<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>69 Persen Masyarakat Indonesia Alami Masalah Psikologi Selama Pandemi Covid-19</title><description>Psikiater ini memberikan saran dan masukan kepada masyarakat agar lebih memperhatikan kesehatan mental</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/07/29/337/2253849/69-persen-masyarakat-indonesia-alami-masalah-psikologi-selama-pandemi-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/07/29/337/2253849/69-persen-masyarakat-indonesia-alami-masalah-psikologi-selama-pandemi-covid-19"/><item><title>69 Persen Masyarakat Indonesia Alami Masalah Psikologi Selama Pandemi Covid-19</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/07/29/337/2253849/69-persen-masyarakat-indonesia-alami-masalah-psikologi-selama-pandemi-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/07/29/337/2253849/69-persen-masyarakat-indonesia-alami-masalah-psikologi-selama-pandemi-covid-19</guid><pubDate>Rabu 29 Juli 2020 12:44 WIB</pubDate><dc:creator>Kiswondari</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/07/29/337/2253849/69-persen-masyarakat-indonesia-alami-masalah-psikologi-selama-pandemi-covid-19-S67CmiD9fe.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/07/29/337/2253849/69-persen-masyarakat-indonesia-alami-masalah-psikologi-selama-pandemi-covid-19-S67CmiD9fe.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PDSKJ) DKI Jakarta, Nova Riyanti Yusuf menyebut bahwa 69% masyarakat Indonesia mengalami masalah psikologi. Sebagian di antaranya akibat pandemi Covid-19 berdasarkan hasil swaperiksa terhadap 2.364 responden dari 34 provinsi.

Karena itu, psikiater ini memberikan saran dan masukan kepada masyarakat agar lebih memperhatikan kesehatan mentalnya khususnya, saat pandemi Covid-19.

Dia mencontohkan, di awal penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yakni, memberikan penguatan kepada masyarakat yang menghadapi perubahan mendadak dalam kehidupan mereka, karena mereka tidak bisa bekerja dan melakukan kegiatan seperti biasanya.

&amp;ldquo;Kita perlu mencari kegiatan yang bisa membantu menenangkan diri atau mengembangkan skill. Kalau misalnya di-PHK melakukan bisnis yang sesuai dengan talentanya dia,&amp;rdquo; kata perempuan yang akrab disapa Noriyu kepada SINDO Media, Rabu (29/7/2020).

Kemudian, sambung Noriyu, mendekatkan diri secara spiritual kepada Tuhan, melakukan meditasi atau yoga, memperbanyak komunikasi dengan orang lain lewat media sosial (medsos) atau layanan pesan.

Memberikan perhatian kepada mereka yang masuk kategori ODP atau PDP juga penting, menanyakan kabar adalah hal sederhana yang penting bagi orang lain dan di saat bersamaan memberikan penguatan mental bagi mereka.

Baca Juga: 90 Klaster Perkantoran di Jakarta Sumbang 459 Kasus Positif Covid-19

&amp;ldquo;Semakin ke sini yang terbangun adalah emotional resilience atau kemampuan untuk melampaui kondisi-kondisi yang tidak beruntung, bencana, masalah yang dihadapi, masalah keluarga, pekerjaan, masalah dengan sekolah dan lain sebagainya,&amp;rdquo; terang Noriyu.

Sehingga, kata mantan Anggota Komisi IX DPR ini, setelah bisa melampaui itu maka orang tersebut akan mengalami personal growth atau perkembangan diri menjadi lebih baik, atau rebound. Jadi mendewasakan diri atas persoalan yang dihadapi. Karena itu, dengan segala ketidakjelasan pandemi dan dampak yang dihadapi, setiap orang harus memiliki ketahanan emosionalnya yang didapat dengan beragam cara.

&amp;ldquo;Misalnya kita bisa lebih nice, kind dan passionate terhadap diri  kita. Passionate itu misalnya kita hari ini bisa berbuat suatu hal yang  produktif, kita harus memberikan reward kepada diri kita, apakah  sebatang eskrim atau apalah. benar-benar mereward apa yang bisa kita  lakukan hari ini,&amp;rdquo; imbuhnya.

Selain itu, Noriyu melanjutkan, dalam situasi seperti ini harus bisa  bekerja dalam tim, saling membantu, menjadi komplementer dan saling  empati. Menjalani hidup dengan optimistis dan penuh harapan dengan  memandang masa depan secara lebih realistis. Yang tadinya memiliki mimpi  tanpa tepi, karena ada pandemi ini harus menghitung kembali mimpi atau  targetnya dengan keterbatasan yang ada.

&amp;ldquo;Masa depan ada, tapi masa depan yang dengan segala keterbatasannya,  jadi kita harus merumuskan kembali cita-cita kita ke depan. Jadi jangan  seperti tidak ada harapan, ada harapan, hanya berubah, jangan sampai  kita sama sekali tidak punya hurupan. Mimpi-mimpi ada, tapi dibuat lebih  realistis,&amp;rdquo; saran Noriyu.
</description><content:encoded>JAKARTA - Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PDSKJ) DKI Jakarta, Nova Riyanti Yusuf menyebut bahwa 69% masyarakat Indonesia mengalami masalah psikologi. Sebagian di antaranya akibat pandemi Covid-19 berdasarkan hasil swaperiksa terhadap 2.364 responden dari 34 provinsi.

Karena itu, psikiater ini memberikan saran dan masukan kepada masyarakat agar lebih memperhatikan kesehatan mentalnya khususnya, saat pandemi Covid-19.

Dia mencontohkan, di awal penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yakni, memberikan penguatan kepada masyarakat yang menghadapi perubahan mendadak dalam kehidupan mereka, karena mereka tidak bisa bekerja dan melakukan kegiatan seperti biasanya.

&amp;ldquo;Kita perlu mencari kegiatan yang bisa membantu menenangkan diri atau mengembangkan skill. Kalau misalnya di-PHK melakukan bisnis yang sesuai dengan talentanya dia,&amp;rdquo; kata perempuan yang akrab disapa Noriyu kepada SINDO Media, Rabu (29/7/2020).

Kemudian, sambung Noriyu, mendekatkan diri secara spiritual kepada Tuhan, melakukan meditasi atau yoga, memperbanyak komunikasi dengan orang lain lewat media sosial (medsos) atau layanan pesan.

Memberikan perhatian kepada mereka yang masuk kategori ODP atau PDP juga penting, menanyakan kabar adalah hal sederhana yang penting bagi orang lain dan di saat bersamaan memberikan penguatan mental bagi mereka.

Baca Juga: 90 Klaster Perkantoran di Jakarta Sumbang 459 Kasus Positif Covid-19

&amp;ldquo;Semakin ke sini yang terbangun adalah emotional resilience atau kemampuan untuk melampaui kondisi-kondisi yang tidak beruntung, bencana, masalah yang dihadapi, masalah keluarga, pekerjaan, masalah dengan sekolah dan lain sebagainya,&amp;rdquo; terang Noriyu.

Sehingga, kata mantan Anggota Komisi IX DPR ini, setelah bisa melampaui itu maka orang tersebut akan mengalami personal growth atau perkembangan diri menjadi lebih baik, atau rebound. Jadi mendewasakan diri atas persoalan yang dihadapi. Karena itu, dengan segala ketidakjelasan pandemi dan dampak yang dihadapi, setiap orang harus memiliki ketahanan emosionalnya yang didapat dengan beragam cara.

&amp;ldquo;Misalnya kita bisa lebih nice, kind dan passionate terhadap diri  kita. Passionate itu misalnya kita hari ini bisa berbuat suatu hal yang  produktif, kita harus memberikan reward kepada diri kita, apakah  sebatang eskrim atau apalah. benar-benar mereward apa yang bisa kita  lakukan hari ini,&amp;rdquo; imbuhnya.

Selain itu, Noriyu melanjutkan, dalam situasi seperti ini harus bisa  bekerja dalam tim, saling membantu, menjadi komplementer dan saling  empati. Menjalani hidup dengan optimistis dan penuh harapan dengan  memandang masa depan secara lebih realistis. Yang tadinya memiliki mimpi  tanpa tepi, karena ada pandemi ini harus menghitung kembali mimpi atau  targetnya dengan keterbatasan yang ada.

&amp;ldquo;Masa depan ada, tapi masa depan yang dengan segala keterbatasannya,  jadi kita harus merumuskan kembali cita-cita kita ke depan. Jadi jangan  seperti tidak ada harapan, ada harapan, hanya berubah, jangan sampai  kita sama sekali tidak punya hurupan. Mimpi-mimpi ada, tapi dibuat lebih  realistis,&amp;rdquo; saran Noriyu.
</content:encoded></item></channel></rss>
