<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Butuh Berbulan-bulan, Penderita Ceritakan Sulitnya Pulih dari COVID-19</title><description>Salah satu penderita mengatakan dia merasa seperti &quot;ditabrak truk pada setiap pukul 4 subuh&quot;.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/05/19/18/2216576/butuh-berbulan-bulan-penderita-ceritakan-sulitnya-pulih-dari-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/05/19/18/2216576/butuh-berbulan-bulan-penderita-ceritakan-sulitnya-pulih-dari-covid-19"/><item><title>Butuh Berbulan-bulan, Penderita Ceritakan Sulitnya Pulih dari COVID-19</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/05/19/18/2216576/butuh-berbulan-bulan-penderita-ceritakan-sulitnya-pulih-dari-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/05/19/18/2216576/butuh-berbulan-bulan-penderita-ceritakan-sulitnya-pulih-dari-covid-19</guid><pubDate>Selasa 19 Mei 2020 16:16 WIB</pubDate><dc:creator>ABC News</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/05/19/18/2216576/butuh-berbulan-bulan-penderita-ceritakan-sulitnya-pulih-dari-covid-19-jil7U28IaT.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/05/19/18/2216576/butuh-berbulan-bulan-penderita-ceritakan-sulitnya-pulih-dari-covid-19-jil7U28IaT.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Okezone)</title></images><description>SEBAGAI seorang ahli penyakit menular dan penderita COVID-19, Paul Garner dari Sekolah Kedokteran Penyakit Tropis di Liverpool di Inggris paham sekali seberapa tidak nyamannya hidup dengan penyakit apapun.
&quot;(COVID-19) adalah penyakit terburuk yang pernah saya alami,&quot; kata Paul kepada ABC.
&amp;ldquo;Saya pernah menderita demam berdarah. Pernah juga malaria. Tapi tidak pernah sesakit ini. (Penyakit) ini juga menakutkan karena sifatnya tidak bisa diprediksi.&amp;rdquo;
Paul yang sedang menjalani masa perawatan, setelah didiagnosa terjangkit virus corona 59 hari yang lalu, mengatakan penyakit ini datang di saat yang paling tidak terduga.
&quot;Saya merasa enak badan, tapi tiba-tiba di siang hari penyakit ini seolah menghantam kepala saya dengan tongkat bisbol,&quot; katanya.

Paul Garner ahli penyakit menular sudah pernah terkena malaria dan yang lain, dan sekarang juga mengalami terkena COVID-19. (Supplied: Paul Garner) 
&quot;Durasi penyakit ini benar-benar melumpuhkan saya. Saya hanya bisa berdoa suatu saat penyakit ini akan pergi dengan sendirinya.&quot;
Professor Paul mengatakan penyakit tersebut menimbulkan gejala yang mirip dengan sindrom kelelahan kronis, namun belum yakin 100 persen.
&quot;Kalau yang sudah pernah mengalami, pasti mengerti maksud sindrom kelelahan karena COVID,&quot; kata dia.
&quot;Sekarang saya mengerti perasaan orang-orang yang mengalami sindrom kelelahan kronis dan bisa bersimpati dengan mereka.&quot;

Pasien yang dinyatakan sembuh merasa lelah dan sesak napas
Professor Paul adalah satu dari ribuan pasien COVID-19 yang memahami seberapa melelahkannya hidup dengan penyakit tersebut.
Ilmuwan yang hingga kini masih meneliti dampak jangka panjang yang ditimbulkan COVID-19, khawatir penyakit tersebut menimbulkan kerusakan parah pada organ tubuh penderita.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa proses penyembuhan COVID-19 bervariasi &amp;mdash; mulai dari dua minggu hingga enam minggu, bagi kasus yang parah.
Namun, penderita COVID-19, baik yang tidak parah sekalipun, tetap akan merasa lelah dan sesak napas ketika sudah berada di tahap pemulihan.
Dampak jangka panjang COVID-19 salah satunya diteliti oleh dokter ahli penyakit menular di St Vincent Hospital Sydney Professor Greg Dore.
&quot;Kami tertarik untuk meneliti efek dari COVID-19. Penyakit ini memiliki spektrum gejala yang luas &amp;mdash; dari gangguan pernapasan yang relatif ringan hingga pneumonia yang sangat parah.&quot;Professor Greg sedang meneliti dampak COVID-19 termasuk dalam kasus  tidak parah, dengan memperhatikan beberapa faktor seperti ketahanan  penderita berolahraga, fungsi koordinasi, dan kemampuan berkonsentrasi.

&quot;Tidak lagi bugar&quot;
Salah satu pasien yang menjadi contoh kasus dalam penelitian di rumah sakit tersebut adalah Alex Lewis, yang ditemui ABC pertengahan Maret, setelah dinyatakan positif COVID-19.

Alex Lewis sampai sekarang merasa belum bugar lagi setelah terkena COVID-19 pertengahan Maret lalu. (ABC News: Jerry Rickard)
Dua bulan setelah dinyatakan sembuh, Alexis masih mengalami kesulitan.
&quot;Saya sebelumnya cukup bugar, namun sekarang tidak lagi. Kondisi  pernapasan saya terus memburuk dan berolahraga terasa lebih sulit,&quot;  katanya.
&quot;Butuh beberapa waktu sembuh. Rasa lelah datang dan pergi.&quot;

Komunitas online pasien COVID-19 dari seluruh dunia
Dampak jangka panjang dari COVID-19 dirasakan pasien yang sudah dinyatakan sembuh di seluruh dunia.
Fiona Lowenstein, penulis dari Amerika Serikat yang didiagnosa  terkena COVID-19 pertengahan Maret lalu merupakan salah satu yang turut  merasakan.
&quot;Proses pemulihannya lama sekali dan saya tidak menyangka akan demikian,&quot; kata Fiona.
Karena terbatasnya informasi mengenai situasi yang ia alami, Fiona  mendirikan sebuah kelompok beranggotakan ribuan mantan pasien COVID-19  untuk mendukung satu sama lain.
Anggota kelompok ini juga merasakan kelelahan dan perasaan tidak enak badan setelah dinyatakan sembuh.
&quot;Saya pikir saya sudah sembuh total beberapa minggu lalu, tapi gejala  lama itu malah kembali, ditambah rasa panas dingin dan keringat, juga  kelelahan yang sangat intens,&quot; katanya.
&quot;Rasanya seperti ditabrak truk setiap jam 4 subuh.&quot;
Pengalaman tersebut menjadi dasar dari dibentuknya kelompok di media sosial yang sangat aktif tersebut.
&quot;Jelas sekali bagi saya, perlu ada sebuah komunitas bagi penderita  virus ini agar kita bisa berbagi pengalaman satu sama lain,&quot; kata dia.
&quot;Kotak surat saya [di media sosial] dibanjiri pesan masuk.&quot;
</description><content:encoded>SEBAGAI seorang ahli penyakit menular dan penderita COVID-19, Paul Garner dari Sekolah Kedokteran Penyakit Tropis di Liverpool di Inggris paham sekali seberapa tidak nyamannya hidup dengan penyakit apapun.
&quot;(COVID-19) adalah penyakit terburuk yang pernah saya alami,&quot; kata Paul kepada ABC.
&amp;ldquo;Saya pernah menderita demam berdarah. Pernah juga malaria. Tapi tidak pernah sesakit ini. (Penyakit) ini juga menakutkan karena sifatnya tidak bisa diprediksi.&amp;rdquo;
Paul yang sedang menjalani masa perawatan, setelah didiagnosa terjangkit virus corona 59 hari yang lalu, mengatakan penyakit ini datang di saat yang paling tidak terduga.
&quot;Saya merasa enak badan, tapi tiba-tiba di siang hari penyakit ini seolah menghantam kepala saya dengan tongkat bisbol,&quot; katanya.

Paul Garner ahli penyakit menular sudah pernah terkena malaria dan yang lain, dan sekarang juga mengalami terkena COVID-19. (Supplied: Paul Garner) 
&quot;Durasi penyakit ini benar-benar melumpuhkan saya. Saya hanya bisa berdoa suatu saat penyakit ini akan pergi dengan sendirinya.&quot;
Professor Paul mengatakan penyakit tersebut menimbulkan gejala yang mirip dengan sindrom kelelahan kronis, namun belum yakin 100 persen.
&quot;Kalau yang sudah pernah mengalami, pasti mengerti maksud sindrom kelelahan karena COVID,&quot; kata dia.
&quot;Sekarang saya mengerti perasaan orang-orang yang mengalami sindrom kelelahan kronis dan bisa bersimpati dengan mereka.&quot;

Pasien yang dinyatakan sembuh merasa lelah dan sesak napas
Professor Paul adalah satu dari ribuan pasien COVID-19 yang memahami seberapa melelahkannya hidup dengan penyakit tersebut.
Ilmuwan yang hingga kini masih meneliti dampak jangka panjang yang ditimbulkan COVID-19, khawatir penyakit tersebut menimbulkan kerusakan parah pada organ tubuh penderita.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa proses penyembuhan COVID-19 bervariasi &amp;mdash; mulai dari dua minggu hingga enam minggu, bagi kasus yang parah.
Namun, penderita COVID-19, baik yang tidak parah sekalipun, tetap akan merasa lelah dan sesak napas ketika sudah berada di tahap pemulihan.
Dampak jangka panjang COVID-19 salah satunya diteliti oleh dokter ahli penyakit menular di St Vincent Hospital Sydney Professor Greg Dore.
&quot;Kami tertarik untuk meneliti efek dari COVID-19. Penyakit ini memiliki spektrum gejala yang luas &amp;mdash; dari gangguan pernapasan yang relatif ringan hingga pneumonia yang sangat parah.&quot;Professor Greg sedang meneliti dampak COVID-19 termasuk dalam kasus  tidak parah, dengan memperhatikan beberapa faktor seperti ketahanan  penderita berolahraga, fungsi koordinasi, dan kemampuan berkonsentrasi.

&quot;Tidak lagi bugar&quot;
Salah satu pasien yang menjadi contoh kasus dalam penelitian di rumah sakit tersebut adalah Alex Lewis, yang ditemui ABC pertengahan Maret, setelah dinyatakan positif COVID-19.

Alex Lewis sampai sekarang merasa belum bugar lagi setelah terkena COVID-19 pertengahan Maret lalu. (ABC News: Jerry Rickard)
Dua bulan setelah dinyatakan sembuh, Alexis masih mengalami kesulitan.
&quot;Saya sebelumnya cukup bugar, namun sekarang tidak lagi. Kondisi  pernapasan saya terus memburuk dan berolahraga terasa lebih sulit,&quot;  katanya.
&quot;Butuh beberapa waktu sembuh. Rasa lelah datang dan pergi.&quot;

Komunitas online pasien COVID-19 dari seluruh dunia
Dampak jangka panjang dari COVID-19 dirasakan pasien yang sudah dinyatakan sembuh di seluruh dunia.
Fiona Lowenstein, penulis dari Amerika Serikat yang didiagnosa  terkena COVID-19 pertengahan Maret lalu merupakan salah satu yang turut  merasakan.
&quot;Proses pemulihannya lama sekali dan saya tidak menyangka akan demikian,&quot; kata Fiona.
Karena terbatasnya informasi mengenai situasi yang ia alami, Fiona  mendirikan sebuah kelompok beranggotakan ribuan mantan pasien COVID-19  untuk mendukung satu sama lain.
Anggota kelompok ini juga merasakan kelelahan dan perasaan tidak enak badan setelah dinyatakan sembuh.
&quot;Saya pikir saya sudah sembuh total beberapa minggu lalu, tapi gejala  lama itu malah kembali, ditambah rasa panas dingin dan keringat, juga  kelelahan yang sangat intens,&quot; katanya.
&quot;Rasanya seperti ditabrak truk setiap jam 4 subuh.&quot;
Pengalaman tersebut menjadi dasar dari dibentuknya kelompok di media sosial yang sangat aktif tersebut.
&quot;Jelas sekali bagi saya, perlu ada sebuah komunitas bagi penderita  virus ini agar kita bisa berbagi pengalaman satu sama lain,&quot; kata dia.
&quot;Kotak surat saya [di media sosial] dibanjiri pesan masuk.&quot;
</content:encoded></item></channel></rss>
