<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Aktivitas Jadi Serba Online saat Pandemi Covid-19, Siapkah Pemerintah Memfasilitasi?</title><description>Pandemi Covid-19 secara tak langsung menggerakkan masyarakat untuk beralih ke aktivitas digital.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/06/19/337/2233143/aktivitas-jadi-serba-online-saat-pandemi-covid-19-siapkah-pemerintah-memfasilitasi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/06/19/337/2233143/aktivitas-jadi-serba-online-saat-pandemi-covid-19-siapkah-pemerintah-memfasilitasi"/><item><title>Aktivitas Jadi Serba Online saat Pandemi Covid-19, Siapkah Pemerintah Memfasilitasi?</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/06/19/337/2233143/aktivitas-jadi-serba-online-saat-pandemi-covid-19-siapkah-pemerintah-memfasilitasi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/06/19/337/2233143/aktivitas-jadi-serba-online-saat-pandemi-covid-19-siapkah-pemerintah-memfasilitasi</guid><pubDate>Jum'at 19 Juni 2020 22:30 WIB</pubDate><dc:creator>Putra Ramadhani Astyawan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/06/19/337/2233143/aktivitas-jadi-serba-online-saat-pandemi-covid-19-siapkah-pemerintah-memfasilitasi-NTyLLfibTD.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/06/19/337/2233143/aktivitas-jadi-serba-online-saat-pandemi-covid-19-siapkah-pemerintah-memfasilitasi-NTyLLfibTD.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</title></images><description>BOGOR - Pandemi Covid-19 secara tak langsung menggerakkan masyarakat untuk beralih ke aktivitas digital. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet dan pengguna media sosial di seluruh dunia telah meningkat lebih dari 300 juta selama 12 bulan terakhir.

Analisis menunjukkan bahwa 4,57 miliar orang sekarang menggunakan internet, meningkat lebih dari 7% dibandingkan tahun lalu.

Aktivitas bisnis di bidang teknologi informasi dan komunikasi (ICT) selama era normal baru Covid-19 mengalami pergeseran. Kondisi ini terjadi mengikuti shifting yang dialami konsumen dalam upaya memenuhi kebutuhan primernya.

Menteri Komunikasi dan Informatika Jhonny G Plate beberapa waktu lalu menjelaskan, masyarakat Indonesia tanpa disadari tengah melakukan percepatan transformasi digital, untuk memasuki digital society atau masyarakat digital 5.0 di tengah pandemi Covid-19.

Jhonny menerangkan, tugas pemerintah dan DPR akan mempercepat proses legislasi payung hukum transformasi digital. Antara lain memprioritaskan penguatan UU Perlindungan Data Pribadi dan UU Kriminal Siber.

Ia memaparkan, bahwa pemerintah terus melakukan pembangunan infrastruktur di daerah terpencil guna percepatan Society Digital 5.0. Menurut dia, saat ini masih terdapat desa yang menjadi blackspot karena belum mendapat fasilitas jaringan internet.

&quot;Ada sisi lain dari pandemi Covid-19, yakni percepatan transformasi digital, mendorong masyarakat memasuki Digital Society 5.0 seperti yang sudah dilakukan di Jepang. Sekarang kita tinggal memperkuat regulasi untuk memenuhi syarat memasuki era transformasi digital,&quot; ujar Menteri Komunikasi dan Informatika Jhonny G Plate dalam keterangannya beberapa waktu lalu.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wNi8wOS8xLzEyMTQwMi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Sementara itu Principal Consultant Artemis Hiro Whardana berpendapat, sebetulnya tidak ada pihak yang benar-benar siap menghadapi era normal baru. Pandemi Covid-19 ini merupakan fenomena yang melanda nyaris semua negara di dunia. Bukan sebatas tantangan nasional melainkan global.

&amp;ldquo;Ada shifting pada konsumsi, karena konsumen lebih banyak di rumah. Banyak kebutuhan primer dipenuhi melalui (layanan) online. Konsumen membutuhan ICT sebagai jembatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,&amp;rdquo; katanya dalam Forum Virtual Series bertajuk Tren Baru ICT di Era New Normal, Jumat (19/6/2020).

Baca Juga: Sisi Lain di Balik Pandemi Covid-19, Indonesia Siap Menuju Digital Society 5.0

Hiro menyatakan pula bahwa terdapat beberapa sektor usaha yang mau atau tidak mau harus melakukan pergeseran dalam praktik bisnisnya. Mereka bergerak menjadi semakin mengandalkan teknologi digital alias ICT, contohnya sektor pendidikan, layanan kesehatan, hiburan, olahraga, serta jasa keuangan.

Di bidang layanan kesehatan, menurut Hiro, pemanfaatan teknologi digital seperti telemedicine mungkin tidak hanya berlangsung selama pandemi Covid-19. Bisa jadi, inovasi semacam ini menjelma sebagai solusi jangka panjang pada era normal baru.

&amp;ldquo;Kami juga melihat, pada awal-awal (PSBB) terjadi pergeseran traffic  internet. Biasanya terfokus di daerah distrik bisnis pada jam-jam  kantor, tetapi sekarang pada jam-jam kantor merambah area residensial  karena masyarakat kerja dari rumah,&amp;rdquo; tutur Hiro.

Sementara itu, SVP Pre Sales Lintasarta Gidion Suranta Barus  mengutarakan bahwa seiring dengan shifting yang terjadi maka persaingan  bisnis di antara perusahaan ICT ikut meningkat. Pasalnya, praktik bisnis  yang sebelumnya fokus kepada layanan offline saja, lantas ikut  mengembangkan online service.

&amp;ldquo;Jadi, pemain di bidang layanan digital bertambah. Ada yang baru-baru  sekarang. Belum lagi pemain dari luar negeri tetap melirik masuk ke  Indonesia karena melihat Indonesia memiliki pasar yang potensial. Memang  kami prediksi persaingan akan naik,&amp;rdquo; kata Gidion.

Oleh karena itu, imbuhnya, tak perlu heran jika ke depan terjadi  peningkatan belanja digital terutama untuk empat komponen, yaitu  jaringan, infrastruktur TI, aplikasi, serta layanan keamanan siber. Pola  belanjanya juga disinyalir bakal berubah dari membeli capital  expenditure menjadi operating expenditure.

</description><content:encoded>BOGOR - Pandemi Covid-19 secara tak langsung menggerakkan masyarakat untuk beralih ke aktivitas digital. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet dan pengguna media sosial di seluruh dunia telah meningkat lebih dari 300 juta selama 12 bulan terakhir.

Analisis menunjukkan bahwa 4,57 miliar orang sekarang menggunakan internet, meningkat lebih dari 7% dibandingkan tahun lalu.

Aktivitas bisnis di bidang teknologi informasi dan komunikasi (ICT) selama era normal baru Covid-19 mengalami pergeseran. Kondisi ini terjadi mengikuti shifting yang dialami konsumen dalam upaya memenuhi kebutuhan primernya.

Menteri Komunikasi dan Informatika Jhonny G Plate beberapa waktu lalu menjelaskan, masyarakat Indonesia tanpa disadari tengah melakukan percepatan transformasi digital, untuk memasuki digital society atau masyarakat digital 5.0 di tengah pandemi Covid-19.

Jhonny menerangkan, tugas pemerintah dan DPR akan mempercepat proses legislasi payung hukum transformasi digital. Antara lain memprioritaskan penguatan UU Perlindungan Data Pribadi dan UU Kriminal Siber.

Ia memaparkan, bahwa pemerintah terus melakukan pembangunan infrastruktur di daerah terpencil guna percepatan Society Digital 5.0. Menurut dia, saat ini masih terdapat desa yang menjadi blackspot karena belum mendapat fasilitas jaringan internet.

&quot;Ada sisi lain dari pandemi Covid-19, yakni percepatan transformasi digital, mendorong masyarakat memasuki Digital Society 5.0 seperti yang sudah dilakukan di Jepang. Sekarang kita tinggal memperkuat regulasi untuk memenuhi syarat memasuki era transformasi digital,&quot; ujar Menteri Komunikasi dan Informatika Jhonny G Plate dalam keterangannya beberapa waktu lalu.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wNi8wOS8xLzEyMTQwMi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Sementara itu Principal Consultant Artemis Hiro Whardana berpendapat, sebetulnya tidak ada pihak yang benar-benar siap menghadapi era normal baru. Pandemi Covid-19 ini merupakan fenomena yang melanda nyaris semua negara di dunia. Bukan sebatas tantangan nasional melainkan global.

&amp;ldquo;Ada shifting pada konsumsi, karena konsumen lebih banyak di rumah. Banyak kebutuhan primer dipenuhi melalui (layanan) online. Konsumen membutuhan ICT sebagai jembatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,&amp;rdquo; katanya dalam Forum Virtual Series bertajuk Tren Baru ICT di Era New Normal, Jumat (19/6/2020).

Baca Juga: Sisi Lain di Balik Pandemi Covid-19, Indonesia Siap Menuju Digital Society 5.0

Hiro menyatakan pula bahwa terdapat beberapa sektor usaha yang mau atau tidak mau harus melakukan pergeseran dalam praktik bisnisnya. Mereka bergerak menjadi semakin mengandalkan teknologi digital alias ICT, contohnya sektor pendidikan, layanan kesehatan, hiburan, olahraga, serta jasa keuangan.

Di bidang layanan kesehatan, menurut Hiro, pemanfaatan teknologi digital seperti telemedicine mungkin tidak hanya berlangsung selama pandemi Covid-19. Bisa jadi, inovasi semacam ini menjelma sebagai solusi jangka panjang pada era normal baru.

&amp;ldquo;Kami juga melihat, pada awal-awal (PSBB) terjadi pergeseran traffic  internet. Biasanya terfokus di daerah distrik bisnis pada jam-jam  kantor, tetapi sekarang pada jam-jam kantor merambah area residensial  karena masyarakat kerja dari rumah,&amp;rdquo; tutur Hiro.

Sementara itu, SVP Pre Sales Lintasarta Gidion Suranta Barus  mengutarakan bahwa seiring dengan shifting yang terjadi maka persaingan  bisnis di antara perusahaan ICT ikut meningkat. Pasalnya, praktik bisnis  yang sebelumnya fokus kepada layanan offline saja, lantas ikut  mengembangkan online service.

&amp;ldquo;Jadi, pemain di bidang layanan digital bertambah. Ada yang baru-baru  sekarang. Belum lagi pemain dari luar negeri tetap melirik masuk ke  Indonesia karena melihat Indonesia memiliki pasar yang potensial. Memang  kami prediksi persaingan akan naik,&amp;rdquo; kata Gidion.

Oleh karena itu, imbuhnya, tak perlu heran jika ke depan terjadi  peningkatan belanja digital terutama untuk empat komponen, yaitu  jaringan, infrastruktur TI, aplikasi, serta layanan keamanan siber. Pola  belanjanya juga disinyalir bakal berubah dari membeli capital  expenditure menjadi operating expenditure.

</content:encoded></item></channel></rss>
