<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Curhat Tenaga Medis Italia Usai Pandemi Mereda </title><description>Para dokter dan perawat di Italia dielu-elukan sebagai pahlawan karena mereka berjasa merawat para pasien virus corona yang sekarat.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/05/26/18/2219824/curhat-tenaga-medis-italia-usai-pandemi-mereda</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/05/26/18/2219824/curhat-tenaga-medis-italia-usai-pandemi-mereda"/><item><title>Curhat Tenaga Medis Italia Usai Pandemi Mereda </title><link>https://news.okezone.com/read/2020/05/26/18/2219824/curhat-tenaga-medis-italia-usai-pandemi-mereda</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/05/26/18/2219824/curhat-tenaga-medis-italia-usai-pandemi-mereda</guid><pubDate>Selasa 26 Mei 2020 15:23 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/05/26/18/2219824/curhat-tenaga-medis-italia-usai-pandemi-mereda-6OQcvS7wH5.png" expression="full" type="image/jpeg">(Foto: Paolo Miranda/BBC Indonesia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/05/26/18/2219824/curhat-tenaga-medis-italia-usai-pandemi-mereda-6OQcvS7wH5.png</image><title>(Foto: Paolo Miranda/BBC Indonesia)</title></images><description>JAKARTA - Para dokter dan perawat di Italia dielu-elukan sebagai pahlawan karena mereka berjasa merawat para pasien virus corona yang sekarat. Akan tetapi, mereka kini menderita, dikutip BBC Indonesia.

Di Lombardy, wilayah yang paling terdampak oleh virus corona di Italia, para tenaga medis masih berjuang untuk bertahan.

&quot;Saya lebih mudah marah dan memicu pertengkaran,&quot; kata Paolo Miranda, perawat unit perawatan intensif di Cremona.

Beberapa pekan lalu, Paolo memutuskan untuk mendokumentasikan situasi suram di dalam unit perawatan intensif menggunakan kamera fotonya.

&quot;Saya tidak pernah ingih melupakan apa yang terjadi pada kami. Ini akan segera menjadi sejarah,&quot; ujarnya.

Dalam foto-fotonya, dia ingin menunjukkan bagaimana rekan-rekannya mengatasi 'Fase 2' saat kehidupan kembali normal di Italia.

&quot;Meskipun situasi darurat melambat, kami merasa dikelilingi oleh kegelapan,&quot; katanya.

&quot;Sepertinya kami penuh luka. Kami membawa semua yang kami lihat di dalam diri kita.&quot;

Perasaan itu juga dialami oleh Monica Mariotti, yang juga merupakan perawat unit perawatan intensif.

&quot;Semua hal terasa lebih susah sekarang, ketimbang pada masa krisis,&quot; jelasnya.

&quot;Dulu kami memiliki musuh untuk dilawan. Kini, saya memiliki waktu untuk berpikir, saya merasa tersesat, tanpa tujuan.&quot;

Pada masa krisis, mereka kewalahan dan tak memiliki waktu untuk berpikir. Namun, seiring dengan pandemi yang mulai meredup, begitu juga dengan adrenalin.

Semua stres yang terakumulasi dalam beberapa minggu terakhir akan muncul ke permukaan.

&quot;Saya mengalami insomnia dan mimpi buruk,&quot; curhat Monica.

&quot;Saya terbangun 10 kali setiap malam dengan jantung berdebar kencang dan kehilangan napas.&quot;

Rekan Monica, Elisa Pizzera, mengaku dia merasa kuat selama masa krisis, namun kini dia merasa kelelahan.

Dia merasa tidak memiliki energi untuk memasak atau merapikan rumah, dan ketika dia sedang libur, dia menghabiskan sebagian besar waktunya dengan bermalas-malasan di sofa.

Martina Benedetti adalah perawat unit perawatan intensif di Tuscany dan masih menolak untuk bertemu dengan keluarga dan teman-temannya karena dia khawatir akan menularkan virus terhadap mereka.

&quot;Saya bahkan menerapkan jaga jarak sosial kepada suami saya,&quot; katanya.

&quot;Kami tidur di ranjang yang berbeda.&quot;

Bahkan hal-hal sederhana bisa menjadi luar biasa. &quot;Setiap kali saya mencoba jalan-jalan, saya merasa cemas dan saya harus segera pulang,&quot; papar Martina.

Kini, ketika dia akhirnya punya waktu untuk merenung, dia merasa penuh dengan keraguan diri.

&quot;Saya tidak yakin ingin menjadi perawat lagi,&quot; katanya.

&quot;Saya telah melihat lebih banyak orang meninggal dalam dua bulan terakhir daripada dalam enam tahun keseluruhan.&quot;

Sekitar 70% dari petugas kesehatan yang berurusan dengan Covid-19 di daerah yang paling terdampak di Italia ini menderita kelelahan, menurut sebuah studi yang baru-baru ini.

&quot;Ini sebenarnya adalah saat tersulit bagi dokter dan perawat,&quot; kata Serena Barello, peneliti studi tersebut.

Ketika kita menghadapi krisis, tubuh kita menghasilkan hormon yang membantu kita mengatasi stres.

&quot;Tetapi ketika Anda akhirnya memiliki waktu untuk merenungkan apa yang terjadi, dan masyarakat bergerak maju, semuanya dapat runtuh dan Anda merasa lebih lelah dan tertekan secara emosional,&quot; kata Barello.

Dia khawatir akan banyak dokter dan perawat mengalami gejala gangguan stres pasca-trauma (PTSD) dalam waktu lama setelah pandemi.

Inilah saat dampak pengalaman traumatis memengaruhi kehidupan seseorang, kadang-kadang beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun kemudian.

Bagi petugas kesehatan, ini dapat menghambat kemampuan mereka untuk tetap bekerja dengan intensitas dan fokus pekerjaan yang mereka butuhkan.

Di seluruh dunia, dokter dan perawat garis depan dipuji sebagai pahlawan karena mempertaruhkan hidup mereka untuk merawat pasien. Tapi di Italia, pujian ini mulai surut.

&quot;Ketika mereka takut mati, tiba-tiba kami semua menjadi pahlawan tetapi mereka sudah melupakan kami,&quot; kata Monica.

&quot;Kami akan kembali dilihat sebagai orang yang membersihkan pantat, malas dan tidak berguna.&quot;

Di Turin, sejumlah perawat baru-baru ini merantai diri mereka bersama dan mengenakan kantong sampah, referensi bagaimana mereka harus berimprovisasi di bangsal karena kurangnya APD.

Mereka melakukan protes menuntut pengakuan atas pekerjaan mereka.

&quot;Pada bulan Maret kami adalah pahlawan, sekarang kami sudah dilupakan,&quot; seorang perawat berteriak melalui megafon.

Mereka dijanjikan bonus untuk pekerjaan mereka tetapi hingga kini janji itu belum terealisasi.
</description><content:encoded>JAKARTA - Para dokter dan perawat di Italia dielu-elukan sebagai pahlawan karena mereka berjasa merawat para pasien virus corona yang sekarat. Akan tetapi, mereka kini menderita, dikutip BBC Indonesia.

Di Lombardy, wilayah yang paling terdampak oleh virus corona di Italia, para tenaga medis masih berjuang untuk bertahan.

&quot;Saya lebih mudah marah dan memicu pertengkaran,&quot; kata Paolo Miranda, perawat unit perawatan intensif di Cremona.

Beberapa pekan lalu, Paolo memutuskan untuk mendokumentasikan situasi suram di dalam unit perawatan intensif menggunakan kamera fotonya.

&quot;Saya tidak pernah ingih melupakan apa yang terjadi pada kami. Ini akan segera menjadi sejarah,&quot; ujarnya.

Dalam foto-fotonya, dia ingin menunjukkan bagaimana rekan-rekannya mengatasi 'Fase 2' saat kehidupan kembali normal di Italia.

&quot;Meskipun situasi darurat melambat, kami merasa dikelilingi oleh kegelapan,&quot; katanya.

&quot;Sepertinya kami penuh luka. Kami membawa semua yang kami lihat di dalam diri kita.&quot;

Perasaan itu juga dialami oleh Monica Mariotti, yang juga merupakan perawat unit perawatan intensif.

&quot;Semua hal terasa lebih susah sekarang, ketimbang pada masa krisis,&quot; jelasnya.

&quot;Dulu kami memiliki musuh untuk dilawan. Kini, saya memiliki waktu untuk berpikir, saya merasa tersesat, tanpa tujuan.&quot;

Pada masa krisis, mereka kewalahan dan tak memiliki waktu untuk berpikir. Namun, seiring dengan pandemi yang mulai meredup, begitu juga dengan adrenalin.

Semua stres yang terakumulasi dalam beberapa minggu terakhir akan muncul ke permukaan.

&quot;Saya mengalami insomnia dan mimpi buruk,&quot; curhat Monica.

&quot;Saya terbangun 10 kali setiap malam dengan jantung berdebar kencang dan kehilangan napas.&quot;

Rekan Monica, Elisa Pizzera, mengaku dia merasa kuat selama masa krisis, namun kini dia merasa kelelahan.

Dia merasa tidak memiliki energi untuk memasak atau merapikan rumah, dan ketika dia sedang libur, dia menghabiskan sebagian besar waktunya dengan bermalas-malasan di sofa.

Martina Benedetti adalah perawat unit perawatan intensif di Tuscany dan masih menolak untuk bertemu dengan keluarga dan teman-temannya karena dia khawatir akan menularkan virus terhadap mereka.

&quot;Saya bahkan menerapkan jaga jarak sosial kepada suami saya,&quot; katanya.

&quot;Kami tidur di ranjang yang berbeda.&quot;

Bahkan hal-hal sederhana bisa menjadi luar biasa. &quot;Setiap kali saya mencoba jalan-jalan, saya merasa cemas dan saya harus segera pulang,&quot; papar Martina.

Kini, ketika dia akhirnya punya waktu untuk merenung, dia merasa penuh dengan keraguan diri.

&quot;Saya tidak yakin ingin menjadi perawat lagi,&quot; katanya.

&quot;Saya telah melihat lebih banyak orang meninggal dalam dua bulan terakhir daripada dalam enam tahun keseluruhan.&quot;

Sekitar 70% dari petugas kesehatan yang berurusan dengan Covid-19 di daerah yang paling terdampak di Italia ini menderita kelelahan, menurut sebuah studi yang baru-baru ini.

&quot;Ini sebenarnya adalah saat tersulit bagi dokter dan perawat,&quot; kata Serena Barello, peneliti studi tersebut.

Ketika kita menghadapi krisis, tubuh kita menghasilkan hormon yang membantu kita mengatasi stres.

&quot;Tetapi ketika Anda akhirnya memiliki waktu untuk merenungkan apa yang terjadi, dan masyarakat bergerak maju, semuanya dapat runtuh dan Anda merasa lebih lelah dan tertekan secara emosional,&quot; kata Barello.

Dia khawatir akan banyak dokter dan perawat mengalami gejala gangguan stres pasca-trauma (PTSD) dalam waktu lama setelah pandemi.

Inilah saat dampak pengalaman traumatis memengaruhi kehidupan seseorang, kadang-kadang beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun kemudian.

Bagi petugas kesehatan, ini dapat menghambat kemampuan mereka untuk tetap bekerja dengan intensitas dan fokus pekerjaan yang mereka butuhkan.

Di seluruh dunia, dokter dan perawat garis depan dipuji sebagai pahlawan karena mempertaruhkan hidup mereka untuk merawat pasien. Tapi di Italia, pujian ini mulai surut.

&quot;Ketika mereka takut mati, tiba-tiba kami semua menjadi pahlawan tetapi mereka sudah melupakan kami,&quot; kata Monica.

&quot;Kami akan kembali dilihat sebagai orang yang membersihkan pantat, malas dan tidak berguna.&quot;

Di Turin, sejumlah perawat baru-baru ini merantai diri mereka bersama dan mengenakan kantong sampah, referensi bagaimana mereka harus berimprovisasi di bangsal karena kurangnya APD.

Mereka melakukan protes menuntut pengakuan atas pekerjaan mereka.

&quot;Pada bulan Maret kami adalah pahlawan, sekarang kami sudah dilupakan,&quot; seorang perawat berteriak melalui megafon.

Mereka dijanjikan bonus untuk pekerjaan mereka tetapi hingga kini janji itu belum terealisasi.
</content:encoded></item></channel></rss>
