<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jenuh Belajar di Rumah Vs Pandemi Covid-19 yang Belum Usai</title><description>Orangtua dan anak-anak mulai jenuh dengan pembelajaran jarak jauh yang diberlakukan selama pandemi virus corona.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/04/29/337/2206886/jenuh-belajar-di-rumah-vs-pandemi-covid-19-yang-belum-usai</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/04/29/337/2206886/jenuh-belajar-di-rumah-vs-pandemi-covid-19-yang-belum-usai"/><item><title>Jenuh Belajar di Rumah Vs Pandemi Covid-19 yang Belum Usai</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/04/29/337/2206886/jenuh-belajar-di-rumah-vs-pandemi-covid-19-yang-belum-usai</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/04/29/337/2206886/jenuh-belajar-di-rumah-vs-pandemi-covid-19-yang-belum-usai</guid><pubDate>Rabu 29 April 2020 20:54 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/29/337/2206886/jenuh-belajar-di-rumah-vs-pandemi-covid-19-yang-belum-usai-jlbA04dwQL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto SCMP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/29/337/2206886/jenuh-belajar-di-rumah-vs-pandemi-covid-19-yang-belum-usai-jlbA04dwQL.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto SCMP)</title></images><description>PEMERINTAH meliburkan sekolah untuk mencegah meluasnya penyebaran Covid-19. Siswa kini diwajibkan belajar di rumah. Kebijakan ini sudah berlaku satu bulan lebih. Orangtua dan anak-anak mulai jenuh bahkan mengeluh dengan tugas.
Wilda Tia Wardhany (31) memiliki seorang anak yang masih kelas 1 SD. Selama pembelajaran jarak jauh (PJJ) berlaku, dia bertugas ganda; mengurus rumah tangga sekaligus jadi guru untuk anaknya saban hari.
Masalahnya Wilda kerap kesulitan mengajar sesuai mata pelajaran sekolah anak, karena latar belakang pendidikannya bukan guru.
Sementara anaknya hampir tiap hari mendapatkan pekerjaan rumah (PR) untuk mengejar target nilai sekolah sebagai ganti ujian akhir untuk naik kelas.
&amp;ldquo;Orangtua juga stres karena di saat mengajar anak, saya juga masih harus mengurusi pekerjaan rumah, masak, membereskan rumah dan lain-lain,&amp;rdquo; kata Wilda, warga Bojonggede, Bogor, Jawa Barat, kepada Okezone, Rabu (29/4/2020).
Di awal PJJ berlaku, guru memberikan PR sesuai jadwal sekolah. Orangtua pun protes karena anaknya kewalahan belajar. Guru akhirnya mengubah dengan memberikan satu-dua tugas saja tiap hari. Tugas itu sering membebankan anak, bahkan menyulitkan orangtua.
&amp;ldquo;Saya cuma satu yang ada di usia sekolah, enggak bisa dibayangkan kalau dalam satu rumah ada dua atau tiga anak yang usia sekolah, bisa lebih capek, bisa lebih stres,&amp;rdquo; ujarnya.
Ilustrasi belajar di rumah (Okezone.com/Khafid)
Wilda mengatakan anaknya mulai jenuh belajar di rumah. &amp;ldquo;Anak-anak juga butuh sosialisasi dengan teman dan guru di sekolah, sekolah itu setahu saya bukan cuma materi belajar, tapi sosialisasi dengan lingkungan juga.&amp;rdquo;
PJJ Orientasi Nilai
Berdasarkan hasil survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) diketahui, selama PJJ guru masih cenderung mengejar ketercapaian kurikulum.
&amp;ldquo;Ini sangat kontradiktif dengan semangat dan aturan dari Kemdikbud yang tertuang dalam Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020. Di dalamnya tertulis sekolah tidak harus mengejar ketuntasan pembelajaran. Sebab ini akan menambah beban siswa dan guru,&amp;rdquo; kata komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti.
Menurutnya, di tengah pandemi Covid-19, fleksibilitas dan kelonggaran kurikulum adalah kunci agar anak dan guru tetap merdeka dalam belajar.
Dari survei KPAI, pada 17-21 April 2020 dengan responden 602 guru, ditemukan fakta bahwa 77,6 persen guru lebih menekankan dan berorientasi pada kegiatan aspek standar penilaian pada pelaksanaan PJJ, dibandingkan dengan kegiatan pembelajaran bermakna (aspek proses).
&amp;ldquo;Boleh jadi ini terpaksa dilakukan guru akibat kuranganya penguasaan terhadap aplikasi pembelajaran daring. Terbukti hanya 19,1 persen responden yang sudah terbiasa menggunakan aplikasi daring. Kenyataan inilah yang membuat PJJ menjadi model pembelajaran yang tidak menarik bagi siswa,&amp;rdquo; ujarnya dalam laporan resmi.
Mayoritas guru sebenarnya sudah mendapatkan pedoman dan arahan yang jelas dari sekolah dan Dinas Pendidikan terkait tenis pengelolaan PJJ. Tapi, arahan sekolah tersebut lebih terfokus kepada jadwal dan manajemen kegiatan pembelajaran.
Baca juga:&amp;nbsp;Belajar Daring Bikin Semangat Kering
KPAI juga risau karena masih ada sekolah melaksanakan PJJ sesuai jadwal sekolah normal sebelum pandemi Covid-19.
&amp;ldquo;Betapa beratnya beban yang harus ditanggung oleh siswa di masa sulit seperti sekarang. Fakta di lapangan, dengan jumlah mata pelajaran yang kurang dari 2 mata pelajaran saja, siswa sudah terbebani. Apalagi PJJ dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang normal.&amp;rdquo;Kendala Sekolah
Sejumlah sekolah memang mengalami kendala dalam menyajikan mengajar online ke siswa, mulai dari jaringan internet yang tak mendukung terutama di perkampungan, sulit memenuhi kebutuhan kuota internet, keterbatasan alat sampai kurang menguasai teknologi.
Komite Sekolah SMP Ihsaniyah Tegal, Jawa Tengah, Rofiudin mengakui bahwa tidak semua guru menguasai teknologi informasi dan tidak semua siswa memiliki seluler. &amp;ldquo;Para orang tua yang tidak melek teknologi juga stress dengan pendidikan online,&amp;rdquo; kata Rofiudin.
Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Slawi, Mimik Supriyatin, mengatakan di antara para guru juga ada yang kurang mampu memenej waktu, karena secara fisik dan mental memang belum siap.
&amp;ldquo;Selain itu, guru dan siswa yang belajar di rumah juga terlibat dengan kegiatannya di rumahnya, misalnya membersihkan rumah, mengurus keluarga seperti memasak dan lainnya,&amp;rdquo; katanya.
Guru Harus Kreatif
Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi meminta Kemendikbud memberlakukan kurikulum darurat, sehingga anak tak terbeban belajar sesuai standar yang harus dicapai seperti tuntutan kurikulum sekolah masa normal.
Menurutnya di masa pandemi Covid-19, anak-anak jangan sekadar disuruh menghafal, belajar rumus dan bikin PR yang bertumpuk, karena membuat mereka bertambah stres.
&amp;ldquo;Jangan dibebani dengan udah masalah ekonomi, masalah target kurikulum harus dipenuhi. Kasihan anak-anak. Orangtua juga stres, anak juga stres, akhirnya terjadi konflik di dalam keluarga. Saya juga banyak mendapat laporan anak-anak yang mengadu. Ini kok jadi begini, orangtua juga mengadu,&amp;rdquo; kata Kak Seto.
Guru harus bisa memberikan suasana nyaman dan tugas kreatif ke siswa saat belajar di rumah.
&amp;ldquo;Misalnya silakan membuat gambar, kalau anak senang nyanyi mungkin lagu itu direkam dikirim melalui WhatsApp, suasana yang menyenangkan. Misalnya juga membuat puisi tentang corona. Membuat lukisan misalnya bagaimana aku gembira bisa selalu bersama ayah dan bunda.&amp;rdquo;
Anggota Komisi X DPR RI, Muhammad Kadafi mengatakan, solusi sukses pembelajaran di tengah pandemi corona adalah guru dan siswa harus kreatif.   &amp;ldquo;Saya sangat mengapresiasi guru dan murid yang kreatif dalam masa-masa pandemi Covid-19 ini,&amp;rdquo; kata politikus PKB.
</description><content:encoded>PEMERINTAH meliburkan sekolah untuk mencegah meluasnya penyebaran Covid-19. Siswa kini diwajibkan belajar di rumah. Kebijakan ini sudah berlaku satu bulan lebih. Orangtua dan anak-anak mulai jenuh bahkan mengeluh dengan tugas.
Wilda Tia Wardhany (31) memiliki seorang anak yang masih kelas 1 SD. Selama pembelajaran jarak jauh (PJJ) berlaku, dia bertugas ganda; mengurus rumah tangga sekaligus jadi guru untuk anaknya saban hari.
Masalahnya Wilda kerap kesulitan mengajar sesuai mata pelajaran sekolah anak, karena latar belakang pendidikannya bukan guru.
Sementara anaknya hampir tiap hari mendapatkan pekerjaan rumah (PR) untuk mengejar target nilai sekolah sebagai ganti ujian akhir untuk naik kelas.
&amp;ldquo;Orangtua juga stres karena di saat mengajar anak, saya juga masih harus mengurusi pekerjaan rumah, masak, membereskan rumah dan lain-lain,&amp;rdquo; kata Wilda, warga Bojonggede, Bogor, Jawa Barat, kepada Okezone, Rabu (29/4/2020).
Di awal PJJ berlaku, guru memberikan PR sesuai jadwal sekolah. Orangtua pun protes karena anaknya kewalahan belajar. Guru akhirnya mengubah dengan memberikan satu-dua tugas saja tiap hari. Tugas itu sering membebankan anak, bahkan menyulitkan orangtua.
&amp;ldquo;Saya cuma satu yang ada di usia sekolah, enggak bisa dibayangkan kalau dalam satu rumah ada dua atau tiga anak yang usia sekolah, bisa lebih capek, bisa lebih stres,&amp;rdquo; ujarnya.
Ilustrasi belajar di rumah (Okezone.com/Khafid)
Wilda mengatakan anaknya mulai jenuh belajar di rumah. &amp;ldquo;Anak-anak juga butuh sosialisasi dengan teman dan guru di sekolah, sekolah itu setahu saya bukan cuma materi belajar, tapi sosialisasi dengan lingkungan juga.&amp;rdquo;
PJJ Orientasi Nilai
Berdasarkan hasil survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) diketahui, selama PJJ guru masih cenderung mengejar ketercapaian kurikulum.
&amp;ldquo;Ini sangat kontradiktif dengan semangat dan aturan dari Kemdikbud yang tertuang dalam Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020. Di dalamnya tertulis sekolah tidak harus mengejar ketuntasan pembelajaran. Sebab ini akan menambah beban siswa dan guru,&amp;rdquo; kata komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti.
Menurutnya, di tengah pandemi Covid-19, fleksibilitas dan kelonggaran kurikulum adalah kunci agar anak dan guru tetap merdeka dalam belajar.
Dari survei KPAI, pada 17-21 April 2020 dengan responden 602 guru, ditemukan fakta bahwa 77,6 persen guru lebih menekankan dan berorientasi pada kegiatan aspek standar penilaian pada pelaksanaan PJJ, dibandingkan dengan kegiatan pembelajaran bermakna (aspek proses).
&amp;ldquo;Boleh jadi ini terpaksa dilakukan guru akibat kuranganya penguasaan terhadap aplikasi pembelajaran daring. Terbukti hanya 19,1 persen responden yang sudah terbiasa menggunakan aplikasi daring. Kenyataan inilah yang membuat PJJ menjadi model pembelajaran yang tidak menarik bagi siswa,&amp;rdquo; ujarnya dalam laporan resmi.
Mayoritas guru sebenarnya sudah mendapatkan pedoman dan arahan yang jelas dari sekolah dan Dinas Pendidikan terkait tenis pengelolaan PJJ. Tapi, arahan sekolah tersebut lebih terfokus kepada jadwal dan manajemen kegiatan pembelajaran.
Baca juga:&amp;nbsp;Belajar Daring Bikin Semangat Kering
KPAI juga risau karena masih ada sekolah melaksanakan PJJ sesuai jadwal sekolah normal sebelum pandemi Covid-19.
&amp;ldquo;Betapa beratnya beban yang harus ditanggung oleh siswa di masa sulit seperti sekarang. Fakta di lapangan, dengan jumlah mata pelajaran yang kurang dari 2 mata pelajaran saja, siswa sudah terbebani. Apalagi PJJ dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang normal.&amp;rdquo;Kendala Sekolah
Sejumlah sekolah memang mengalami kendala dalam menyajikan mengajar online ke siswa, mulai dari jaringan internet yang tak mendukung terutama di perkampungan, sulit memenuhi kebutuhan kuota internet, keterbatasan alat sampai kurang menguasai teknologi.
Komite Sekolah SMP Ihsaniyah Tegal, Jawa Tengah, Rofiudin mengakui bahwa tidak semua guru menguasai teknologi informasi dan tidak semua siswa memiliki seluler. &amp;ldquo;Para orang tua yang tidak melek teknologi juga stress dengan pendidikan online,&amp;rdquo; kata Rofiudin.
Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Slawi, Mimik Supriyatin, mengatakan di antara para guru juga ada yang kurang mampu memenej waktu, karena secara fisik dan mental memang belum siap.
&amp;ldquo;Selain itu, guru dan siswa yang belajar di rumah juga terlibat dengan kegiatannya di rumahnya, misalnya membersihkan rumah, mengurus keluarga seperti memasak dan lainnya,&amp;rdquo; katanya.
Guru Harus Kreatif
Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi meminta Kemendikbud memberlakukan kurikulum darurat, sehingga anak tak terbeban belajar sesuai standar yang harus dicapai seperti tuntutan kurikulum sekolah masa normal.
Menurutnya di masa pandemi Covid-19, anak-anak jangan sekadar disuruh menghafal, belajar rumus dan bikin PR yang bertumpuk, karena membuat mereka bertambah stres.
&amp;ldquo;Jangan dibebani dengan udah masalah ekonomi, masalah target kurikulum harus dipenuhi. Kasihan anak-anak. Orangtua juga stres, anak juga stres, akhirnya terjadi konflik di dalam keluarga. Saya juga banyak mendapat laporan anak-anak yang mengadu. Ini kok jadi begini, orangtua juga mengadu,&amp;rdquo; kata Kak Seto.
Guru harus bisa memberikan suasana nyaman dan tugas kreatif ke siswa saat belajar di rumah.
&amp;ldquo;Misalnya silakan membuat gambar, kalau anak senang nyanyi mungkin lagu itu direkam dikirim melalui WhatsApp, suasana yang menyenangkan. Misalnya juga membuat puisi tentang corona. Membuat lukisan misalnya bagaimana aku gembira bisa selalu bersama ayah dan bunda.&amp;rdquo;
Anggota Komisi X DPR RI, Muhammad Kadafi mengatakan, solusi sukses pembelajaran di tengah pandemi corona adalah guru dan siswa harus kreatif.   &amp;ldquo;Saya sangat mengapresiasi guru dan murid yang kreatif dalam masa-masa pandemi Covid-19 ini,&amp;rdquo; kata politikus PKB.
</content:encoded></item></channel></rss>
