distrik), bahwa jika ada masalah atau situasi muncul bahwa orang-orang melawan dan nyawa Anda dipertaruhkan, tembak mati mereka,&amp;rdquo; kata Duterte.
&amp;ldquo;Apakah kamu mengerti? Mati. Alih-alih menyebabkan masalah, saya akan mengirim kamu ke kubur,&amp;rdquo; ujarnya.
Duterte menyampaikan setelah sekitar 21 penduduk di Kota Quezon, Pulau Luzon, ditangkap karena melakukan protes tanpa izin. Mereka melakukan protes karena bekerja selama lockdown. Para pemrotes merupakan pekerja pabrik dan konstruksi berpenghasilan rendah.</content:encoded></item></channel></rss>
