<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Salut! Banyak Perawat Rela Tak Libur Lebaran Demi Merawat Pasien Corona</title><description>Salah satu yang harus rela tidak merayakan lebaran tahun ini yaitu para tenaga medis, khususnya perawat.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/05/25/337/2219166/salut-banyak-perawat-rela-tak-libur-lebaran-demi-merawat-pasien-corona</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/05/25/337/2219166/salut-banyak-perawat-rela-tak-libur-lebaran-demi-merawat-pasien-corona"/><item><title>Salut! Banyak Perawat Rela Tak Libur Lebaran Demi Merawat Pasien Corona</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/05/25/337/2219166/salut-banyak-perawat-rela-tak-libur-lebaran-demi-merawat-pasien-corona</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/05/25/337/2219166/salut-banyak-perawat-rela-tak-libur-lebaran-demi-merawat-pasien-corona</guid><pubDate>Senin 25 Mei 2020 08:30 WIB</pubDate><dc:creator>Arie Dwi Satrio</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/05/25/337/2219166/salut-banyak-perawat-rela-tak-libur-lebaran-demi-merawat-pasien-corona-VGKqR4SGBo.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/05/25/337/2219166/salut-banyak-perawat-rela-tak-libur-lebaran-demi-merawat-pasien-corona-VGKqR4SGBo.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Momen hari raya Idul Fitri tahun ini sepertinya tidak bisa dirasakan seutuhnya oleh sejumlah orang. Salah satu yang harus rela tidak merayakan lebaran tahun ini yaitu para tenaga medis, khususnya perawat. Mereka harus merelakan jatah libur lebarannya tahun ini karena adanya wabah Corona Virus Disease (Covid-19).

Biasanya, para perawat organik atau pegawai tetap di rumah sakit sudah mempunyai jadwal yang tersistematis. Para perawat sudah mempunyai jatah libur lebaran masing-masing setiap tahunnya. Tapi, bagi perawat yang mendapat jatah libur lebaran tahun ini, ia harus siap rela masuk bekerja. Sebab, pasien Covid-19, utamanya di rumah sakit rujukan terus bertambah.

&quot;Jadi itu sudah biasa. Kalau ada kejadian luar biasa. Kita yang mengalah, demi untuk memenuhi kerja kita. Yang harusnya cuti tahun ini, giliran libur lebaran, ya karena ada kejadian luar biasa wabah seperti ini, banyak juga yang tidak jadi libur. Karena kebutuhan pelayanan,&quot; beber Ketua DPP Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Harif Fadillah saat berbincang dengan Okezone.

Baca juga: Jangan Kembali ke Jakarta di Tengah Pandemi Covid-19!

Merawat dan menangani kebutuhan pasien memang menjadi salah satu tugas perawat. Mereka harus siap jika dibutuhkan. Bahkan, saat pandemi seperti sekarang ini, banyak perawat yang tidak pulang ke rumah ataupun hanya sekadar bertemu sanak keluarga. Perawat yang tidak pulang mayoritas mereka yang bekerja sebagai relawan di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet maupun Pulau Galang.

&quot;Yang memang tidak bisa pulang sama sekali itu kan yang di Wisma Atlet. Dia kontrak sebulan. Kontraknya kan sebulan, terus 14 hari karantina, jadi 45 hari. Tapi, pada umumnya, 85 persen mereka nyambung pada kontrak berikutnya. Jadi enggak pulang lagi,&quot; paparnya.



Pasien positif Covid-19 di Indonesia sendiri kian hari terus bertambah. Angkanya kini sudah menembus 20 ribu. Itu musababnya beban perawat semakin berat. Jika saja angka pasien positif Covid-19 terus bertambah dan mencapai angka 80 ribu, bukan tidak mungkin Indonesia seperti Italia.

&quot;Jangan sampai seperti Italia. Italia itu sempat, perawat atau dokternya itu melayani pasien dipilih-pilih saja yang cukup mungkin bisa hidup, karena fasilitas terbatas, tenaga medis terbatas, pasiennya banyak,&quot; ungkap Harif.

Saat ini, kata Harif, tenaga perawat di Indonesia masih cukup untuk  melayani jumlah pasien yang sudah mencapai 20 ribu karena adanya  dukungan dari relawan. Namun, berbeda kalau pasien terus bertambah. Para  perawat harus kerja ekstra. Saat ini saja, tidak sedikit perawat yang  gugur dalam menjalankan tugasnya. Entah bagaimana jika sebulan lagi  tidak ada jumlah penurunan pasien.

Para perawat banyak yang kelelahan, harus kerja ekstra, bahkan lebih  parahnya, ada yang terpapar Covid-19. Miris ketika pengorbanan para  perawat dan tenaga medis lainnya yang rela tidak lebaran bersama  keluarga hingga terpapar virus corona, dibalas dengan ketidakpatuhan  masyarakat dalam menjalankan protokoler kesehatan Covid-19.

PPNI berharap ada sedikit empati masyarakat terhadap para perawat  yang sudah rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan nyawanya dalam  menangani Covid-19. Empati itu bisa ditunjukkan dengan mematuhi anjuran  pemerintah dan menjalankan seluruh protokoler kesehatan.

Baca juga: Peristiwa 25 Mei: Lahirnya PGI, Wafatnya Ismail Marzuki

&quot;Saya lihat kok banyak yang tidak serius dalam Covid ini. Seolah-olah  bukan hal yang mengerikan, padahal sangat mengerikan bagi kami di dunia  kesehatan. Kalau satu kena, bisa empat orang yang tertular,&quot; ujar  Harif.

&quot;Oleh karena itu, kesadaran ini harus dimiliki masyarakat ya. Jadi  kalau sayang diri sendiri dan keluarga, yuk patuhi himbauan pemerintah.  Kita minta saling empati, menghargai kerja perawat,&quot; sambungnya.

</description><content:encoded>JAKARTA - Momen hari raya Idul Fitri tahun ini sepertinya tidak bisa dirasakan seutuhnya oleh sejumlah orang. Salah satu yang harus rela tidak merayakan lebaran tahun ini yaitu para tenaga medis, khususnya perawat. Mereka harus merelakan jatah libur lebarannya tahun ini karena adanya wabah Corona Virus Disease (Covid-19).

Biasanya, para perawat organik atau pegawai tetap di rumah sakit sudah mempunyai jadwal yang tersistematis. Para perawat sudah mempunyai jatah libur lebaran masing-masing setiap tahunnya. Tapi, bagi perawat yang mendapat jatah libur lebaran tahun ini, ia harus siap rela masuk bekerja. Sebab, pasien Covid-19, utamanya di rumah sakit rujukan terus bertambah.

&quot;Jadi itu sudah biasa. Kalau ada kejadian luar biasa. Kita yang mengalah, demi untuk memenuhi kerja kita. Yang harusnya cuti tahun ini, giliran libur lebaran, ya karena ada kejadian luar biasa wabah seperti ini, banyak juga yang tidak jadi libur. Karena kebutuhan pelayanan,&quot; beber Ketua DPP Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Harif Fadillah saat berbincang dengan Okezone.

Baca juga: Jangan Kembali ke Jakarta di Tengah Pandemi Covid-19!

Merawat dan menangani kebutuhan pasien memang menjadi salah satu tugas perawat. Mereka harus siap jika dibutuhkan. Bahkan, saat pandemi seperti sekarang ini, banyak perawat yang tidak pulang ke rumah ataupun hanya sekadar bertemu sanak keluarga. Perawat yang tidak pulang mayoritas mereka yang bekerja sebagai relawan di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet maupun Pulau Galang.

&quot;Yang memang tidak bisa pulang sama sekali itu kan yang di Wisma Atlet. Dia kontrak sebulan. Kontraknya kan sebulan, terus 14 hari karantina, jadi 45 hari. Tapi, pada umumnya, 85 persen mereka nyambung pada kontrak berikutnya. Jadi enggak pulang lagi,&quot; paparnya.



Pasien positif Covid-19 di Indonesia sendiri kian hari terus bertambah. Angkanya kini sudah menembus 20 ribu. Itu musababnya beban perawat semakin berat. Jika saja angka pasien positif Covid-19 terus bertambah dan mencapai angka 80 ribu, bukan tidak mungkin Indonesia seperti Italia.

&quot;Jangan sampai seperti Italia. Italia itu sempat, perawat atau dokternya itu melayani pasien dipilih-pilih saja yang cukup mungkin bisa hidup, karena fasilitas terbatas, tenaga medis terbatas, pasiennya banyak,&quot; ungkap Harif.

Saat ini, kata Harif, tenaga perawat di Indonesia masih cukup untuk  melayani jumlah pasien yang sudah mencapai 20 ribu karena adanya  dukungan dari relawan. Namun, berbeda kalau pasien terus bertambah. Para  perawat harus kerja ekstra. Saat ini saja, tidak sedikit perawat yang  gugur dalam menjalankan tugasnya. Entah bagaimana jika sebulan lagi  tidak ada jumlah penurunan pasien.

Para perawat banyak yang kelelahan, harus kerja ekstra, bahkan lebih  parahnya, ada yang terpapar Covid-19. Miris ketika pengorbanan para  perawat dan tenaga medis lainnya yang rela tidak lebaran bersama  keluarga hingga terpapar virus corona, dibalas dengan ketidakpatuhan  masyarakat dalam menjalankan protokoler kesehatan Covid-19.

PPNI berharap ada sedikit empati masyarakat terhadap para perawat  yang sudah rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan nyawanya dalam  menangani Covid-19. Empati itu bisa ditunjukkan dengan mematuhi anjuran  pemerintah dan menjalankan seluruh protokoler kesehatan.

Baca juga: Peristiwa 25 Mei: Lahirnya PGI, Wafatnya Ismail Marzuki

&quot;Saya lihat kok banyak yang tidak serius dalam Covid ini. Seolah-olah  bukan hal yang mengerikan, padahal sangat mengerikan bagi kami di dunia  kesehatan. Kalau satu kena, bisa empat orang yang tertular,&quot; ujar  Harif.

&quot;Oleh karena itu, kesadaran ini harus dimiliki masyarakat ya. Jadi  kalau sayang diri sendiri dan keluarga, yuk patuhi himbauan pemerintah.  Kita minta saling empati, menghargai kerja perawat,&quot; sambungnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
