<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>China Paksa Wanita Uighur Pakai Kontrasepsi untuk Tekan Populasi Minoritas Muslim </title><description>Beberapa ahli menyebut langkah-langkah yang diambil China terhadap perempuan Uighur di Xinjiang sebagai &quot;genosida demografis&quot;.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/06/29/18/2238264/china-paksa-wanita-uighur-pakai-kontrasepsi-untuk-tekan-populasi-minoritas-muslim</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/06/29/18/2238264/china-paksa-wanita-uighur-pakai-kontrasepsi-untuk-tekan-populasi-minoritas-muslim"/><item><title>China Paksa Wanita Uighur Pakai Kontrasepsi untuk Tekan Populasi Minoritas Muslim </title><link>https://news.okezone.com/read/2020/06/29/18/2238264/china-paksa-wanita-uighur-pakai-kontrasepsi-untuk-tekan-populasi-minoritas-muslim</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/06/29/18/2238264/china-paksa-wanita-uighur-pakai-kontrasepsi-untuk-tekan-populasi-minoritas-muslim</guid><pubDate>Senin 29 Juni 2020 16:35 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/06/29/18/2238264/china-paksa-wanita-uighur-pakai-kontrasepsi-untuk-tekan-populasi-minoritas-muslim-yi67fRsT8v.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Seorang perempuan Uighur menjaga anaknya di dekat Masjid Id Kah, Kashgar, Xinjiang, China. (Foto: AP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/06/29/18/2238264/china-paksa-wanita-uighur-pakai-kontrasepsi-untuk-tekan-populasi-minoritas-muslim-yi67fRsT8v.jpg</image><title>Seorang perempuan Uighur menjaga anaknya di dekat Masjid Id Kah, Kashgar, Xinjiang, China. (Foto: AP)</title></images><description>PEMERINTAH China dilaporkan telah -mengambil langkah-langkah drastis untuk menurunkan tingkat kelahiran di kalangan warga Uighur dan minoritas lainnya sebagai bagian dari kampanye besar-besaran untuk mengekang populasi Muslimnya. Langkah itu diambil Beijing sementara di saat yang bersamaan mendorong sebagian mayoritas Han di negara itu untuk memiliki lebih banyak anak.
Meski beberapa perempuan sebelumnya telah berbicara tentang pengendalian kelahiran secara paksa, menurut penyelidikan Associated Press (AP), praktik ini jauh lebih luas dan sistematis daripada yang diketahui sebelumnya. Penyelidikan itu dilakukan berdasarkan statistik pemerintah, dokumen negara dan wawancara dengan 30 mantan tahanan, anggota keluarga dan mantan tahanan dan instruktur kamp.
BACA JUGA: Dokumen &quot;Karakax List&quot; Tunjukkan China Lacak dan Awasi Kegiatan Uighur Xinjiang
Kampanye yang telah berlangsung selama empat tahun terakhir di wilayah barat jauh Xinjiang itu mengarah pada apa yang oleh beberapa ahli disebut sebagai &quot;genosida demografis.&quot;
Wawancara dan data yang diperoleh AP menunjukkan bahwa China dilaporkan secara teratur mewajibkan wanita etnis minoritas untuk pemeriksaan kehamilan, dan memaksa pemasangan alat kontrasepsi, sterilisasi dan bahkan aborsi. Bahkan di saat penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) dan sterilisasi telah menurun secara nasional, AKDR di Xinjiang justru meningkat tajam.
Langkah-langkah pengendalian populasi didukung oleh penahanan massal baik sebagai ancaman maupun sebagai hukuman karena tidak mematuhi.
Memiliki terlalu banyak anak adalah alasan utama orang dikirim ke kamp-kamp penahanan, AP menemukan, orangtua dengan tiga atau lebih anak direnggut dari keluarga mereka kecuali dapat membayar denda besar.
BACA JUGA: China Kirim 497.000 Anak Etnis Uighur ke Sekolah Asrama
Setelah Gulnar Omirzakh, seorang Kazakh kelahiran China, memiliki anak ketiganya, pemerintah memerintahkannya untuk memasang AKDR. Dua tahun kemudian, pada Januari 2018, empat pejabat berseragam militer militer mengetuk pintunya.
Mereka memberi Omirzakh, istri miskin dari pedagang sayur yang ditahan di kamp, waktu tiga hari untuk membayar denda setara Rp38,5 juta karena memiliki lebih dari dua anak.



Jika dia tidak melakukannya, mereka memperingatkan, dia akan  bergabung dengan suaminya dan jutaan etnis minoritas lainnya yang  dikurung di kamp-kamp pengasingan, seringkali karena memiliki terlalu  banyak anak.
&quot;Mencegah orang memiliki anak adalah salah,&quot; kata Omirzakh.
Dia berhutang banyak untuk mengumpulkan uang dan kemudian melarikan  diri ke Kazakhstan. Menurutnya, Pemerintah China &amp;ldquo;ingin menghancurkan  etnis Uighur sebagai manusia.&quot;
Lima belas orang Uighur dan Kazakh mengatakan kepada AP bahwa  mereka mengenal beberapa orang yang ditahan atau dipenjara karena  memiliki terlalu banyak anak. Banyak yang divonis bertahun-tahun, bahkan  puluhan tahun di penjara.
Menurut data dan wawancara, begitu berada di kamp penahanan,  perempuan menjadi sasaran AKDR paksa dan apa yang tampak sebagai  suntikan pencegahan kehamilan.
Tingkat kelahiran di sebagian besar wilayah Uighur di Hotan dan  Kashgar anjlok lebih dari 60 persen dari 2015 hingga 2018, tahun  terakhir yang tersedia dalam statistik pemerintah.
Penelitian baru yang diperoleh Associated Press sebelum publikasi  oleh pakar China Adrian Zenz menyebutkan, ratusan juta dolar yang  digelontorkan pemerintah ke dalam alat kontrasepsi telah mengubah  Xinjiang dari salah satu daerah dengan pertumbuhan tercepat di China  menjadi salah satu yang paling lambat hanya dalam beberapa tahun.
&quot;Ini adalah bagian dari kampanye kontrol yang lebih luas untuk  menaklukkan Uighur,&quot; kata Zenz, kontraktor independen yayasan nirlaba  Victims of Communism Memorial Foundation di Washington, D.C.
Kementerian Luar Negeri China dan pemerintah Xinjiang tidak menanggapi beberapa permintaan komentar.
Namun, Beijing sebelumnya telah mengatakan bahwa langkah-langkah baru  itu semata-mata dimaksudkan untuk keadilan, yang memungkinkan etnis  China Han dan etnis minoritas memiliki jumlah anak yang sama.</description><content:encoded>PEMERINTAH China dilaporkan telah -mengambil langkah-langkah drastis untuk menurunkan tingkat kelahiran di kalangan warga Uighur dan minoritas lainnya sebagai bagian dari kampanye besar-besaran untuk mengekang populasi Muslimnya. Langkah itu diambil Beijing sementara di saat yang bersamaan mendorong sebagian mayoritas Han di negara itu untuk memiliki lebih banyak anak.
Meski beberapa perempuan sebelumnya telah berbicara tentang pengendalian kelahiran secara paksa, menurut penyelidikan Associated Press (AP), praktik ini jauh lebih luas dan sistematis daripada yang diketahui sebelumnya. Penyelidikan itu dilakukan berdasarkan statistik pemerintah, dokumen negara dan wawancara dengan 30 mantan tahanan, anggota keluarga dan mantan tahanan dan instruktur kamp.
BACA JUGA: Dokumen &quot;Karakax List&quot; Tunjukkan China Lacak dan Awasi Kegiatan Uighur Xinjiang
Kampanye yang telah berlangsung selama empat tahun terakhir di wilayah barat jauh Xinjiang itu mengarah pada apa yang oleh beberapa ahli disebut sebagai &quot;genosida demografis.&quot;
Wawancara dan data yang diperoleh AP menunjukkan bahwa China dilaporkan secara teratur mewajibkan wanita etnis minoritas untuk pemeriksaan kehamilan, dan memaksa pemasangan alat kontrasepsi, sterilisasi dan bahkan aborsi. Bahkan di saat penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) dan sterilisasi telah menurun secara nasional, AKDR di Xinjiang justru meningkat tajam.
Langkah-langkah pengendalian populasi didukung oleh penahanan massal baik sebagai ancaman maupun sebagai hukuman karena tidak mematuhi.
Memiliki terlalu banyak anak adalah alasan utama orang dikirim ke kamp-kamp penahanan, AP menemukan, orangtua dengan tiga atau lebih anak direnggut dari keluarga mereka kecuali dapat membayar denda besar.
BACA JUGA: China Kirim 497.000 Anak Etnis Uighur ke Sekolah Asrama
Setelah Gulnar Omirzakh, seorang Kazakh kelahiran China, memiliki anak ketiganya, pemerintah memerintahkannya untuk memasang AKDR. Dua tahun kemudian, pada Januari 2018, empat pejabat berseragam militer militer mengetuk pintunya.
Mereka memberi Omirzakh, istri miskin dari pedagang sayur yang ditahan di kamp, waktu tiga hari untuk membayar denda setara Rp38,5 juta karena memiliki lebih dari dua anak.



Jika dia tidak melakukannya, mereka memperingatkan, dia akan  bergabung dengan suaminya dan jutaan etnis minoritas lainnya yang  dikurung di kamp-kamp pengasingan, seringkali karena memiliki terlalu  banyak anak.
&quot;Mencegah orang memiliki anak adalah salah,&quot; kata Omirzakh.
Dia berhutang banyak untuk mengumpulkan uang dan kemudian melarikan  diri ke Kazakhstan. Menurutnya, Pemerintah China &amp;ldquo;ingin menghancurkan  etnis Uighur sebagai manusia.&quot;
Lima belas orang Uighur dan Kazakh mengatakan kepada AP bahwa  mereka mengenal beberapa orang yang ditahan atau dipenjara karena  memiliki terlalu banyak anak. Banyak yang divonis bertahun-tahun, bahkan  puluhan tahun di penjara.
Menurut data dan wawancara, begitu berada di kamp penahanan,  perempuan menjadi sasaran AKDR paksa dan apa yang tampak sebagai  suntikan pencegahan kehamilan.
Tingkat kelahiran di sebagian besar wilayah Uighur di Hotan dan  Kashgar anjlok lebih dari 60 persen dari 2015 hingga 2018, tahun  terakhir yang tersedia dalam statistik pemerintah.
Penelitian baru yang diperoleh Associated Press sebelum publikasi  oleh pakar China Adrian Zenz menyebutkan, ratusan juta dolar yang  digelontorkan pemerintah ke dalam alat kontrasepsi telah mengubah  Xinjiang dari salah satu daerah dengan pertumbuhan tercepat di China  menjadi salah satu yang paling lambat hanya dalam beberapa tahun.
&quot;Ini adalah bagian dari kampanye kontrol yang lebih luas untuk  menaklukkan Uighur,&quot; kata Zenz, kontraktor independen yayasan nirlaba  Victims of Communism Memorial Foundation di Washington, D.C.
Kementerian Luar Negeri China dan pemerintah Xinjiang tidak menanggapi beberapa permintaan komentar.
Namun, Beijing sebelumnya telah mengatakan bahwa langkah-langkah baru  itu semata-mata dimaksudkan untuk keadilan, yang memungkinkan etnis  China Han dan etnis minoritas memiliki jumlah anak yang sama.</content:encoded></item></channel></rss>
