<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>250.000 Balita NTT Tak Miliki Akses Air Bersih, Rentan Terpapar Covid-19</title><description>Anak-anak di NTT rentan terserang penyakit karena minim akses sanitasi dan air bersih.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/04/29/340/2206551/250-000-balita-ntt-tak-miliki-akses-air-bersih-rentan-terpapar-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/04/29/340/2206551/250-000-balita-ntt-tak-miliki-akses-air-bersih-rentan-terpapar-covid-19"/><item><title>250.000 Balita NTT Tak Miliki Akses Air Bersih, Rentan Terpapar Covid-19</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/04/29/340/2206551/250-000-balita-ntt-tak-miliki-akses-air-bersih-rentan-terpapar-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/04/29/340/2206551/250-000-balita-ntt-tak-miliki-akses-air-bersih-rentan-terpapar-covid-19</guid><pubDate>Rabu 29 April 2020 11:44 WIB</pubDate><dc:creator>Adi Rianghepat</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/29/340/2206551/250-000-balita-ntt-tak-miliki-akses-air-bersih-rentan-terpapar-covid-19-8GyJgzA4kh.jpg" expression="full" type="image/jpeg">ilustrasi (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/29/340/2206551/250-000-balita-ntt-tak-miliki-akses-air-bersih-rentan-terpapar-covid-19-8GyJgzA4kh.jpg</image><title>ilustrasi (Okezone)</title></images><description>KUPANG - Wahana Visi Indonesia (WVI) menemukan sekitar 250.000 anak usia balita di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak memiliki akses air bersih dan lebih dari 260.000 anak tidak memiliki akses sanitasi yang layak. Hal ini menyebabkan anak-anak di provinsi berbasis kepulauan itu rentan terpapar virus corona atau Covid-19.
Zonal Manager WVI Wilayah NTT, Eben Ezer Sembiring, Rabu (29/4/2020) menyampaikan, anak-anak mengalami dampak Covid-19 dan cenderung terabaikan.
Dia mengatakan, anak-anak NTT mengalami kerentanan tinggi karena minimnya akses akan sanitasi dan air bersih. Selain juga terbatasnya fasilitas dan kapasitas orangtua untuk mengajar anak di rumah, hingga kerentanan terhadap terjadinya kekerasan juga tinggi.
Karena itu Wahana Visi Indonesia (WVI) terus melakukan respon dalam membantu penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia, terutama untuk memastikan terpenuhinya hak-hak anak.
Beberapa kondisi kerentanan anak-anak di NTT sebutnya, hanya 50,72% rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak (data susenas BPS 2018) dan hanya 64,79% rumah tangga memiliki akses terhadap layanan air minum layak dan berkelanjutan.
&amp;nbsp;
Kurang dari 40% anak di NTT hidup dalam rumah tangga yang tidak memiliki akses air bersih, sekitar 250.000 anak usia balita tidak memiliki akses air bersih dan lebih dari 260.000 anak tidak memiliki akses sanitasi yang layak. &quot;Padahal dalam situasi pandemi, dibutuhkan akses air bersih untuk dapat menerapkan protokol kebersihan,&quot; katanya
Selain itu berdasarkan data BPS 2019, angka partisipasi murni untuk anak SMA/SMK pada tahun 2019 hanya sebesar 42,68% , dan SMP/Sederajat 67,98%. Hal itu berbeda dengan angka partisipasi anak SD/sederajat 96,21%.
Dikatakannya dalam situasi yang mengharuskan anak belajar secara mandiri dan online, anak-anak di NTT mengalami tantangan dengan terbatasnya fasilitas dan kapasitas orang tua dalam mendampingi belajar.
Belum lagi ditambah kondisi keterbatasan guru dan insitusi pendidikan dalam menyediakan kurikulum yang dapat diakses masyarakat di pedalaman.
&quot;Anak-anak akhirnya berada dalam situasi yang sulit mengakses pembelajaran melalui radio, televisi dan telepon seluler,&quot; katanya menguraikan.Pada isu yang lain, lanjut dia, ada sebesar 20,62% atau sebesar 1129.46 penduduk NTT berada dalam situasi kemiskinan. Data 2019 menyebutkan, hanya 47,84% anak-anak di NTT yang memiliki akta kelahiran, sehingga berdampak pada akses anak-anak untuk mendapatkan jaminan perlindungan sosial.
Menurut Eben Ezer Sembiring kebijakan stay at home berdampak kepada kondisi orangtua yang kesulitan bekerja dapat meningkatkan risiko anak-anak pada kerawanan pangan, situasi malnutrisi, dan penelantaran.
Dengan berbagai latar belakang tersebut, WVI melakukan respon di 18 kabupaten/kota di NTT meliputi tindakan pencegahan penularan Covid-19 serta akses ke perawatan dan pengobatan.
&quot;Kami memastikan sistem pengasuhan anak-anak berjalan baik selama pandemi atau jika orangtuanya terinfeksi, dan melakukan advokasi untuk memastikan keluarga yang rentan menerima dukungan pemerintah sesuai dengan standar dan prinsip hak anak,&amp;rdquo; katanya.
Dia menyebut, pada tahap awal, April hingga September 2020, WVI di NTT mengelola dana sebesar Rp2,9 miliar untuk berbagai program, antara lain penyediaan 813 fasilitas cuci tangan dengan sabun serta mendistribusikan APD standar Covid-19 untuk 653 tenaga kesehatan.
Adapun bantuan non tunai diberikan kepada 2.507 keluarga yang paling rentan. Sosialisasi juga terus dilakukan sebagai upaya edukasi mengenai Covid-19. Selain itu, paket kebersihan juga diberikan untuk 6,843 keluarga yang memiliki balita atau yang terdampak Covid-19.
WVI lanjut dia juga mengembangkan kegiatan rekreasi dan dukungan materi pembelajaran baik offline maupun online untuk anak-anak di rumah, serta pelatihan psikososial untuk para tokoh agama dalam mendukung masyarakat selama masa pandemi. &quot;Upaya bersama para pihak terkait terus dilakukan untuk dapat menolong anak-anak agar dapat terus bertumbuh dan berkembang dengan baik,&quot; katanya.</description><content:encoded>KUPANG - Wahana Visi Indonesia (WVI) menemukan sekitar 250.000 anak usia balita di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak memiliki akses air bersih dan lebih dari 260.000 anak tidak memiliki akses sanitasi yang layak. Hal ini menyebabkan anak-anak di provinsi berbasis kepulauan itu rentan terpapar virus corona atau Covid-19.
Zonal Manager WVI Wilayah NTT, Eben Ezer Sembiring, Rabu (29/4/2020) menyampaikan, anak-anak mengalami dampak Covid-19 dan cenderung terabaikan.
Dia mengatakan, anak-anak NTT mengalami kerentanan tinggi karena minimnya akses akan sanitasi dan air bersih. Selain juga terbatasnya fasilitas dan kapasitas orangtua untuk mengajar anak di rumah, hingga kerentanan terhadap terjadinya kekerasan juga tinggi.
Karena itu Wahana Visi Indonesia (WVI) terus melakukan respon dalam membantu penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia, terutama untuk memastikan terpenuhinya hak-hak anak.
Beberapa kondisi kerentanan anak-anak di NTT sebutnya, hanya 50,72% rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak (data susenas BPS 2018) dan hanya 64,79% rumah tangga memiliki akses terhadap layanan air minum layak dan berkelanjutan.
&amp;nbsp;
Kurang dari 40% anak di NTT hidup dalam rumah tangga yang tidak memiliki akses air bersih, sekitar 250.000 anak usia balita tidak memiliki akses air bersih dan lebih dari 260.000 anak tidak memiliki akses sanitasi yang layak. &quot;Padahal dalam situasi pandemi, dibutuhkan akses air bersih untuk dapat menerapkan protokol kebersihan,&quot; katanya
Selain itu berdasarkan data BPS 2019, angka partisipasi murni untuk anak SMA/SMK pada tahun 2019 hanya sebesar 42,68% , dan SMP/Sederajat 67,98%. Hal itu berbeda dengan angka partisipasi anak SD/sederajat 96,21%.
Dikatakannya dalam situasi yang mengharuskan anak belajar secara mandiri dan online, anak-anak di NTT mengalami tantangan dengan terbatasnya fasilitas dan kapasitas orang tua dalam mendampingi belajar.
Belum lagi ditambah kondisi keterbatasan guru dan insitusi pendidikan dalam menyediakan kurikulum yang dapat diakses masyarakat di pedalaman.
&quot;Anak-anak akhirnya berada dalam situasi yang sulit mengakses pembelajaran melalui radio, televisi dan telepon seluler,&quot; katanya menguraikan.Pada isu yang lain, lanjut dia, ada sebesar 20,62% atau sebesar 1129.46 penduduk NTT berada dalam situasi kemiskinan. Data 2019 menyebutkan, hanya 47,84% anak-anak di NTT yang memiliki akta kelahiran, sehingga berdampak pada akses anak-anak untuk mendapatkan jaminan perlindungan sosial.
Menurut Eben Ezer Sembiring kebijakan stay at home berdampak kepada kondisi orangtua yang kesulitan bekerja dapat meningkatkan risiko anak-anak pada kerawanan pangan, situasi malnutrisi, dan penelantaran.
Dengan berbagai latar belakang tersebut, WVI melakukan respon di 18 kabupaten/kota di NTT meliputi tindakan pencegahan penularan Covid-19 serta akses ke perawatan dan pengobatan.
&quot;Kami memastikan sistem pengasuhan anak-anak berjalan baik selama pandemi atau jika orangtuanya terinfeksi, dan melakukan advokasi untuk memastikan keluarga yang rentan menerima dukungan pemerintah sesuai dengan standar dan prinsip hak anak,&amp;rdquo; katanya.
Dia menyebut, pada tahap awal, April hingga September 2020, WVI di NTT mengelola dana sebesar Rp2,9 miliar untuk berbagai program, antara lain penyediaan 813 fasilitas cuci tangan dengan sabun serta mendistribusikan APD standar Covid-19 untuk 653 tenaga kesehatan.
Adapun bantuan non tunai diberikan kepada 2.507 keluarga yang paling rentan. Sosialisasi juga terus dilakukan sebagai upaya edukasi mengenai Covid-19. Selain itu, paket kebersihan juga diberikan untuk 6,843 keluarga yang memiliki balita atau yang terdampak Covid-19.
WVI lanjut dia juga mengembangkan kegiatan rekreasi dan dukungan materi pembelajaran baik offline maupun online untuk anak-anak di rumah, serta pelatihan psikososial untuk para tokoh agama dalam mendukung masyarakat selama masa pandemi. &quot;Upaya bersama para pihak terkait terus dilakukan untuk dapat menolong anak-anak agar dapat terus bertumbuh dan berkembang dengan baik,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
