<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Pengamat: Harus Gunakan Cara yang Luar Biasa untuk Memburu Harun Masiku   </title><description>Direktur Legal Culture Institute, M Rizqi Azmi mengomentari upaya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/08/26/337/2267541/pengamat-harus-gunakan-cara-yang-luar-biasa-untuk-memburu-harun-masiku</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/08/26/337/2267541/pengamat-harus-gunakan-cara-yang-luar-biasa-untuk-memburu-harun-masiku"/><item><title> Pengamat: Harus Gunakan Cara yang Luar Biasa untuk Memburu Harun Masiku   </title><link>https://news.okezone.com/read/2020/08/26/337/2267541/pengamat-harus-gunakan-cara-yang-luar-biasa-untuk-memburu-harun-masiku</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/08/26/337/2267541/pengamat-harus-gunakan-cara-yang-luar-biasa-untuk-memburu-harun-masiku</guid><pubDate>Rabu 26 Agustus 2020 09:01 WIB</pubDate><dc:creator>Raka Dwi Novianto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/08/26/337/2267541/pengamat-harus-gunakan-cara-yang-luar-biasa-untuk-memburu-harun-masiku-CsltcAx2pL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Illustrasi Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/08/26/337/2267541/pengamat-harus-gunakan-cara-yang-luar-biasa-untuk-memburu-harun-masiku-CsltcAx2pL.jpg</image><title>Foto: Illustrasi Shutterstock</title></images><description>JAKARTA - Direktur Legal Culture Institute, M Rizqi Azmi mengomentari upaya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang akan menambah personil, untuk menangkap buronan mantan caleg PDIP Harun Masiku. Menurutnya, KPK saat ini seperti kehilangan akal dalam melakukan investigasi dalam pencarian sosok Harun Masiku.

&quot;Sehingga KPK terkesan &quot;lost of mind&quot; dan gagal bertindak. Kemudian menyebabkan fungsinya sebagai extraordinary Bodies menjadi lemah karena mengikuti cara-cara biasa lembaga penegak hukum lainnya seperti kepolisian dan kejaksaan,&quot; kata Rizqi dalam keterangan tertulisnya, Rabu (26/8/2020)

Menurut Rizqi, KPK harus menyadari kembali arti penting kehadirannya sebagai extraordinary bodies di tengah-tengah harapan masyarakat. Berdasarkan   study  UNODC,  mendirikan   lembaga  baru  seperti  KPK akan  memberikan &amp;ldquo;keuntungan&amp;rdquo;  lebih  banyak  dalam  memberantas  korupsi.
&amp;nbsp;
&quot;Dibandingkan  hanya  mengandalkan lembaga  penegak  hukum  yang  telah  ada  seperti  kepolisian  dan  kejaksaan,  yang  umumnya telah  terjangkiti  penyakit  &amp;ldquo;korup&amp;rdquo;.  Menggunakan  komisi  yang  baru  diharapkan  memberikan &amp;ldquo;semangat&amp;rdquo;  pemberantasan  korupsi  yang  baru  pula,&quot; katanya.

Oleh karenanya Rizqi menilai, kegiatan menambah kuantitas ini tidak di butuhkan KPK. Karena sejatinya KPK adalah badan tambahan istimewa dari aparat penegak hukum yang gagal menyelesaikan virus laten korupsi ini.

&quot;KPK harus menunjukan kualitas dan diferensiasinya dalam menyelesaikan setiap kasus korupsi tidak hanya Harun Masiku,&quot; jelasnya.

Menurut Rizqi, selain kelemahan dari internal KPK dirinya menganalisa telah terjadi pengkerdilan dari luar seperti riset yang menunjukan lemahnya suatu komisi anti korupsi di sebabkan beberapa hal yakni pertama, lemahnya dukungan politik dan kekuasaan, tergambar dari harapan negatif beberapa politisi terhadap kemajuan KPK.

Kedua, kontraproduktif dengan pertumbuhan ekonom. Ketiga pemerintah gagal dalam membangun institusinya, seperti terlihat institusi penegak hukum gagal bersinergi menangkap Harun Masiku yang bebas lalu lalang.

Keempat, rendahnya persepsi publik dan KPK dianggap sebagai organisasi yang tidak efektif dan efesien, kemudian juga tidak melibatkan masyarakat dalam aktifitas pekerjaanya.

&quot;Seharusnya, proses pencarian Harun Masiku harus di kejar dengan cara-cara luar biasa yang sebenarnya aparat penegak hukum kita sudah terlatih dan memiliki alat yang canggih dalam monitoring setiap kasus seperti BIN, Polri dan kejaksaan yang baru-baru ini me-launching Adhyaksa Monitoring Center nya,&quot; ungkapnya.

&quot;Namun kesemua itu memang harus di barengi keinginan dan komitmen yang kuat dalam pemberantasan korupsi. Dan Semangat itulah yang melahirkan sebuah badan bernama Komisi Pemberantasan Korupsi,&quot; pungkasnya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Direktur Legal Culture Institute, M Rizqi Azmi mengomentari upaya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang akan menambah personil, untuk menangkap buronan mantan caleg PDIP Harun Masiku. Menurutnya, KPK saat ini seperti kehilangan akal dalam melakukan investigasi dalam pencarian sosok Harun Masiku.

&quot;Sehingga KPK terkesan &quot;lost of mind&quot; dan gagal bertindak. Kemudian menyebabkan fungsinya sebagai extraordinary Bodies menjadi lemah karena mengikuti cara-cara biasa lembaga penegak hukum lainnya seperti kepolisian dan kejaksaan,&quot; kata Rizqi dalam keterangan tertulisnya, Rabu (26/8/2020)

Menurut Rizqi, KPK harus menyadari kembali arti penting kehadirannya sebagai extraordinary bodies di tengah-tengah harapan masyarakat. Berdasarkan   study  UNODC,  mendirikan   lembaga  baru  seperti  KPK akan  memberikan &amp;ldquo;keuntungan&amp;rdquo;  lebih  banyak  dalam  memberantas  korupsi.
&amp;nbsp;
&quot;Dibandingkan  hanya  mengandalkan lembaga  penegak  hukum  yang  telah  ada  seperti  kepolisian  dan  kejaksaan,  yang  umumnya telah  terjangkiti  penyakit  &amp;ldquo;korup&amp;rdquo;.  Menggunakan  komisi  yang  baru  diharapkan  memberikan &amp;ldquo;semangat&amp;rdquo;  pemberantasan  korupsi  yang  baru  pula,&quot; katanya.

Oleh karenanya Rizqi menilai, kegiatan menambah kuantitas ini tidak di butuhkan KPK. Karena sejatinya KPK adalah badan tambahan istimewa dari aparat penegak hukum yang gagal menyelesaikan virus laten korupsi ini.

&quot;KPK harus menunjukan kualitas dan diferensiasinya dalam menyelesaikan setiap kasus korupsi tidak hanya Harun Masiku,&quot; jelasnya.

Menurut Rizqi, selain kelemahan dari internal KPK dirinya menganalisa telah terjadi pengkerdilan dari luar seperti riset yang menunjukan lemahnya suatu komisi anti korupsi di sebabkan beberapa hal yakni pertama, lemahnya dukungan politik dan kekuasaan, tergambar dari harapan negatif beberapa politisi terhadap kemajuan KPK.

Kedua, kontraproduktif dengan pertumbuhan ekonom. Ketiga pemerintah gagal dalam membangun institusinya, seperti terlihat institusi penegak hukum gagal bersinergi menangkap Harun Masiku yang bebas lalu lalang.

Keempat, rendahnya persepsi publik dan KPK dianggap sebagai organisasi yang tidak efektif dan efesien, kemudian juga tidak melibatkan masyarakat dalam aktifitas pekerjaanya.

&quot;Seharusnya, proses pencarian Harun Masiku harus di kejar dengan cara-cara luar biasa yang sebenarnya aparat penegak hukum kita sudah terlatih dan memiliki alat yang canggih dalam monitoring setiap kasus seperti BIN, Polri dan kejaksaan yang baru-baru ini me-launching Adhyaksa Monitoring Center nya,&quot; ungkapnya.

&quot;Namun kesemua itu memang harus di barengi keinginan dan komitmen yang kuat dalam pemberantasan korupsi. Dan Semangat itulah yang melahirkan sebuah badan bernama Komisi Pemberantasan Korupsi,&quot; pungkasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
