<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Muncul Setelah Hilang Dua Bulan di Wuhan, Jurnalis China Ini Ceritakan Kisahnya</title><description>Li merekam dirinya dikejar dan ditahan polisi pada 26 Februari sebelum menghilang selama sekira dua bulan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/04/24/18/2204074/muncul-setelah-hilang-dua-bulan-di-wuhan-jurnalis-china-ini-ceritakan-kisahnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/04/24/18/2204074/muncul-setelah-hilang-dua-bulan-di-wuhan-jurnalis-china-ini-ceritakan-kisahnya"/><item><title>Muncul Setelah Hilang Dua Bulan di Wuhan, Jurnalis China Ini Ceritakan Kisahnya</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/04/24/18/2204074/muncul-setelah-hilang-dua-bulan-di-wuhan-jurnalis-china-ini-ceritakan-kisahnya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/04/24/18/2204074/muncul-setelah-hilang-dua-bulan-di-wuhan-jurnalis-china-ini-ceritakan-kisahnya</guid><pubDate>Jum'at 24 April 2020 08:13 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/24/18/2204074/muncul-setelah-hilang-dua-bulan-di-wuhan-jurnalis-china-ini-ceritakan-kisahnya-qbk5dgpO9d.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Li Zehua. (Foto: YouTube)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/24/18/2204074/muncul-setelah-hilang-dua-bulan-di-wuhan-jurnalis-china-ini-ceritakan-kisahnya-qbk5dgpO9d.jpg</image><title>Li Zehua. (Foto: YouTube)</title></images><description>WUHAN - Seorang jurnalis China yang diburu dan kemudian ditahan di Wuhan, pusat penyebaran wabah virus corona (COVID-19) di negara itu, dilaporkan telah muncul kembali setelah dua bulan menghilang.
Li Zehua menyiarkan pengejaran dan penahanannya oleh polisi pada 26 Februari, dan sejak itu tidak terlihat di depan umum.
Pada Rabu (22/4/2020) dia menerbitkan sebuah video, mengatakan bahwa dirinya menghabiskan dua pekan dalam &quot;karantina&quot; di Wuhan, diikuti oleh lebih banyak karantina lain di kota asalnya.
Dia diberitahu bahwa karantina diperlukan karena dia berkunjung ke &quot;daerah sensitif&quot;.
Li Zehua adalah jurnalis warga yang pergi ke Wuhan pada Februari, setelah jurnalis lain, Chen Qiushi, menghilang. Dalam video pertamanya dari Wuhan ia menjelaskan mengapa dia berada di sana.
&quot;Sebelum saya memasuki Wuhan, seorang teman yang bekerja di media arus utama Tiongkok memberi tahu saya... semua berita buruk tentang epidemi telah dikumpulkan oleh pemerintah pusat.
&quot;Media lokal hanya dapat melaporkan kabar baik tentang pemulihan pasien dan sebagainya. Tentu saja, tetap tidak pasti apakah itu benar, karena ini hanya apa yang saya dengar dari teman-teman saya,&quot; kata Li dalam videonya.
Kisah-kisahnya, termasuk laporan mengenai dugaan pemerintah menutup-nutupi wabah dan krematorium yang sibuk telah ditonton jutaan kali di berbagai platform, mulai media sosial China, hingga YouTube dan Twitter.
Pada 26 Februari, Li mengatakan ia sedang mengemudi di Wuhan ketika orang-orang di mobil lain menyuruhnya berhenti.
&amp;lt;iframe width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/XWrMZH9Xu6k&quot; frameborder=&quot;0&quot; allow=&quot;accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;
Video: YouTube/Kcriss Li&amp;#26446;&amp;#28580;&amp;#33775;
Alih-alih berhenti, dia mempercepat laju kendaraannya, mengatakan dia &quot;bingung&quot; dan &quot;takut&quot;. Ia dikejar dan melaju sejauh 30 km, dengan sebagian perjalanan itu direkam dan diunggah ke YouTube dengan judul &quot;SOS&quot;.


Dia tiba di tempatnya menginap dan memulai siaran langsung sebelum  &quot;beberapa&quot; orang berseragam polisi mengetuk pintu di dekatnya. Li  kemudian dibawa ke kantor polisi di mana dia diperiksa dan diambil sidik  jari dan sampel darahnya.
Dia &quot;dicurigai mengganggu ketertiban umum&quot;, tetapi diberitahu bahwa  tidak akan ada hukuman. Namun, karena dia telah ke &quot;daerah epidemi  sensitif&quot;, dia perlu dikarantina.
Li Zehua dibawa oleh kepala polisi ke akomodasi karantina di Wuhan,  di sana semua peralatan elektroniknya diambil. Dia tinggal di sana  selama dua minggu, mengatakan dia &quot;aman&quot; dan bisa menonton berita  televisi China, sebelum dibawa ke pusat karantina di kampung halamannya  untuk tinggal di sana selama dua pekan lagi.
Setelah itu Li tinggal bersama keluarganya.
&quot;Selama seluruh proses, polisi menegakkan hukum secara beradab,  memastikan waktu istirahat dan makanan saya. Mereka juga sangat  memperhatikan saya,&quot; katanya sebagaimana dilansir BBC, Jumat (24/4/2020).
&quot;Setelah menyelesaikan karantina, saya sudah bersama keluarga. Sekarang saya merencanakan perkembangan saya di tahun ini.
&quot;Saya berterima kasih kepada semua orang yang merawat saya dan peduli  pada saya. Saya berharap semua orang yang menderita epidemi ini dapat  melewatinya. Tuhan memberkati China. Saya berharap dunia dapat bersatu  bersama.&quot;
Seorang jurnalis warga lainnya, Chen Quishi sampai hari ini masih  hilang. Menurut akun Twitter yang dikelola temannya, Chen telah tidak  dapat dihubungi selama 75 hari dan tidak diketahui keberadaannya.
Jurnalis lain yang melaporkan dari Wuhan, Fang Bin, juga tidak terdengar kabarnya sejak Februari.</description><content:encoded>WUHAN - Seorang jurnalis China yang diburu dan kemudian ditahan di Wuhan, pusat penyebaran wabah virus corona (COVID-19) di negara itu, dilaporkan telah muncul kembali setelah dua bulan menghilang.
Li Zehua menyiarkan pengejaran dan penahanannya oleh polisi pada 26 Februari, dan sejak itu tidak terlihat di depan umum.
Pada Rabu (22/4/2020) dia menerbitkan sebuah video, mengatakan bahwa dirinya menghabiskan dua pekan dalam &quot;karantina&quot; di Wuhan, diikuti oleh lebih banyak karantina lain di kota asalnya.
Dia diberitahu bahwa karantina diperlukan karena dia berkunjung ke &quot;daerah sensitif&quot;.
Li Zehua adalah jurnalis warga yang pergi ke Wuhan pada Februari, setelah jurnalis lain, Chen Qiushi, menghilang. Dalam video pertamanya dari Wuhan ia menjelaskan mengapa dia berada di sana.
&quot;Sebelum saya memasuki Wuhan, seorang teman yang bekerja di media arus utama Tiongkok memberi tahu saya... semua berita buruk tentang epidemi telah dikumpulkan oleh pemerintah pusat.
&quot;Media lokal hanya dapat melaporkan kabar baik tentang pemulihan pasien dan sebagainya. Tentu saja, tetap tidak pasti apakah itu benar, karena ini hanya apa yang saya dengar dari teman-teman saya,&quot; kata Li dalam videonya.
Kisah-kisahnya, termasuk laporan mengenai dugaan pemerintah menutup-nutupi wabah dan krematorium yang sibuk telah ditonton jutaan kali di berbagai platform, mulai media sosial China, hingga YouTube dan Twitter.
Pada 26 Februari, Li mengatakan ia sedang mengemudi di Wuhan ketika orang-orang di mobil lain menyuruhnya berhenti.
&amp;lt;iframe width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/XWrMZH9Xu6k&quot; frameborder=&quot;0&quot; allow=&quot;accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;
Video: YouTube/Kcriss Li&amp;#26446;&amp;#28580;&amp;#33775;
Alih-alih berhenti, dia mempercepat laju kendaraannya, mengatakan dia &quot;bingung&quot; dan &quot;takut&quot;. Ia dikejar dan melaju sejauh 30 km, dengan sebagian perjalanan itu direkam dan diunggah ke YouTube dengan judul &quot;SOS&quot;.


Dia tiba di tempatnya menginap dan memulai siaran langsung sebelum  &quot;beberapa&quot; orang berseragam polisi mengetuk pintu di dekatnya. Li  kemudian dibawa ke kantor polisi di mana dia diperiksa dan diambil sidik  jari dan sampel darahnya.
Dia &quot;dicurigai mengganggu ketertiban umum&quot;, tetapi diberitahu bahwa  tidak akan ada hukuman. Namun, karena dia telah ke &quot;daerah epidemi  sensitif&quot;, dia perlu dikarantina.
Li Zehua dibawa oleh kepala polisi ke akomodasi karantina di Wuhan,  di sana semua peralatan elektroniknya diambil. Dia tinggal di sana  selama dua minggu, mengatakan dia &quot;aman&quot; dan bisa menonton berita  televisi China, sebelum dibawa ke pusat karantina di kampung halamannya  untuk tinggal di sana selama dua pekan lagi.
Setelah itu Li tinggal bersama keluarganya.
&quot;Selama seluruh proses, polisi menegakkan hukum secara beradab,  memastikan waktu istirahat dan makanan saya. Mereka juga sangat  memperhatikan saya,&quot; katanya sebagaimana dilansir BBC, Jumat (24/4/2020).
&quot;Setelah menyelesaikan karantina, saya sudah bersama keluarga. Sekarang saya merencanakan perkembangan saya di tahun ini.
&quot;Saya berterima kasih kepada semua orang yang merawat saya dan peduli  pada saya. Saya berharap semua orang yang menderita epidemi ini dapat  melewatinya. Tuhan memberkati China. Saya berharap dunia dapat bersatu  bersama.&quot;
Seorang jurnalis warga lainnya, Chen Quishi sampai hari ini masih  hilang. Menurut akun Twitter yang dikelola temannya, Chen telah tidak  dapat dihubungi selama 75 hari dan tidak diketahui keberadaannya.
Jurnalis lain yang melaporkan dari Wuhan, Fang Bin, juga tidak terdengar kabarnya sejak Februari.</content:encoded></item></channel></rss>
