<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pandemi Covid-19 Mengubah Tatanan Komunikasi Masyarakat</title><description>Masyarakat Indonesia tanpa disadari tengah melakukan percepatan transformasi digital</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/07/09/337/2243905/pandemi-covid-19-mengubah-tatanan-komunikasi-masyarakat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/07/09/337/2243905/pandemi-covid-19-mengubah-tatanan-komunikasi-masyarakat"/><item><title>Pandemi Covid-19 Mengubah Tatanan Komunikasi Masyarakat</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/07/09/337/2243905/pandemi-covid-19-mengubah-tatanan-komunikasi-masyarakat</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/07/09/337/2243905/pandemi-covid-19-mengubah-tatanan-komunikasi-masyarakat</guid><pubDate>Kamis 09 Juli 2020 22:04 WIB</pubDate><dc:creator>Hambali</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/07/09/337/2243905/pandemi-covid-19-mengubah-tatanan-komunikasi-masyarakat-Yictkf4Iv9.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dirjen Aptika Kominfo, Semual Abrijani (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/07/09/337/2243905/pandemi-covid-19-mengubah-tatanan-komunikasi-masyarakat-Yictkf4Iv9.jpg</image><title>Dirjen Aptika Kominfo, Semual Abrijani (Foto: Okezone)</title></images><description>TANGERANG SELATAN - Adaptasi Kebiasaan Baru atau AKB yang diterapkan pemerintah untuk menyesuaikan diri dengan Virus Corona membuat tatanan komunikasi masyarakat bergeser ke arah daring.

Masyarakat Indonesia tanpa disadari tengah melakukan percepatan transformasi digital, untuk memasuki digital society atau masyarakat digital 5.0 di tengah pandemi Covid-19.

&quot;Ada sisi lain dari pandemi Covid-19, yakni percepatan transformasi digital, mendorong masyarakat memasuki Digital Society 5.0 seperti yang sudah dilakukan di Jepang. Sekarang kita tinggal memperkuat regulasi untuk memenuhi syarat memasuki era transformasi digital,&quot; ujar Menteri Komunikasi dan Informatika Jhonny G Plate dalam keterangannya.

Jhonny menerangkan, tugas pemerintah dan DPR akan mempercepat proses legislasi payung hukum transformasi digital. Antara lain memprioritaskan penguatan UU Perlindungan Data Pribadi dan UU Kriminal Siber.

Ia memaparkan, bahwa pemerintah terus melakukan pembangunan infrastruktur di daerah terpencil guna percepatan Society Digital 5.0. Menurut dia, saat ini masih terdapat desa yang menjadi blackspot karena belum mendapat fasilitas jaringan internet.

Baca Juga: Sisi Lain di Balik Pandemi Covid-19, Indonesia Siap Menuju Digital Society 5.0

Sementara itu, Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika (Aptika), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Semuel Abrijani Pangerapan menjelaskan, Pandemi Covid-19 mengubah tatanan komunikasi masyarakat.

Semuel menjelaskan pergeseran komunikasi masyarakat juga bergeser ke arah konsumsi. Berbagai perusahaan dan startup juga menyesuaikan preferensi masyarakat yang mencari jasa sehari-haroi secara online.

Misal sektor pendidikan terjadi perubahan permintaan dari kursus offline menjadi online. Pada sektor pariwisata semula menjual tiket berganti menjadi jasa pelayanan pembayaran tagihan online dan pulsa.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wNi8wMS80LzEyMTM2Ny8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Perubahan perilaku masyarakat ini, jelas Semuel, menjadi acuan bagi pemerintah untuk memutuskan kebijakan baru yang tepat sasaran.

&amp;ldquo;Kami ingin program dan kerja kita tepat sasaran, kami ingin ekonomi digital ini terus tumbuh dan berkembang dan belajar dari apa yang menjadi potensi dan tantangan dari kondisi pandemi Covid-19,&amp;rdquo; jelas Semuel.

Seperti diketahui, hampir 50% startup digital optimistis bisa bertahan hingga lebih dari satu tahun ke depan kendati ekonomi Indonesia mengalami krisis akibat pandemi Covid-19 sejak Maret 2020. Sebanyak 21% startup mampu bertahan hingga kuartal 1 2021.

&amp;ldquo;Sisanya, 10% startup mampu bertahan hingga akhir Juni 2020 dan 20%  lainnya bisa bertahan dalam tempo 3-6 bulan ke depan,&amp;rdquo; Direktur Riset  Katadata Insight Center, Mulya Amri dalam webinar Pandemi Covid: Dampak  Terhadap Pelaku Ekonomi Digital, Kamis (9/6/2020) kerja sama Katadata  dengan Ditjen Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan  Informatika.

Menurut Mulya, ada sejumlah cara yang dilakukan oleh startup digital  untuk bisa bertahan di tengah pandemi. Sebagian besar pengelola tersebut  (52%) melakukan pengurangan biaya operasional. Selain itu juga  melakukan pengurangan biaya promosi (41%) dan mengurangi biaya produksi  (32%). Pengurangan biaya operasional yang banyak dilakukan adalah  pemotongan gaji karyawan (35%) dan pemangkasan jumlah karyawan (24,5%).

Survei Katadata Insight Center terhadap 139 eksekutif perusahaan  startup digital pada Mei-Juni 2020 menunjukkan bahwa startup cenderung  tidak melakukan perubahan strategi pada masa pandemi.

&amp;ldquo;Tapi dari perubahan yang dilakukan, kebanyakan terkait jumlah dan  jenis produk/layanan. Perubahan jenis produk/layanan didorong perubahan  preferensi konsumen yang cenderung mencari barang kebutuhan pokok dan  yang terkait kesehatan,&amp;rdquo; tutur Mulya.

Dari hasil survei ini juga diketahui kondisi startup sebelum dan  setelah pandemi Covid. Sebelum pandemi melanda Indonesia, sebagian besar  (74,8%) kondisi startup di Tanah Air berada dalam kondisi baik atau  sangat baik. Namun saat survei dilakukan Mei-Juni tinggal 33% saja yang  baik dan sangat baik. Sebanyak 24,5% dalam kondisi biasa saja.  Sedangkan, 42,5% startup digital berada dalam kondisi buruk atau sangat  buruk akibat pandemi Covid-19.

Survei terhadap jajaran eksekutif startup dari berbagi sektor ini  juga menunjukkan jika sektor pariwisata, sektor ekosistem pendukung  digitalisasi dan maritim paling terpukul. Sedangkan sektor sistem  pembayaran, logistik, pertanian, kesehatan, teknologi informasi dan  sektor pendidikan, meski terkena dampak, namun kondisi perusahaan masih  cukup baik.

Analisis Katadata Insight Center juga menemukan jika perusahaan yang  berada pada tahapan awal (seed &amp;amp; cockroach) cenderung paling  terpukul. &amp;ldquo;Pelaku ekonomi digital yang sudah memiliki valuasi lebih  besar atau pada tahapan Pony, Centaur dan Unicorn cenderung masih bisa  menahan tekanan memburuknya ekonomi akibat pandemi,&amp;rdquo; kata Mulya.

Tekanan yang dialami selama pandemi tergambar dalam penurunan  terhadap jumlah pengunjung/pengunduh aplikasi, jumlah transaksi per  bulan, nilai transaksi per bulan dan jenis produk/layanan yang  ditawarkan. Jumlah startup dengan nilai transaksi di atas Rp 1 miliar -  100 milyar per bulan, banyak yang mengalami penurunan omzet menjadi di  bawah Rp 1 miliar, yakni dari 30,2% menjadi 14,7%. Namun, jumlah startup  dengan transaksi di atas Rp 100 miliar yang semula sebanyak 10,9%  startup mengalami kenaikan 2,3% menjadi 13,2%.

Survei Katadata Insight Center dan Kementerian Komunikasi ini  dilakukan pada 139 eksekutif perusahaan seperti pendiri startup, CEO  serta jajaran direksi perusahaan. Responden diwawancarai secara online  dan melalui saluran telepon pada 8 Mei &amp;ndash; 5 Juni 2020.

</description><content:encoded>TANGERANG SELATAN - Adaptasi Kebiasaan Baru atau AKB yang diterapkan pemerintah untuk menyesuaikan diri dengan Virus Corona membuat tatanan komunikasi masyarakat bergeser ke arah daring.

Masyarakat Indonesia tanpa disadari tengah melakukan percepatan transformasi digital, untuk memasuki digital society atau masyarakat digital 5.0 di tengah pandemi Covid-19.

&quot;Ada sisi lain dari pandemi Covid-19, yakni percepatan transformasi digital, mendorong masyarakat memasuki Digital Society 5.0 seperti yang sudah dilakukan di Jepang. Sekarang kita tinggal memperkuat regulasi untuk memenuhi syarat memasuki era transformasi digital,&quot; ujar Menteri Komunikasi dan Informatika Jhonny G Plate dalam keterangannya.

Jhonny menerangkan, tugas pemerintah dan DPR akan mempercepat proses legislasi payung hukum transformasi digital. Antara lain memprioritaskan penguatan UU Perlindungan Data Pribadi dan UU Kriminal Siber.

Ia memaparkan, bahwa pemerintah terus melakukan pembangunan infrastruktur di daerah terpencil guna percepatan Society Digital 5.0. Menurut dia, saat ini masih terdapat desa yang menjadi blackspot karena belum mendapat fasilitas jaringan internet.

Baca Juga: Sisi Lain di Balik Pandemi Covid-19, Indonesia Siap Menuju Digital Society 5.0

Sementara itu, Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika (Aptika), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Semuel Abrijani Pangerapan menjelaskan, Pandemi Covid-19 mengubah tatanan komunikasi masyarakat.

Semuel menjelaskan pergeseran komunikasi masyarakat juga bergeser ke arah konsumsi. Berbagai perusahaan dan startup juga menyesuaikan preferensi masyarakat yang mencari jasa sehari-haroi secara online.

Misal sektor pendidikan terjadi perubahan permintaan dari kursus offline menjadi online. Pada sektor pariwisata semula menjual tiket berganti menjadi jasa pelayanan pembayaran tagihan online dan pulsa.

&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wNi8wMS80LzEyMTM2Ny8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Perubahan perilaku masyarakat ini, jelas Semuel, menjadi acuan bagi pemerintah untuk memutuskan kebijakan baru yang tepat sasaran.

&amp;ldquo;Kami ingin program dan kerja kita tepat sasaran, kami ingin ekonomi digital ini terus tumbuh dan berkembang dan belajar dari apa yang menjadi potensi dan tantangan dari kondisi pandemi Covid-19,&amp;rdquo; jelas Semuel.

Seperti diketahui, hampir 50% startup digital optimistis bisa bertahan hingga lebih dari satu tahun ke depan kendati ekonomi Indonesia mengalami krisis akibat pandemi Covid-19 sejak Maret 2020. Sebanyak 21% startup mampu bertahan hingga kuartal 1 2021.

&amp;ldquo;Sisanya, 10% startup mampu bertahan hingga akhir Juni 2020 dan 20%  lainnya bisa bertahan dalam tempo 3-6 bulan ke depan,&amp;rdquo; Direktur Riset  Katadata Insight Center, Mulya Amri dalam webinar Pandemi Covid: Dampak  Terhadap Pelaku Ekonomi Digital, Kamis (9/6/2020) kerja sama Katadata  dengan Ditjen Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan  Informatika.

Menurut Mulya, ada sejumlah cara yang dilakukan oleh startup digital  untuk bisa bertahan di tengah pandemi. Sebagian besar pengelola tersebut  (52%) melakukan pengurangan biaya operasional. Selain itu juga  melakukan pengurangan biaya promosi (41%) dan mengurangi biaya produksi  (32%). Pengurangan biaya operasional yang banyak dilakukan adalah  pemotongan gaji karyawan (35%) dan pemangkasan jumlah karyawan (24,5%).

Survei Katadata Insight Center terhadap 139 eksekutif perusahaan  startup digital pada Mei-Juni 2020 menunjukkan bahwa startup cenderung  tidak melakukan perubahan strategi pada masa pandemi.

&amp;ldquo;Tapi dari perubahan yang dilakukan, kebanyakan terkait jumlah dan  jenis produk/layanan. Perubahan jenis produk/layanan didorong perubahan  preferensi konsumen yang cenderung mencari barang kebutuhan pokok dan  yang terkait kesehatan,&amp;rdquo; tutur Mulya.

Dari hasil survei ini juga diketahui kondisi startup sebelum dan  setelah pandemi Covid. Sebelum pandemi melanda Indonesia, sebagian besar  (74,8%) kondisi startup di Tanah Air berada dalam kondisi baik atau  sangat baik. Namun saat survei dilakukan Mei-Juni tinggal 33% saja yang  baik dan sangat baik. Sebanyak 24,5% dalam kondisi biasa saja.  Sedangkan, 42,5% startup digital berada dalam kondisi buruk atau sangat  buruk akibat pandemi Covid-19.

Survei terhadap jajaran eksekutif startup dari berbagi sektor ini  juga menunjukkan jika sektor pariwisata, sektor ekosistem pendukung  digitalisasi dan maritim paling terpukul. Sedangkan sektor sistem  pembayaran, logistik, pertanian, kesehatan, teknologi informasi dan  sektor pendidikan, meski terkena dampak, namun kondisi perusahaan masih  cukup baik.

Analisis Katadata Insight Center juga menemukan jika perusahaan yang  berada pada tahapan awal (seed &amp;amp; cockroach) cenderung paling  terpukul. &amp;ldquo;Pelaku ekonomi digital yang sudah memiliki valuasi lebih  besar atau pada tahapan Pony, Centaur dan Unicorn cenderung masih bisa  menahan tekanan memburuknya ekonomi akibat pandemi,&amp;rdquo; kata Mulya.

Tekanan yang dialami selama pandemi tergambar dalam penurunan  terhadap jumlah pengunjung/pengunduh aplikasi, jumlah transaksi per  bulan, nilai transaksi per bulan dan jenis produk/layanan yang  ditawarkan. Jumlah startup dengan nilai transaksi di atas Rp 1 miliar -  100 milyar per bulan, banyak yang mengalami penurunan omzet menjadi di  bawah Rp 1 miliar, yakni dari 30,2% menjadi 14,7%. Namun, jumlah startup  dengan transaksi di atas Rp 100 miliar yang semula sebanyak 10,9%  startup mengalami kenaikan 2,3% menjadi 13,2%.

Survei Katadata Insight Center dan Kementerian Komunikasi ini  dilakukan pada 139 eksekutif perusahaan seperti pendiri startup, CEO  serta jajaran direksi perusahaan. Responden diwawancarai secara online  dan melalui saluran telepon pada 8 Mei &amp;ndash; 5 Juni 2020.

</content:encoded></item></channel></rss>
