<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Bupati Sragen Karantina Pemudik Nakal di Rumah Angker</title><description>Pemudik yang datang ke Sragen siap-siap dikarantina di rumah angker jika melanggar komitmen</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/04/30/512/2207140/cerita-bupati-sragen-karantina-pemudik-nakal-di-rumah-angker</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/04/30/512/2207140/cerita-bupati-sragen-karantina-pemudik-nakal-di-rumah-angker"/><item><title>Cerita Bupati Sragen Karantina Pemudik Nakal di Rumah Angker</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/04/30/512/2207140/cerita-bupati-sragen-karantina-pemudik-nakal-di-rumah-angker</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/04/30/512/2207140/cerita-bupati-sragen-karantina-pemudik-nakal-di-rumah-angker</guid><pubDate>Kamis 30 April 2020 11:47 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Solopos</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/30/512/2207140/cerita-bupati-sragen-karantina-pemudik-nakal-di-rumah-angker-6f1a89egoB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati (foto: Solopos)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/30/512/2207140/cerita-bupati-sragen-karantina-pemudik-nakal-di-rumah-angker-6f1a89egoB.jpg</image><title>Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati (foto: Solopos)</title></images><description>SOLO - Banyak cara membuat para pemudik nakal kapok untuk pulang ke kampung halaman saat libur Idul Fitri 2020 di tengah pandemic covid-19 ini. Pemerintah sudah sangat tegas memutuskan melarang seluruh warga Indonesia untuk mudik lebaran tahun ini.
Salah satu cara unik dilakukan oleh Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati. Pemudik yang datang ke Sragen siap-siap dikarantina di rumah angker jika melanggar komitmen yang telah dibuat bersama pemerintah setempat. Hal tersebut telah terjadi di Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati mengatakan langkah tersebut diambil untuk mengatasi pemudik yang bandel. Karantina di rumah kosong yang disebut-sebut angker itu merupakan penerapan kearifan lokal memanfaatkan ketakutan banyak orang Jawa terhadap hantu.
Mbak Yuni, sapaan akrabnya menjelaskan ide tersebut muncul ketika ada laporan dari Pemerintah Desa Sepat soal adanya pemudik yang melanggar aturan. Pemudik itu nekat berpergian ke luar rumah padahal masa karantina mandiri selama 14 hari belum rampung.
&quot;Waktu saya cek di salah satu posko, petugas posko bertanya ke saya. Ibu kalau ada pemudik kami tidak komitmen bagaimana? Keputusan apapun kalau ada bisa kami lakukan?  Kemudain saya bilang kalau dia enggak komitmen lagi ada rumah kosong enggak ini di sini. Ide itu muncul, kita lihat bersihkan. Kalau ada pemudik nakal lagi masukkan situ,&quot; jelas Mbak Yuni di acara salah satu stasiun televisi swasta yang dikutip Solopos.

Rumah Angker Ampuh
Ia beralasan upaya mengurung pemudik Sragen di rumah angker itu bisa membuat kapok mereka yang melanggar komitmen. Hal tersebut dinilai ampuh oleh Mbak Yuni lantaran ada tiga pemudik yang betul-betul kapok dan meminta agar dikeluarkan dari rumah angker itu.
&quot;Memang harus dibuat kapok. Orang Indonesia itu takut sama hantu. Dibuat efek jera dengan komitmen itu. Mereka pulang kampung tidak bawa penyakit. Saya minta teman-teman desa untuk aktif. Orang ngeyel ini harus di-punishment,&quot; lanjutnya
&quot;Di Desa Sepat ada gedung kosong dipakailah itu. Mereka hanya tahan tiga hari karena merasa ketakutan dan lapor kepada satgas. Dan akan komitmen dan patuh terhada anjuran pemerintah untuk bisa kembali ke rumah melanjutkan karantina mandiri,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>SOLO - Banyak cara membuat para pemudik nakal kapok untuk pulang ke kampung halaman saat libur Idul Fitri 2020 di tengah pandemic covid-19 ini. Pemerintah sudah sangat tegas memutuskan melarang seluruh warga Indonesia untuk mudik lebaran tahun ini.
Salah satu cara unik dilakukan oleh Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati. Pemudik yang datang ke Sragen siap-siap dikarantina di rumah angker jika melanggar komitmen yang telah dibuat bersama pemerintah setempat. Hal tersebut telah terjadi di Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati mengatakan langkah tersebut diambil untuk mengatasi pemudik yang bandel. Karantina di rumah kosong yang disebut-sebut angker itu merupakan penerapan kearifan lokal memanfaatkan ketakutan banyak orang Jawa terhadap hantu.
Mbak Yuni, sapaan akrabnya menjelaskan ide tersebut muncul ketika ada laporan dari Pemerintah Desa Sepat soal adanya pemudik yang melanggar aturan. Pemudik itu nekat berpergian ke luar rumah padahal masa karantina mandiri selama 14 hari belum rampung.
&quot;Waktu saya cek di salah satu posko, petugas posko bertanya ke saya. Ibu kalau ada pemudik kami tidak komitmen bagaimana? Keputusan apapun kalau ada bisa kami lakukan?  Kemudain saya bilang kalau dia enggak komitmen lagi ada rumah kosong enggak ini di sini. Ide itu muncul, kita lihat bersihkan. Kalau ada pemudik nakal lagi masukkan situ,&quot; jelas Mbak Yuni di acara salah satu stasiun televisi swasta yang dikutip Solopos.

Rumah Angker Ampuh
Ia beralasan upaya mengurung pemudik Sragen di rumah angker itu bisa membuat kapok mereka yang melanggar komitmen. Hal tersebut dinilai ampuh oleh Mbak Yuni lantaran ada tiga pemudik yang betul-betul kapok dan meminta agar dikeluarkan dari rumah angker itu.
&quot;Memang harus dibuat kapok. Orang Indonesia itu takut sama hantu. Dibuat efek jera dengan komitmen itu. Mereka pulang kampung tidak bawa penyakit. Saya minta teman-teman desa untuk aktif. Orang ngeyel ini harus di-punishment,&quot; lanjutnya
&quot;Di Desa Sepat ada gedung kosong dipakailah itu. Mereka hanya tahan tiga hari karena merasa ketakutan dan lapor kepada satgas. Dan akan komitmen dan patuh terhada anjuran pemerintah untuk bisa kembali ke rumah melanjutkan karantina mandiri,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
