<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pakar Epidemiologi: Pandemi Covid-19 Tidak Akan Pernah Berakhir, Cuma Mereda</title><description>Pandemi hanya bisa mereda setelah ditemukan vaksinnya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/05/17/338/2215470/pakar-epidemiologi-pandemi-covid-19-tidak-akan-pernah-berakhir-cuma-mereda</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/05/17/338/2215470/pakar-epidemiologi-pandemi-covid-19-tidak-akan-pernah-berakhir-cuma-mereda"/><item><title>Pakar Epidemiologi: Pandemi Covid-19 Tidak Akan Pernah Berakhir, Cuma Mereda</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/05/17/338/2215470/pakar-epidemiologi-pandemi-covid-19-tidak-akan-pernah-berakhir-cuma-mereda</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/05/17/338/2215470/pakar-epidemiologi-pandemi-covid-19-tidak-akan-pernah-berakhir-cuma-mereda</guid><pubDate>Minggu 17 Mei 2020 15:34 WIB</pubDate><dc:creator>Arie Dwi Satrio</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/05/17/338/2215470/pakar-epidemiologi-pandemi-covid-19-tidak-akan-pernah-berakhir-cuma-mereda-xZ4dedPQOM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Foto: WebMD)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/05/17/338/2215470/pakar-epidemiologi-pandemi-covid-19-tidak-akan-pernah-berakhir-cuma-mereda-xZ4dedPQOM.jpg</image><title>(Foto: WebMD)</title></images><description>JAKARTA - Pakar Epidemiologi asal Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Pandu Riono mengatakan bahwa pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) tidak akan pernah berakhir. Pandemi itu, ditekankan Pandu, hanya bisa mereda setelah ditemukan vaksinnya.

&quot;Jangan pakai kata-kata berakhir. Karena pandemi ini tidak akan pernah berakhir, cuma mereda,&quot; kata Pandu saat dikonfirmasi Okezone soal kapan Covid-19 akan berakhir, Minggu (17/5/2020).

Pandu menjelaskan, Covid-19 bisa mereda setelah tingkat penyebarannya sudah mampu dikontrol. Tak hanya itu, meredanya pandemi ini terlihat setelah angka kasus positif Covid-19 juga mulai mengalami penurunan.

&quot;Nah itu dalam jangka panjang kita harus meningkatkan kewaspadaan karena infeksi,&quot; ucapnya.

Lebih lanjut, Pandu juga menyoroti regulasi yang dibuat pemerintah dalam menangani Covid-19. Menurut Pandu, banyak regulasi yang diambil pemerintah tidak berjalan efektif atau tumpang tindih satu dengan yang lainnya.

&quot;Nah kalau udah begini, lebih baik pembatasan sosial ini jangan top down, memang seharusnya dari awal mengajak masyarakat buat top up,&quot; ungkap Pandu.

&quot;Jadi pembatasan sosialnya harus berbasis komunitas. Karena di daerah yang tidak PSBB itu juga melakukan pembatasan sosial dengan cara mereka dan lebih efektif. Contoh berbasis komunitas kaya di Bali, beberapa wilayah di Jateng, Jatim. Karenanya, kuncinya di kepatuhan penduduk,&quot; sambungnya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Pakar Epidemiologi asal Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Pandu Riono mengatakan bahwa pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) tidak akan pernah berakhir. Pandemi itu, ditekankan Pandu, hanya bisa mereda setelah ditemukan vaksinnya.

&quot;Jangan pakai kata-kata berakhir. Karena pandemi ini tidak akan pernah berakhir, cuma mereda,&quot; kata Pandu saat dikonfirmasi Okezone soal kapan Covid-19 akan berakhir, Minggu (17/5/2020).

Pandu menjelaskan, Covid-19 bisa mereda setelah tingkat penyebarannya sudah mampu dikontrol. Tak hanya itu, meredanya pandemi ini terlihat setelah angka kasus positif Covid-19 juga mulai mengalami penurunan.

&quot;Nah itu dalam jangka panjang kita harus meningkatkan kewaspadaan karena infeksi,&quot; ucapnya.

Lebih lanjut, Pandu juga menyoroti regulasi yang dibuat pemerintah dalam menangani Covid-19. Menurut Pandu, banyak regulasi yang diambil pemerintah tidak berjalan efektif atau tumpang tindih satu dengan yang lainnya.

&quot;Nah kalau udah begini, lebih baik pembatasan sosial ini jangan top down, memang seharusnya dari awal mengajak masyarakat buat top up,&quot; ungkap Pandu.

&quot;Jadi pembatasan sosialnya harus berbasis komunitas. Karena di daerah yang tidak PSBB itu juga melakukan pembatasan sosial dengan cara mereka dan lebih efektif. Contoh berbasis komunitas kaya di Bali, beberapa wilayah di Jateng, Jatim. Karenanya, kuncinya di kepatuhan penduduk,&quot; sambungnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
