<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>13 Tahun Jadi Perawat, Surya Sudah Terbiasa Rayakan Idul Fitri di RS</title><description>Surya menceritakan, dirinya sudah terbiasa kala Lebaran harus meninggalkan dua anaknya kepada orang kepercayaannya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/05/25/337/2219246/13-tahun-jadi-perawat-surya-sudah-terbiasa-rayakan-idul-fitri-di-rs</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/05/25/337/2219246/13-tahun-jadi-perawat-surya-sudah-terbiasa-rayakan-idul-fitri-di-rs"/><item><title>13 Tahun Jadi Perawat, Surya Sudah Terbiasa Rayakan Idul Fitri di RS</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/05/25/337/2219246/13-tahun-jadi-perawat-surya-sudah-terbiasa-rayakan-idul-fitri-di-rs</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/05/25/337/2219246/13-tahun-jadi-perawat-surya-sudah-terbiasa-rayakan-idul-fitri-di-rs</guid><pubDate>Senin 25 Mei 2020 13:20 WIB</pubDate><dc:creator>Fadel Prayoga</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/05/25/337/2219246/13-tahun-jadi-perawat-surya-sudah-terbiasa-rayakan-idul-fitri-di-rs-twkDMpyXEq.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Perawat tetap bekerja saat Lebaran di tengah pandemi corona. (Foto : Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/05/25/337/2219246/13-tahun-jadi-perawat-surya-sudah-terbiasa-rayakan-idul-fitri-di-rs-twkDMpyXEq.jpg</image><title>Perawat tetap bekerja saat Lebaran di tengah pandemi corona. (Foto : Ist)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Lebaran atau Idul Fitri menjadi waktu yang dinanti-nanti untuk berkumpul dan bertatap muka untuk silaturahmi dengan keluarga besar. Namun sayangnya, kenikmatan itu harus dilewatkan segelintir orang karena harus tetap bekerja saat hari kemenangan tiba.

Mereka mesti mengorbankan waktu berkumpul di hari Lebaran lantaran tuntutan profesi. Salah satu pekerjaaan yang tidak mengenal libur meski di kalender menunjukkan Hari Raya Idul Fitri adalah perawat. Kisah itu dialami Surya Deddy, yang sudah mengabdikan dirinya sebagai tenaga medis selama 13 tahun di salah satu rumah sakit daerah yang berlokasi di wilayah Ibu Kota

Surya menceritakan, dirinya sudah terbiasa kala Lebaran harus meninggalkan dua anaknya kepada orang kepercayaannya yang bekerja menjaga anaknya setiap hari. Ia mengaku telah mengetahui risiko ini sejak lulus dari akademi keperawatan sejak tiga belas tahun lalu.

&amp;ldquo;Jadi dari kecil anak-anak sudah terbiasa,&amp;rdquo; kata Surya ketika berbincang dengan Okezone, beberapa waktu lalu.



Ia bersama sang istri yang berprofesi sebagai perawat, sedari dini sudah memberikan pengertian kepada sang buah hati bahwa orangtuanya tak bisa menemaninya saat Lebaran. Alhasil dengan dibantu penjelasan dari istrinya, kedua anaknya luluh dan mengerti kalau orang tuanya ini memang harus bekerja, meski tanggalan di kalender berwarna merah.

&amp;ldquo;Kebetulan istri satu profesi juga. Dari kecil mereka pun sudah tahu. Dari dulu sudah kita ajarkan kayak gitu,&amp;rdquo; ujarnya.




Sebagai manusia biasa, dirinya pun tak memungkiri bila memiliki rasa  sedih tatkala membayangkan kedua buah hatinya hanya bisa merayakan hari  kemenangan itu bersama seorang asisten rumah tangga. Perasaan itu muncul  tatkala ia dikaruniai anak pertama pada tujuh tahun lalu. Tapi, seiring  berjalannya waktu dan mengingat bahwa profesinya ini adalah pekerjaan  yang mulia, sekelebat bayangan itu pun hilang hingga kembali lagi  semangat melayani pasien.

&amp;ldquo;Saat ada anak pertama itu (sedih-red), tapi lambat laun sudah biasa.  Tapi kita di sini bergilir. Nanti per tahun itu ada jatahnya. Jadi di-rolling gitu. Tapi kadang antreannya sampai 4 tahun,&amp;rdquo; ujarnya.

Baca Juga : Curhat Tenaga Medis, Kesepian dan Menyendiri di Kamar saat Takbiran Idul Fitri

Salah satu cara agar ia dan istrinya tetap memiliki waktu bersama  kedua anaknya adalah dengan mengambil cuti setelah piket Lebaran  selesai. Pasangan suami istri itu mengambil cuti secara berbarengan dan  mengajak buah hatinya untuk bepergian, karena selama ini hanya di rumah  akibat orangtuanya harus tetap mengabdi melayani pasien di rumah sakit.

&amp;ldquo;Sesudah Lebaran kita usahakan untuk liburan. Diusahakan untuk ambil  cuti jadi bisa pulang kampung. Biasanya seminggu setelah Lebaran. Kan piketnya udah gantian,&amp;rdquo; tutur pria berusia 35 tahun tersebut.

Baca Juga : Kisah Dokter Malaysia Rayakan Idul Fitri di Rumah Sakit
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Lebaran atau Idul Fitri menjadi waktu yang dinanti-nanti untuk berkumpul dan bertatap muka untuk silaturahmi dengan keluarga besar. Namun sayangnya, kenikmatan itu harus dilewatkan segelintir orang karena harus tetap bekerja saat hari kemenangan tiba.

Mereka mesti mengorbankan waktu berkumpul di hari Lebaran lantaran tuntutan profesi. Salah satu pekerjaaan yang tidak mengenal libur meski di kalender menunjukkan Hari Raya Idul Fitri adalah perawat. Kisah itu dialami Surya Deddy, yang sudah mengabdikan dirinya sebagai tenaga medis selama 13 tahun di salah satu rumah sakit daerah yang berlokasi di wilayah Ibu Kota

Surya menceritakan, dirinya sudah terbiasa kala Lebaran harus meninggalkan dua anaknya kepada orang kepercayaannya yang bekerja menjaga anaknya setiap hari. Ia mengaku telah mengetahui risiko ini sejak lulus dari akademi keperawatan sejak tiga belas tahun lalu.

&amp;ldquo;Jadi dari kecil anak-anak sudah terbiasa,&amp;rdquo; kata Surya ketika berbincang dengan Okezone, beberapa waktu lalu.



Ia bersama sang istri yang berprofesi sebagai perawat, sedari dini sudah memberikan pengertian kepada sang buah hati bahwa orangtuanya tak bisa menemaninya saat Lebaran. Alhasil dengan dibantu penjelasan dari istrinya, kedua anaknya luluh dan mengerti kalau orang tuanya ini memang harus bekerja, meski tanggalan di kalender berwarna merah.

&amp;ldquo;Kebetulan istri satu profesi juga. Dari kecil mereka pun sudah tahu. Dari dulu sudah kita ajarkan kayak gitu,&amp;rdquo; ujarnya.




Sebagai manusia biasa, dirinya pun tak memungkiri bila memiliki rasa  sedih tatkala membayangkan kedua buah hatinya hanya bisa merayakan hari  kemenangan itu bersama seorang asisten rumah tangga. Perasaan itu muncul  tatkala ia dikaruniai anak pertama pada tujuh tahun lalu. Tapi, seiring  berjalannya waktu dan mengingat bahwa profesinya ini adalah pekerjaan  yang mulia, sekelebat bayangan itu pun hilang hingga kembali lagi  semangat melayani pasien.

&amp;ldquo;Saat ada anak pertama itu (sedih-red), tapi lambat laun sudah biasa.  Tapi kita di sini bergilir. Nanti per tahun itu ada jatahnya. Jadi di-rolling gitu. Tapi kadang antreannya sampai 4 tahun,&amp;rdquo; ujarnya.

Baca Juga : Curhat Tenaga Medis, Kesepian dan Menyendiri di Kamar saat Takbiran Idul Fitri

Salah satu cara agar ia dan istrinya tetap memiliki waktu bersama  kedua anaknya adalah dengan mengambil cuti setelah piket Lebaran  selesai. Pasangan suami istri itu mengambil cuti secara berbarengan dan  mengajak buah hatinya untuk bepergian, karena selama ini hanya di rumah  akibat orangtuanya harus tetap mengabdi melayani pasien di rumah sakit.

&amp;ldquo;Sesudah Lebaran kita usahakan untuk liburan. Diusahakan untuk ambil  cuti jadi bisa pulang kampung. Biasanya seminggu setelah Lebaran. Kan piketnya udah gantian,&amp;rdquo; tutur pria berusia 35 tahun tersebut.

Baca Juga : Kisah Dokter Malaysia Rayakan Idul Fitri di Rumah Sakit
</content:encoded></item></channel></rss>
