<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Angka Kehamilan Melonjak saat Pandemi, Kebanyakan Tak Diinginkan</title><description>Masih banyak pula ibu hamil anak keempat sehingga program KB masih belum optimal di masyarakat.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/08/10/512/2260008/angka-kehamilan-melonjak-saat-pandemi-kebanyakan-tak-diinginkan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/08/10/512/2260008/angka-kehamilan-melonjak-saat-pandemi-kebanyakan-tak-diinginkan"/><item><title>Angka Kehamilan Melonjak saat Pandemi, Kebanyakan Tak Diinginkan</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/08/10/512/2260008/angka-kehamilan-melonjak-saat-pandemi-kebanyakan-tak-diinginkan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/08/10/512/2260008/angka-kehamilan-melonjak-saat-pandemi-kebanyakan-tak-diinginkan</guid><pubDate>Senin 10 Agustus 2020 23:31 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Budi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/08/10/512/2260008/angka-kehamilan-melonjak-saat-pandemi-kebanyakan-tak-diinginkan-hFXynriEEx.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/08/10/512/2260008/angka-kehamilan-melonjak-saat-pandemi-kebanyakan-tak-diinginkan-hFXynriEEx.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>BLORA - Angka kehamilan di Blora Jawa Tengah melonjak selama masa pandemi Covid-19. Hingga semester pertama 2020, tercatat 6.283 ibu hamil dengan kondisi usia ibu hamil di bawah 20 tahun sebanyak 229 orang, dan di atas usia 35 tahun sebanyak 352 orang.

&amp;ldquo;Terlalu muda ini belum siap, mungkin karena pernikahan dini. Kemudian yang terlalu tua ini juga berisiko,&amp;rdquo; kata Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blora, Lilik Hernanto, Senin (10/8/2020).

Dia mengatakan, masih banyak pula ibu hamil anak keempat sehingga program KB masih belum optimal di masyarakat. &amp;ldquo;Apalagi yang hamil anak keempat masih ada juga, sebanyak 43 orang. Ini artinya program KB juga masih belum merata,&amp;rdquo; ungkap Lilik.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Blora, Ahmad Nur Hidayat, menambahkan, tingginya angka kehamilan itu disinyalir karena selama pandemi Covid-19, banyak kegiatan yang dilakukan di rumah, mengurangi aktivitas di luar rumah.

&amp;ldquo;Sebelumnya, dalam setahun itu 15 ribu sekian, namun pada masa pandemi di bulan Juni mencapai 4980. Rata-rata pasangan muda,&amp;rdquo; ucap Nur Hidayat.

Menurut dia, meningkatnya intensitas hubungan suami istri selama masa pandemi Covid-19 diduga bisa memicu angka kehamilan yang tidak diinginkan (KTD).

&amp;ldquo;Sebaiknya masyarakat mulai mengatur perencanaan kehamilan. Setiap kehamilan seharusnya direncanakan dan diinginkan. Istilah kami, tidak melarang orang hamil, tapi tunda kehamilan hingga pandemi Covid-19 berakhir,&amp;rdquo; ungkapnya.</description><content:encoded>BLORA - Angka kehamilan di Blora Jawa Tengah melonjak selama masa pandemi Covid-19. Hingga semester pertama 2020, tercatat 6.283 ibu hamil dengan kondisi usia ibu hamil di bawah 20 tahun sebanyak 229 orang, dan di atas usia 35 tahun sebanyak 352 orang.

&amp;ldquo;Terlalu muda ini belum siap, mungkin karena pernikahan dini. Kemudian yang terlalu tua ini juga berisiko,&amp;rdquo; kata Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blora, Lilik Hernanto, Senin (10/8/2020).

Dia mengatakan, masih banyak pula ibu hamil anak keempat sehingga program KB masih belum optimal di masyarakat. &amp;ldquo;Apalagi yang hamil anak keempat masih ada juga, sebanyak 43 orang. Ini artinya program KB juga masih belum merata,&amp;rdquo; ungkap Lilik.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Blora, Ahmad Nur Hidayat, menambahkan, tingginya angka kehamilan itu disinyalir karena selama pandemi Covid-19, banyak kegiatan yang dilakukan di rumah, mengurangi aktivitas di luar rumah.

&amp;ldquo;Sebelumnya, dalam setahun itu 15 ribu sekian, namun pada masa pandemi di bulan Juni mencapai 4980. Rata-rata pasangan muda,&amp;rdquo; ucap Nur Hidayat.

Menurut dia, meningkatnya intensitas hubungan suami istri selama masa pandemi Covid-19 diduga bisa memicu angka kehamilan yang tidak diinginkan (KTD).

&amp;ldquo;Sebaiknya masyarakat mulai mengatur perencanaan kehamilan. Setiap kehamilan seharusnya direncanakan dan diinginkan. Istilah kami, tidak melarang orang hamil, tapi tunda kehamilan hingga pandemi Covid-19 berakhir,&amp;rdquo; ungkapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
