<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> IGI: Pemerintah Terlalu Berani jika Paksakan Sekolah Dibuka Kembali   </title><description>Pemerintah terlalu berani bila memaksakan sekolah dibuka kembali saat pandemi virus corona (Covid-19).
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/05/29/337/2221492/igi-pemerintah-terlalu-berani-jika-paksakan-sekolah-dibuka-kembali</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/05/29/337/2221492/igi-pemerintah-terlalu-berani-jika-paksakan-sekolah-dibuka-kembali"/><item><title> IGI: Pemerintah Terlalu Berani jika Paksakan Sekolah Dibuka Kembali   </title><link>https://news.okezone.com/read/2020/05/29/337/2221492/igi-pemerintah-terlalu-berani-jika-paksakan-sekolah-dibuka-kembali</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/05/29/337/2221492/igi-pemerintah-terlalu-berani-jika-paksakan-sekolah-dibuka-kembali</guid><pubDate>Jum'at 29 Mei 2020 14:01 WIB</pubDate><dc:creator>Fakhrizal Fakhri </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/05/29/337/2221492/igi-pemerintah-terlalu-berani-jika-paksakan-sekolah-dibuka-kembali-6CZAIvLuWd.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto Ilustrasi Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/05/29/337/2221492/igi-pemerintah-terlalu-berani-jika-paksakan-sekolah-dibuka-kembali-6CZAIvLuWd.jpg</image><title>Foto Ilustrasi Okezone</title></images><description>

JAKARTA - Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim menilai, pemerintah terlalu berani bila memaksakan sekolah dibuka kembali saat pandemi virus corona (Covid-19).

Sebelumnya, Kadis Pendidikan DKI Jakara menerbitkan surat keputusan tentang kalender akademik tahun ajaran 2020-2021 yang menyebutkan hari pertama sekolah dibuka pada 13 Juli 2020.

&quot;Pemerintah terlalu berani jika ingin memaksakan sekolah dibuka kembali,&quot; kata Ramli saat dihubungi Okezone, Jumat (29/5/2020).
&amp;nbsp;Baca juga:&amp;nbsp;Kemendikbud: Belajar dari Rumah Tidak Harus Terbebani Target Kurikulum
Ramli menegaskan, pihaknya telah meminta kepada Kemendikbud untuk menggeser tahun ajaran baru pada 2021 mendatang.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wMi8yMS8xLzEyMTIxMi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Menurut dia, dengan menggeser tahun ajaran baru ke Januari akan membuat dunia pendidikan memiliki langkah-langkah yang jelas, terutama terkait minimnya jumlah guru yang memiliki kemampuan tinggi dalam menjalankan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) secara online.
&amp;nbsp;Baca&amp;nbsp; juga:&amp;nbsp;Kemendikbud: Tahun Ajaran Baru Tidak Harus Tatap Muka
Data Kemdikbud menunjukkan lebih dari 60 % guru bermasalah dalam PJJ karena ketidakmampuan guru dalam penguasaan teknologi.

&quot;Jika penguasaan teknologi saja lebih dari 60 persen bermasalah, maka bagaimana kita bisa berharap guru menghadirkan PJJ yang menyenangkan dan berkualitas?&quot; imbuhnya.

Ramli mengatakan, Kemdikbud harus membuka mata bahwa realitas pembelajaran jarak jauh bagi para siswa masih bermasalah. Ia pun menyebut Kemendikbud tak mempunyai upaya menuntaskan masalah rendahnya kemampuan guru melaksanakan PJJ.

&quot;Dan karena itu, IGI siap mengambil tanggungjawab itu dengan syarat Kemdikbud memberikan tanggungjawab itu secara resmi ke IGI,&quot; tuturnya.

Ia menambahkan, tahun ajaran baru digeser pada tahun depan juga bisa dimanfaatkan Kemendikbud untuk fokus meningkatkan kompetensi guru selama enam bulan ke depan.

&quot;Agar di bulan Januari sudah bisa menyelenggarakan PJJ berkualitas dan menyenangkan jika ternyata Covid-19 belum tuntas,&quot; tandasnya.
</description><content:encoded>

JAKARTA - Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim menilai, pemerintah terlalu berani bila memaksakan sekolah dibuka kembali saat pandemi virus corona (Covid-19).

Sebelumnya, Kadis Pendidikan DKI Jakara menerbitkan surat keputusan tentang kalender akademik tahun ajaran 2020-2021 yang menyebutkan hari pertama sekolah dibuka pada 13 Juli 2020.

&quot;Pemerintah terlalu berani jika ingin memaksakan sekolah dibuka kembali,&quot; kata Ramli saat dihubungi Okezone, Jumat (29/5/2020).
&amp;nbsp;Baca juga:&amp;nbsp;Kemendikbud: Belajar dari Rumah Tidak Harus Terbebani Target Kurikulum
Ramli menegaskan, pihaknya telah meminta kepada Kemendikbud untuk menggeser tahun ajaran baru pada 2021 mendatang.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wMi8yMS8xLzEyMTIxMi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Menurut dia, dengan menggeser tahun ajaran baru ke Januari akan membuat dunia pendidikan memiliki langkah-langkah yang jelas, terutama terkait minimnya jumlah guru yang memiliki kemampuan tinggi dalam menjalankan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) secara online.
&amp;nbsp;Baca&amp;nbsp; juga:&amp;nbsp;Kemendikbud: Tahun Ajaran Baru Tidak Harus Tatap Muka
Data Kemdikbud menunjukkan lebih dari 60 % guru bermasalah dalam PJJ karena ketidakmampuan guru dalam penguasaan teknologi.

&quot;Jika penguasaan teknologi saja lebih dari 60 persen bermasalah, maka bagaimana kita bisa berharap guru menghadirkan PJJ yang menyenangkan dan berkualitas?&quot; imbuhnya.

Ramli mengatakan, Kemdikbud harus membuka mata bahwa realitas pembelajaran jarak jauh bagi para siswa masih bermasalah. Ia pun menyebut Kemendikbud tak mempunyai upaya menuntaskan masalah rendahnya kemampuan guru melaksanakan PJJ.

&quot;Dan karena itu, IGI siap mengambil tanggungjawab itu dengan syarat Kemdikbud memberikan tanggungjawab itu secara resmi ke IGI,&quot; tuturnya.

Ia menambahkan, tahun ajaran baru digeser pada tahun depan juga bisa dimanfaatkan Kemendikbud untuk fokus meningkatkan kompetensi guru selama enam bulan ke depan.

&quot;Agar di bulan Januari sudah bisa menyelenggarakan PJJ berkualitas dan menyenangkan jika ternyata Covid-19 belum tuntas,&quot; tandasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
