<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Epidemiolog: Demonstrasi Bisa Jadi Klaster Baru Covid-19</title><description>Massa yang berkumpul dalam jumlah yang besar sangat berpotensi menimbulkan kasus baru.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/10/09/337/2290791/epidemiolog-demonstrasi-bisa-jadi-klaster-baru-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/10/09/337/2290791/epidemiolog-demonstrasi-bisa-jadi-klaster-baru-covid-19"/><item><title>Epidemiolog: Demonstrasi Bisa Jadi Klaster Baru Covid-19</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/10/09/337/2290791/epidemiolog-demonstrasi-bisa-jadi-klaster-baru-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/10/09/337/2290791/epidemiolog-demonstrasi-bisa-jadi-klaster-baru-covid-19</guid><pubDate>Jum'at 09 Oktober 2020 06:13 WIB</pubDate><dc:creator>Muhamad Rizky</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/10/09/337/2290791/epidemiolog-demonstrasi-bisa-jadi-klaster-baru-covid-19-vemclrwFDK.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Massa aksi saat berkerumun di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/10/09/337/2290791/epidemiolog-demonstrasi-bisa-jadi-klaster-baru-covid-19-vemclrwFDK.jpg</image><title>Massa aksi saat berkerumun di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Aksi unjuk rasa menolak Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja yang dilakukan massa dari elemen mahasiswa dan buruh di berbagai wilayah di Indonesia berpotensi menimbulkan klaster baru Covid-19. Sebab, aksi yang dilakukan abai terhadap protokol kesehatan.
Epidemolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menuturkan, massa yang berkumpul dalam jumlah yang besar sangat berpotensi menimbulkan kasus baru.
&quot;Demo kerumunan masa dalam situasi pandemi yang belum terkendali sangat berpotensi menjadi klaster. (Demo) Menjadi pemicu penyebaran Covid-19 lebih masif akibat pengabaian terhadap jaga jarak, tidak pakai masker,&quot; kata Dicky kepada Okezone, Jumat (9/10/2020).
Baca Juga:&amp;nbsp;Satgas Covid-19 Peringatkan Faskes soal Tarif Tes PCR
Menurut Dicky, penerapan protokol kesehatan di tengah jumlah massa yang sangat banyak tidak memungkinkan untuk dilakukan. Apalagi, banyak massa yang berteriak menyampaikan tuntutan demo sehingga memicu penularan melalui aerosol.
&quot;Kan ini ada mekanisme droplet ada mekanisme fomite, aerosol, udah kecampur aduk, ini semuanya ada,&quot; ungkapnya.
&amp;lt;iframe width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/_i1-naDGKEw&quot; frameborder=&quot;0&quot; allow=&quot;accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;
Di sisi lain kata dia, lemahnya tracing, testing terhadap masyarakat akan memperparah penularan yang semakin tinggi. Hal itu tidak hanya di Jakarta melainkan di beebagai daerah lain.
&quot;Pandemi di Indonesia belum terkendali, tracing yang buruk, dan ini (klaster demo) baru akan kelihatan nanti lebih dari dua minggu lagi bukan saat ini,&quot; tandasnya.
Baca Juga:&amp;nbsp;Daftar 13 Daerah Penyumbang 30% Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia</description><content:encoded>JAKARTA - Aksi unjuk rasa menolak Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja yang dilakukan massa dari elemen mahasiswa dan buruh di berbagai wilayah di Indonesia berpotensi menimbulkan klaster baru Covid-19. Sebab, aksi yang dilakukan abai terhadap protokol kesehatan.
Epidemolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menuturkan, massa yang berkumpul dalam jumlah yang besar sangat berpotensi menimbulkan kasus baru.
&quot;Demo kerumunan masa dalam situasi pandemi yang belum terkendali sangat berpotensi menjadi klaster. (Demo) Menjadi pemicu penyebaran Covid-19 lebih masif akibat pengabaian terhadap jaga jarak, tidak pakai masker,&quot; kata Dicky kepada Okezone, Jumat (9/10/2020).
Baca Juga:&amp;nbsp;Satgas Covid-19 Peringatkan Faskes soal Tarif Tes PCR
Menurut Dicky, penerapan protokol kesehatan di tengah jumlah massa yang sangat banyak tidak memungkinkan untuk dilakukan. Apalagi, banyak massa yang berteriak menyampaikan tuntutan demo sehingga memicu penularan melalui aerosol.
&quot;Kan ini ada mekanisme droplet ada mekanisme fomite, aerosol, udah kecampur aduk, ini semuanya ada,&quot; ungkapnya.
&amp;lt;iframe width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/_i1-naDGKEw&quot; frameborder=&quot;0&quot; allow=&quot;accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;
Di sisi lain kata dia, lemahnya tracing, testing terhadap masyarakat akan memperparah penularan yang semakin tinggi. Hal itu tidak hanya di Jakarta melainkan di beebagai daerah lain.
&quot;Pandemi di Indonesia belum terkendali, tracing yang buruk, dan ini (klaster demo) baru akan kelihatan nanti lebih dari dua minggu lagi bukan saat ini,&quot; tandasnya.
Baca Juga:&amp;nbsp;Daftar 13 Daerah Penyumbang 30% Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia</content:encoded></item></channel></rss>
