<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Lima Puisi Penyayat Hati dari Sapardi</title><description>Sapardi Djoko Darmono menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu 19 Juli pada usianya yang menginjak kepala delapan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/07/20/337/2248936/lima-puisi-penyayat-hati-dari-sapardi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/07/20/337/2248936/lima-puisi-penyayat-hati-dari-sapardi"/><item><title>Lima Puisi Penyayat Hati dari Sapardi</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/07/20/337/2248936/lima-puisi-penyayat-hati-dari-sapardi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/07/20/337/2248936/lima-puisi-penyayat-hati-dari-sapardi</guid><pubDate>Senin 20 Juli 2020 08:05 WIB</pubDate><dc:creator>Khafid Mardiyansyah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/07/20/337/2248936/lima-puisi-penyayat-hati-dari-sapardi-9TnwCApsV0.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: IG Sapardi Djoko Damono</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/07/20/337/2248936/lima-puisi-penyayat-hati-dari-sapardi-9TnwCApsV0.jpg</image><title>Foto: IG Sapardi Djoko Damono</title></images><description>JAKARTA - Sapardi Djoko Darmono menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu 19 Juli pada usianya yang menginjak kepala delapan. Namun, puisinya terus dikenang masyarakat.

&quot;Yang fana adalah waktu, kita abadi...&quot; sepenggal sajak Sapardi yang ditulisnya pada 1978 itu kini menjadi kenyataan. Sapardi Djoko Damono telah menjadi &quot;abadi&quot; berkat puisinya yang terus dibacakan umat manusia.

Setidaknya, ada lima puisi penyayat hati yang terus digaungkan khalayak hingga kini. Bagi Sapardi, yang fana memanglah waktu, ia yang kini menjadi &quot;abadi&quot;.


Yang Fana Adalah Waktu (1978)

Yang Fana adalah waktu.
 
&amp;nbsp;
 
Kita abadi, memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa.
 
&amp;nbsp;
 
Tapi yang fana adalah waktu, bukan? tanyamu. Kita abadi.


Aku Ingin (1989)

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
 
&amp;nbsp;
 
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
 
&amp;nbsp;
 
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
 
&amp;nbsp;
 
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
 
&amp;nbsp;

Hujan Bulan Juni (1989)

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni.
 
&amp;nbsp;
 
Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu.
 
&amp;nbsp;
 
Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni.
 
&amp;nbsp;
 
Dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu.
 
&amp;nbsp;
 
Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni.
 
&amp;nbsp;
 
Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.


Kuhentikan Hujan

Kuhentikan hujan
 
&amp;nbsp;
 
Kini matahari merindukanku, mengangkat kabut pagi perlahan.
 
&amp;nbsp;
 
Ada yang berdenyut dalam diriku
 
&amp;nbsp;
 
Menembus tanah basah;
 
&amp;nbsp;
 
Dendam yang dihamilkan hujan dan cahaya matahari.
 
&amp;nbsp;
 
Tak bisa kuhentikan matahari memaksaku menciptakan bunga-bunga.


Pada Suatu Hari Nanti (1991)

Pada suatu hari nanti jasadku tak akan ada lagi.
 
&amp;nbsp;
 
Tapi dalam bait-bait sajak ini kau tak kan kurelakan sendiri.
 
&amp;nbsp;
 
Pada suatu hari nanti suaraku tak terdengar lagi tapi diantara larik-larik sajak ini kau akan tetap kusiasati.
 
&amp;nbsp;
 
Pada suatu hari nanti impianku pun tak dikenal lagi.
 
&amp;nbsp;
 
Namun di sela-sela huruf sajak ini kau takkan letih-letihnya kucari.
 
&amp;nbsp;
</description><content:encoded>JAKARTA - Sapardi Djoko Darmono menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu 19 Juli pada usianya yang menginjak kepala delapan. Namun, puisinya terus dikenang masyarakat.

&quot;Yang fana adalah waktu, kita abadi...&quot; sepenggal sajak Sapardi yang ditulisnya pada 1978 itu kini menjadi kenyataan. Sapardi Djoko Damono telah menjadi &quot;abadi&quot; berkat puisinya yang terus dibacakan umat manusia.

Setidaknya, ada lima puisi penyayat hati yang terus digaungkan khalayak hingga kini. Bagi Sapardi, yang fana memanglah waktu, ia yang kini menjadi &quot;abadi&quot;.


Yang Fana Adalah Waktu (1978)

Yang Fana adalah waktu.
 
&amp;nbsp;
 
Kita abadi, memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa.
 
&amp;nbsp;
 
Tapi yang fana adalah waktu, bukan? tanyamu. Kita abadi.


Aku Ingin (1989)

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
 
&amp;nbsp;
 
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
 
&amp;nbsp;
 
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
 
&amp;nbsp;
 
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
 
&amp;nbsp;

Hujan Bulan Juni (1989)

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni.
 
&amp;nbsp;
 
Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu.
 
&amp;nbsp;
 
Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni.
 
&amp;nbsp;
 
Dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu.
 
&amp;nbsp;
 
Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni.
 
&amp;nbsp;
 
Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.


Kuhentikan Hujan

Kuhentikan hujan
 
&amp;nbsp;
 
Kini matahari merindukanku, mengangkat kabut pagi perlahan.
 
&amp;nbsp;
 
Ada yang berdenyut dalam diriku
 
&amp;nbsp;
 
Menembus tanah basah;
 
&amp;nbsp;
 
Dendam yang dihamilkan hujan dan cahaya matahari.
 
&amp;nbsp;
 
Tak bisa kuhentikan matahari memaksaku menciptakan bunga-bunga.


Pada Suatu Hari Nanti (1991)

Pada suatu hari nanti jasadku tak akan ada lagi.
 
&amp;nbsp;
 
Tapi dalam bait-bait sajak ini kau tak kan kurelakan sendiri.
 
&amp;nbsp;
 
Pada suatu hari nanti suaraku tak terdengar lagi tapi diantara larik-larik sajak ini kau akan tetap kusiasati.
 
&amp;nbsp;
 
Pada suatu hari nanti impianku pun tak dikenal lagi.
 
&amp;nbsp;
 
Namun di sela-sela huruf sajak ini kau takkan letih-letihnya kucari.
 
&amp;nbsp;
</content:encoded></item></channel></rss>
