<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>COVID-19, Ini Beberapa Vaksin dan Obat yang Diuji untuk Sembuhkan Corona</title><description>Berikut beberapa obat dan vaksin yang telah diuji sebagai pengobatan virus corona.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/05/03/18/2208491/covid-19-ini-beberapa-vaksin-dan-obat-yang-diuji-untuk-sembuhkan-corona</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/05/03/18/2208491/covid-19-ini-beberapa-vaksin-dan-obat-yang-diuji-untuk-sembuhkan-corona"/><item><title>COVID-19, Ini Beberapa Vaksin dan Obat yang Diuji untuk Sembuhkan Corona</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/05/03/18/2208491/covid-19-ini-beberapa-vaksin-dan-obat-yang-diuji-untuk-sembuhkan-corona</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/05/03/18/2208491/covid-19-ini-beberapa-vaksin-dan-obat-yang-diuji-untuk-sembuhkan-corona</guid><pubDate>Minggu 03 Mei 2020 16:01 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/05/03/18/2208491/covid-19-ini-beberapa-vaksin-dan-obat-yang-diuji-untuk-sembuhkan-corona-W5UuFhKm2F.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/05/03/18/2208491/covid-19-ini-beberapa-vaksin-dan-obat-yang-diuji-untuk-sembuhkan-corona-W5UuFhKm2F.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Reuters)</title></images><description>DI TENGAH pandemi global Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona, para ilmuwan berusaha menemukan vaksin untuk menangkal penyebarannya. Mereka berusaha secepat mungkin mendapatkan pengobatan  untuk penyakit yang telah menjangkiti lebih dari 3 juta orang di seluruh dunia dan menyebabkan dampak besar bagi kehidupan manusia itu.
Proses pencarian vaksin tidak mudah dan terkadang membutuhkan waktu yang sangat panjang, bahkan hingga beberapa dekade, seperti upaya menemukan vaksin virus HIV yang menyebabkan penyakit AIDS yang sampai hari ini masih belum ada.
Namun, dalam beberapa bulan ini, telah ada beberapa pengobatan potensial dan vaksin yang dikembangkan untuk merawat pasien yang terinfeksi virus corona. Sejumlah vaksin juga telah memasuki tahap uji coba, bahkan ada obat anti virus yang sudah diizinkan untuk digunakan untuk merawat pasien Covid-19.
Berikut beberapa pengobatan dan vaksin untuk virus corona yang tengah dalam pengembangan atau digunakan dalam perawatan virus corona.

Remdesivir
Obat antivirus yang diproduksi oleh perusahaan bioteknologi Amerika Serikat (AS) Gilead Sciences ini awalnya digunakan untuk mengobati penyakit Ebola dan virus-virus sejenisnya. Obat ini bekerja dengan menghentikan replikasi virus, dan pernah diuji untuk mengobati penyakit itu di Kongo pada tahun lalu.
Pengujian yang dilakukan terhadap 1.063 pasien Covid-19 di AS menunjukkan bahwa pasien yang diberikan remdesivir pulih lebih cepat, rata-rata dalam 11 hari, dibandingkan pasien yang tidak dirawat dengan obat ini, yang pulih rata-rata dalam 15 hari.
Pada Jumat (1/5/2020) Badan Administrasi Pangan dan Obat-obatan AS (FDA) telah menyetujui penggunaan remdesivir untuk merawat pasien Covid-19 di AS.

ChAdOx1 nCoV-19
Vaksin ini dikembangkan oleh Universitas Oxford di Inggris dan telah diuji coba terhadap kera rhesus di Laboratorium National Institutes of Health di Rocky Mountain, Montana, AS dengan hasil yang menggembirakan.
Menurut Vincent Munster, peneliti yang melakukan tes tersebut, setelah diinokulasi dengan ChAdOx1 enam kera rhesus dipapar virus corona baru dalam jumlah besar. Setelah 28 hari, ternyata semua kera itu diketahui tetap dalam keadaan sehat.
ChAdOx1 masih akan menjalani uji coba lain, tetapi perusahaan pembuat  vaksin India The Serum Institute of India telah menyatakan siap  memproduksi vaksin ini, paling cepat pada September 2020, segera setelah  uji coba yang dilakukan selesai.

AD5-nCoV
China, negara yang dianggap sebagai asal merebaknya pandemi Covid-19,  juga mengembangkan vaksin untuk penyakit tersebut. Vaksin yang  dinamakan sebagai AD5-nCoV dan telah memulai uji coba pada manusia sejak  Maret 2020.
Diwartakan BBC, AD5-nCoV yang dikembangkan perusahaan bioteknologi  CanSino Biologics itu menggunakan adenovirus, virus penyebab flu, yang  tidak berkembangbiak sebagai pengantarnya (vektor). Dengan adenovirus  ini, vaksin akan memancing respons kekebalan tubuh untuk melawan  infeksi.

Sejauh ini belum ada jangka waktu pasti kapan vaksin ini siap untuk  digunakan, tetapi sebagian besar tipe vaksin sejenis diperkirakan akan  membutuhkan waktu antara 6-12 bulan.

Hydroxychloroquine
Obat yang digunakan untuk merawat penyakit malaria itu mengemuka  sebagai pengobatan potensial untuk Covid-19 setelah disampaikan oleh  Presiden AS, Donald Trump. Namun, sejauh ini tidak ada bukti kuat yang  menyebutkan bahwa Hydroxychloroquine efektif untuk mengobati Covid-19.
Peneliti di Prancis diketahui telah menerbitkan studi tentang  hydroxychloroquine,  mengemukakan bahwa mereka telah mencoba merawat 20  orang pasien COVID-19 dengan obat tersebut. Namun, uji coba itu tidak  terkontrol dan tidak melaporkan hasil klinis seperti kematian.
Pada Maret, Perhimpunan Kedokteran Perawatan Kritis AS mengatakan   bahwa tidak ada cukup bukti yang bisa membuat keluarnya rekomendasi   tentang penggunaan hydroxychloroquine  pada pasien positif COVID-19 yang   sakit kritis.
Disebutkan lebih lanjut, hydroxychloroquine malah kemungkinan lebih   berbahaya ketimbang bermanfaat untuk pengobatan pasien COVID-19. Obat   hydroxychloroquine punya berbagai efek samping yang meskipun jarang   kasusnya ditemukan tapi dapat membahayakan jantung.

mRNA-1273
Vaksin lain adalah mRNA-1273 yang dikembangkan oleh Moderna   Therapeutics, perusahaan bioteknologi yang bermarkas di Massachusetts,   AS. Vaksin ini bekerja dengan melatih sistem kekebalan tubuh untuk   melawan virus corona baru dan mencegah munculnya penyakit Covid-19.
Uji coba vaksin ini telah dilakukan dengan menyuntikkan kode genetik   virus, yang dibuat di laboratorium untuk menghasilkan respons sistem   kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.</description><content:encoded>DI TENGAH pandemi global Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona, para ilmuwan berusaha menemukan vaksin untuk menangkal penyebarannya. Mereka berusaha secepat mungkin mendapatkan pengobatan  untuk penyakit yang telah menjangkiti lebih dari 3 juta orang di seluruh dunia dan menyebabkan dampak besar bagi kehidupan manusia itu.
Proses pencarian vaksin tidak mudah dan terkadang membutuhkan waktu yang sangat panjang, bahkan hingga beberapa dekade, seperti upaya menemukan vaksin virus HIV yang menyebabkan penyakit AIDS yang sampai hari ini masih belum ada.
Namun, dalam beberapa bulan ini, telah ada beberapa pengobatan potensial dan vaksin yang dikembangkan untuk merawat pasien yang terinfeksi virus corona. Sejumlah vaksin juga telah memasuki tahap uji coba, bahkan ada obat anti virus yang sudah diizinkan untuk digunakan untuk merawat pasien Covid-19.
Berikut beberapa pengobatan dan vaksin untuk virus corona yang tengah dalam pengembangan atau digunakan dalam perawatan virus corona.

Remdesivir
Obat antivirus yang diproduksi oleh perusahaan bioteknologi Amerika Serikat (AS) Gilead Sciences ini awalnya digunakan untuk mengobati penyakit Ebola dan virus-virus sejenisnya. Obat ini bekerja dengan menghentikan replikasi virus, dan pernah diuji untuk mengobati penyakit itu di Kongo pada tahun lalu.
Pengujian yang dilakukan terhadap 1.063 pasien Covid-19 di AS menunjukkan bahwa pasien yang diberikan remdesivir pulih lebih cepat, rata-rata dalam 11 hari, dibandingkan pasien yang tidak dirawat dengan obat ini, yang pulih rata-rata dalam 15 hari.
Pada Jumat (1/5/2020) Badan Administrasi Pangan dan Obat-obatan AS (FDA) telah menyetujui penggunaan remdesivir untuk merawat pasien Covid-19 di AS.

ChAdOx1 nCoV-19
Vaksin ini dikembangkan oleh Universitas Oxford di Inggris dan telah diuji coba terhadap kera rhesus di Laboratorium National Institutes of Health di Rocky Mountain, Montana, AS dengan hasil yang menggembirakan.
Menurut Vincent Munster, peneliti yang melakukan tes tersebut, setelah diinokulasi dengan ChAdOx1 enam kera rhesus dipapar virus corona baru dalam jumlah besar. Setelah 28 hari, ternyata semua kera itu diketahui tetap dalam keadaan sehat.
ChAdOx1 masih akan menjalani uji coba lain, tetapi perusahaan pembuat  vaksin India The Serum Institute of India telah menyatakan siap  memproduksi vaksin ini, paling cepat pada September 2020, segera setelah  uji coba yang dilakukan selesai.

AD5-nCoV
China, negara yang dianggap sebagai asal merebaknya pandemi Covid-19,  juga mengembangkan vaksin untuk penyakit tersebut. Vaksin yang  dinamakan sebagai AD5-nCoV dan telah memulai uji coba pada manusia sejak  Maret 2020.
Diwartakan BBC, AD5-nCoV yang dikembangkan perusahaan bioteknologi  CanSino Biologics itu menggunakan adenovirus, virus penyebab flu, yang  tidak berkembangbiak sebagai pengantarnya (vektor). Dengan adenovirus  ini, vaksin akan memancing respons kekebalan tubuh untuk melawan  infeksi.

Sejauh ini belum ada jangka waktu pasti kapan vaksin ini siap untuk  digunakan, tetapi sebagian besar tipe vaksin sejenis diperkirakan akan  membutuhkan waktu antara 6-12 bulan.

Hydroxychloroquine
Obat yang digunakan untuk merawat penyakit malaria itu mengemuka  sebagai pengobatan potensial untuk Covid-19 setelah disampaikan oleh  Presiden AS, Donald Trump. Namun, sejauh ini tidak ada bukti kuat yang  menyebutkan bahwa Hydroxychloroquine efektif untuk mengobati Covid-19.
Peneliti di Prancis diketahui telah menerbitkan studi tentang  hydroxychloroquine,  mengemukakan bahwa mereka telah mencoba merawat 20  orang pasien COVID-19 dengan obat tersebut. Namun, uji coba itu tidak  terkontrol dan tidak melaporkan hasil klinis seperti kematian.
Pada Maret, Perhimpunan Kedokteran Perawatan Kritis AS mengatakan   bahwa tidak ada cukup bukti yang bisa membuat keluarnya rekomendasi   tentang penggunaan hydroxychloroquine  pada pasien positif COVID-19 yang   sakit kritis.
Disebutkan lebih lanjut, hydroxychloroquine malah kemungkinan lebih   berbahaya ketimbang bermanfaat untuk pengobatan pasien COVID-19. Obat   hydroxychloroquine punya berbagai efek samping yang meskipun jarang   kasusnya ditemukan tapi dapat membahayakan jantung.

mRNA-1273
Vaksin lain adalah mRNA-1273 yang dikembangkan oleh Moderna   Therapeutics, perusahaan bioteknologi yang bermarkas di Massachusetts,   AS. Vaksin ini bekerja dengan melatih sistem kekebalan tubuh untuk   melawan virus corona baru dan mencegah munculnya penyakit Covid-19.
Uji coba vaksin ini telah dilakukan dengan menyuntikkan kode genetik   virus, yang dibuat di laboratorium untuk menghasilkan respons sistem   kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.</content:encoded></item></channel></rss>
