<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pakar Kesehatan: Puncak Pandemi Terjadi Jika PSBB Diterapkan Secara Ketat</title><description>Puncak pandemi memang belum terjadi,&quot; kata Hermawan kepada Okezone, Sabtu (16/5/2020).</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/05/16/337/2214931/pakar-kesehatan-puncak-pandemi-terjadi-jika-psbb-diterapkan-secara-ketat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/05/16/337/2214931/pakar-kesehatan-puncak-pandemi-terjadi-jika-psbb-diterapkan-secara-ketat"/><item><title>Pakar Kesehatan: Puncak Pandemi Terjadi Jika PSBB Diterapkan Secara Ketat</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/05/16/337/2214931/pakar-kesehatan-puncak-pandemi-terjadi-jika-psbb-diterapkan-secara-ketat</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/05/16/337/2214931/pakar-kesehatan-puncak-pandemi-terjadi-jika-psbb-diterapkan-secara-ketat</guid><pubDate>Sabtu 16 Mei 2020 07:10 WIB</pubDate><dc:creator>Muhamad Rizky</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/05/16/337/2214931/pakar-kesehatan-puncak-pandemi-terjadi-jika-psbb-diterapkan-secara-ketat-LUGwImq8Pv.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/05/16/337/2214931/pakar-kesehatan-puncak-pandemi-terjadi-jika-psbb-diterapkan-secara-ketat-LUGwImq8Pv.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Ahli Kesehatan Masyarakat, dr. Hermawan Saputra menilai angka kasus corona saat ini masih fluktuatif, sehingga masih sulit diprediksi soal puncak pandemi.
&amp;ldquo;Puncak pandemi memang belum terjadi,&quot; kata Hermawan kepada Okezone, Sabtu (16/5/2020).&amp;nbsp;
Menurutnya, sejumlah prediksi yang beredar terkait pandemi corona akan berakhir hanya sebatas asumsi. Hal itu juga berkaitan erat dengan kepatuhan masyarakat dalam melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
&quot;Kalau prediksi yang menyatakan Mei atau Juni sebelumnya ini lebih kepada asumsi bila PSBB dilakukan secara ketat. Artinya ada perlakuan disiplin dan serempak di berbagai wilayah terutama di wilayah Jabodetabek,&quot; terangnya.&amp;nbsp;

Apalagi, kata Hermawan, penyebaran virus corona di daerah semakin masif. Dia mencontohkan pulau Jawa yang saat ini masuk dalam zona merah.
Baca juga:&amp;nbsp;Beredar Surat Sehat Palsu, DPR Minta Kemenkes Lakukan Pengawasan Internal
&quot;Maka kasus ini akan berpotensi menimbulkan waktu prediksi mundur mungkin Juni atau Juli sebagai puncak, itu pun dengan catatan PSBB dilakukan,&quot; terangnya.
Sulitnya memprediksi tren virus corona, berkaitan dengan kemampuan Pemerintah untuk melakukan testing secara cepat. Sejauh ini, Pemerintah masih jauh dari target 10 ribu spesimen per hari.&amp;nbsp;
&quot;Memang benar kapasitas pemeriksaan kita masih sangat terbatas bahkan Presiden seminggu lalu mengatakan harus dievaluasi ketat, karena target menurut presiden tadinya 10 ribu hanya tercapai 4-5 ribu spesimen per hari,&quot; jelasnya.
&quot;Ini masih jauh di bawah kapasitas di mana kasus sudah mulai terjadi di seluruh Indonesia, bahkan sekarang sudah lebih dari 16 ribu kasus,&quot; jelasnya.&amp;nbsp;
Di sisi lain, Hermawan berharap Pemerintah tidak membuat kebijakan yang kontraproduktif. Hal itu akan mempersulit dalam menghambat penyebaran virus.
&quot;Untuk itu kita berharap Pemerintah lebih disiplin. Paling penting adanya sinkronisasi kebijakan antara kebijakan Pemerintah, tidak ada lagi ada sesuatu yang kontradiktif, misal mudik dilarang tapi moda transportasi dibuka, jadi bandara pelabuhan terminal penuh sesak,&quot; imbuhnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Ahli Kesehatan Masyarakat, dr. Hermawan Saputra menilai angka kasus corona saat ini masih fluktuatif, sehingga masih sulit diprediksi soal puncak pandemi.
&amp;ldquo;Puncak pandemi memang belum terjadi,&quot; kata Hermawan kepada Okezone, Sabtu (16/5/2020).&amp;nbsp;
Menurutnya, sejumlah prediksi yang beredar terkait pandemi corona akan berakhir hanya sebatas asumsi. Hal itu juga berkaitan erat dengan kepatuhan masyarakat dalam melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
&quot;Kalau prediksi yang menyatakan Mei atau Juni sebelumnya ini lebih kepada asumsi bila PSBB dilakukan secara ketat. Artinya ada perlakuan disiplin dan serempak di berbagai wilayah terutama di wilayah Jabodetabek,&quot; terangnya.&amp;nbsp;

Apalagi, kata Hermawan, penyebaran virus corona di daerah semakin masif. Dia mencontohkan pulau Jawa yang saat ini masuk dalam zona merah.
Baca juga:&amp;nbsp;Beredar Surat Sehat Palsu, DPR Minta Kemenkes Lakukan Pengawasan Internal
&quot;Maka kasus ini akan berpotensi menimbulkan waktu prediksi mundur mungkin Juni atau Juli sebagai puncak, itu pun dengan catatan PSBB dilakukan,&quot; terangnya.
Sulitnya memprediksi tren virus corona, berkaitan dengan kemampuan Pemerintah untuk melakukan testing secara cepat. Sejauh ini, Pemerintah masih jauh dari target 10 ribu spesimen per hari.&amp;nbsp;
&quot;Memang benar kapasitas pemeriksaan kita masih sangat terbatas bahkan Presiden seminggu lalu mengatakan harus dievaluasi ketat, karena target menurut presiden tadinya 10 ribu hanya tercapai 4-5 ribu spesimen per hari,&quot; jelasnya.
&quot;Ini masih jauh di bawah kapasitas di mana kasus sudah mulai terjadi di seluruh Indonesia, bahkan sekarang sudah lebih dari 16 ribu kasus,&quot; jelasnya.&amp;nbsp;
Di sisi lain, Hermawan berharap Pemerintah tidak membuat kebijakan yang kontraproduktif. Hal itu akan mempersulit dalam menghambat penyebaran virus.
&quot;Untuk itu kita berharap Pemerintah lebih disiplin. Paling penting adanya sinkronisasi kebijakan antara kebijakan Pemerintah, tidak ada lagi ada sesuatu yang kontradiktif, misal mudik dilarang tapi moda transportasi dibuka, jadi bandara pelabuhan terminal penuh sesak,&quot; imbuhnya.</content:encoded></item></channel></rss>
