<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Lenyapnya Bisnis Triliunan Disebabkan Pandemi Corona</title><description>Pandemi Covid-19 berdampak serius terhadap perekonomian terutama sektor perhotelan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/04/22/337/2203408/lenyapnya-bisnis-triliunan-disebabkan-pandemi-corona</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/04/22/337/2203408/lenyapnya-bisnis-triliunan-disebabkan-pandemi-corona"/><item><title>Lenyapnya Bisnis Triliunan Disebabkan Pandemi Corona</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/04/22/337/2203408/lenyapnya-bisnis-triliunan-disebabkan-pandemi-corona</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/04/22/337/2203408/lenyapnya-bisnis-triliunan-disebabkan-pandemi-corona</guid><pubDate>Rabu 22 April 2020 22:01 WIB</pubDate><dc:creator>Salman Mardira</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/22/337/2203408/lenyapnya-bisnis-triliunan-disebabkan-pandemi-corona-tEAffiyA8H.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Warga menatap bangunan hotel di Jakarta (Okezone.com/Arif Julianto)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/22/337/2203408/lenyapnya-bisnis-triliunan-disebabkan-pandemi-corona-tEAffiyA8H.jpg</image><title>Warga menatap bangunan hotel di Jakarta (Okezone.com/Arif Julianto)</title></images><description>PANDEMI Covid-19 berdampak serius terhadap perekonomian terutama sektor perhotelan. Sudah 1.500 hotel di seluruh Indonesia ditutup akibat okupansi atau tingkat huniannya turun selama virus corona mewabah. Ribuan orang kehilangan pekerjaan.
Anjloknya tingkat hunian hotel akibat dari matinya sektor pariwisata selama pandemi corona. Pemerintah menutup objek wisata dan tempat hiburan untuk menghindari terjadinya keramaian yang bisa mempercepat penyebaran Covid-19 serta membatasi aktivitas masyarakat.
Berbagai negara mengisolasi diri dan membatasi penerbangan. Indonesia juga memperketat masuknya orang asing.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama mengakui kalau pariwisata adalah sektor pertama paling berdampak corona.
&quot;Berbicara sektor pariwisata tidak hanya berbicara hotel dan lain-lain juga ada jutaan pekerjaan di sana ada UKM. Ada penduduk daerah tertentu yang mengandalkan pariwisata. Ada supply chain pariwisata yang jumlahnya besar,&quot; katanya dalam video konferensi beberapa waktu lalu.
Wishnutama (Okezone)
Wishnutama pernah mengungkapkan data jumlah hotel yang sudah tutup akibat corona, dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR RI, Senin 6 April 2020.
&quot;Hotel tutup sementara gara-gara pandemi virus corona ini sudah mencapai 1.500 hotel,&quot; ujarnya.
Baca juga:&amp;nbsp;Larangan Mudik dan Jeritan UMKM di Pantura
Dia mencontohkan Bali yang selama ini menjadikan pariwisata sebagai unggulan. Sejak ada pembatasan penerbangan, tingkat hunian hotel di Pulau Dewata hanya 30%. Sedangkan sejak adanya pembatasan pergerakan orang atau social distancing, tingkat hunian hotel anjlok lagi ke 5%.
&quot;Hari ini begitu banyak kekhawatiran karyawan di rumahkan PHK omset turun usaha merugi tingkat hunian hotel bahkan 30% kalau catatan kami bahkan sampai 5% sampai 0%,&quot; kata Wishnutama.
Bisnis rumah makan atau restoran juga terdampak. Tercatat restoran dan rumah makan mengalami penurunan omset sebesar 70%.
&quot;Restoran secara konvensional sepi, pusat-pusat perbelanjaan tutup. Pedagang souvenir banyak yang harus tutup sementara,&quot; kata Wishnutama.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Klungkung, Bali, Wayan Karyana menyebutkan, ada 879 hotel di Bali tutup akibat tak ada tamu. 439 di antaranya ada di sekitar Lembongan, dengan jumlah 5.268 kamar. Sisanya 440 hotel dengan 3.520 kamar di Nusa Gede.
Di Jawa Timur juga sudah 180 hotel berbintang hingga nonbintang yang sudah tak beroperasi selama pandemi corona. Karyawannya harus di rumahkan.
&quot;Secara keseluruhan di hotel dan restoran ada 15.000 pekerja yang dirumahkan,&quot; kata Ketua PHRI Jawa Timur, Dwi Cahyono, awal April lalu.
PHRI Sumatera Barat juga mencatat ada 26 hotel di provinsi itu yang tutup hingga batas waktu belum ditentukan akibat corona hingga awal April. &amp;ldquo;Penutupanya karena okupansi hotel menurun. Okupansi hotel di Sumbar itu hanya 5 persen,&quot; ujar Ketua PHRI Sumbar, Maulana Yusran.
Menurutnya sekira 2.500 karyawan hotel ditutup dirumahkan. Sebagian masih dibayar gaji separuh oleh perusahaan, lainnya tak digaji lagi karena manajemen merugi.
Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPD PHRI) DI Yogyakarta mengatakan, banyak tamu yang membatalkan kamar hotel yang sudah dipesan sejak merebaknya corona. Selama Februari-Maret 2020 tercatat ada 14.744 pembatalan kamar hotel di DIY.
&amp;ldquo;Jika dikalkulasi ada loss sekitar Rp33,6 Miliar. Okupansi hotel DIY Februari-Maret per 14 Maret sejak diumumkan ada penderita Corona di DIY turun mencapai 17,8 persen dan dalam 3 hari setelahnya, turun lagi menjadi 18,17 persen,&quot; ujar Ketua BPD PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono seperti dikutip dari KrJogja.
Sementara, survei Jurnal Entrepreneur menunjukkan, sebanyak 96% pelaku UKM mengaku sudah mengalami dampak negatif COVID 19 terhadap proses bisnisnya. Sebanyak 75% di antaranya mengalami dampak penurunan penjualan yang signifikan.
Tak hanya itu, 51% pelaku UKM  meyakini kemungkinan besar bisnis yang dijalankan hanya akan bertahan 1 bulan hingga 3 bulan ke depan. Sebanyak 67% pelaku UKM mengalami ketidakpastian dalam memperoleh akses dana darurat, dan 75% merasa tidak mengerti bagaimana membuat kebijakan di masa krisis.
Hanya 13% pelaku UKM yakin bahwa mereka memiliki rencana penanganan krisis dan menemukan solusi untuk mempertahankan bisnis mereka.
Sedangkan menurut data tahun 2017 dari Kementerian Koperasi dan UMKM menunjukkan sektor konveksi, restoran dan perhotelan menyerap tenaga kerja hingga 97%, sekaligus penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 60%.
Sedangkan jumlah UMKM yang tersebar di Indonesia sebanyak 62,9 juta unit yang meliputi perdagangan, pertanian, peternakan, kehutanan, perikanan, pertambangan, pengolahan, bangunan, komunikasi, hotel, restoran dan jasa-jasa.
Rental Mobil Lesu
Bisnis rental mobil juga terkena imbas corona. Omset mereka anjlok karena menurunnya pengguna jasa akibat pembatasan aktivitas warga.
&quot;Orderan benar-benar sepi, tidak ada yang mau sewa mobil mewah. Banyak orderan yang sudah di-booking terpaksa cancel gara-gara adanya virus corona,&quot; kata Sunardi, pemilik rental mobil mewas Syafira Rental seperti dikutip dari iNews.id.
Sebelum pandemi corona, Sunardi bisa mendapatkan omzet hingga Rp20 juta sebulan, karena rata-rata mobilnya yang dirental mencapai 15 hingga 20 unit. Tapi, sekarang nyaris tak ada.
Rental mobil biasanya juga panen rezeki saat Lebaran, karena ada banyak orang menyewa mobil untuk liburan atau bepergian dengan keluarga. Tapi, larangan mudik yang sudah diputuskan pemerintah berdampak buruk juga bagi bisnis ini.
Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistura menilai, pandemi corona berdampak luas terhadap ekonomi, bukan saja level usaha besar, tapi juga UMKM. Larangan mudik juga bisa memerdalam krisis.
&quot;Karena bisa dibayangkan banyak pelaku usaha khususnya yang levelnya UMKM itu berharap adanya putaran uang saat lebaran. Itu mereka mempersiapkan ini hingga empat bulan sebelumnya, bahkan sebelum corona,&quot; kata Bhima.
Menurutnya saat Lebaran ada puluhan triliun uang dari pusat mengalir ke daerah-daerah terutama lewat arus mudik. Perputaran uang ini berdampak baik bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Namun, adanya larangan mudik bisa menghambat itu.
&quot;Ini kan yang repotnya ketika momentum satu tahun sekali ini dihambat dengan aturan dilarang mudik, berarti pemerintah juga harus bertanggungjawab.&quot;
Menurutnya pemerintah harus memperbanyak stimulus ekonomi dan pemberian bantuan tepat sasaran. Bantuan langsung tunasi dibutuhkan untuk menjaga daya beli.
</description><content:encoded>PANDEMI Covid-19 berdampak serius terhadap perekonomian terutama sektor perhotelan. Sudah 1.500 hotel di seluruh Indonesia ditutup akibat okupansi atau tingkat huniannya turun selama virus corona mewabah. Ribuan orang kehilangan pekerjaan.
Anjloknya tingkat hunian hotel akibat dari matinya sektor pariwisata selama pandemi corona. Pemerintah menutup objek wisata dan tempat hiburan untuk menghindari terjadinya keramaian yang bisa mempercepat penyebaran Covid-19 serta membatasi aktivitas masyarakat.
Berbagai negara mengisolasi diri dan membatasi penerbangan. Indonesia juga memperketat masuknya orang asing.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama mengakui kalau pariwisata adalah sektor pertama paling berdampak corona.
&quot;Berbicara sektor pariwisata tidak hanya berbicara hotel dan lain-lain juga ada jutaan pekerjaan di sana ada UKM. Ada penduduk daerah tertentu yang mengandalkan pariwisata. Ada supply chain pariwisata yang jumlahnya besar,&quot; katanya dalam video konferensi beberapa waktu lalu.
Wishnutama (Okezone)
Wishnutama pernah mengungkapkan data jumlah hotel yang sudah tutup akibat corona, dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR RI, Senin 6 April 2020.
&quot;Hotel tutup sementara gara-gara pandemi virus corona ini sudah mencapai 1.500 hotel,&quot; ujarnya.
Baca juga:&amp;nbsp;Larangan Mudik dan Jeritan UMKM di Pantura
Dia mencontohkan Bali yang selama ini menjadikan pariwisata sebagai unggulan. Sejak ada pembatasan penerbangan, tingkat hunian hotel di Pulau Dewata hanya 30%. Sedangkan sejak adanya pembatasan pergerakan orang atau social distancing, tingkat hunian hotel anjlok lagi ke 5%.
&quot;Hari ini begitu banyak kekhawatiran karyawan di rumahkan PHK omset turun usaha merugi tingkat hunian hotel bahkan 30% kalau catatan kami bahkan sampai 5% sampai 0%,&quot; kata Wishnutama.
Bisnis rumah makan atau restoran juga terdampak. Tercatat restoran dan rumah makan mengalami penurunan omset sebesar 70%.
&quot;Restoran secara konvensional sepi, pusat-pusat perbelanjaan tutup. Pedagang souvenir banyak yang harus tutup sementara,&quot; kata Wishnutama.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Klungkung, Bali, Wayan Karyana menyebutkan, ada 879 hotel di Bali tutup akibat tak ada tamu. 439 di antaranya ada di sekitar Lembongan, dengan jumlah 5.268 kamar. Sisanya 440 hotel dengan 3.520 kamar di Nusa Gede.
Di Jawa Timur juga sudah 180 hotel berbintang hingga nonbintang yang sudah tak beroperasi selama pandemi corona. Karyawannya harus di rumahkan.
&quot;Secara keseluruhan di hotel dan restoran ada 15.000 pekerja yang dirumahkan,&quot; kata Ketua PHRI Jawa Timur, Dwi Cahyono, awal April lalu.
PHRI Sumatera Barat juga mencatat ada 26 hotel di provinsi itu yang tutup hingga batas waktu belum ditentukan akibat corona hingga awal April. &amp;ldquo;Penutupanya karena okupansi hotel menurun. Okupansi hotel di Sumbar itu hanya 5 persen,&quot; ujar Ketua PHRI Sumbar, Maulana Yusran.
Menurutnya sekira 2.500 karyawan hotel ditutup dirumahkan. Sebagian masih dibayar gaji separuh oleh perusahaan, lainnya tak digaji lagi karena manajemen merugi.
Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPD PHRI) DI Yogyakarta mengatakan, banyak tamu yang membatalkan kamar hotel yang sudah dipesan sejak merebaknya corona. Selama Februari-Maret 2020 tercatat ada 14.744 pembatalan kamar hotel di DIY.
&amp;ldquo;Jika dikalkulasi ada loss sekitar Rp33,6 Miliar. Okupansi hotel DIY Februari-Maret per 14 Maret sejak diumumkan ada penderita Corona di DIY turun mencapai 17,8 persen dan dalam 3 hari setelahnya, turun lagi menjadi 18,17 persen,&quot; ujar Ketua BPD PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono seperti dikutip dari KrJogja.
Sementara, survei Jurnal Entrepreneur menunjukkan, sebanyak 96% pelaku UKM mengaku sudah mengalami dampak negatif COVID 19 terhadap proses bisnisnya. Sebanyak 75% di antaranya mengalami dampak penurunan penjualan yang signifikan.
Tak hanya itu, 51% pelaku UKM  meyakini kemungkinan besar bisnis yang dijalankan hanya akan bertahan 1 bulan hingga 3 bulan ke depan. Sebanyak 67% pelaku UKM mengalami ketidakpastian dalam memperoleh akses dana darurat, dan 75% merasa tidak mengerti bagaimana membuat kebijakan di masa krisis.
Hanya 13% pelaku UKM yakin bahwa mereka memiliki rencana penanganan krisis dan menemukan solusi untuk mempertahankan bisnis mereka.
Sedangkan menurut data tahun 2017 dari Kementerian Koperasi dan UMKM menunjukkan sektor konveksi, restoran dan perhotelan menyerap tenaga kerja hingga 97%, sekaligus penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 60%.
Sedangkan jumlah UMKM yang tersebar di Indonesia sebanyak 62,9 juta unit yang meliputi perdagangan, pertanian, peternakan, kehutanan, perikanan, pertambangan, pengolahan, bangunan, komunikasi, hotel, restoran dan jasa-jasa.
Rental Mobil Lesu
Bisnis rental mobil juga terkena imbas corona. Omset mereka anjlok karena menurunnya pengguna jasa akibat pembatasan aktivitas warga.
&quot;Orderan benar-benar sepi, tidak ada yang mau sewa mobil mewah. Banyak orderan yang sudah di-booking terpaksa cancel gara-gara adanya virus corona,&quot; kata Sunardi, pemilik rental mobil mewas Syafira Rental seperti dikutip dari iNews.id.
Sebelum pandemi corona, Sunardi bisa mendapatkan omzet hingga Rp20 juta sebulan, karena rata-rata mobilnya yang dirental mencapai 15 hingga 20 unit. Tapi, sekarang nyaris tak ada.
Rental mobil biasanya juga panen rezeki saat Lebaran, karena ada banyak orang menyewa mobil untuk liburan atau bepergian dengan keluarga. Tapi, larangan mudik yang sudah diputuskan pemerintah berdampak buruk juga bagi bisnis ini.
Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistura menilai, pandemi corona berdampak luas terhadap ekonomi, bukan saja level usaha besar, tapi juga UMKM. Larangan mudik juga bisa memerdalam krisis.
&quot;Karena bisa dibayangkan banyak pelaku usaha khususnya yang levelnya UMKM itu berharap adanya putaran uang saat lebaran. Itu mereka mempersiapkan ini hingga empat bulan sebelumnya, bahkan sebelum corona,&quot; kata Bhima.
Menurutnya saat Lebaran ada puluhan triliun uang dari pusat mengalir ke daerah-daerah terutama lewat arus mudik. Perputaran uang ini berdampak baik bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Namun, adanya larangan mudik bisa menghambat itu.
&quot;Ini kan yang repotnya ketika momentum satu tahun sekali ini dihambat dengan aturan dilarang mudik, berarti pemerintah juga harus bertanggungjawab.&quot;
Menurutnya pemerintah harus memperbanyak stimulus ekonomi dan pemberian bantuan tepat sasaran. Bantuan langsung tunasi dibutuhkan untuk menjaga daya beli.
</content:encoded></item></channel></rss>
