<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pemimpin Lebanon Diperingatkan Tentang Bahaya 2.750 Ton Amonium Nitrat Sejak Juli </title><description>Presiden dan Perdana Menteri Lebanon menerima korespondensi mengenai bahaya amonium nitrat pada Juli.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/08/11/18/2260365/pemimpin-lebanon-diperingatkan-tentang-bahaya-2-750-ton-amonium-nitrat-sejak-juli</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/08/11/18/2260365/pemimpin-lebanon-diperingatkan-tentang-bahaya-2-750-ton-amonium-nitrat-sejak-juli"/><item><title>Pemimpin Lebanon Diperingatkan Tentang Bahaya 2.750 Ton Amonium Nitrat Sejak Juli </title><link>https://news.okezone.com/read/2020/08/11/18/2260365/pemimpin-lebanon-diperingatkan-tentang-bahaya-2-750-ton-amonium-nitrat-sejak-juli</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/08/11/18/2260365/pemimpin-lebanon-diperingatkan-tentang-bahaya-2-750-ton-amonium-nitrat-sejak-juli</guid><pubDate>Selasa 11 Agustus 2020 15:01 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/08/11/18/2260365/pemimpin-lebanon-diperingatkan-tentang-bahaya-2-750-ton-amonium-nitrat-sejak-juli-R1ICI5BgqK.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Sputnik.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/08/11/18/2260365/pemimpin-lebanon-diperingatkan-tentang-bahaya-2-750-ton-amonium-nitrat-sejak-juli-R1ICI5BgqK.jpg</image><title>Foto: Sputnik.</title></images><description>BEIRUT &amp;ndash; Dokumen yang dilihat Reuters dan sumber keamanan senior mengungkapkan bahwa pejabat keamanan Lebanon pada Juli telah memperingatkan perdana menteri dan presiden mengenai risiko keamanan dari 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan di Pelabuhan Beirut.
Lebih dari dua pekan setelah peringatan itu, bahan kimia tersebut meledak dalam insiden yang melenyapkan sebagian Pelabuhan Beirut, meratakan bagian ibu kota. Ledakan itu juga menewaskan lebih dari 200 orang dan melukai lebih dari 6.000 lainnya.
Laporan Direktorat Jenderal Keamanan Negara tentang ledakan itu juga mereferensi surat pribadi surat pribadi yang dikirim kepada Presiden Michel Aoun dan Perdana Menteri Hassan Diab pada 20 Juli.
BACA JUGA: Pasca Ledakan Beirut, PM dan Seluruh Pemerintahan Lebanon Umumkan Pengunduran Diri
Meskipun isi surat itu tidak ada dalam laporan yang dilihat Reuters, seorang pejabat senior keamanan mengatakan bahwa surat itu meringkas temuan penyelidikan yudisial yang diluncurkan pada Januari yang menyimpulkan bahan kimia tersebut perlu segera diamankan. Laporan keamanan negara, yang mengonfirmasi korespondensi dengan presiden dan perdana menteri, sebelumnya belum dilaporkan.
&quot;Ada bahaya bahwa bahan ini, jika dicuri, dapat digunakan dalam serangan teroris,&quot; kata pejabat itu kepada Reuters.
&quot;Di akhir penyelidikan, Jaksa Agung (Ghassan) Oweidat menyiapkan laporan akhir yang dikirim ke pihak berwenang,&quot; katanya, mengacu pada surat yang dikirim ke perdana menteri dan presiden oleh Direktorat Jenderal Keamanan Negara, yang mengawasi keamanan pelabuhan.
BACA JUGA: Unjuk Rasa di Lebanon: Rakyat Ingin Turunkan Rezim!
&quot;Saya memperingatkan mereka bahwa ini bisa menghancurkan Beirut jika meledak,&quot; kata seorang pejabat yang terlibat dalam penulisan surat itu dan menolak disebutkan namanya.
Reuters tidak dapat secara independen mengonfirmasi deskripsi surat itu.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOC8wNS8xLzEyMjAyMi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Kantor perdana menteri dan kepresidenan tidak menanggapi permintaan komentar tentang surat 20 Juli itu. Jaksa Agung juga tidak menanggapi permintaan komentar.
Hal itu dapat memicu kecaman lebih lanjut dan kemarahan publik terkait ledakan itu, yang semakin menunjukkan kelalaian pemerintah terkait insiden tersebut.
Pemerintah Lebanon yang dipimpin Perdana Menteri Diab telah mengumumkan pengunduran diri menyusul tiga hari protes yang berkecamuk atas ledakan di Beirut.

Pekan lalu Presiden Aoun mengonfirmasi bahwa dia telah mendapat  informasi tentang materi tersebut. Kepada wartawan dia mengatakan bahwa  dia telah mengerahkan sekretaris jenderal dewan pertahanan tertinggi  Lebanon untuk &quot;melakukan apa yang diperlukan&quot;.
&amp;ldquo;(Dinas keamanan negara) mengatakan itu berbahaya. Saya tidak  bertanggung jawab! Saya tidak tahu di mana itu diletakkan dan saya tidak  tahu betapa berbahayanya itu. Saya tidak memiliki kewenangan untuk  menangani pelabuhan secara langsung. Ada hierarki dan semua yang tahu  seharusnya tahu tugas mereka untuk melakukan yang diperlukan,&amp;rdquo; kata Aoun  saat itu.

Sebagaimana diketahui, bahan kimia berbahaya itu meledak saat kru  pelabuhan melakukan pekerjaan perbaikan di Hangar 12 yang digunakan  untuk menyimpannya. Apa yang terjadi pada kru yang melakukan pekerjaan  itu belum dapat dikonfirmasi.
Sejauh ini sejumlah petugas bea cukai dan pelabuhan telah ditahan  sebagai bagian dari penyelidikan atas ledakan tersebut. Pihak berwenang  menyalahkan otoritas pelabuhan karena tidak mengawasi kru perbaikan dan  karena menyimpan kembang api di samping deposit besar bahan peledak  tinggi.
&amp;ldquo;Hanya karena hanggar menghadap ke laut, dampak ledakan bisa  dikurangi. Kalau tidak, semua Beirut akan hancur,&amp;rdquo; kata seorang pejabat  senior keamanan Lebanon. &quot;Masalahnya adalah tentang kelalaian, tidak  bertanggung jawab, penyimpanan yang buruk, dan penilaian yang buruk.&quot;</description><content:encoded>BEIRUT &amp;ndash; Dokumen yang dilihat Reuters dan sumber keamanan senior mengungkapkan bahwa pejabat keamanan Lebanon pada Juli telah memperingatkan perdana menteri dan presiden mengenai risiko keamanan dari 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan di Pelabuhan Beirut.
Lebih dari dua pekan setelah peringatan itu, bahan kimia tersebut meledak dalam insiden yang melenyapkan sebagian Pelabuhan Beirut, meratakan bagian ibu kota. Ledakan itu juga menewaskan lebih dari 200 orang dan melukai lebih dari 6.000 lainnya.
Laporan Direktorat Jenderal Keamanan Negara tentang ledakan itu juga mereferensi surat pribadi surat pribadi yang dikirim kepada Presiden Michel Aoun dan Perdana Menteri Hassan Diab pada 20 Juli.
BACA JUGA: Pasca Ledakan Beirut, PM dan Seluruh Pemerintahan Lebanon Umumkan Pengunduran Diri
Meskipun isi surat itu tidak ada dalam laporan yang dilihat Reuters, seorang pejabat senior keamanan mengatakan bahwa surat itu meringkas temuan penyelidikan yudisial yang diluncurkan pada Januari yang menyimpulkan bahan kimia tersebut perlu segera diamankan. Laporan keamanan negara, yang mengonfirmasi korespondensi dengan presiden dan perdana menteri, sebelumnya belum dilaporkan.
&quot;Ada bahaya bahwa bahan ini, jika dicuri, dapat digunakan dalam serangan teroris,&quot; kata pejabat itu kepada Reuters.
&quot;Di akhir penyelidikan, Jaksa Agung (Ghassan) Oweidat menyiapkan laporan akhir yang dikirim ke pihak berwenang,&quot; katanya, mengacu pada surat yang dikirim ke perdana menteri dan presiden oleh Direktorat Jenderal Keamanan Negara, yang mengawasi keamanan pelabuhan.
BACA JUGA: Unjuk Rasa di Lebanon: Rakyat Ingin Turunkan Rezim!
&quot;Saya memperingatkan mereka bahwa ini bisa menghancurkan Beirut jika meledak,&quot; kata seorang pejabat yang terlibat dalam penulisan surat itu dan menolak disebutkan namanya.
Reuters tidak dapat secara independen mengonfirmasi deskripsi surat itu.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOC8wNS8xLzEyMjAyMi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Kantor perdana menteri dan kepresidenan tidak menanggapi permintaan komentar tentang surat 20 Juli itu. Jaksa Agung juga tidak menanggapi permintaan komentar.
Hal itu dapat memicu kecaman lebih lanjut dan kemarahan publik terkait ledakan itu, yang semakin menunjukkan kelalaian pemerintah terkait insiden tersebut.
Pemerintah Lebanon yang dipimpin Perdana Menteri Diab telah mengumumkan pengunduran diri menyusul tiga hari protes yang berkecamuk atas ledakan di Beirut.

Pekan lalu Presiden Aoun mengonfirmasi bahwa dia telah mendapat  informasi tentang materi tersebut. Kepada wartawan dia mengatakan bahwa  dia telah mengerahkan sekretaris jenderal dewan pertahanan tertinggi  Lebanon untuk &quot;melakukan apa yang diperlukan&quot;.
&amp;ldquo;(Dinas keamanan negara) mengatakan itu berbahaya. Saya tidak  bertanggung jawab! Saya tidak tahu di mana itu diletakkan dan saya tidak  tahu betapa berbahayanya itu. Saya tidak memiliki kewenangan untuk  menangani pelabuhan secara langsung. Ada hierarki dan semua yang tahu  seharusnya tahu tugas mereka untuk melakukan yang diperlukan,&amp;rdquo; kata Aoun  saat itu.

Sebagaimana diketahui, bahan kimia berbahaya itu meledak saat kru  pelabuhan melakukan pekerjaan perbaikan di Hangar 12 yang digunakan  untuk menyimpannya. Apa yang terjadi pada kru yang melakukan pekerjaan  itu belum dapat dikonfirmasi.
Sejauh ini sejumlah petugas bea cukai dan pelabuhan telah ditahan  sebagai bagian dari penyelidikan atas ledakan tersebut. Pihak berwenang  menyalahkan otoritas pelabuhan karena tidak mengawasi kru perbaikan dan  karena menyimpan kembang api di samping deposit besar bahan peledak  tinggi.
&amp;ldquo;Hanya karena hanggar menghadap ke laut, dampak ledakan bisa  dikurangi. Kalau tidak, semua Beirut akan hancur,&amp;rdquo; kata seorang pejabat  senior keamanan Lebanon. &quot;Masalahnya adalah tentang kelalaian, tidak  bertanggung jawab, penyimpanan yang buruk, dan penilaian yang buruk.&quot;</content:encoded></item></channel></rss>
