<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kelompok Bersenjata Serang Desa di Darfur, Sudan, Tewaskan 60 Orang </title><description>Sudan akan mengerahkan lebih banyak pasukan ke Darfur untuk menjaga keamanan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/07/27/18/2252716/kelompok-bersenjata-serang-desa-di-darfur-sudan-tewaskan-60-orang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/07/27/18/2252716/kelompok-bersenjata-serang-desa-di-darfur-sudan-tewaskan-60-orang"/><item><title>Kelompok Bersenjata Serang Desa di Darfur, Sudan, Tewaskan 60 Orang </title><link>https://news.okezone.com/read/2020/07/27/18/2252716/kelompok-bersenjata-serang-desa-di-darfur-sudan-tewaskan-60-orang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/07/27/18/2252716/kelompok-bersenjata-serang-desa-di-darfur-sudan-tewaskan-60-orang</guid><pubDate>Senin 27 Juli 2020 14:27 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/07/27/18/2252716/kelompok-bersenjata-serang-desa-di-darfur-sudan-tewaskan-60-orang-lkvoJGS0kX.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Lebih dari 300.000 orang tewas dan jutaan terusir dari rumah mereka selama konflik di Darfur, Sudan. (Foto: AFP) </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/07/27/18/2252716/kelompok-bersenjata-serang-desa-di-darfur-sudan-tewaskan-60-orang-lkvoJGS0kX.jpg</image><title>Lebih dari 300.000 orang tewas dan jutaan terusir dari rumah mereka selama konflik di Darfur, Sudan. (Foto: AFP) </title></images><description>KHARTOUM - Lebih dari 60 orang dilaporkan tewas dan hampir 60 lainnya terluka dalam serangan bersenjata di sebuah desa di wilayah Darfur, Sudan. Kekerasan bersenjata itu dilaporkan oleh Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan pada Minggu malam (26/7/2020).
Serangan di Desa Masteri di Negara Bagian Darfur Barat pada Sabtu (25/7/2020) itu &quot;adalah salah satu dari serangkaian insiden keamanan terbaru yang dilaporkan selama sepekan terakhir yang menyebabkan beberapa desa dan rumah terbakar, pasar dan toko dijarah, dan infrastruktur rusak,&quot; demikian dilaporkan badan PBB itu dalam sebuah pernyataan tanpa mengutip sumber informasinya.
Tidak ada pernyataan resmi dari pemerintah mengenai insiden itu dan Reuters tidak dapat menghubungi pejabat untuk memberikan komentar.
BACA JUGA: Seorang Jenderal dan 9 Tentara Tewas, Pasukan Sudan Berhasil Tangkap Pimpinan Milisi Darfur
Dilaporkan kantor berita SUNA, pada Minggu, Sudan mengatakan bahwa pihaknya akan mengerahkan pasukan gabungan dari berbagai layanan keamanan negara di Darfur setelah kekerasan baru-baru ini terjadi di sana.
Pasukan akan dikerahkan ke lima negara di wilayah itu &quot;untuk melindungi orang-orang dan mengamankan musim pertanian,&quot; kata Perdana Menteri Abdalla Hamdok selama pertemuan dengan delegasi perempuan dari Darfur di Khartoum. Tidak ada rincian lebih lanjut yang diberikan, demikian diwartakan Reuters.
Dewan Keamanan dan Pertahanan negara itu menekankan pentingnya &quot;menggunakan kekuatan yang diperlukan untuk menyelamatkan jiwa dan harta benda, menghadapi segala bentuk pelanggaran hukum dan mendukung hak kewarganegaraan yang setara,&quot; katanya setelah pertemuan pada Minggu.
BACA JUGA: Sudan Temukan Kuburan Mayat 28 Perwira yang Dieksekusi Bashir
Dalam insiden terpisah, sedikitnya 20 orang tewas dan 22 lainnya cedera setelah orang-orang bersenjata dari milisi tak dikenal menyerang sebuah desa di negara bagian Darfur Selatan, kata saksi mata dan seorang pemimpin masyarakat setempat pada Sabtu.
Kekerasan baru-baru ini oleh milisi di Darfur Utara mendorong pihak berwenang untuk menyatakan keadaan darurat pada 13 Juli.
&quot;Meningkatnya kekerasan di berbagai bagian wilayah Darfur mengarah pada peningkatan perpindahan, membahayakan musim pertanian, menyebabkan hilangnya nyawa dan mata pencaharian dan mendorong meningkatnya kebutuhan kemanusiaan,&quot; kata PBB.

Konflik dimulai di Darfur, di barat Sudan, pada 2003 setelah sebagian  besar pemberontak non-Arab bangkit melawan pemerintah Khartoum. Pasukan  pemerintah dan terutama milisi Arab, yang bergerak untuk menekan  pemberontakan, dituduh melakukan kejahatan yang meluas. Sekira 300.000  orang terbunuh dalam konflik, menurut perkiraan Amerika Serikat (AS).
Omar al-Bashir, pemimpin terguling Sudan, dicari oleh Pengadilan  Kriminal Internasional untuk tuduhan kejahatan perang, genosida dan  kejahatan terhadap kemanusiaan di Darfur.
Pemerintah transisi Sudan sedang bernegosiasi dengan beberapa  kelompok pemberontak utama di Darfur yang bertujuan untuk mencapai  kesepakatan damai.</description><content:encoded>KHARTOUM - Lebih dari 60 orang dilaporkan tewas dan hampir 60 lainnya terluka dalam serangan bersenjata di sebuah desa di wilayah Darfur, Sudan. Kekerasan bersenjata itu dilaporkan oleh Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan pada Minggu malam (26/7/2020).
Serangan di Desa Masteri di Negara Bagian Darfur Barat pada Sabtu (25/7/2020) itu &quot;adalah salah satu dari serangkaian insiden keamanan terbaru yang dilaporkan selama sepekan terakhir yang menyebabkan beberapa desa dan rumah terbakar, pasar dan toko dijarah, dan infrastruktur rusak,&quot; demikian dilaporkan badan PBB itu dalam sebuah pernyataan tanpa mengutip sumber informasinya.
Tidak ada pernyataan resmi dari pemerintah mengenai insiden itu dan Reuters tidak dapat menghubungi pejabat untuk memberikan komentar.
BACA JUGA: Seorang Jenderal dan 9 Tentara Tewas, Pasukan Sudan Berhasil Tangkap Pimpinan Milisi Darfur
Dilaporkan kantor berita SUNA, pada Minggu, Sudan mengatakan bahwa pihaknya akan mengerahkan pasukan gabungan dari berbagai layanan keamanan negara di Darfur setelah kekerasan baru-baru ini terjadi di sana.
Pasukan akan dikerahkan ke lima negara di wilayah itu &quot;untuk melindungi orang-orang dan mengamankan musim pertanian,&quot; kata Perdana Menteri Abdalla Hamdok selama pertemuan dengan delegasi perempuan dari Darfur di Khartoum. Tidak ada rincian lebih lanjut yang diberikan, demikian diwartakan Reuters.
Dewan Keamanan dan Pertahanan negara itu menekankan pentingnya &quot;menggunakan kekuatan yang diperlukan untuk menyelamatkan jiwa dan harta benda, menghadapi segala bentuk pelanggaran hukum dan mendukung hak kewarganegaraan yang setara,&quot; katanya setelah pertemuan pada Minggu.
BACA JUGA: Sudan Temukan Kuburan Mayat 28 Perwira yang Dieksekusi Bashir
Dalam insiden terpisah, sedikitnya 20 orang tewas dan 22 lainnya cedera setelah orang-orang bersenjata dari milisi tak dikenal menyerang sebuah desa di negara bagian Darfur Selatan, kata saksi mata dan seorang pemimpin masyarakat setempat pada Sabtu.
Kekerasan baru-baru ini oleh milisi di Darfur Utara mendorong pihak berwenang untuk menyatakan keadaan darurat pada 13 Juli.
&quot;Meningkatnya kekerasan di berbagai bagian wilayah Darfur mengarah pada peningkatan perpindahan, membahayakan musim pertanian, menyebabkan hilangnya nyawa dan mata pencaharian dan mendorong meningkatnya kebutuhan kemanusiaan,&quot; kata PBB.

Konflik dimulai di Darfur, di barat Sudan, pada 2003 setelah sebagian  besar pemberontak non-Arab bangkit melawan pemerintah Khartoum. Pasukan  pemerintah dan terutama milisi Arab, yang bergerak untuk menekan  pemberontakan, dituduh melakukan kejahatan yang meluas. Sekira 300.000  orang terbunuh dalam konflik, menurut perkiraan Amerika Serikat (AS).
Omar al-Bashir, pemimpin terguling Sudan, dicari oleh Pengadilan  Kriminal Internasional untuk tuduhan kejahatan perang, genosida dan  kejahatan terhadap kemanusiaan di Darfur.
Pemerintah transisi Sudan sedang bernegosiasi dengan beberapa  kelompok pemberontak utama di Darfur yang bertujuan untuk mencapai  kesepakatan damai.</content:encoded></item></channel></rss>
