<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>IDI Jelaskan Fenomena &quot;Disunat Jin&quot; yang Dialami Bocah 3 Tahun di Tangsel</title><description>Ketua IDI Tangsel, Imbar Umar Ghazali, mengatakan, istilah &quot;disunat jin&quot; tidak dikenal dalam dunia kesehatan</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/06/30/338/2238575/idi-jelaskan-fenomena-disunat-jin-yang-dialami-bocah-3-tahun-di-tangsel</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/06/30/338/2238575/idi-jelaskan-fenomena-disunat-jin-yang-dialami-bocah-3-tahun-di-tangsel"/><item><title>IDI Jelaskan Fenomena &quot;Disunat Jin&quot; yang Dialami Bocah 3 Tahun di Tangsel</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/06/30/338/2238575/idi-jelaskan-fenomena-disunat-jin-yang-dialami-bocah-3-tahun-di-tangsel</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/06/30/338/2238575/idi-jelaskan-fenomena-disunat-jin-yang-dialami-bocah-3-tahun-di-tangsel</guid><pubDate>Selasa 30 Juni 2020 07:55 WIB</pubDate><dc:creator>Hambali</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/06/30/338/2238575/idi-jelaskan-fenomena-disunat-jin-yang-dialami-bocah-3-tahun-di-tangsel-FAQoqccV64.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (The Independent)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/06/30/338/2238575/idi-jelaskan-fenomena-disunat-jin-yang-dialami-bocah-3-tahun-di-tangsel-FAQoqccV64.jpg</image><title>Ilustrasi. (The Independent)</title></images><description>TANGERANG SELATAN &amp;ndash; Kabar seorang bocah berinisial MG (3) &quot;disunat jin&quot; membuat heboh masyarakat. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) angkat bicara menjelaskan bahwa kejadian itu dalam dunia medis sebenarnya diawali dengan kelainan phimosis.

Phimosis merupakan kondisi pada bayi dan anak-anak yang disebabkan kulit kepala atau kulup penis belum terlepas secara sempurna dari kepala penis. Kulup akan terlepas dengan sendirinya seiring bertambahnya usia anak.

Namun, dilarang keras upaya untuk melepaskan kulup tersebut. Sebab, akan memicu risiko gangguan yang dalam dunia medis disebut parafimosis, yakni kondisi kelainan bentuk penis yang terjadi karena preputium yang tertarik ke belakang dan melipat serta menjerat batang penis.

Jika terjadi demikian, kulup penis tidak bisa lagi ditarik ke depan yang menyebabkan kepala penis terlihat seperti telah dikhitan. Pemicu parafimosis antara lain faktor setelah ereksi, menarik penis terlalu kuat pada saat mau kencing, atau karena penis sering dibuat main (pelintir) oleh anak.

Ketua IDI Tangsel, Imbar Umar Ghazali, mengatakan, istilah &quot;disunat jin&quot; tidak dikenal dalam dunia kesehatan. Menurut dia, hal yang sebenarnya terjadi adalah parafimosis. Penyebabnya adalah infeksi atau gatal-gatal pada ujung penis yang memiliki kelainan phimosis.

&quot;Kalau phimosis itu biasanya terjadi pada anak kecil. Dia didiagnosis phimosis kalau kulit penisnya itu tidak bisa ditarik-tarik ke atas, sehingga kelihatan kepala penisnya. Jadi istilah yang disebut masyarakat itu kuncup,&quot; katanya kepada Okezone, Selasa (30/6/2020).

Mereka yang tak memiliki kelainan phimosis, sambung Imbar, kulit pada ujung penisnya bisa dibuka. Namun hal sebaliknya terjadi pada orang-orang yang mengidap phimosis. Kulit pada ujung penisnya rapat, menyempit, dan kuncup sehingga berdampak pada rasa nyeri saat pengidapnya buang air kecil.

&quot;Gejalanya itu kalau kencing sakit, teriak, nangis, dan bisa badannya sampai panas,&quot; katanya.

Bagi pengidap phimosis, sangat mungkin sisa air seni yang dikeluarkan tak sepenuhnya terbuang  Melainkan terdapat sisa-sisa air seni akibat kulit pada ujung penisnya merapat dan kuncup. Kondisi demikian jika dibiarkan berlangsung beberapa hari dapat menimbulkan rasa gatal pada ujung penis.

&quot;Kalau sisa-sisa air seni itu dibiarkan satu-dua hari maka akan menimbulkan gatal. Kalau dia gatal, biasanya reaksi anak kecil dipelintir-pelintir kulit pada ujung penisnya. Nah kalau dipelintir itu keseringan, dia bisa iseng tarik ke atas kulit ujung penisnya itu. Karena dia phimosis kulitnya ketarik, dia sudah tidak bisa lagi diturunkan karena dia lengket, ditarik turun sudah tidak mau. Biasanya hal itu yang didefinisikan sudah sunat,&quot; ucapnya.

Imbar menjelaskan, jika sudah terjadi kondisi demikian pada anak,  orang tua tidak perlu panik selama sang anak tidak mengeluhkan gejala  apapun. Dampak yang paling mungkin terjadi di kemudian hari adalah  kepala penis berukuran lebih kecil akibat aliran darah tertekan kulit  yang melipat ke atas itu.

&quot;Enggak ada, sepanjang tidak ada keluhan. Kenyataannya di kemudian hari yang ada kepala penisnya kecil,&quot; tuturnya.

Phimosis, disebutkannya, kerap terjadi pada kebersihan diri dan  lingkungan seseorang. Misalnya mandi dengan menggunakan air yang kurang  bersih, sehingga partikel-partikel kecil menempel di bagian dalam kulit  penis yang belum disunat.

&quot;Kalau tingkat kebersihannya tidak bagus, misalnya dia tinggal di  kampung, dia mandi masih di kali yang airnya tidak jernih maka kejadian  ini sering terjadi. Pasir-pasir halus masuk ke dalam kulit lalu memicu  infeksi dan rasa gatal pada ujung penis,&quot; katanya.

Sebelumnya, kejadian misterius dialami MG pada Kamis 25 Juni 2020  malam. Kedua orang tuanya, Rahmat dan Afiatun, terperanjat begitu  mengetahui penis putranya sudah dalam kondisi tersunat. Bahkan guna  memastikan kondisi itu, mereka telah berkonsultasi dengan mantri sunat  yang membuka praktik di dekat kontrakannya,daerah Ciputat, Tangerang  Selatan.

Keesokan harinya, cerita itu kian ramai menyebar di lingkungan warga  sekitar. Para tetangga berdatangan silih berganti  mengecek kondisi  bocah tersebut. Semua merasa aneh dan bingung karena tak mampu memahami  secara logis. Kebanyakan mengaitkan peristiwa itu dengan hal berbau  mistis dengan sebutan &quot;disunat Jin&quot;.

</description><content:encoded>TANGERANG SELATAN &amp;ndash; Kabar seorang bocah berinisial MG (3) &quot;disunat jin&quot; membuat heboh masyarakat. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) angkat bicara menjelaskan bahwa kejadian itu dalam dunia medis sebenarnya diawali dengan kelainan phimosis.

Phimosis merupakan kondisi pada bayi dan anak-anak yang disebabkan kulit kepala atau kulup penis belum terlepas secara sempurna dari kepala penis. Kulup akan terlepas dengan sendirinya seiring bertambahnya usia anak.

Namun, dilarang keras upaya untuk melepaskan kulup tersebut. Sebab, akan memicu risiko gangguan yang dalam dunia medis disebut parafimosis, yakni kondisi kelainan bentuk penis yang terjadi karena preputium yang tertarik ke belakang dan melipat serta menjerat batang penis.

Jika terjadi demikian, kulup penis tidak bisa lagi ditarik ke depan yang menyebabkan kepala penis terlihat seperti telah dikhitan. Pemicu parafimosis antara lain faktor setelah ereksi, menarik penis terlalu kuat pada saat mau kencing, atau karena penis sering dibuat main (pelintir) oleh anak.

Ketua IDI Tangsel, Imbar Umar Ghazali, mengatakan, istilah &quot;disunat jin&quot; tidak dikenal dalam dunia kesehatan. Menurut dia, hal yang sebenarnya terjadi adalah parafimosis. Penyebabnya adalah infeksi atau gatal-gatal pada ujung penis yang memiliki kelainan phimosis.

&quot;Kalau phimosis itu biasanya terjadi pada anak kecil. Dia didiagnosis phimosis kalau kulit penisnya itu tidak bisa ditarik-tarik ke atas, sehingga kelihatan kepala penisnya. Jadi istilah yang disebut masyarakat itu kuncup,&quot; katanya kepada Okezone, Selasa (30/6/2020).

Mereka yang tak memiliki kelainan phimosis, sambung Imbar, kulit pada ujung penisnya bisa dibuka. Namun hal sebaliknya terjadi pada orang-orang yang mengidap phimosis. Kulit pada ujung penisnya rapat, menyempit, dan kuncup sehingga berdampak pada rasa nyeri saat pengidapnya buang air kecil.

&quot;Gejalanya itu kalau kencing sakit, teriak, nangis, dan bisa badannya sampai panas,&quot; katanya.

Bagi pengidap phimosis, sangat mungkin sisa air seni yang dikeluarkan tak sepenuhnya terbuang  Melainkan terdapat sisa-sisa air seni akibat kulit pada ujung penisnya merapat dan kuncup. Kondisi demikian jika dibiarkan berlangsung beberapa hari dapat menimbulkan rasa gatal pada ujung penis.

&quot;Kalau sisa-sisa air seni itu dibiarkan satu-dua hari maka akan menimbulkan gatal. Kalau dia gatal, biasanya reaksi anak kecil dipelintir-pelintir kulit pada ujung penisnya. Nah kalau dipelintir itu keseringan, dia bisa iseng tarik ke atas kulit ujung penisnya itu. Karena dia phimosis kulitnya ketarik, dia sudah tidak bisa lagi diturunkan karena dia lengket, ditarik turun sudah tidak mau. Biasanya hal itu yang didefinisikan sudah sunat,&quot; ucapnya.

Imbar menjelaskan, jika sudah terjadi kondisi demikian pada anak,  orang tua tidak perlu panik selama sang anak tidak mengeluhkan gejala  apapun. Dampak yang paling mungkin terjadi di kemudian hari adalah  kepala penis berukuran lebih kecil akibat aliran darah tertekan kulit  yang melipat ke atas itu.

&quot;Enggak ada, sepanjang tidak ada keluhan. Kenyataannya di kemudian hari yang ada kepala penisnya kecil,&quot; tuturnya.

Phimosis, disebutkannya, kerap terjadi pada kebersihan diri dan  lingkungan seseorang. Misalnya mandi dengan menggunakan air yang kurang  bersih, sehingga partikel-partikel kecil menempel di bagian dalam kulit  penis yang belum disunat.

&quot;Kalau tingkat kebersihannya tidak bagus, misalnya dia tinggal di  kampung, dia mandi masih di kali yang airnya tidak jernih maka kejadian  ini sering terjadi. Pasir-pasir halus masuk ke dalam kulit lalu memicu  infeksi dan rasa gatal pada ujung penis,&quot; katanya.

Sebelumnya, kejadian misterius dialami MG pada Kamis 25 Juni 2020  malam. Kedua orang tuanya, Rahmat dan Afiatun, terperanjat begitu  mengetahui penis putranya sudah dalam kondisi tersunat. Bahkan guna  memastikan kondisi itu, mereka telah berkonsultasi dengan mantri sunat  yang membuka praktik di dekat kontrakannya,daerah Ciputat, Tangerang  Selatan.

Keesokan harinya, cerita itu kian ramai menyebar di lingkungan warga  sekitar. Para tetangga berdatangan silih berganti  mengecek kondisi  bocah tersebut. Semua merasa aneh dan bingung karena tak mampu memahami  secara logis. Kebanyakan mengaitkan peristiwa itu dengan hal berbau  mistis dengan sebutan &quot;disunat Jin&quot;.

</content:encoded></item></channel></rss>
