<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jerit Hati Orang dengan HIV/AIDS: Dikucilkan, Dicemooh Lalu Rahasiakan Statusnya</title><description>Postur tubuhnya semampai. Rona wajahnya terlihat segar pun begitu dengan tatapannya. Sesekali ia melemparkan senyum.
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/10/07/337/2289625/jerit-hati-orang-dengan-hiv-aids-dikucilkan-dicemooh-lalu-rahasiakan-statusnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/10/07/337/2289625/jerit-hati-orang-dengan-hiv-aids-dikucilkan-dicemooh-lalu-rahasiakan-statusnya"/><item><title>Jerit Hati Orang dengan HIV/AIDS: Dikucilkan, Dicemooh Lalu Rahasiakan Statusnya</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/10/07/337/2289625/jerit-hati-orang-dengan-hiv-aids-dikucilkan-dicemooh-lalu-rahasiakan-statusnya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/10/07/337/2289625/jerit-hati-orang-dengan-hiv-aids-dikucilkan-dicemooh-lalu-rahasiakan-statusnya</guid><pubDate>Rabu 07 Oktober 2020 08:36 WIB</pubDate><dc:creator>Adi Rianghepat</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/10/07/337/2289625/jerit-hati-pasien-hiv-aids-dikucilkan-dicemooh-lalu-rahasiakan-penyakitnya-omxjtk6yyG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/10/07/337/2289625/jerit-hati-pasien-hiv-aids-dikucilkan-dicemooh-lalu-rahasiakan-penyakitnya-omxjtk6yyG.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</title></images><description>KUPANG - Postur tubuhnya semampai. Rona wajahnya terlihat segar pun begitu dengan tatapannya. Sesekali ia melemparkan senyum.
Sutoyo (bukan nama sebenarnya) terlihat sangat sehat saat bersedia ditemui siang itu untuk bercerita kisahnya sebagai orang dengan HIV (ODHIV). Bagi Sutoyo sendiri, status kesehatannya sebagai ODHIV adalah sesuatu yang sangat dijaganya agar tidak diketahui oleh sembarang orang.
&amp;ldquo;Tak menyenangkan, bisa dijauhi, dicemooh. Jadi harus mampu dirahasiakan,&amp;rdquo; ceritanya.
Itulah yang dialami Sutoyo sejak masih menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta Kota Kupang hingga kini. Ia menjaga rapi identitas dirinya sebagai ODHIV. Apalagi dirinya yang juga seorang penyuka sesama jenis, menjadikan posisi Sutoyo tidak mudah di masyarakat.
Status kesehatannya tersebar begitu saja tanpa ia ketahui dari mana sumbernya. Satu per satu teman-temannya mulai menjauh. Teman kuliah yang akrab hingga dosen-dosen di kampus juga memutuskan menjaga jarak dengan Sutoyo.
Kesulitan berkomunikasi dan berinteraksi di kampus pun dialami Sutoyo, hingga kesulitan menyelesaikan tugas akhir (skripsi).
&amp;ldquo;Saat konsultasi hingga ujian, baik dosen pembimbing maupun penguji nggak ada yang mau nyentuh skripsi saya. Takut tertular sepertinya,&amp;rdquo; kenangnya.

Meski sempat putus asa, menolak keluar dari kamar kos hingga berpikir untuk bunuh diri, kini Sutoyo terlihat lebih tegar dan berdamai dengan dirinya. Sahabat dan keluarga adalah orang-orang yang terus mendukungnya. Awalnya kedua orang tuanya kaget hingga diam tak memberi respon apapun terhadap pengakuannya, Sutoyo adalah gay dan ODHIV.
&amp;ldquo;Saya cuma kasih tahu Papa dan Mama kalau saya gay, juga ODHIV. Sekarang mereka sudah menerima saya. Mereka ingatkan untuk minum obat setiap hari,&amp;rdquo; ungkap Sutoyo.
Meski kini status virus HIV di dalam dirinya tidak terdeteksi, berdasarkan Tes Viraload yang tersedia di RSUD Prof Dr WZ Johannes Kupang,  Sutoyo masih enggan terbuka kepada orang lain tentang identiasnya sebagai gay dan ODHIV.
&amp;ldquo;Nanti saya makin dikucilkan, keluarga saja juga akan kena. Saya nggak mau,&amp;rdquo; tambahnya.Kekhawatiran Sutoyo adalah sesuatu yang berdasar kalau melihat  perlakuan dan pengalaman tidak menyenangkan juga dialami oleh Yolanda  (bukan nama sebenarnya), transpuan dan ODHIV.
Yolanda yang sehari-harinya bekerja dengan menjaja jasa tata rias dan  kecantikan ini juga dijauhi dan kerap menjadi buah bibir di antara  teman-teman komunitas transpuannya.
Yolanda bingung, dari mana informasi kesehatannya itu bisa tersebar.  Menurut Yolanda, status ODHIV seseorang memang kerap menjadi obrolan  masyarakat, tidak terlepas dari lingkungan komunitasnya. Meski begitu,  Yolanda yang hidup sendiri di Kupang ini berusaha memaklumi dan menerima  perlakuan teman-temannya.
&amp;ldquo;Saya transpuan, sulit diterima masyarakat. Di komunitas itu saya  dapat jadi diri sendiri, saya senang. Kalau dijadikan omongan, ya saya  pasrah saja, saya tidak punya orang lain,&amp;rdquo; ucapnya.
Yolanda sendiri tak banyak bercerita tentang respon lain dari  teman-teman, masyarakat ataupun keluarga tentang statusnya sebagai  ODHIV. Ia hanya berharap, kejadian tak menyenangkan seperti dikucilkan  dan terus menerus dibicarakan tidak dialami oleh teman-teman ODHIV  lainnya.
&amp;ldquo;Tak ada seorangpun yang sejak lahir berhadap jadi ODIV kan,&amp;rdquo; harapnya.
Itu juga yang disampaikan oleh Mateus, Pimpinan Yayasan Flobamora  Jaya Peduli, organisasi yang fokus terhadap isu HIV/AIDS di Kupang.  Menurutnya, sudah ada upaya dari sejumlah pihak, baik lembaga pemerintah  maupun lembaga swasta yang kerap melakukan sosialisasi dan pendidikan  terkait penularannya.
&amp;ldquo;Juga terus mengkampanyekan setop diskriminasi terhadap ODHIV,&amp;rdquo; sambungnya.
Tidak Sulit Dapatkan Layanan ARV
Terlepas dari diskriminasi lingkungan masyarakat dengan menjadi  ODHIV, Sutoyo dan Yolanda tak kesulitan mendapatkan antiretroviral (ARV)  yang harus rutin dikonsumsi oleh ODHIV. Rutinitas pemeriksaan medis  (fisik) juga tidak sulit mereka dapatkan di kota Kupang.
&amp;ldquo;Paramedis yang melayani ramah, obat-obatan tersedia selalu,&amp;rdquo; tambahnya.
Menurut Mateus, kondisi ketersediaan ARV di Nusa Tenggara Timur (NTT)  selain Kupang, juga tak ada masalah. Kesulitannya hanyalah akses untuk  mendapatkannya.
&amp;ldquo;Sekalipun gratis, namun tempat layanannya hanya satu rumah sakit, kadang jauh dari lokasi atau domisili ODHIV,&amp;rdquo; beritahunya.
Berbeda dengan hal itu, ARV di Kota Kupang terlayani di tiga rumah  sakit, masing-masing RSU Prof Dr WZ Johannes, Rumah Sakit Tentara (RST)  Wira Sakti serta RSU SK Lerik Kupang. Disampaikan Mateus pada dasarnya  pelayanan obat-obatan dan pemeriksaan medis rutin untuk ODHIV dilakukan  secara gratis.
&amp;ldquo;Ada juga yang pakai biaya administrasi pendaftaran di loket,  besarannya sesuai kebijakan rumah sakit terkait. Tapi kalau obatnya,  pemeriksaan medis semuanya gratis,&amp;rdquo; ucapnya.
Mateus juga menjelaskan bahwa dikarenakan pengadaan ARV dan  pemeriksaan medis rutin bagi ODHIV mendapatkan subsidi pemerintah pusat  melalui APBN, ini yang menyebabkan tidak adanya kesulitan dalam akses  pengobatan bagi ODHIV di Kupang.Bahkan di awal pandemi saat suplai ke Kota Kupang terlambat   dikarenakan pengiriman ARV dilakukan melalui jalur laut sebab beberapa   negara menutup penerbangan internasional, siklus pengobatan ODHIV di   Kota Kupang tidak terganggu sama sekali.
&amp;ldquo;Sejauh ini lancar-lancar saja, stok pun tersedia. Saya tidak menemukan keluhan kesulitan pengobatan,&amp;rdquo; tambah Mateus.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Kepala Bidang Pengendalian   Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kupang Sri Wahyuningsih bahwa   stok ARV selalu tersedia bahkan menjadi salah satu perhatian Dinkes.   &amp;ldquo;Kami terus pantau ketersediaanya, agar siklus konsumsi ODHIV tak   terputus,&amp;rdquo; katanya.
Sementara Direktris RSU SK Lerik Kota Kupang dr Marciana Halek juga   membenarkan pemberian ARV dan pengobatan medis di klinik VCT rumah sakit   tersebut tak berbiaya alias gratis.
&amp;ldquo;Tak ada biaya apapun termasuk biaya loket khusus untuk layanan Odhiv   di klinik VCT. Biaya loket hanya berlaku bagi layanan bagi pasien pada   poli atau klinik penyakit lainnya,&amp;rdquo; katanya.
Dokter Marciana bahkan meminta ODHIV untuk melakukan kontak langsung   dengan dokter dan atau paramedis lain yang mengelola klinik VCT agar   pengurusan obat dan pemeriksaan kesehatan tak perlu melalui loket.
Wasty, pendamping VCT di RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang membenarkan   bahwa ARV diberikan secara cuma-cuma, hanya saat pendaftaran di loket   akan dikenakan biaya administrasi.
&amp;ldquo;Sebesar 25 ribu untuk biaya loket administrasi, ini sudah jadi keputusan manajemen,&amp;rdquo; tambahnya.
Kondisi stok ARV yang lancar dan pemeriksaan medis yang difasilitasi,   mendorong Sutoyo aktif minum obat dan rutin memeriksakan kondisi   kesehatan hingga virus tidak terdeteksi di tubuhnya lagi.
Selain itu yang juga mendorongnya adalah motivasi untuk terus dapat   hidup dan berkarya. Ia ingin semangatnya itu dapat tertular pada ODHIV   lainnya.
&amp;ldquo;Semoga tak ada lagi stigma negatif dan perlakuan tak adil bagi kami   para ODHIV, juga pada komunitas LGBT di kota ini,&amp;rdquo; harap Sutoyo menutup   pembicaraan siang ini.</description><content:encoded>KUPANG - Postur tubuhnya semampai. Rona wajahnya terlihat segar pun begitu dengan tatapannya. Sesekali ia melemparkan senyum.
Sutoyo (bukan nama sebenarnya) terlihat sangat sehat saat bersedia ditemui siang itu untuk bercerita kisahnya sebagai orang dengan HIV (ODHIV). Bagi Sutoyo sendiri, status kesehatannya sebagai ODHIV adalah sesuatu yang sangat dijaganya agar tidak diketahui oleh sembarang orang.
&amp;ldquo;Tak menyenangkan, bisa dijauhi, dicemooh. Jadi harus mampu dirahasiakan,&amp;rdquo; ceritanya.
Itulah yang dialami Sutoyo sejak masih menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta Kota Kupang hingga kini. Ia menjaga rapi identitas dirinya sebagai ODHIV. Apalagi dirinya yang juga seorang penyuka sesama jenis, menjadikan posisi Sutoyo tidak mudah di masyarakat.
Status kesehatannya tersebar begitu saja tanpa ia ketahui dari mana sumbernya. Satu per satu teman-temannya mulai menjauh. Teman kuliah yang akrab hingga dosen-dosen di kampus juga memutuskan menjaga jarak dengan Sutoyo.
Kesulitan berkomunikasi dan berinteraksi di kampus pun dialami Sutoyo, hingga kesulitan menyelesaikan tugas akhir (skripsi).
&amp;ldquo;Saat konsultasi hingga ujian, baik dosen pembimbing maupun penguji nggak ada yang mau nyentuh skripsi saya. Takut tertular sepertinya,&amp;rdquo; kenangnya.

Meski sempat putus asa, menolak keluar dari kamar kos hingga berpikir untuk bunuh diri, kini Sutoyo terlihat lebih tegar dan berdamai dengan dirinya. Sahabat dan keluarga adalah orang-orang yang terus mendukungnya. Awalnya kedua orang tuanya kaget hingga diam tak memberi respon apapun terhadap pengakuannya, Sutoyo adalah gay dan ODHIV.
&amp;ldquo;Saya cuma kasih tahu Papa dan Mama kalau saya gay, juga ODHIV. Sekarang mereka sudah menerima saya. Mereka ingatkan untuk minum obat setiap hari,&amp;rdquo; ungkap Sutoyo.
Meski kini status virus HIV di dalam dirinya tidak terdeteksi, berdasarkan Tes Viraload yang tersedia di RSUD Prof Dr WZ Johannes Kupang,  Sutoyo masih enggan terbuka kepada orang lain tentang identiasnya sebagai gay dan ODHIV.
&amp;ldquo;Nanti saya makin dikucilkan, keluarga saja juga akan kena. Saya nggak mau,&amp;rdquo; tambahnya.Kekhawatiran Sutoyo adalah sesuatu yang berdasar kalau melihat  perlakuan dan pengalaman tidak menyenangkan juga dialami oleh Yolanda  (bukan nama sebenarnya), transpuan dan ODHIV.
Yolanda yang sehari-harinya bekerja dengan menjaja jasa tata rias dan  kecantikan ini juga dijauhi dan kerap menjadi buah bibir di antara  teman-teman komunitas transpuannya.
Yolanda bingung, dari mana informasi kesehatannya itu bisa tersebar.  Menurut Yolanda, status ODHIV seseorang memang kerap menjadi obrolan  masyarakat, tidak terlepas dari lingkungan komunitasnya. Meski begitu,  Yolanda yang hidup sendiri di Kupang ini berusaha memaklumi dan menerima  perlakuan teman-temannya.
&amp;ldquo;Saya transpuan, sulit diterima masyarakat. Di komunitas itu saya  dapat jadi diri sendiri, saya senang. Kalau dijadikan omongan, ya saya  pasrah saja, saya tidak punya orang lain,&amp;rdquo; ucapnya.
Yolanda sendiri tak banyak bercerita tentang respon lain dari  teman-teman, masyarakat ataupun keluarga tentang statusnya sebagai  ODHIV. Ia hanya berharap, kejadian tak menyenangkan seperti dikucilkan  dan terus menerus dibicarakan tidak dialami oleh teman-teman ODHIV  lainnya.
&amp;ldquo;Tak ada seorangpun yang sejak lahir berhadap jadi ODIV kan,&amp;rdquo; harapnya.
Itu juga yang disampaikan oleh Mateus, Pimpinan Yayasan Flobamora  Jaya Peduli, organisasi yang fokus terhadap isu HIV/AIDS di Kupang.  Menurutnya, sudah ada upaya dari sejumlah pihak, baik lembaga pemerintah  maupun lembaga swasta yang kerap melakukan sosialisasi dan pendidikan  terkait penularannya.
&amp;ldquo;Juga terus mengkampanyekan setop diskriminasi terhadap ODHIV,&amp;rdquo; sambungnya.
Tidak Sulit Dapatkan Layanan ARV
Terlepas dari diskriminasi lingkungan masyarakat dengan menjadi  ODHIV, Sutoyo dan Yolanda tak kesulitan mendapatkan antiretroviral (ARV)  yang harus rutin dikonsumsi oleh ODHIV. Rutinitas pemeriksaan medis  (fisik) juga tidak sulit mereka dapatkan di kota Kupang.
&amp;ldquo;Paramedis yang melayani ramah, obat-obatan tersedia selalu,&amp;rdquo; tambahnya.
Menurut Mateus, kondisi ketersediaan ARV di Nusa Tenggara Timur (NTT)  selain Kupang, juga tak ada masalah. Kesulitannya hanyalah akses untuk  mendapatkannya.
&amp;ldquo;Sekalipun gratis, namun tempat layanannya hanya satu rumah sakit, kadang jauh dari lokasi atau domisili ODHIV,&amp;rdquo; beritahunya.
Berbeda dengan hal itu, ARV di Kota Kupang terlayani di tiga rumah  sakit, masing-masing RSU Prof Dr WZ Johannes, Rumah Sakit Tentara (RST)  Wira Sakti serta RSU SK Lerik Kupang. Disampaikan Mateus pada dasarnya  pelayanan obat-obatan dan pemeriksaan medis rutin untuk ODHIV dilakukan  secara gratis.
&amp;ldquo;Ada juga yang pakai biaya administrasi pendaftaran di loket,  besarannya sesuai kebijakan rumah sakit terkait. Tapi kalau obatnya,  pemeriksaan medis semuanya gratis,&amp;rdquo; ucapnya.
Mateus juga menjelaskan bahwa dikarenakan pengadaan ARV dan  pemeriksaan medis rutin bagi ODHIV mendapatkan subsidi pemerintah pusat  melalui APBN, ini yang menyebabkan tidak adanya kesulitan dalam akses  pengobatan bagi ODHIV di Kupang.Bahkan di awal pandemi saat suplai ke Kota Kupang terlambat   dikarenakan pengiriman ARV dilakukan melalui jalur laut sebab beberapa   negara menutup penerbangan internasional, siklus pengobatan ODHIV di   Kota Kupang tidak terganggu sama sekali.
&amp;ldquo;Sejauh ini lancar-lancar saja, stok pun tersedia. Saya tidak menemukan keluhan kesulitan pengobatan,&amp;rdquo; tambah Mateus.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Kepala Bidang Pengendalian   Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kupang Sri Wahyuningsih bahwa   stok ARV selalu tersedia bahkan menjadi salah satu perhatian Dinkes.   &amp;ldquo;Kami terus pantau ketersediaanya, agar siklus konsumsi ODHIV tak   terputus,&amp;rdquo; katanya.
Sementara Direktris RSU SK Lerik Kota Kupang dr Marciana Halek juga   membenarkan pemberian ARV dan pengobatan medis di klinik VCT rumah sakit   tersebut tak berbiaya alias gratis.
&amp;ldquo;Tak ada biaya apapun termasuk biaya loket khusus untuk layanan Odhiv   di klinik VCT. Biaya loket hanya berlaku bagi layanan bagi pasien pada   poli atau klinik penyakit lainnya,&amp;rdquo; katanya.
Dokter Marciana bahkan meminta ODHIV untuk melakukan kontak langsung   dengan dokter dan atau paramedis lain yang mengelola klinik VCT agar   pengurusan obat dan pemeriksaan kesehatan tak perlu melalui loket.
Wasty, pendamping VCT di RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang membenarkan   bahwa ARV diberikan secara cuma-cuma, hanya saat pendaftaran di loket   akan dikenakan biaya administrasi.
&amp;ldquo;Sebesar 25 ribu untuk biaya loket administrasi, ini sudah jadi keputusan manajemen,&amp;rdquo; tambahnya.
Kondisi stok ARV yang lancar dan pemeriksaan medis yang difasilitasi,   mendorong Sutoyo aktif minum obat dan rutin memeriksakan kondisi   kesehatan hingga virus tidak terdeteksi di tubuhnya lagi.
Selain itu yang juga mendorongnya adalah motivasi untuk terus dapat   hidup dan berkarya. Ia ingin semangatnya itu dapat tertular pada ODHIV   lainnya.
&amp;ldquo;Semoga tak ada lagi stigma negatif dan perlakuan tak adil bagi kami   para ODHIV, juga pada komunitas LGBT di kota ini,&amp;rdquo; harap Sutoyo menutup   pembicaraan siang ini.</content:encoded></item></channel></rss>
