<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sempat Dihentikan, WHO Kembali Melanjutkan Penelitian Obat Hidroksiklorokuin untuk Tangkal Covid-19</title><description>penelitian ini menjadi dasar WHO menghentikan uji coba hidroksiklorokuin karena adanya kehawatiran soal aspek keselamatan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/06/05/18/2224923/sempat-dihentikan-who-kembali-melanjutkan-penelitian-obat-hidroksiklorokuin-untuk-tangkal-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/06/05/18/2224923/sempat-dihentikan-who-kembali-melanjutkan-penelitian-obat-hidroksiklorokuin-untuk-tangkal-covid-19"/><item><title>Sempat Dihentikan, WHO Kembali Melanjutkan Penelitian Obat Hidroksiklorokuin untuk Tangkal Covid-19</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/06/05/18/2224923/sempat-dihentikan-who-kembali-melanjutkan-penelitian-obat-hidroksiklorokuin-untuk-tangkal-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/06/05/18/2224923/sempat-dihentikan-who-kembali-melanjutkan-penelitian-obat-hidroksiklorokuin-untuk-tangkal-covid-19</guid><pubDate>Jum'at 05 Juni 2020 10:51 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/06/05/18/2224923/sempat-dihentikan-who-kembali-melanjutkan-penelitian-obat-hidroksiklorokuin-untuk-tangkal-covid-19-63jPRGqzp0.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Obat Hidroksiklorokin. (Foto/Clinic Trial)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/06/05/18/2224923/sempat-dihentikan-who-kembali-melanjutkan-penelitian-obat-hidroksiklorokuin-untuk-tangkal-covid-19-63jPRGqzp0.jpg</image><title>Obat Hidroksiklorokin. (Foto/Clinic Trial)</title></images><description>JENEWA - WHO memutuskan melanjutkan ujicoba obat malaria hidroksiklorokuin setelah penelitian menyebut obat itu dianggap meningkatkan risiko kematian pada pasien virus corona, telah ditarik kembali karena masalah data.
Tiga penulis studi mengatakan mereka tidak bisa lagi menjamin keabsahan penelitian tersebut karena Surgisphere, sebuah perusahaan layanan kesehatan yang memasok data, tidak akan mengizinkan audit independen terhadap dataset-nya.
Padahal, penelitian ini menjadi dasar WHO menghentikan uji coba hidroksiklorokuin karena adanya kehawatiran soal aspek keselamatan.
Kendati begitu, para pemimpin dunia termasuk Presiden AS Donald Trump terus menggembar-gemborkan penggunaannya.

Kepala eksekutif Surgisphere Sapan Desai, satu dari empat peneliti studi tersebut, mengatakan kepada surat kabar The Guardian bahwa ia akan bekerja sama dengan audit independen tetapi dia menegaskan mentransfer data akan &quot;melanggar perjanjian klien dan syarat kerahasiaan&quot;.
Apa yang dikatakan studi itu?
Penelitian yang diterbitkan bulan lalu dalam jurnal ilmiah Lancet, melibatkan 96.000 pasien virus corona di 671 rumah sakit di seluruh dunia.
Hampir 15.000 diberi hidroksiklorokuin - atau sejenisnya, klorokuin - baik sebagai obat tunggal atau dengan antibiotik.
Disimpulkan bahwa obat itu tidak manjur melawan virus dan meningkatkan risiko pasien mengalami degup jantung yang tidak teratur dan sekarat.
Mandeep Mehra, seorang profesor Universitas Harvard yang memimpin penelitian, bersama dengan Frank Ruschitzka dari University Hospital Zurich dan Amit Patel dari University of Utah, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka telah mencoba untuk mengatur tinjauan data pihak ketiga dari data tersebut, tapi Surgisphere menolak untuk bekerja sama.
&quot;Kami sangat meminta maaf kepada Anda, para editor, dan pembaca jurnal atas segala rasa malu atau ketidaknyamanan yang disebabkan oleh hal ini,&quot; tambah kelompok itu.
Hidroksiklorokuin dianggap aman mengobati malaria, dan kondisi seperti lupus atau radang sendi, tetapi sejauh ini tidak ada uji klinis yang merekomendasikannya untuk digunakan melawan Covid-19.
Hasil dari satu percobaan klinis di University of Minnesota telah menunjukkan bahwa hidroksiklorokuin tidak efektif dalam mencegah virus corona.
Hasil kajian menyebutkan: pasien-pasien yang besar kemungkinan meninggal di rumah sakit dan mengalami komplikasi detak jantung adalah mereka yang mengonsumsi hidroksiklorokuin.
Tingkat kematian antara kelompok pasien Covid-19 sebagai berikut: hidroksiklorokuin 18%; klorokuin 16,4%, pasien-pasien yang tidak mengonsumsi hidroksiklorokuin dan klorokuin 9%.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wNi8wNS8xLzEyMTM4Mi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;</description><content:encoded>JENEWA - WHO memutuskan melanjutkan ujicoba obat malaria hidroksiklorokuin setelah penelitian menyebut obat itu dianggap meningkatkan risiko kematian pada pasien virus corona, telah ditarik kembali karena masalah data.
Tiga penulis studi mengatakan mereka tidak bisa lagi menjamin keabsahan penelitian tersebut karena Surgisphere, sebuah perusahaan layanan kesehatan yang memasok data, tidak akan mengizinkan audit independen terhadap dataset-nya.
Padahal, penelitian ini menjadi dasar WHO menghentikan uji coba hidroksiklorokuin karena adanya kehawatiran soal aspek keselamatan.
Kendati begitu, para pemimpin dunia termasuk Presiden AS Donald Trump terus menggembar-gemborkan penggunaannya.

Kepala eksekutif Surgisphere Sapan Desai, satu dari empat peneliti studi tersebut, mengatakan kepada surat kabar The Guardian bahwa ia akan bekerja sama dengan audit independen tetapi dia menegaskan mentransfer data akan &quot;melanggar perjanjian klien dan syarat kerahasiaan&quot;.
Apa yang dikatakan studi itu?
Penelitian yang diterbitkan bulan lalu dalam jurnal ilmiah Lancet, melibatkan 96.000 pasien virus corona di 671 rumah sakit di seluruh dunia.
Hampir 15.000 diberi hidroksiklorokuin - atau sejenisnya, klorokuin - baik sebagai obat tunggal atau dengan antibiotik.
Disimpulkan bahwa obat itu tidak manjur melawan virus dan meningkatkan risiko pasien mengalami degup jantung yang tidak teratur dan sekarat.
Mandeep Mehra, seorang profesor Universitas Harvard yang memimpin penelitian, bersama dengan Frank Ruschitzka dari University Hospital Zurich dan Amit Patel dari University of Utah, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka telah mencoba untuk mengatur tinjauan data pihak ketiga dari data tersebut, tapi Surgisphere menolak untuk bekerja sama.
&quot;Kami sangat meminta maaf kepada Anda, para editor, dan pembaca jurnal atas segala rasa malu atau ketidaknyamanan yang disebabkan oleh hal ini,&quot; tambah kelompok itu.
Hidroksiklorokuin dianggap aman mengobati malaria, dan kondisi seperti lupus atau radang sendi, tetapi sejauh ini tidak ada uji klinis yang merekomendasikannya untuk digunakan melawan Covid-19.
Hasil dari satu percobaan klinis di University of Minnesota telah menunjukkan bahwa hidroksiklorokuin tidak efektif dalam mencegah virus corona.
Hasil kajian menyebutkan: pasien-pasien yang besar kemungkinan meninggal di rumah sakit dan mengalami komplikasi detak jantung adalah mereka yang mengonsumsi hidroksiklorokuin.
Tingkat kematian antara kelompok pasien Covid-19 sebagai berikut: hidroksiklorokuin 18%; klorokuin 16,4%, pasien-pasien yang tidak mengonsumsi hidroksiklorokuin dan klorokuin 9%.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wNi8wNS8xLzEyMTM4Mi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;</content:encoded></item></channel></rss>
