<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sejarah PKI di Cirebon, Hilang Setelah Pemberontakan</title><description>Sebelum peristiwa G30S/PKI, PKI di Cirebon memiliki metode pergerakan yang sangat sistematik.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/09/27/525/2284390/sejarah-pki-di-cirebon-hilang-setelah-pemberontakan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/09/27/525/2284390/sejarah-pki-di-cirebon-hilang-setelah-pemberontakan"/><item><title>Sejarah PKI di Cirebon, Hilang Setelah Pemberontakan</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/09/27/525/2284390/sejarah-pki-di-cirebon-hilang-setelah-pemberontakan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/09/27/525/2284390/sejarah-pki-di-cirebon-hilang-setelah-pemberontakan</guid><pubDate>Minggu 27 September 2020 08:14 WIB</pubDate><dc:creator>Fathnur Rohman</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/09/27/525/2284390/sejarah-pki-di-cirebon-hilang-setelah-pemberontakan-io32ibzj6h.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Monumen Pancasila Sakti. (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/09/27/525/2284390/sejarah-pki-di-cirebon-hilang-setelah-pemberontakan-io32ibzj6h.jpg</image><title>Monumen Pancasila Sakti. (Foto: Okezone.com)</title></images><description>CIREBON - Partai Komunis Indonesia (PKI) pernah punya sejarah di Kota Cirebon, Jawa Barat, khususnya sebelum meletusnya peristiwa G30S/PKI pada 1965.
Pemerhati sejarah sekaligus Ketua Dewan Kesenian Cirebon Kota (Dekaciko), Akbarudin Sucipto menjelaskan, sebelum peristiwa G30S/PKI, PKI di Cirebon memiliki metode pergerakan yang sangat sistematik. Bahkan, mereka melakukan pendekatan secara kultural kepada masyarakat Cirebon saat itu.
Namun semua itu sirna karena terjadinya pemberontakan yang dikenal sebagai Gerakan 30 September PKI (G30S/PKI).
Menurut Akbar, pada mulanya PKI di Cirebon melakukan pendekatan kultural karena mereka harus bersaing dengan partai-partai seperti Partai Nasional Indonesia (PNI), Masyumi, dan Nahdatul Ulama.
Pendekatan secara kultural, kata Akbar, harus dilakukan karena sejak dulu Kota Cirebon terkenal sebagai daerah dengan nilai religiusitas yang tinggi. Ditambah lagi, di Kota Cirebon terdapat nama-nama besar tokoh penyebar agama Islam, salah satunya Sunan Gunung Jati.
Baca juga: Kesaksian Putri Jenderal Nasution saat Malam Jahanam di Teuku Umar 40
&quot;Di Cirebon sistem pergerakan PKI berbeda dengan pola pergerakan PKI di tempat lain. Saya melihat PKI di Cirebon juga melakukan pendekatan kultural. Artinya mereka berani membaur dengan masyarakat,&quot; kata Akbar kepada Okezone, belum lama ini.
Akbar melanjutkan, persaingan politik antar partai di Kota Cirebon ketika itu cukup sengit. Khusunya antara PKI dan Masyumi. Kendati demikian, ia menyebut, persaingan ini tidak sampai menimbulkan keributan.
Baca juga: Kerap Nonton Film G30S PKI, Mahfud MD: Karya Film yang Bagus
&quot;Saat Kota Cirebon menjadi kota yang menyelenggarakan pemilu, walaupun pada saat itu jumlah kontestan banyak, di mana di situ ada PKI, tetapi relatif tidak ada keributan,&quot; tutur Akbar.&quot;Seringkali PNI, Nahdatul Ulama, Masyumi, dan PKI pada saat kampanye  lokasinya berdekatan. Tapi yang memang terlihat berkonflik adalah PKI  dan Masyumi. Entah saling ejek atau semacamnya. Tapi tidak sampai  ribut,&quot; tambahnya.
Masih kata Akbar, kader dan simpatisan PKI juga melakukan doktrin  terhadap anak-anak di Cirebon. Mereka mencuci otak anak-anak dengan  propaganda PKI.
&quot;Dari sisi propaganda, mereka masuk ke semua lini. Bahkan sampai level anak-anak,&quot; imbuhnya.
Meski demikian pengaruh PKI di Cirebon perlahan hilang setelah  peristiwa G30S PKI. Orang-orang yang dianggap sebagai kader ataupun  simpatisan PKI, ditangkap dan diadili. (qlh)</description><content:encoded>CIREBON - Partai Komunis Indonesia (PKI) pernah punya sejarah di Kota Cirebon, Jawa Barat, khususnya sebelum meletusnya peristiwa G30S/PKI pada 1965.
Pemerhati sejarah sekaligus Ketua Dewan Kesenian Cirebon Kota (Dekaciko), Akbarudin Sucipto menjelaskan, sebelum peristiwa G30S/PKI, PKI di Cirebon memiliki metode pergerakan yang sangat sistematik. Bahkan, mereka melakukan pendekatan secara kultural kepada masyarakat Cirebon saat itu.
Namun semua itu sirna karena terjadinya pemberontakan yang dikenal sebagai Gerakan 30 September PKI (G30S/PKI).
Menurut Akbar, pada mulanya PKI di Cirebon melakukan pendekatan kultural karena mereka harus bersaing dengan partai-partai seperti Partai Nasional Indonesia (PNI), Masyumi, dan Nahdatul Ulama.
Pendekatan secara kultural, kata Akbar, harus dilakukan karena sejak dulu Kota Cirebon terkenal sebagai daerah dengan nilai religiusitas yang tinggi. Ditambah lagi, di Kota Cirebon terdapat nama-nama besar tokoh penyebar agama Islam, salah satunya Sunan Gunung Jati.
Baca juga: Kesaksian Putri Jenderal Nasution saat Malam Jahanam di Teuku Umar 40
&quot;Di Cirebon sistem pergerakan PKI berbeda dengan pola pergerakan PKI di tempat lain. Saya melihat PKI di Cirebon juga melakukan pendekatan kultural. Artinya mereka berani membaur dengan masyarakat,&quot; kata Akbar kepada Okezone, belum lama ini.
Akbar melanjutkan, persaingan politik antar partai di Kota Cirebon ketika itu cukup sengit. Khusunya antara PKI dan Masyumi. Kendati demikian, ia menyebut, persaingan ini tidak sampai menimbulkan keributan.
Baca juga: Kerap Nonton Film G30S PKI, Mahfud MD: Karya Film yang Bagus
&quot;Saat Kota Cirebon menjadi kota yang menyelenggarakan pemilu, walaupun pada saat itu jumlah kontestan banyak, di mana di situ ada PKI, tetapi relatif tidak ada keributan,&quot; tutur Akbar.&quot;Seringkali PNI, Nahdatul Ulama, Masyumi, dan PKI pada saat kampanye  lokasinya berdekatan. Tapi yang memang terlihat berkonflik adalah PKI  dan Masyumi. Entah saling ejek atau semacamnya. Tapi tidak sampai  ribut,&quot; tambahnya.
Masih kata Akbar, kader dan simpatisan PKI juga melakukan doktrin  terhadap anak-anak di Cirebon. Mereka mencuci otak anak-anak dengan  propaganda PKI.
&quot;Dari sisi propaganda, mereka masuk ke semua lini. Bahkan sampai level anak-anak,&quot; imbuhnya.
Meski demikian pengaruh PKI di Cirebon perlahan hilang setelah  peristiwa G30S PKI. Orang-orang yang dianggap sebagai kader ataupun  simpatisan PKI, ditangkap dan diadili. (qlh)</content:encoded></item></channel></rss>
