<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Curhat Pedagang Kecil: Corona Enggak Hilang, Rezeki Saya yang Hilang</title><description>PSBB 14 hari kalau dijamin berkurang enggak masalah, kalau perlu lockdown. Tapi ini kan tidak.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/05/11/519/2212202/curhat-pedagang-kecil-corona-enggak-hilang-rezeki-saya-yang-hilang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/05/11/519/2212202/curhat-pedagang-kecil-corona-enggak-hilang-rezeki-saya-yang-hilang"/><item><title>Curhat Pedagang Kecil: Corona Enggak Hilang, Rezeki Saya yang Hilang</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/05/11/519/2212202/curhat-pedagang-kecil-corona-enggak-hilang-rezeki-saya-yang-hilang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/05/11/519/2212202/curhat-pedagang-kecil-corona-enggak-hilang-rezeki-saya-yang-hilang</guid><pubDate>Senin 11 Mei 2020 12:10 WIB</pubDate><dc:creator>Syaiful Islam</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/05/11/519/2212202/curhat-pedagang-kecil-corona-enggak-hilang-rezeki-saya-yang-hilang-8a1UDHhZU5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto : Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/05/11/519/2212202/curhat-pedagang-kecil-corona-enggak-hilang-rezeki-saya-yang-hilang-8a1UDHhZU5.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto : Freepik)</title></images><description>SURABAYA - Sejumlah pedagang kecil yang ada di Kota Surabaya, Jatim banyak mengeluh karena omzet penjualannya menurun drastis di saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah Surabaya Raya (Surabaya, Sidoarjo, Gresik) diberlakukan.

Apalagi, saat ini Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa memperpanjang PSBB sampai 25 Mei 2020. Sehingga membuat rakyat kecil semakin menjerit dengan kondisi tersebut. Selain itu, bantuan yang dijanjikan pemerintah terhadap warga terdampak covid-19 tak kunjung sampai pada mereka.

Hal ini seperti yang dialami pengusaha air isi ulang di kawasan Lidah Wetan, Ade Irawan. Ade mengaku omsetnya menurun drastis. Sebelum PSBB, sehari ia bisa melayani isi ulang hingga 80 galon lebih. Namun, sejak PSBB diberlakukan tidak sampai 5 galon dalan sehari.

&quot;Warung kopi kan tutup semua. Pelanggan saya rata-rata suka nongkrong di warkop. Sekarang enggak ada. PSBB 14 hari kalau dijamin berkurang enggak masalah, kalau perlu lockdown. Tapi ini kan tidak. Corona-nya enggak hilang, rezeki saya malahan yang hilang,&quot; ucap Ade, Senin (10/5/2020).

Jika PSBB ditambah 14 hari lagi, sambung Ade, ia tidak tau bagaimana lagi cara menghidupi keluarganya. Sebab, sampai hari ini ia tidak pernah mendapat bantuan sosial dari pemerintah.

&quot;Ya mungkin karena saya punya usaha isi ulang, jadi dianggap mampu. Padahal sekarang lagi seret karena imbas dari PSBB,&quot; paparnya.

Penerapan PSBB juga mempersulit pengusaha menengah. Ketua Paguyuban Pedagang Buah wilayah Tanjung Sari, Surabaya, M Lukman, menyebut seharusnya untuk memperpanjang PSBB harus dipikirkan ulang.

&quot;Kalau PSBB yang pertama gagal, kenapa ada PSBB kedua. Ini sama saja dengan mengulang kegagalan. Selama masa PSBB, pedagang buah malah merugi. Karena barang yang keluar masuk, durasinya dibatasi dengan batas jam operasional,&quot; papar Lukman.

Padahal, lanjut Lukman, buah berpotensi busuk jika tidak cepat habis. Dalam kondisi pandemi corona seperti ini, semua sektor ekonomi memang sebagian besar jatuh. Tapi, pemerintah diharapkan tidak menambah beban lagi.

&quot;PSBB itu beban bagi kami. Kalau seandainya, PSBB kemarin itu sukses, kasusnya bisa berkurang, kita ikut saja. Tapi kalau gagal, kenapa diulang lagi? Kita terlanjur rugi nggak jualan maksimal. Ini sangat merugikan masyarakat kecil,&quot; tandas Lukman.

Baca Juga :&amp;nbsp;Seperti Apa Kehidupan Dunia Setelah Wabah COVID-19 Berakhir?

Hal senada juga diungkapkan Ketua Paguyuban Pangkalan LPG Surabaya Barat, Tulus Warsito. Menurutnya, PSBB bukan solusi terbaik. Pemerintah dinilai hanya melihat dari sisi pandemi. Namun tidak melihat ekonomi masyarakat kecil.

&quot;Itu bukan solusi. Coba seandainya pemerintah merasakan bagaimana jadi masyakarat, pasti dia akan protes. Efek PSBB sangat berimbas pada panyalur LPG. Sejak diberlakukannya jam PSBB, tidak ada lagi warung-warung yang berani jualan di malam hari. Omset menurun. Kita boleh jualan, tapi enggak ada yang beli,&quot; ucap Tulus.</description><content:encoded>SURABAYA - Sejumlah pedagang kecil yang ada di Kota Surabaya, Jatim banyak mengeluh karena omzet penjualannya menurun drastis di saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah Surabaya Raya (Surabaya, Sidoarjo, Gresik) diberlakukan.

Apalagi, saat ini Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa memperpanjang PSBB sampai 25 Mei 2020. Sehingga membuat rakyat kecil semakin menjerit dengan kondisi tersebut. Selain itu, bantuan yang dijanjikan pemerintah terhadap warga terdampak covid-19 tak kunjung sampai pada mereka.

Hal ini seperti yang dialami pengusaha air isi ulang di kawasan Lidah Wetan, Ade Irawan. Ade mengaku omsetnya menurun drastis. Sebelum PSBB, sehari ia bisa melayani isi ulang hingga 80 galon lebih. Namun, sejak PSBB diberlakukan tidak sampai 5 galon dalan sehari.

&quot;Warung kopi kan tutup semua. Pelanggan saya rata-rata suka nongkrong di warkop. Sekarang enggak ada. PSBB 14 hari kalau dijamin berkurang enggak masalah, kalau perlu lockdown. Tapi ini kan tidak. Corona-nya enggak hilang, rezeki saya malahan yang hilang,&quot; ucap Ade, Senin (10/5/2020).

Jika PSBB ditambah 14 hari lagi, sambung Ade, ia tidak tau bagaimana lagi cara menghidupi keluarganya. Sebab, sampai hari ini ia tidak pernah mendapat bantuan sosial dari pemerintah.

&quot;Ya mungkin karena saya punya usaha isi ulang, jadi dianggap mampu. Padahal sekarang lagi seret karena imbas dari PSBB,&quot; paparnya.

Penerapan PSBB juga mempersulit pengusaha menengah. Ketua Paguyuban Pedagang Buah wilayah Tanjung Sari, Surabaya, M Lukman, menyebut seharusnya untuk memperpanjang PSBB harus dipikirkan ulang.

&quot;Kalau PSBB yang pertama gagal, kenapa ada PSBB kedua. Ini sama saja dengan mengulang kegagalan. Selama masa PSBB, pedagang buah malah merugi. Karena barang yang keluar masuk, durasinya dibatasi dengan batas jam operasional,&quot; papar Lukman.

Padahal, lanjut Lukman, buah berpotensi busuk jika tidak cepat habis. Dalam kondisi pandemi corona seperti ini, semua sektor ekonomi memang sebagian besar jatuh. Tapi, pemerintah diharapkan tidak menambah beban lagi.

&quot;PSBB itu beban bagi kami. Kalau seandainya, PSBB kemarin itu sukses, kasusnya bisa berkurang, kita ikut saja. Tapi kalau gagal, kenapa diulang lagi? Kita terlanjur rugi nggak jualan maksimal. Ini sangat merugikan masyarakat kecil,&quot; tandas Lukman.

Baca Juga :&amp;nbsp;Seperti Apa Kehidupan Dunia Setelah Wabah COVID-19 Berakhir?

Hal senada juga diungkapkan Ketua Paguyuban Pangkalan LPG Surabaya Barat, Tulus Warsito. Menurutnya, PSBB bukan solusi terbaik. Pemerintah dinilai hanya melihat dari sisi pandemi. Namun tidak melihat ekonomi masyarakat kecil.

&quot;Itu bukan solusi. Coba seandainya pemerintah merasakan bagaimana jadi masyakarat, pasti dia akan protes. Efek PSBB sangat berimbas pada panyalur LPG. Sejak diberlakukannya jam PSBB, tidak ada lagi warung-warung yang berani jualan di malam hari. Omset menurun. Kita boleh jualan, tapi enggak ada yang beli,&quot; ucap Tulus.</content:encoded></item></channel></rss>
