<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> 58% Anak Tidak Senang Belajar di Rumah saat Pandemi Covid-19   </title><description>Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) melalui Forum Anak Nasional (FAN), melakukan Survei.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/04/12/337/2197817/58-anak-tidak-senang-belajar-di-rumah-saat-pandemi-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/04/12/337/2197817/58-anak-tidak-senang-belajar-di-rumah-saat-pandemi-covid-19"/><item><title> 58% Anak Tidak Senang Belajar di Rumah saat Pandemi Covid-19   </title><link>https://news.okezone.com/read/2020/04/12/337/2197817/58-anak-tidak-senang-belajar-di-rumah-saat-pandemi-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/04/12/337/2197817/58-anak-tidak-senang-belajar-di-rumah-saat-pandemi-covid-19</guid><pubDate>Minggu 12 April 2020 07:29 WIB</pubDate><dc:creator>Puteranegara Batubara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/12/337/2197817/58-anak-tidak-senang-belajar-di-rumah-saat-pandemi-covid-19-c3DtHwuEL2.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: SCMP</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/12/337/2197817/58-anak-tidak-senang-belajar-di-rumah-saat-pandemi-covid-19-c3DtHwuEL2.jpg</image><title>Foto: SCMP</title></images><description>
JAKARTA - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) melalui Forum Anak Nasional (FAN), melakukan Survei Ada Apa Dengan Covid-19 (AADC-19) untuk mengetahui persepsi dan pengetahuan anak tentang virus corona ketika melakukan proses pembelajaran dari rumah, serta perasaan dan harapan anak dalam situasi saat ini.

Sekretaris Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak, Eko Novi mengungkapkan bahwa sebanyak 58 persen anak tidak merasa senang ketika harus belajar dari rumah.

&amp;ldquo;Berdasarkan hasil survei, khususnya terkait persepsi anak tentang belajar di rumah, sebanyak 58 persen anak merasa tidak senang saat menjalani proses tersebut, karena mereka sulit berinteraksi dengan teman-temannya. 38 persen anak juga menyatakan bahwa sekolah belum memiliki program yang baik dalam penerapan belajar di rumah. Mereka berharap sekolah tidak memberikan tugas terlalu banyak, tapi lebih menerapkan pola belajar dengan komunikasi dua arah dengan guru dan melaksanakan pembelajaran yang efektif,&amp;rdquo; kata Eko Novi, Jakarta, Sabtu (11/4/2020).

Selain itu, kata Eko, hasil survei AADC-19 menunjukan bahwa sumber informasi terkait covid-19, paling banyak diterima anak-anak melalui platform internet.
&amp;nbsp;
&quot;70 persen anak mempercayai bahwa infomasi yang mereka terima valid, dan 73 persen menganggap sudah cukup informatif,&amp;rdquo; ujar Eko Novi.

Eko Novi menjelaskan, penyebaran Covid-19 juga memberikan pengaruh pada anak, 98% anak merasa kebiasaan dan pola hidup mereka menjadi lebih bersih dan sehat. Tetapi ada yang merasa paranoid, takut dan juga biasa saja.

Menurutnya, kelompok ini  yang harus diwaspadai karena perasaan takut yang berlebihan akan mengganggu psikologis anak dan yang menganggap hal ini biasa saja juga akan membuat anak tidak peduli terhadap kondisi ini.

Lebih lanjut Eko Novi menuturkan hampir semua responden yaitu 98,7% menganggap gerakan #dirumahaja adalah hal yang sangat penting dan penting. Untuk itu, harapan mereka tentang belajar di rumah adalah adanya komunikasi dua arah dan pelaksanaan pembelajaran yang efektif; guru mampu memberikan penjelasan materi secara maksimal serta adanya tugas yang lebih kreatif.

Selain Survei AADC-19, dalam upaya untuk mencegah dan menangani Covid-19, FAN juga telah melakukan berbagai program dan kegiatan, yaitu membuat himbauan pencegahan Covid-19 dengan bahasa daerah, membuat tantangan (challenge) FAN melalui Tik Tok Self Quarantine dan surat untuk  tenaga medis; menyelenggarakan Time to Know FAN tentang Covid-19, dan kampanye menggunakan twibbon campaign #dirumahaja.

Sementara itu, Ketua Gugus Kerja Kampanye dan Media Save The Children Indonesia, Jonathan Victor Rembeth menekankan pentingnya memenuhi hak partisipasi anak, seperti memberikan anak ruang untuk mengungkapkan pendapat dan pandangannya, ikut mempengaruhi pengambilan keputusan, dan mencapai suatu perubahan.

Anak adalah masa depan keluarga dan bangsa, inilah saat terbaik untuk memperbaiki kualitas mereka baik dari kesehatan, pendidikan, dan melindungi mereka dari kekerasan.

&amp;ldquo;Saya mengajak seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah, dunia usaha, lembaga masyarakat, orangtua, guru, dan  semua pihak untuk mendengarkan suara anak, dan melakukan hal terbaik bagi mereka. Melibatkan anak untuk berpartisipasi tentu akan membuat strategi dalam pencegahan dan penanganan Covid-19 menjadi lebih tepat dan tidak menimbulkan kerentanan lainnya bagi anak,&amp;rdquo; papar Victor.</description><content:encoded>
JAKARTA - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) melalui Forum Anak Nasional (FAN), melakukan Survei Ada Apa Dengan Covid-19 (AADC-19) untuk mengetahui persepsi dan pengetahuan anak tentang virus corona ketika melakukan proses pembelajaran dari rumah, serta perasaan dan harapan anak dalam situasi saat ini.

Sekretaris Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak, Eko Novi mengungkapkan bahwa sebanyak 58 persen anak tidak merasa senang ketika harus belajar dari rumah.

&amp;ldquo;Berdasarkan hasil survei, khususnya terkait persepsi anak tentang belajar di rumah, sebanyak 58 persen anak merasa tidak senang saat menjalani proses tersebut, karena mereka sulit berinteraksi dengan teman-temannya. 38 persen anak juga menyatakan bahwa sekolah belum memiliki program yang baik dalam penerapan belajar di rumah. Mereka berharap sekolah tidak memberikan tugas terlalu banyak, tapi lebih menerapkan pola belajar dengan komunikasi dua arah dengan guru dan melaksanakan pembelajaran yang efektif,&amp;rdquo; kata Eko Novi, Jakarta, Sabtu (11/4/2020).

Selain itu, kata Eko, hasil survei AADC-19 menunjukan bahwa sumber informasi terkait covid-19, paling banyak diterima anak-anak melalui platform internet.
&amp;nbsp;
&quot;70 persen anak mempercayai bahwa infomasi yang mereka terima valid, dan 73 persen menganggap sudah cukup informatif,&amp;rdquo; ujar Eko Novi.

Eko Novi menjelaskan, penyebaran Covid-19 juga memberikan pengaruh pada anak, 98% anak merasa kebiasaan dan pola hidup mereka menjadi lebih bersih dan sehat. Tetapi ada yang merasa paranoid, takut dan juga biasa saja.

Menurutnya, kelompok ini  yang harus diwaspadai karena perasaan takut yang berlebihan akan mengganggu psikologis anak dan yang menganggap hal ini biasa saja juga akan membuat anak tidak peduli terhadap kondisi ini.

Lebih lanjut Eko Novi menuturkan hampir semua responden yaitu 98,7% menganggap gerakan #dirumahaja adalah hal yang sangat penting dan penting. Untuk itu, harapan mereka tentang belajar di rumah adalah adanya komunikasi dua arah dan pelaksanaan pembelajaran yang efektif; guru mampu memberikan penjelasan materi secara maksimal serta adanya tugas yang lebih kreatif.

Selain Survei AADC-19, dalam upaya untuk mencegah dan menangani Covid-19, FAN juga telah melakukan berbagai program dan kegiatan, yaitu membuat himbauan pencegahan Covid-19 dengan bahasa daerah, membuat tantangan (challenge) FAN melalui Tik Tok Self Quarantine dan surat untuk  tenaga medis; menyelenggarakan Time to Know FAN tentang Covid-19, dan kampanye menggunakan twibbon campaign #dirumahaja.

Sementara itu, Ketua Gugus Kerja Kampanye dan Media Save The Children Indonesia, Jonathan Victor Rembeth menekankan pentingnya memenuhi hak partisipasi anak, seperti memberikan anak ruang untuk mengungkapkan pendapat dan pandangannya, ikut mempengaruhi pengambilan keputusan, dan mencapai suatu perubahan.

Anak adalah masa depan keluarga dan bangsa, inilah saat terbaik untuk memperbaiki kualitas mereka baik dari kesehatan, pendidikan, dan melindungi mereka dari kekerasan.

&amp;ldquo;Saya mengajak seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah, dunia usaha, lembaga masyarakat, orangtua, guru, dan  semua pihak untuk mendengarkan suara anak, dan melakukan hal terbaik bagi mereka. Melibatkan anak untuk berpartisipasi tentu akan membuat strategi dalam pencegahan dan penanganan Covid-19 menjadi lebih tepat dan tidak menimbulkan kerentanan lainnya bagi anak,&amp;rdquo; papar Victor.</content:encoded></item></channel></rss>
