<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kemendikbud: Indonesia Butuh Banyak Guru Penggerak Untuk Kualitas Pendidikan Indonesia</title><description>Guna tingkatkan kualitas pendidikan Indonesia, Mendikbud Nadiem Makarim ingin Indonesia memiliki banyak guru penggerak</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/06/29/1/2238285/kemendikbud-indonesia-butuh-banyak-guru-penggerak-untuk-kualitas-pendidikan-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/06/29/1/2238285/kemendikbud-indonesia-butuh-banyak-guru-penggerak-untuk-kualitas-pendidikan-indonesia"/><item><title>Kemendikbud: Indonesia Butuh Banyak Guru Penggerak Untuk Kualitas Pendidikan Indonesia</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/06/29/1/2238285/kemendikbud-indonesia-butuh-banyak-guru-penggerak-untuk-kualitas-pendidikan-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/06/29/1/2238285/kemendikbud-indonesia-butuh-banyak-guru-penggerak-untuk-kualitas-pendidikan-indonesia</guid><pubDate>Senin 29 Juni 2020 16:57 WIB</pubDate><dc:creator>Fitria Dwi Astuti </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/06/29/1/2238285/kemendikbud-indonesia-butuh-banyak-guru-penggerak-untuk-kualitas-pendidikan-indonesia-V6A9XgFNDu.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Dok Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/06/29/1/2238285/kemendikbud-indonesia-butuh-banyak-guru-penggerak-untuk-kualitas-pendidikan-indonesia-V6A9XgFNDu.jpg</image><title>Foto: Dok Okezone</title></images><description>JAKARTA-Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,  Nadiem Anwar Makarim mengatakan,  Indonesia membutuhkan banyak guru penggerak agar kualitas pendidikan semakin maju.
&quot;Dengan adanya krisis selama pandemi Covid-19 ini, kesenjangan antara daerah dan kota-kota dan kesenjangan sosial ekonomi malah lebih terpisah lagi ya, kesenjangan itu menjadi lebih besar dengan adanya disparitas digital seperti ini,&quot; ujar Nadiem,  Rabu (24/6).
Menurut Nadiem, hal itu bukan merupakan tanggung jawab Kemendikbud sepenuhnya, tapi seluruh pemerintah dan masyarakat dan pihak swasta harus bisa menutup kesenjangan itu dengan cara yang proaktif.
&quot;Kita harus saling bahu-membahu untuk menyadari bahwa tidak semua daerah sama. Ada begitu banyak keberagaman, begitu banyak kearifan lokal, begitu banyak perbedaan budaya dan juga perbedaan sosial ekonomi yang harus kita faktorkan. Tidak bisa hanya suatu sistem atau standar yang sama,&quot; jelasnya.
Kemendikbud pun mengaplikasikannya sebagai keberagaman dalam standar pencapaian.
&quot;Kita harus mencintai keberagaman dalam sisi budaya, serta mencintai keberagaman dalam sisi standar pencapaian dan kurikulum juga. Dan inilah suatu paradigma baru yang akan kita majukan bersama,&amp;rdquo; tambahnya.
Sebelumnya, Kemendikbud menyelenggarakan lomba menulis surat untuk Mendikbud dengan tema &quot;Hikmah Hari Kemenangan di Masa Pandemi, Surat untuk Mas Menteri Nadiem Makarim&quot; yang diselenggarakan pada 11 hingga 17 Mei 2020.
Pada lomba tersebut, surat paling inspiratif kategori guru ditulis oleh Santi Kusuma Dewi dari SMP Islam Baitul Izzah, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur dan Maria Yosephina Morukh dari SD Kristen Kaenbaun, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.
Santi melakukan pembelajaran dengan menggunakan teknologi di antaranya mengajarkan coding (meski dirinya adalah guru Bahasa Inggris) serta menggunakan Google Earth untuk mengajak muridnya keliling dunia. Sedangkan Maria mengunjungi lima rumah muridnya dalam sehari untuk memberikan pembelajaran.
&quot;Saya ada satu kata untuk mendeskripsikan guru-guru seperti ibu Santi dan ibu Maria, itu namanya guru penggerak. Anda adalah guru-guru penggerak di masing-masing daerah. Sudah kelihatan, saya tidak harus melakukan suatu asesmen untuk mengetahui itu, Ibu Maria dan Ibu Santi ini dari jawabannya, dari visinya, dari passion-nya, itu adalah guru penggerak, dan andalah yang kita butuhkan di seluruh penjuru negara kita,&quot; ungkap Nadiem .
</description><content:encoded>JAKARTA-Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,  Nadiem Anwar Makarim mengatakan,  Indonesia membutuhkan banyak guru penggerak agar kualitas pendidikan semakin maju.
&quot;Dengan adanya krisis selama pandemi Covid-19 ini, kesenjangan antara daerah dan kota-kota dan kesenjangan sosial ekonomi malah lebih terpisah lagi ya, kesenjangan itu menjadi lebih besar dengan adanya disparitas digital seperti ini,&quot; ujar Nadiem,  Rabu (24/6).
Menurut Nadiem, hal itu bukan merupakan tanggung jawab Kemendikbud sepenuhnya, tapi seluruh pemerintah dan masyarakat dan pihak swasta harus bisa menutup kesenjangan itu dengan cara yang proaktif.
&quot;Kita harus saling bahu-membahu untuk menyadari bahwa tidak semua daerah sama. Ada begitu banyak keberagaman, begitu banyak kearifan lokal, begitu banyak perbedaan budaya dan juga perbedaan sosial ekonomi yang harus kita faktorkan. Tidak bisa hanya suatu sistem atau standar yang sama,&quot; jelasnya.
Kemendikbud pun mengaplikasikannya sebagai keberagaman dalam standar pencapaian.
&quot;Kita harus mencintai keberagaman dalam sisi budaya, serta mencintai keberagaman dalam sisi standar pencapaian dan kurikulum juga. Dan inilah suatu paradigma baru yang akan kita majukan bersama,&amp;rdquo; tambahnya.
Sebelumnya, Kemendikbud menyelenggarakan lomba menulis surat untuk Mendikbud dengan tema &quot;Hikmah Hari Kemenangan di Masa Pandemi, Surat untuk Mas Menteri Nadiem Makarim&quot; yang diselenggarakan pada 11 hingga 17 Mei 2020.
Pada lomba tersebut, surat paling inspiratif kategori guru ditulis oleh Santi Kusuma Dewi dari SMP Islam Baitul Izzah, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur dan Maria Yosephina Morukh dari SD Kristen Kaenbaun, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.
Santi melakukan pembelajaran dengan menggunakan teknologi di antaranya mengajarkan coding (meski dirinya adalah guru Bahasa Inggris) serta menggunakan Google Earth untuk mengajak muridnya keliling dunia. Sedangkan Maria mengunjungi lima rumah muridnya dalam sehari untuk memberikan pembelajaran.
&quot;Saya ada satu kata untuk mendeskripsikan guru-guru seperti ibu Santi dan ibu Maria, itu namanya guru penggerak. Anda adalah guru-guru penggerak di masing-masing daerah. Sudah kelihatan, saya tidak harus melakukan suatu asesmen untuk mengetahui itu, Ibu Maria dan Ibu Santi ini dari jawabannya, dari visinya, dari passion-nya, itu adalah guru penggerak, dan andalah yang kita butuhkan di seluruh penjuru negara kita,&quot; ungkap Nadiem .
</content:encoded></item></channel></rss>
