<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Epidemiolog Soroti Efektivitas Vaksin Covid-19 Buatan China</title><description>Secara strategi eliminasi covid, dunia harus melakukan kombinasi antara vaksinasi dan tes lacak, isolasi, juga social physical distancing.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/08/18/337/2263644/epidemiolog-soroti-efektivitas-vaksin-covid-19-buatan-china</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/08/18/337/2263644/epidemiolog-soroti-efektivitas-vaksin-covid-19-buatan-china"/><item><title>Epidemiolog Soroti Efektivitas Vaksin Covid-19 Buatan China</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/08/18/337/2263644/epidemiolog-soroti-efektivitas-vaksin-covid-19-buatan-china</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/08/18/337/2263644/epidemiolog-soroti-efektivitas-vaksin-covid-19-buatan-china</guid><pubDate>Selasa 18 Agustus 2020 07:43 WIB</pubDate><dc:creator>Arie Dwi Satrio</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/08/18/337/2263644/epidemiolog-soroti-efektivitas-vaksin-covid-19-buatan-china-YT3ZYH66Gl.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto : Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/08/18/337/2263644/epidemiolog-soroti-efektivitas-vaksin-covid-19-buatan-china-YT3ZYH66Gl.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto : Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Epidemiolog asal Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menyoroti efektifitas vaksin virus corona (Covid-19) Sinovac buatan China yang kini sedang menggelar uji klinis tahap III di Bandung. Namun, Dicky tetap berharap vaksin buatan China itu bisa memberikan penanganan yang terbaik dalam mengatasi pandemi Covid-19.

&quot;Untuk riset vaksin yang saat ini sedang dilakukan di Bandung, kita berharap yang terbaik. Namun tetap realistis, mengingat tidak ada jaminan akan memiliki tingkat efektifitas yang kita harapkan,&quot; kata Dicky melalui pesan singkatnya, Selasa (18/8/2020).

Secara epidemiologi, sambung Dicky, pada pertengahan tahun depan diperkirakan Indonesia sudah memiliki minimal satu persen penduduk yang terinfeksi. Dengan demikian, masyarakat dengan sendirinya sudah memiliki antibodi tersendiri.

&quot;Sehingga, setidaknya kita memerlukan vaksin yang memiliki efektifitas 85 persen agar terbebas dari keharusan menerapkan social dan physical distancing,&quot; imbuhnya.

Baca Juga :&amp;nbsp;Positif Covid-19, Jenazah Jaksa Kasus Novel Dimakamkan di TPU Jombang Tangsel
Baca Juga :&amp;nbsp;Pertarungan 2 Srikandi di Pilkada Tangsel, Anak Ma'ruf Amin Vs Keponakan Prabowo

Dicky menilai vaksin Covid-19 yang ditemukan oleh berbagai negara di dunia pada gelombang pertama, umumnya hanya memiliki efektifitas di kisaran 40 sampai 70 persen. Hal itu, tentu masih kurang efektif untuk benar-benar menangkal virus corona.

&quot;Artinya, secara strategi eliminasi covid, dunia harus melakukan kombinasi antara vaksinasi dan tes lacak, isolasi, juga social physical distancing,&quot; pungkasnya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Epidemiolog asal Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menyoroti efektifitas vaksin virus corona (Covid-19) Sinovac buatan China yang kini sedang menggelar uji klinis tahap III di Bandung. Namun, Dicky tetap berharap vaksin buatan China itu bisa memberikan penanganan yang terbaik dalam mengatasi pandemi Covid-19.

&quot;Untuk riset vaksin yang saat ini sedang dilakukan di Bandung, kita berharap yang terbaik. Namun tetap realistis, mengingat tidak ada jaminan akan memiliki tingkat efektifitas yang kita harapkan,&quot; kata Dicky melalui pesan singkatnya, Selasa (18/8/2020).

Secara epidemiologi, sambung Dicky, pada pertengahan tahun depan diperkirakan Indonesia sudah memiliki minimal satu persen penduduk yang terinfeksi. Dengan demikian, masyarakat dengan sendirinya sudah memiliki antibodi tersendiri.

&quot;Sehingga, setidaknya kita memerlukan vaksin yang memiliki efektifitas 85 persen agar terbebas dari keharusan menerapkan social dan physical distancing,&quot; imbuhnya.

Baca Juga :&amp;nbsp;Positif Covid-19, Jenazah Jaksa Kasus Novel Dimakamkan di TPU Jombang Tangsel
Baca Juga :&amp;nbsp;Pertarungan 2 Srikandi di Pilkada Tangsel, Anak Ma'ruf Amin Vs Keponakan Prabowo

Dicky menilai vaksin Covid-19 yang ditemukan oleh berbagai negara di dunia pada gelombang pertama, umumnya hanya memiliki efektifitas di kisaran 40 sampai 70 persen. Hal itu, tentu masih kurang efektif untuk benar-benar menangkal virus corona.

&quot;Artinya, secara strategi eliminasi covid, dunia harus melakukan kombinasi antara vaksinasi dan tes lacak, isolasi, juga social physical distancing,&quot; pungkasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
